Anda di halaman 1dari 46

Askep Anak dengan

Penyakit Terminal

A. Pengertian
Penyakit kronik adalah suatu
penyakit yang perjalanan penyakit
berlangsung lama sampai bertahuntahun,bertambah berat, menetap,
dan sering kambuh (Purwaningsih
dan Karbina, 2009).
Penyakit kronis bisa menyebabkan
kematian/ kondisi terminal.

Penyakit terminal adalah suatu penyakit


yang tidak dapat disembuhkan lagi
Penyakit terminal adalah lanjutan dari
penyakit kronik/ penyakit akut yang
sifatnya tidak bisa disembuhkan dan
mengarah pada kematian
Kondisi Terminal adalah: Suatu proses yang
progresif menuju kematian berjalan melalui
suatu tahapan proses penurunan fisik ,
psikososial dan spiritual bagi individu.

Pasien Terminal adalah : Pasien pasien


yang dirawat , yang sudah jelas bahwa
mereka akan meninggal atau keadaan
mereka makin lama makin memburuk.
Pendampingan dalam proses kematian
adalah Suatu pendampingan dalam
kehidupan , karena mati itu termasuk
bagian dari kehidupan

Pasien terminal illness adalah pasien yang


sedang menderita sakit dimana tingkat
sakitnya telah mencapai stadium lanjut
sehingga pengobatan medis sudah tidak
mungkin dapat menyembuhkan lagi.
Pasien terminal illnes harus mendapatkan
perawatan paliatif yang bersifat
meredakan gejala penyakit, namun tidak
lagi berfungsi untuk menyembuhkan.

fungsi perawatan paliatif pada pasien


terminal illnes adalah mengendalikan
nyeri yang dirasakan serta keluhankeluhan lainnya dan meminimalisir
masalah emosi, sosial dan spiritual.

Jenis-Jenis Penyakit Kronik dan


Terminal Pada Anak

Infeksi Saluran Nafas Bawah, Pneumonia dan Bronkhitis


HIV/AIDS
Malaria
Diare
Tuberkulosis
Campak
Tetanus
Infeksi Selaput Otak (Meningitis)
Difteri
Penyakit Kanker
Akibat Kecelakaan Fatal

Kriteria Penyakit Kronik dan


Terminal (Wristht Le (1987)
Penyakit KRONIK:
Progresif
Semakin lama semakin bertambah
parah
Menetap pada individu
Kambuh
Dapat hilang timbul sewaktu-waktu
dengan kondisi yang sama atau
berbeda

Penyakit TERMINAL:
Penyakit sudah tidak dapat
disembuhkan
Mengarah pada kematian
Diagnosa medis sudah jelas
Tidak ada obat untuk
menyembuhkan
Prognosis jelek dan bersifat progresif.

Respon Klien Terhadap Penyakit Kronik dan


Terminal (Purwaningsih dan Kartina, 2009)
a.Kehilangan kesehatan
Respon yang ditimbulkan dari kehilangan kesehatan
dapat berupa klien merasa takut, cemas dan
pandangan tidak realistik, aktivitas terbatas.
b.Kehilangan kemandirian
Respon yang ditimbulkan dari kehilangan
kemandirian dapat ditunjukan melalui berbagai
perilaku, bersifat kekanak-kanakan, ketergantungan
c.Kehilangan situasi
Klien merasa kehilangan situasi yang dinikmati
sehari-hari bersama keluarga kelompoknya

d. Kehilangan rasa nyaman


Gangguan rasa nyaman muncul sebagai akibat
gangguan fungsi tubuh seperti panas, nyeri, dll
e.Kehilangan fungsi fisik
Kehilangan fungsi organ tubuh seperti klien
dengan gagal ginjal harus dibantu melalui
hemodialisa
f.Kehilangan fungsi mental
Seperti klien mengalami kecemasan dan depresi,
tidak dapat berkonsentrasi dan berpikir efisien
sehingga klien tidak dapat berpikir secara rasional

g.Kehilangan konsep diri


Klien merasa dirinya berubah mencakup bentuk
dan fungsi sehingga klien tidak dapat berfikir
secara rasional tentang bodi image, peran serta
identitasnya. Hal ini dapat akan mempengaruhi
idealisme diri dan harga diri rendah
h.Kehilangan peran dalam kelompok dan
keluarga

