Anda di halaman 1dari 22

Peran serta

Masyarakat
dalam Penataan
Ruang

Disampaikan pada Acara FGD tingkat nasional Asosiasi Sekolah


Perencanaan Indonesia, Tanggal 19 Nop 2015 di Hotel Premier

Pada pasal 65 Undang-Undang No.26/2007 tentang Penataan Ruang


menyebutkan:
(1) Penyelenggaraan penataan ruang dilakukan oleh pemerintah dengan
melibatkan peran masyarakat.
(2) Peran masyarakat dalam penataan ruang sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan antara lain, melalui:
a. partisipasi dalam penyusunan rencana tata ruang;
b. partisipasi dalam pemanfaatan ruang; dan
c. partisipasi dalam pengendalian pemanfaatan ruang.

Bagaimana efektifitas peran serta masyarakat dalam dalam penataan


ruang? Adakah konflik penataan ruang pada tahap perencanaan &
bgmna intensitasnya

Jarak dari sumber air minum


(waduk buatan) hanya 1,2
kilometer dgn lokasi TPA
sampah

Figure 1.Water Pipe System at Rupat Sub-district

Fig 2. Landfill & Waste System at Rupat Sub-

Rendahnya partisipasi masyarakat disebabkan oleh beberapa


faktor (Mikkelsen, 2003) yaitu:
1. Adanya penolakan secara internal di kalangan anggota
masyarakat & penolakan eksternal terhadap pemerintah.
2. Kurangnya dana.
3. Terbatasnya informasi, pengetahuan atau pendidikan
masyarakat &;
4. Program kurang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

BAGAN ALIR KEDUDUKAN RDTR KOTA DALAM SISTEM


PERENCANAAN DAERAH MENURUT UU NO.26 TAHUN 2007

Sumber: Pedoman Rencana Detail Tata Ruang Kota, Dep.PU-2009

* Ketiadaan mekanisme pelibatan masyarakat dalam proses


penyusunan muatan RDTR
Gambar: Muatan Rencana Detail Tata Ruang

KAJIAN KEBIJAKAN DAERAH

Kebijakan Pembangunan Daerah


- Rencana Pembangunan Jangka
Panjang
- Rencana Pembangunan Jangka
Menengah
- Rencana Pembangunan Jangka
Pendek

RENCANA DETAIL TATA RUANG

Rencana Tata Ruang


- RTRW Propinsi
Banten
-RTRWPro
- RTRW Kabupaten
vinsi Riau
Kota
Cilegon
-RTRW
Kabupaten

Perumusan Konsep Pengembangan


Tata Ruang Yang Dituju

Bengkalis

1. Tujuan Pengembangan Kawasan


2. Konsep Struktur Ruang Kawasan
3. Strategi Pengembangan Kawasan
Review Arahan Kebijakan
Pengembangan Tata Ruang

Visi dan Misi Pengembangan


Daerah

Arahan Kebijakan
Pengembangan
Tata Ruang

Rencana Struktur dan Pola


Pemanfaatan Ruang

1. Rencana Struktur dan


Pemanfaatan Ruang
2. Rencana Pengembnagan
Sistem Transportasi
3. Rencana Pengembangan
Sarana & Prasarana
4. Rencana Pengembangan
Kawasan Tertentu/Prioritas

1. Distribusi Penduduk Dirinci dalam


Blok-Blok Peruntukan.
2. Rencana Struktur Pelayanan
Kegiatan Kawasan (Sarana
Pelayanan Kota)
3. Rencana Sistem Jaringan
Pergerakan (Transportasi).
4. Rencana Sistem Jaringan Utilitas
(Prasarana)

KONDISI DAN KECENDERUNGAN PERKEMBANGAN KOTA

Kondisi Fisik Dasar


Penggunaan Lahan

Kajian Aspek Kebencanaan

Analisis Kesesuaian dan Daya


Dukung Lahan

Analisis Struktur
Ruang dan Pola
Pemanfaatan Ruang
Kawasan

Rencana Blok Pemanfaatan Ruang


(Block Plan)

Pedoman Pelaksanaan
Pembangunan Kawasan

Kondisi Perekonomian Kota

Analisis Potensi
Perekonomian Kota

Kondisi Sosial
Kependudukan

Analisis Sosial-Kependudukan

Kondisi Sarana dan


Prasarana (Utilitas) Kota

Analisis Ketersediaan dan


Kebutuhan Sarana &
Prasarana (Uitilitas)

