Anda di halaman 1dari 67

Dokter pembimbing

dr. Devi Gusmayanto,Sp.A,


M.Biomed
Oleh :

Hariana Etriya

PROLONG

Definisi

Ikterus neonatorum
Adalah suatu : keadaan klinis pada bayi
yang ditandai oleh pewarnaan ikterus
pada kulit dan sklera akibat akumulsi
bilirubin tak terkonyugasi yang berlebih.
Ikterus secara klinis akan mulai tampak
pada bayi baru lahir bila kadar bilirubin
daran 5-7 mg/dL.7

Hiperbilirubinemia :

Adalah
terjadinya
peningkatan
kadar
plasma bilirubin 2 standar deviasi atau
lebih
dari
kadar
yang
diharapkan
berdasarkan umur bayi atau lebih dari
persentil 90.

Definisi
Prolonged jaundice :
Didefinisikan sebagai penyakit
kuning yang menetap lebih dari
14 hari dari kehidupan pada
bayi cukup bulan.

Di Amerika Serikat Diperkirakan 50% dan 80% bayi


prematur mengalami penyakit kuning, biasanya 2-4 har
setelah lahir..

Di Indonesia, di Rumah Sakit Umum Pusat Rujukan Nasional Cipto


Mangunkusumo selama tahun 2003, menemukan prevalensi ikterus pada bayi
baru lahir sebesar 58% untuk kadar bilirubin di atas 5 mg/dL dan 29,3%
dengan kadar bilirubin di atas 12 mg/dL pada minggu pertama kehidupan.

Insiden hiperbilirubinemia pada neonatus di negaranegara berkembang belum tersedia karena mayoritas
persalinan dilakukan di rumah

Neonatal
Jaundice
Unconjugat
ed
Pathologi
c
Hemolitic
Intrinsic
causes

Physiologic
NonHemolitic
Ektrinsic
causes

Conjugated
bilirubin
Hepatic

Post- Hepatic

PENYEBAB NEONATAL HIPERBILIRUBINEMIA INDIREK.5


Dasar
Peningkatan
bilirubin
Peningkatan
hemoglobin

produksi

penghancuran

Peningkatan
hemoglobin

jumlah

Peningkatan
enterohepatik

sirkulasi

Perubahan clearance bilirubin


hati
Perubahan
produksi
atau
aktivitas
uridine
diphosphoglucoronyl

Penyebab
Incomptabilitas darah fetomaternal (Rh,ABO)
Difisiensi enzim kongenital (G6PD, galaktosemia).
Perdarahan tertutup (sefal hematom, memar
Sepsis
Polisitemia (twin-to-twin transfusion,SGA)
Keterlambatan klem tali pusat
Keterlambatan pasase mekonium, ileus mekonium,
meconium plug syndrom
Puasa atau keterlambatan minum
Atresia atau stenosis intestinal
Imaturitas
Gangguan metabolik/endokrin (Criglar-najjar disease,
hipotiroidisme, gangguan metabolisme asam amino)
Asfiksia, hipoksia, hipotermi, hipoglikemi.
Sepsis (juga proses inflamasi)
Obat-obatan dan hormon (novobiasin, pregnandiol)
Anomali kongenital (atresia biliaris, fibrolisis kistik)
Stasis biliaris (hepatitis, sepsis)
Billirubin load berlebihan (sering pada hemolisis

Umumnya
pada ibu
gol darah O
dan bayi
gol darah A
atau B

Gangguan
enzim
glukoronil
transferase

Hipotiroi
d
kongenita
l

Aktivitas
enzim ini
menurun
peningkatan
ratio
kolesterolfosfolipid
pada
membran
Gangguan
hepatosit
kerja dari
enzim Na+
K+ ATPase

Gangguan
katalisis proses
konjugasi
penurunan
bilirubin
ekskresi
bilirubin
terkonjugasi
dari hepatosit
gangguan pada
kedalam usus
proses
pengambilan
bilirubin tak
terkonjugasi oleh
hepatosit
Gangguan
proses uptake
bilirubin oleh
hati

Peningkata
n bilirubin
tak
terkonjugas
i

Peningkata
n bilirubin
tak
terkonjuga
si

DIAGNOSIS
ANAMNESIS
Riwayat keluarga ikterus, anemia
Riwayat keluarga dengan penyakit hati
Riwayat saudara dengan ikterus atau anemia, mengarahkan pada kemungkinan
inkompatibilitas golongan darah atau breast-milk jaundice.
Riwayat sakit selama kehamilan, menandakan kemungkinan infeksi virus atau
toksoplasma
Riwayat obat-obatan yang dikonsumsi ibu, yang berpotensi menggeser ikatan bilirubin
dengan albumin
Riwayat persalinan traumatik yang berpotensi menyebabkan perdarahan atau hemolisis.