Tahapan Penerimaan Terhadap


Penyakit Kronik dan Terminal
Perilaku Klien Dengan Penyakit Kronis
Penolakan (Denial)
Merupakan reaksi yang umum terjadi pada penderita
penyakit kronis seperti jantung, stroke dan kanker.
Pasien akan memperlihatkan sikap seolah-olah penyakit
yang diderita tidak terlalu berat (menolak untuk
mengakui bahwa penyakit yang diderita sebenarnya
berat) dan menyakini akan segera sembuh dan hanya
akan memberi efek jangka pendek (menolak untuk
mengakui bahwa penyakit kronis ini belum tentu dapat
disembuhkan secara total dan menolak untuk mengakui
bahwa ada efek jangka panjang atas penyakit ini,
misalnya perubahan body image)

Cemas
Reaksi kecemasan merupakan sesuatu
yang umum terjadi. Beberapa pasien
merasa terkejut atas reaksi dan
perubahan yang terjadi pada dirinya
bahkan membayangkan kematian yang
akan terjadi padanya. Perubahan fisik
yang terjadi dengan cepat akan memicu
reaksi cemas pada individu dengan
penyakit kanker.

Depresi
Kurang lebih sepertiga dari individu
penderita stroke, kanker dan
penyakit jantung mengalami depresi.

Tahapan Kondisi terminal


(Kubler- Ross (dalam Taylor, 1999)
Denial (penyangkalan)
Respon dimana klien tidak percaya atau menolak
terhadap apa yang dihadapi atau yang sedang
terjadi. Dan tidak siap terhadap kondisi yang
dihadapi dan dampaknya.
Penyangkalan merupakan reaksi pertama ketika
seseorang didiagnosis menderita terminal illness.
Sebagian besar orang akan merasa shock, terkejut
dan merasa bahwa ini merupakan kesalahan.
Penyangkalan adalah awal penyesuaian diri terhadap
kehidupan yang diwarnai oleh penyakit dan hal
tersebut merupakan hal yang normal dan berarti.

Anger (Marah)
Fase marah terjadi pada saat fase denial tidak lagi bisa dipertahankan.
Kemarahan sering sulit dipahami oleh keluarga atau orang terdekat karena
dapat terpicu oleh hal-hal yang secara normal tidak menimbulkan
kemarahan. Marah terjadi karena rasa tidak berdaya, bisa terjadi kapan
saja dan kepada siapa saja tetapi umumnya terarah kepada orang-orang
yang secara emosional punya kedekatan hubungan.
Pasien yang marah akan melampiaskan kebenciannya pada orang-orang
yang sehat seperti teman, anggota keluarga, maupun staf rumah sakit.
Pasien yang tidak dapat mengekspresikan kemarahannya misalnya
melalui teriakan akan menyimpan sakit hati. Pasien yang sakit hati
menunjukkan kebenciannya melalui candaan tentang kematian,
mentertawakan penampilan atau keadaannya, atau berusaha melakukan
hal yang menyenangkan yang belum sempat dilakukannya sebelum ia
meninggal.
Kemarahan merupakan salah satu respon yang paling sulit dihadapi
keluarga dan temannya. Keluarga dapat bekerja sama dengan terapis
untuk mengerti bahwa pasien sebenarnya tidak marah kepada mereka
tapi pada nasibnya.

Bargaining (tawar menawar)


Klien mencoba untuk melakukan tawar menawar
dengan Tuhan agar terhindar dari kehilangan yang akan
terjadi, ini bisa dilakukan dalam diam atau dinyatakan
secara terbuka.
Secara psikologis tawar menawar dilakukan untuk
memperbaiki kesalahan atau dosa masa lalu. Pada
tahap ini pasien sudah meninggalkan kemarahannya
dalam berbagai strategi seperti menerapkan tingkah
laku baik demi kesehatan, atau melakukan amal, atau
tingkah laku lain yang tidak biasa dilakukannya
merupakan tanda bahwa pasien sedang melakukan
tawar-menawar terhadap penyakitnya.

Depresi
Tahap di mana pasien kehilangan kontrolnya. Pasien akan
merasa jenuh, sesak nafas dan lelah, merasa kesulitan untuk
makan, perhatian, dan sulit untuk menyingkirkan rasa sakit
atau ketidaknyamanan. Ekspresi kesedihan ini verbal atau
nonverbal merupakan persiapan terhadap kehilangan atau
perpisahan abadi dengan apapun dan siapapun.
Tahap depresi dikatakan sebagai masa anticipatory grief, di
mana pasien akan menangisi kematiannya sendiri. Proses
kesedihan ini terjadi dalam dua tahap, yaitu ketika pasien
berada dalam masa kehilangan aktivitas yang dinilainya
berharga, teman dan kemudian mulai mengantisipasi
hilangnya aktivitas dan hubungan di masa depan