Pedoman Pengendalian
Pemanfaatan Ruang

Kondisi Sistem Transportasi

Analisis Pengembangan
Sistem Transportasi

Indikasi Program dan Tahapan


Pelaksanaan

DATA

ANALISIS

Analisis Potensi
dan Permasalahan
Pengembangan
Kawasan

1. Rencana Intensitas Bangunan


2. Rencana Ketinggian Bangunan
3. Rencana Perpetakan Bangunan
4. Rencana Garis Sempadan
5. Rencana Penanganan Blok
Peruntukan
6. Rencana Penanganan Sarana dan
Prasarana

RENCANA

Studi Kasus RTRW Kota Pekanbaru 2006


WILAYAH PEMBANGUNAN (WP) DALAM RTRW PEKANBARU
NO
1

WILAYAH PEMBANGUNAN

WP I

WP II

KECAMATAN
Pekanbaru Kota
Senapelan
Limapuluh
Sukajadi
Sail
Rumbai

WP III

Rumbai Pesisir

WP IV

Tenayan Raya
Bukit Raya

WP V

Marpoyan Damai
Tampan
Payung Sekaki

FUNGSI
Pemerintahan
Perdagangan
Perkantoran
Permukiman

Pendidikan
Perdagangan
Olahraga
Industri
Rekreasi
Kawasan lindung
Permukiman
Industri Besar
Pergudangan
Rekreasi
Kawasan Lindung
Permukiman
Industri Besar
Pergudangan
Rekreasi
Pemerintahan
Pendidikan
Permukiman
Pendidikan
Perkantoran
Pemerintahan
Industri
Permukiman

Kawasan Purna MTQ atau Bandar Serai


sebagai kawasan rekreasi berubah fungsi
menjadi kawasan Perdagangan & jasa di
dalam rancangan RTRW Kota Pekanbaru Tahun
2012-2032

Bagaimana persepsi masyarakat memahami haknya


untuk berperan serta dalam penataan ruang?

Indikator persepsi masyarakat pada Acara Konsultasi


Publik RTRW Pekanbaru tahun 2012-2032, tgl 19 Nop
2012:
Tingkat kehadiran peserta yaitu sebesar 71%
Jumlah undangan sangat terbatas
Dari total jumlah peserta yang hadir, komposisi
peserta dari masyarakat umum kurang dari 40%
Daya kritis cukup rendah terhadap keberadaan
Ruang Terbuka Hijau sebagai sarana rekreasi dan
Olahraga di Pekanbaru.

Pentingnya pemahaman peran serta masyarakat dari aparatur


Pemda. Sehingga penerapan pasal 7 dalam PP No.68/2010
dapat dijalankan dengan baik.
Pasal 7:
(1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dalam
perencanaan tata ruang dapat secara aktif melibatkan
masyarakat.
(2) Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah
yang terkena dampak langsung dari kegiatan penataan ruang,
yang memiliki keahlian di bidang penataan ruang, dan/atau
yang kegiatan pokoknya di bidang penataan ruang.

Terminal Bus Regional Bingkuang, Air Pacah, Padang Sumbar saat


ini berubah fungsi menjadi kawasan perkantoran pemerintah

Kelemahan perencanaan: belum mengkaji lokasi terminal & jarak terhadap pusatpusat aktifitas masyarakat. Dampaknya:
1. Aktifitas masyarakat terganggu.
2. Fungsi tidak optimal karna rendahnya pemanfaatan fasilitas
3. Aset Pemda terbuang sia-sia.
The Bingkuang Regional Bus Terminal at West Sumatera, Indonesia was not effective, not
optimal with a little support from stakeholder after operate in 1997-1998. (Fauzi,A, 2003;
Master Thesis at Gadjah Mada University, Urban and Regional Planning Department,
unpublished).

Hambatan-hambatan politis dalam praktek peran


masyarakat
Kasus: Lapangan Merdeka
Medan, Sumatera Utara (20042012)

Dalam skala wilayah, konflik penataan ruang cenderung meningkat baik lintas
sektoral dan/ atau lintas pemangku kepentingan; contoh:
a. Sektor Kehutanan dan Perkebunan
b. Permukiman & Kehutanan
c. Perindustrian dan Pertanian, atau
d. Kehutanan & perindustrian, atau
e. Pemerintah pusat dan daerah
f. Masyarakat dan pemerintah pusat.
Dampak lanjutan: peran serta masyarakat tidak efektif mengingat lemahnya
koordinasi & kontrol pemerintah, ketidakpatuhan masyarakat atau ketertutupan
pemerintah terhadap data yg dimiliki.