PEMERIKSAAN FISIK

Prematuritas
Kecil masa kehamilan (small for gestational age/SGA), dapat
berhubungan dengan polisitemia dan infeksi in utero
Mikrosefali, berhubungan dengan infeksi in utero
Memar, sefalhematom, atau perdarahan tertutup lainnya
Pucat/pallor, berhubungan dengan anemia hemolitik atau perdarahan
Petechiae, berhubungan dengan infeksi congenital, sepsis, atau
eritroblastosis
Hepatosplenomegali, berhubungan dengan anemia hemolitik, infeksi
kongenital, penyakit hepar
Omphalitis
Chorioretinitis, berhubungan dengan infeksi congenital
Tanda hipotiroidisme

PEMERIKSAAN FISIK

Daer
ah
ikter
us

Penjelasan

1
2
3
4

Kepala dan leher


Dada sampai pusat
Pusat
bagian
bawah
sampai lutut
Lutut
sampai
pergelangan kaki dan

Kadar
bilirubin
(mg/dL)
Premat Ater
ur
m

48
5 12
7 15
9 18

> 10

48
5
12
8
16
11

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Bilirubin
Darah perifer lengkap
dan gambaran apusan
darah tepi
Golongan darah,
Rhesus, dan --direct
Coombs test dari ibu
dan bayi
Kadar enzim G6PD
pada eritrosit.
uji fungsi hati,
pemeriksaan urin, TSH
& FT4

Bilirubin serum total. Bilirubin serum direk dan


indirek
Untuk melihat morfologi eritrosit dan ada
tidaknya hemolisis. Bila fasilitas tersedia,
lengkapi dengan hitung retikulosit.
untuk mencari penyakit hemolitik.

Untuk mengetahui kemungkinan defisiensi G6PD

untuk mencari infeksi , sepsis, defek metabolik,


atau hipotiroid.

http://www.pathophys.org/neonatal-hyperbilirubinemia/

TATALAKSANA

Farmakologi

Imunoglobulin intravena
Fenobarbital
Metalloprotoporfhyrin
Tin-protophorphyrin & tin-mesoporphyrin
Inhibitor -glukuronidase

BILE ACID SEQUESTERING GOLONGAN RESIN

Kolestirami
n
Kolestipol

Mekanisme kerja keduanya


menurunkan kadar kolesterol
plasma dengan cara mengikat asam
empedu dalam saluran cerna.
Mengganggu sirkulasi entero
hepatik sehingga ekskresu ekskresi
asam empedu dalam tinja
meningkat

Ursodeoxycholic
acid
Adalah asam empedu tersier yang
memiliki potensi untuk mengurangi
tingkat kejenuhan asam empedu
menekan pembentukan batu empedu
Menekan sintesis dan sekresi kolesterol
dari hati
Menghambat penyerapan kolesterol di
usus
Penghambat an k eci l p ada sintesis d an
sekresi asam empedu endogen, tanpa
mempengaruhi sekresi fosfolipid kedalam
empedu

https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?
q=tbn:ANd9GcQbZho7sXcAHYBQP95pUVWK9VT2_8PfaZi_yD_vbBm_0AdJ7-xj

FOTOTERAPI

Sebagai patokan gunakan


kadar bilirubin total
Pada bayi dengan usia
kehamilan 35-37
diperbolehkan untuk
melakukan fototerapi
pada kadar bilirubin total
sekitar medium risk line.
Diperbolehkan melakukan
foto terapi baik di rumah
sakit atau dirumah pada
kadar bilirubin total 2-3
mg/dl dibawah garis yang
ditunjukkan, namun pada
bayi- bayi yang memiliki
faktor resiko fototerapi

TRANSFUSI TUKAR

Direkomendasikan
segera
bila
bayi
menunjukkan
gejala
ensefalopati akut atau
bila kadar bilirubin
total 5 mg/dL diatas
garis patokan.
Faktor
resiko
:
penyakit
hemolitik
autoimun,
defisiensi
G6PD,
asfiksia,
letargis, suhu tidak
stabil,
sepsis,
asidosis.