Penerimaan (acceptance)
Pada tahap ini pasien sudah terlalu lemah untuk merasa
marah dan memikirkan kematian. Beberapa pasien
menggunakan waktunya untuk membuat persiapan,
memutuskan kepunyaannya, dan mengucapkan selamat
tinggal pada teman lama dan anggota keluarga.
Pada tahap menerima ini, klien memahami dan
menerima keadaannya, mulai kehilangan interest dengan
lingkungannya, dapat menemukan kedamaian dengan
kondisinya, dan beristirahat untuk menyiapkan dan
memulai perjalanan panjang.

Adaptasi Dengan Terminal


Illnes Pd Anak (Sarafino (2002))
Konsep kematian masih abstrak dan tidak
dimengerti dengan baik oleh anak-anak.
Sampai umur 5 tahun, anak masih berpikir bahwa
kematian adalah hidup di tempat lain dan orang
dapat datang kembali.
Mereka percaya bahwa kematian bisa dihindari.
Kematian adalah topik yang tidak mudah bagi
orang dewasa untuk didiskusikan dan mereka
biasanya menghindarkan anaknya dari realita akan
kematian dengan mengatakan bahwa orang mati
akan pergi atau berada di surga atau hanya
tidur.

Pada anak yang mengalami terminal illness,


kesadaran mereka akan muncul secara
bertahap.
Pertama, anak akan menyadari bahwa mereka
sangat sakit tetapi akan sembuh.
Kemudian mereka menyadari penyakitnya tidak
bertambah baik dan belajar mengenai
kematian dari teman seumurnya terutama
orang yang memiliki penyakit mirip, lalu
mereka menyimpulkan bahwa mereka juga
sekarat.

Anak-anak seharusya mengetahui sebanyak


mungkin mengenai penyakitnya agar mereka
mengerti dan dapat mendiskusikannya terutama
mengenai perpisahan dengan orang tua.
Ketika anak mengalami terminal illness biasanya
orang tua akan menyembunyikannya, sehingga
emosi anak tidak terganggu.
Untuk anak yang lebih tua, pendekatan yang
hangat, jujur, terbuka, dan sensitif mengurangi
kecemasan dan mempertahankan hubungan
yang saling mempercayai dengan orang tuanya.

Pada remaja dan dewasa muda


Walaupun remaja dan dewasa muda berpikir
bahwa kematian pada usia muda cukup tinggi,
mereka memimpikan kematian yang tiba-tiba
dan kekerasan.
Jika mereka mengalami terminal illness,
mereka menyadari bahwa kematian tidak
terjadi semestinya dan merasa marah dengan
ketidakberdayaannya dan ketidakadilan
serta tidak adanya kesempatan untuk
mengembangkan kehidupannya.

Pada saat seperti ini, hubungan dengan


ibunya akan menjadi lebih dekat.
Menderita terminal illness terutama pada
pasien yang memiliki anak akan membuat
pasien merasa bersalah tidak dapat
merawat anaknya dan seolah-olah merasa
bahagia melihat anaknya tumbuh.
Dewasa muda menjadi lebih marah dan
mengalami tekanan emosi ketika hidupnya
diancam terminal illness.

Menjelaskan Kematian
Pada Anak
Pada anak pra sekolah: anak mengartikan kematian
dengan sudah tidak ada nafas, dada dan perut
datar, tidak bergerak lagi,dan tidak bisa berjalan
seperti layaknya orang yang dapat berjalan
Kebanyakan anak-anak (anak yang menderita
penyakit terminal) membutuhkan keberanaian,
bahwa ia di cintai dan tidak akan merasa di
tinggalkan.
Tanpa memandang umur, sebagai orang tua
seharusnya sensitive dan simpati, mendukung apa
yang anak rasakan.