Sumber: Walhi 2015

Berdasarkan hasil penelitian di Jamaica, masyarakat akan tergerak


berpartisipasi jika (Goldsmith dan Blustain, 1980):
1. Partisipasi itu dilakukan melalui organisasi yang sudah dikenal
atau yang sudah ada di tengah-tengah masyarakat.
2. Partisipasi itu memberikan manfaat
masyarakat yang bersangkutan.

langsung

kepada

3. Manfaat yang diperoleh melalui partisipasi itu dapat memenuhi


kepentingan masyarakat setempat.
4.Dalam proses partisipasi itu terjamin adanya kontrol yang
dilakukan oleh masyarakat. Partisipasi masyarakat ternyata
berkurang jika mereka tidak atau kurang berperan dalam
pengambilan keputusan.

Pasal 13 UU 26/2007:
(1) Pemerintah melakukan pembinaan penataan ruang kepada pemerintah
daerah provinsi, pemerintah daerah kabupaten/kota, dan masyarakat
(2) Pembinaan penataan ruang sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilaksanakan melalui:
a. koordinasi penyelenggaraan penataan ruang;
b. sosialisasi peraturan perundang-undangan dan sosialisasi pedoman
bidang penataan ruang;
c. pemberian bimbingan, supervisi & konsultasi pelaksanaan penataan
ruang;
d. pendidikan dan pelatihan;
e. penelitian dan pengembangan;
f. pengembangan sistem informasi dan komunikasi penataan ruang;
g. penyebarluasan informasi penataan ruang kepada masyarakat; dan
h. pengembangan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat.

Bentuk utuh penataan ruang yg awet bersama tingkat


kepatuhan masyarakat (fungsi rekreasi & olahraga, RTH,
cagar budaya
Taman Kenrokuen dan
Kanazawa Castle Park,
Japan

Hashizume Gate relationship chronology


1583(Tensho11years)
ToshiieMaeda,becomes
Kanazawacastle
1631(8yearsKanei)

Kaneiofconflagration
erectingapalaceonthis
afterNinomaru,
HashizumeGate
foundation

1759(Horeki9years)
GreatFireoftreasure
calendar.Andburned
downmostofthe
buildingsofKanazawa
Castle.
ThreeMikadoalso
destroyedbyfire
1762(Horeki12years)

1788(8yearsTenmei)

Hashizumegate
reconstruction
HashizumeGate
continuedtower
reconstruction

Ishikawa Gate" after the large


treasure
calendar
(1759),
survived what was rebuilt in
1788
(1788),
has
been
designated as an important
cultural
property
of
the
country

Gedung Shinoke- Pertukaran


Budaya, Ishikawa Prefecture

Ada lima cara dalam melibatkan keikut-sertaan masyarakat (Conyer, 1996)


yaitu:
1. Survei dan konsultasi lokal untuk memperoleh data dan informasi yang
diperlukan.
2. Memanfaatkan petugas lapangan, agar sambil melakukan tugasnya
sebagai agen pembaharu juga menyerap berbagai informasi yang
dibutuhkan dalam perencanaan.
3. Perencanaan yang bersifat desentralisasi agar lebih memberikan peluang
yang semakin besar kepada masyarakat untuk berpartisipasi.
4. Perencanaan melalui pemerintah lokal.
5.
Menggunakan
development).

strategi

pembangunan

komunitas

(community

Menurut Sastropoetro (1988), ada lima unsur penting yang


menentukan gagal atau berhasilnya tingkat partisipasi, yaitu:
1. Komunikasi yang menumbuhkan pengertian yang efektif atau
berhasil.
2. Perubahan sikap, pendapat dan tingkah laku yang diakibatkan
oleh pengertian yang menumbuhkan kesadaran.
3.

Kesadaran yang
pertimbangan.

didasarkan

pada

perhitungan

dan

4. Kesediaan melakukan sesuatu yang tumbuh dari dalam lubuk


hati sendiri tanpa dipaksa orang lain.
5. Adanya rasa tanggung jawab terhadap kepentingan bersama.

Saran-saran bagi peningkatan peran-serta masyarakat dalam penataan


ruang, antara lain:
a. Penguatan kapasitas masyarakat untuk dapat berpartisipasi lebih
konstruktif.
b. Memberi kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk dapat
berpartisipasi secara berkelanjutan.
c. Membangun sistem informasi online yg memudahkan peran serta
dan dapat diakses oleh publik secara luas (Web tech, Public
Participation GIS method, etc)
d. Memadukan data spatial melalui one map policy yang terintegrasi
& update.