PENCEGAHAN
Menganjurkan ibu untuk menyusui bayi minimal 8-12 kali sehari
Tidak memberikan cairan tambahan seperti dextrose atau air pada
bayi yang mendpat ASI dan tidak mengalami dehidrasi
Setiap bayi baru lahir harus dievaluasi terhadap kemungkinan
mengalami hiperbilirubinemia berat
Saat ini tersedia alat non-invasif untuk memperkirakan kadar bilirubin
pada kulit dan jaringan subkuan yaitu transkutaneus bilirubinometer
Setiap ibu hamil harus menjalani pemeriksaan golongan darah dan
faktor rhesus

KOMPLIKASI
Kern icterus atau ensefalopati bilirubin adalah
sindrom neurologis yang disebabkan oleh deposisi
bilirubin tidak terkonjugasi (bilirubin tidak langsung
atau bilirubin indirek) di basal ganglia dan nuclei
batang otak.

IDENTITAS
PASIEN

No. MR
: 166607
Masuk
: 15 juli
2016
Nama
: By.Ny.S
Umur
: 6 hari
(09-07-2016)
Jenis kelamin :
Perempuan
Anak ke
:2
Agama
: Islam
Alamat : Lubuk dalam
001/003

IDENTITAS ORANG TUA

Nama
Umur
Pekerjaan
Agama
Perkawinan

Ayah
Tn. DV
40 th
Wiraswasta
Islam
Ke 1

Ibu
Ny. ED
33 th
IRT
Islam
Ke 1

ALLOANAMNESIS
Diberikan oleh : Ibu & ayah kandung
pasien

Keluha
n
utama
:

Bayi
kuning
sejak
usia 3
hari

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Pasien lahir pada tanggal 09-07-2016 di bidan desa secara spontan.


Berdasarkan keterangan keluarga saat lahir pasien tidak langsung
menangis, biru (+), tidak sesak, namun pasien terlihat lemah, tidak aktif,
demam (-), ketuban keruh, hijau (-).
Beberapa jam setelah lahir pasien belum diperbolehkan pulang karena
masih dalam pemantauan, beberapa jam kemudian diperbolehkan pulang,
namun pasien belum mendapat ASI karena ASI ibu tidak keluar.
Selama 1 hari pasien tidak mendapatkan ASI, lalu bidan menyarankan untuk
memberikan susu formula, dan keluarga pasien memberikan susu formula
3x.
Pada usia 2 hari (2 Hari SMRS) pasien BAB cair 4 x sehari, BAB cair warna
kehijauan, lendir (-), darah (-), demam (-), muntah (-), menyusu (+), ASI
sudah mulai keluar, bayi kurang aktif.
Sejak usia 3 hari (1 Hari SMRS) bayi terlihat kuning, kuning terlihat
diseluruh tubuh, demam (-), kejang (-), Muntah (-), BAB cair (+), BAK pekat
seperti teh (-), BAB putih seperti dempul (-), ASI (+), susu formula (-).

RPD
Kuning di hari
pertama
kelahiran (-)
Demam
setelah lahir
(-)
Sesak setelah
lahir (-)

RPK
Tidak ada keluarga
yang pernah sakit
kuning
Golongan darah
ayah (O) Rh (?)
Golongan darah Ibu
(?), Rh (?)
Golongan darah
anak pertama (O),
Rh (?), tidak pernah
kuning.

Riw.sos
ek

Pasien tinggal di lingkungan tidak


padat penduduk
Sumber air minum dari air sumur yang
dimasak
Lingkungan bersih, tidak ada sampah,
tidak disekitar kawasan pabrik
Sampah : dibakar

Kesan

Kesan :
higiene dan
sanitasi baik

Riwayat Kehamilan ibu


G2P1A0H1
Presentasi bayi : ?
Penyakit selama hamil : muntah muntah di usia pertama
kehamilan (+), keputihan (+).
Tidakan selama kehamialan : Ibu pasien periksa kehamilan rutin, di bidan
Imunisasi selama kehamilan tidak pernah
Lama hamil : 9 bulan, HPHT : lupa , keterangan cukup bulan (3738 minggu)
Pemeriksaan waktu hamil : (di bidan)
TD: ?
Suhu :?
Hb: ?
Leukosit : ?

Riwayat
Kelahiran
Lahir tanggal 9
juli 2016 ,
pukul 06.05
Jenis kelamin
Perempuan
Jenis persalinan
spontan,
dipimpin oleh
bidan desa,

Keadaan bayi saat


lahir :

BB 2300, PB 47 cm
Keterangan keluarga
bayi, Lahir tidak
langsung menangis
tampak kebiruan,
ketuban keruh, hijau (-),
mekonium (?), kelainan
kongenital (-), jejas
persalinan (-)
Apgas sscor dari IGD
7/8 ?