Kebutuhan Anak Yang


Terminal
Komunikasi. Anak perlu di ajak untuk berkomunikasi
atau berbicara dengan yang lain terutama oleh
kedua orang tua karena dengan orang tua mengajak
anak berkomunikasi /berbicara anak merasa
bahhwa ia tidak sendiri dan ia merasa ditemani.
Memberitahu kepada anak bahwa ia tidak sendiri
dalam menghadapi penyakit tersebut.
Berdiskusi dengan siblings (saudara kandung) agar
saudara kandung mau ikut berpartisipasi dalam
perawatan atau untuk merawat
Social support meningkatkan koping

Asuhan Keperawatan Yang


Diperlukan Pada Anak yang
Mengalami penyakit Terminal

Asuhan keperawatan yang


diperlukan dan digunakan pada anak
yang mengalami penyakit terminal
adalah PALLIATIVE CARE
Tujuan perawatan paliatif adalah
untuk meningkatkan kualitas hidup
anak dengan kematian minimal
mendekati normal, diupayakan
dengan perawatan yang baik hingga
pada akhirnya menuju pada

PALLIATIVE CARE
Menambah kualitas hidup (anak) pada kondisi
terminal.
Perawatan paliatif berfokus pada gejala rasa
sakit (nyeri, dypsnea) dan kondisi (kesendirian)
dimana pada kasus ini mengurangi kepuasan
atau kesenangan hidup anak.
Mengontrol rasa nyeri dan gejala yang lain,
masalah psikologi, sosial atau spiritualnya dari
anak dalam kondisi terminal.

PRINSIP PERAWATAN PALLIATIVE CARE


Menghormati atau menghargai martabat dan
harga diri dari pasien dan keluarga pasien.
Dukungan untuk caregiver
Palliateve care merupakan akses yang
kompeten dan compassionet
Mengembangkan professional dan social
support untuk pediatric palliative care
Melanjutkan serta mengembangkan pediatrik
palliative care melalui penelitian dan
pendidikan

PALLIATIVE CARE PLANE (RENCANA


ASUHAN PERAWATAN PALLIATIVE)
Melibatkan seorang partnership antara anak,
keluarga, orang tua, pegawai, guru, staff sekolah dan
petugas kesehatan yang professional
Suport fisik, emosinal, psykososial, dan spiritual
khususnya
Melibatkan anak pada self care
Anak memerlukan atau membutuhkan gambaran dan
kondisi (kondisi penyakit terminalnya) secara
bertahap, tepat dan sesuai
Menyediakan diagnostik atau kebutuhan intervensi
terapeutik guna memperhatikan/memikirkan konteks
tujuan dan harapan dari anak dan keluarga

Askep Anak Sakit Terminal Atau


Menjelang Ajal
PENGKAJIAN
Lakukan pengkajian fisik. Dapatkan riwayat
kesehatan tentang penyakit terminal dan
terapinya. Kaji konsep anak tentang diri
sendiri, dan proses yang terjadi pada lima
tahap berikut dimana anak memerlukan
informasi tentang situasinya sendiri
Tahap 1 : Penyakit adalah sakit serius
Tahap 2 : Penemuan hubungan antara
pengobatan dan pemulihan

Tahap 3 : Pemahaman tentang tujuan dan


implikasi prosedur khusus. Rasa sejahtera
mulai menghilang dan menerima diri sebagai
anak yang berbeda dari anak lain.
Tahap 4 : Penyakit dipandang sebagai kondisi
permanen. Perasaan selalu menjadi orang
sakit yang tidak pernah menjadi lebih baik.
Tahap 5 : Kesadaran bahwa hanya terdapat
pengobatan dalam jumlah terbatas. Kesadaran
tentang prognosis fatal.

Tanda-tanda fisik yang mendekati kematian.


Kehilangan sensasi dan gerakan pada ekstremitas
bawah, berlanjut ke tubuh bagian atas.
Sensasi panas, meskipun badan terasa dingin
Kehilangan indera
Sensasi taktil menurun
Sensasi terhadap sinar
Pendengaran adalah indera yang terakhir hilang
Konfusi, kehilangan kesadaran, bicara tidak jelas
Kelemahan otot
Kehilangan kontrol defekasi dari kandung kemih
Penurunan nafsu makan/ haus

Kesulitan menelan
Perubahan pola napas
Pernapasan cheynestokes. Death rattle (bunyi dada
bising karena akumulasi sekresi paru dan faring), Nadi
lemah dan lambat, penurunan tekanan darah
Kaji respon keluarga terhadap ancaman kematian.
Observasi adanya manifestasi reaksi berduka yang normal
pada anggota keluarga
Kaji sistem pendukung keluarga, mekanisme koping, dan
ketersediaan sumber.
Kaji kemampuan diri untuk memberikan perawatan efektif
pada anak yang menjelang ajal
Waspadai perasaan sendiri
Identifikasi strategi koping

DIAGNOSA
KEPERAWATAN
1. Perubahan pertumbuhan dan
perkembangan berhubungan dengan
penyakit terminal dan ancaman kematian
2.Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
berhubungan dengan kehilangan nafsu
makan, tidak tertarik pada makanan.
3.Takut/ cemas berhubungan dengan
diagnosa, terapi, dan prognosis
4.Berduka antisipasi berhubungan dengan
ancaman kematian anak