Makan &
minum
Hari pertama lahir ASI
tidak keluar, orang tua
pasien dianjurkan oleh
bidan untuk memberi
susu formula
Susu Formula di
berikan hanya 3 kali,
lalu asi keluar dan
pasien di beri ASI
Kesan : Asi tidak
eksklusif

Imunisasi :
Menurut keterangan
Ayah pasien: belum
pernah di imunisasi.
Hpetatitis (Hb 0) ? tidak
tahu, menurut keluarga
bayi di suntuk di paha
kiri tapi tidak tahu
imunisasi atau tidak

Riwaya
t
Keluar
ga:

Saudara kandung
pasien : An.SNNH
2 tahun, sehat,
tidak pernah
kuning.
Penykit yang
pernah diderita
orang tua:
Ayah : tidak
pernah sakit
Ibu : Muntah

PEMERIKSAAN UMUM
Keadaan
Umum :
Kesadaran
:
Nadi
:
Pernafasan
:
Suhu
:

Tampak
sedang
ALERT

sakit Edema tungkai


:
Ikterus
:
133 kali/menit Sianosis
:
38 kali/menit
Anemis
:
36,4 oC
Berat lahir
:

Ada
Ada
Tidak
ada
Tidak
ada
2300
gram

PEMERIKSAAN FISIK

Kepala

Mata

Normocephal, ubun-ubun
cekung (-)
Ubun-Ubun besar : 2,5cmx
2,5 cm
Ubun-ubun kecil : 1,5cm x1,5
cm
Lengkap,
Jejas persalinan
(-)(-/-)
Sekret

Telinga Ada, sekret (-/-)

Hidung : Ada, deviasi septum (-), sekret


(-/-)
Mulut : Ada , Labiopalatoskisis (-), bibir
kering (-)
Wajah : mongoloid seperti down
syndrome
Leher : Pembesaran KGB (-)

THORAKS

Cor
I : Ictus cordis terlihat di SIC V
midclavicularis sinistra
P : Ictus cordis teraba di SIC V linea
midclavicularis sinistra
Per:
Batas jantung kanan atas di SIC II
linea parasternalis dextra
Batas jantung kanan bawah di SIC III
linea parasternalis dextra
Pinggang jantung di SIC III sinistra
Batas jantung kiri bawah di SIC V
linea midclavicularis sinistra
A : Bunyi jantung I dan II reguler,
murmur (-), gallop (-)

Pul
mo

Ins : tulang iga terlihat,


bentuk thoraks normal,
retraksi dinding dada(-)
Pal : gerakan dinding
dada simetris kanan dan
kiri
Per : sonor di kedua
lapang paru
Aus : Suara nafas
vesikular (+/+), Rhonki
(-/-), Wheezing (-/-)

Abdome
n
Ins : Tampak
cembung (-), distensi
(-)
Aus : BU (+) normal
Pal: Turgor kembali
cepat, hepar dan lien
tidak teraba
Per : Timpani

Ekstremi
tas

Superior : Akral
hangat, edema (-),
CRT <2 detik
Inferior : Akral
hangat, edema (-),
CRT <2 detik,
edema tungkai (+/
+)

Reflex
Moro : (+), normal
Rooting : (+), normal
Isap (suckling) : (+), normal
Pegang (grasping): (+),
normal

Balad skor

Laboratori
um

Darah

Hemoglobin : 18,9 gr/dl


Leukosit
: 9.300 / mm3
Eritrosit
: 5,65 juta / mm 3
Trombosit
: 162.000 / mm3
Golongan darah : Hematokrit
: 55,0 %
Bilirubin total : 10,3 ml/dl
Bilirubin direk : 3,7 mg/dl
Bilirubin indirek : 6,6 mg/dl

Lahir
spontan,
bidan, tidak
langsung
menangis,
biru (+),
terlihat
lemah, tidak
aktif,
demam (-),
ketuban
keruh, hijau
(-).
tanggal 0907-2016

Selama
1 hari
pasien
tidak
mendap
atkan
ASI,
susu
formula
(+) 3x

Usia 1 hari

sign dalam
batas
RESUME
normal, SI+/
+, ubun
Bayi
ubun
pasien BAB
terlihat
cekung (-)
cair 4 x
kuning,
kepala, dada
sehari, BAB
diseluruh
sampai
cair warna
tubuh,
pusat
kehijauan,
demam
ikterik,
Ke
lendir (-),
(-),
wajah
I
darah (-),
kejang
mongoloid,
demam (-),
(-),
sela hidung
G
muntah (-),
Muntah
datar seperti
D
menyusu (+),
(-), BAB
down
ASI sudah
cair (+),
sindrom,
mulai keluar,
ASI (+),
leher,
bayi kurang
susu
thoraks,
aktif.
formula
abdomen,
(-).
dalam batas
Usia 3 hari
normal.
Usia 2 hari
(1 Hari
Kesan
(2 Hari
15/7/1
SMRS)
ikterik
SMRS)
6 I-II
kramer