INTERVENSI
Keterbatasan aktivitas :
mengurangi ketidakmampuan
mempertahankan fungsi sosial
mempertahankan sikap tubuh yang baik
mempertahankan kebebasan gerak sendi
dan kekakuan
istirahat dan aktifitas yang cermat
mempertahankan daya tahan fisik dan
ADL

2. Peningkatan perawatan diri:


Terutama untuk kebutuhan fisik
(mandi, toileting, berpakaian)
3.Pertimbangan psikososial
-kepekaan perasaan,pendengaran
-hubungan yang harmonis, perhatian
4.Membantu klien dalam
penyesuaian diri.

PEDOMAN UNTUK MENDUKUNG


KELUARGA BERDUKA UMUM
Tinggal dengan keluarga ; duduk dengan tenang bila
mereka tidak ingin bicara
Terima reaksi berduka keluarga ; hindari pernyataan
menghakimi (mis Anda harus merasa baik sekarang).
Hindari pernyataan yang dibuat-buat (mis ; Saya tahu
apa yang anda rasakan atau anda masih cukup
muda untuk mempunyai bayi lagi).
Hadapi secara terbuka perasaan-perasaan seperti rasa
bersalah, marah dan kehilangan harga diri.
Fokuskan perasaan dengan menggunakan kata-kata
berperasaan dalam pernyataan (mis :Anda masih
merasakan semua kepedihan karena kehilangan anak)

PADA SAAT KEMATIAN


Yakinkan keluarga bahwa segala sesuatu
mungkin sedang dilakukan untuk anak, bila
mereka menginginkan intervensi
penyelamatan hidup.
Lakukan apa saja yang mungkin dilakukan
untuk menjamin kenyamanan anak,
khususnya penghilangan nyeri.
Beri kesempatan pada anak dan keluarga
untuk meninjau ulang pengalaman khusus
atau memori dalam kehidupan mereka.

Ekspresikan perasaan pribadi tentang kehilangan


dan/ atau frustasi (mis;Kami akan sangat
kehilangan dia atau Kami sudah mencoba segala
sesuatu; kami sangat menyesal bahwa kami tidak
dapat menyelamatkannya) Berikan informasi yang
diminta keluarga dan bersikap jujur.
Hargai kebutuhan emosional anggota keluarga
seperti saudara kandung, yang mungkin ingin
menyingkir sejenak dari anak yang menjelang ajal
Buat setiap upaya untuk mengatur anggota
keluarga khususnya orang tua untuk bersama anak
pada saat kematian, bila mereka menginginkannya.

Dorong keluarga untuk bicara dengan anak


bahkan bila ia tampak koma
Bantu keluarga mengidentifikasi dan
menghubungi kerabat, teman atau individu
pendukung lain.
Hargai keyakinan religius dan budaya
seperti upacara khusus atau ritual
Atur untuk dukungan spiritual, seperti
rohaniawan, beri dukungan spiritual sesuai
permintaan anak atau keluarganya.

SIMTOMATOLOGI BERDUKA
NORMAL

Sensasi distres somatik


Perasaan sesak di tenggorok
Tersedak dengan napas pendek
Kecenderungan nyata untuk napas
pendek
Perasaan kosong dalam abdomen

Distres subyektif terus-menerus yang


digambarkan sebagai tegangan atau
sakit mental
Preokupasi dengan bayangan kematian
Mendengar, melihat atau membayangkan
kehadiran individu yang sudah meninggal
Sedikit rasa tidak nyata
Perasaan jarak emosi dari orang lain
Dapat meyakini bahwa ia mendekati kegilaan
Perasaan bersalah
Mencari bukti kegagalan dalam mencegah
kematian
Mendakwa diri sendiri tentang pengabaian atau
kelalaian minor yang berlebihan

Perasaan bermusuhan
Kehilangan kehangatan terhadap orang lain
Kecenderungan untuk peka rangsang dan marah
Mengharapkan untuk tidak diganggu oleh teman
dan kerabat
Kehilangan pola berhubungan yang umum,
gelisah, tidak dapat duduk diam, gerakan tanpa
tujuan. Terus menerus mencari sesuatu untuk
dilakukan atau apa yang ia fikir harus lakukan
Kurang kapasitas untuk memulai atau
mempertahankan pola aktivitas yang teratur.