Prolong
jaundice
ec
suspect
hipotiroi
d Diagnosis
Kerja
kongenit
al

Diagnosis banding
:

Prolong jaundice ec susp


hipotiroid kongenital +
alergi susu sapi
Prolong jaundice ec suspect
Breastfeeding jaundice +
alergi susu sapi

Penatalaksa
naan

TSH &
FT4

Pemeriksaan
Anjuran :

Rawat perina
IVFD GZ 4:1/D5 NS
150 cc /kgBB/hari
14 tts/i mikro
L-bio (prebiotik) 2x
1/3
Urdafalk 3x25 mg
(Ursodeoxycholic
Acid)
Fototerapi intensif
ASI OD

Quo ad vitam
:
dubia ad bonam
Quo ad
fungsionam :
dubia ad bonam
Quo ad
sanationam :
dubia ad bonam

Prognosis

Hari/
Tanggal
16-07-16

BB:
2440 gram

Follow up
Demam (-)
Sesak nafas (-)
Kebiruan (-)
Tampak kuning (+)
Menyusu : kurang
Muntah (-)
BAK (+)
Mekonium (+)
o/ Sedang, cukup
HR: 140x/i RR:32x/i T:36,50C
NCH +/ Mata CA-/- SI -/ Thorax retraksi dining dada -/ Abdomen BU (+), distensi (-), turgor
kulit baik
Ekstremitas Akral hangat, CRT<2
A/ Prolong jaundice + susp hipotiroid
kongenital

Terapi

IVFD af
IV plug
L-bio (probiotik) 2x 1/3
Urdafalk 3x25 mg
Inj.
Picyn
2x120
mg
(ampisilin & sulbaktam)
Inj. Gentamisin 1x12mg
Fototerapi
ASI OD

Hari/
Tanggal
17-7-16

BB:
2440gram

Follow up

Terapi

S/
Demam(-)
Sesaknafas(-)
Kebiruan(-)
Tampakkuning(+)
Menyusu:kurang
Muntah(-)
BAK(+)
Mekonium(+)
O/
Sedang,cukup
HR:130x/iRR:40x/iT:36,30C
NCH+/ MataCA-/-SI-/ Thoraxretraksidiningdada-/ Abdomen BU (+), distensi (-), turgor kulit

L-bio(probiotik)2x1/3
Urdafalk3x25mg
Inj.Picyn2x120mg(ampisilin &

baik

EkstremitasAkralhangat,CRT<2
A/Prolongjaundice+susphipotiroidkongenital

sulbaktam)

Inj.Gentamisin1x12mg
ASIOD

Hari/
Tanggal
18-7-16

BB:
2500gram

Follow up
S/
Demam(-)
Sesaknafas(-)
Kebiruan(-)
Tampakkuning<<
Menyusu
Muntah(-)
BAK(+)
Mekonium(+)
O/Sedang,cukup
HR:136x/iRR:38x/iT:36,60C
NCH+/ MataCA-/-SI-/ Thoraxretraksidiningdada-/ AbdomenBU(+),distensi(-),turgorkulitbaik
EkstremitasAkralhangat,CRT<2
A/prolongjaundice+susphipotiroidkongenital

Terapi

IVplug
L-bio(probiotik)2x1/3
Urdafalk3x25mg
Inj.Picyn2x120mg(ampisilin &
sulbaktam)

Inj.Gentamisin1x12mg
ASIOD

Hari/
Tanggal

19-7-16

BB:
2560gram

Follow up

Terapi

S/
Demam(-)
Sesaknafas(-)
Kebiruan(-)
Tampakkuning<<
Menyusu
Muntah(-)
BAK(+)
Mekonium(+)
O/Sedang,cukup
HR:138x/iRR:38x/iT:36,00C
NCH+/ MataCA-/-SI-/ Thoraxretraksidiningdada-/ AbdomenBU(+),distensi(-),turgorkulitbaik
EkstremitasAkralhangat,CRT<2
A/prolongjaundice+susphipotiroidkongenital

Bolehpulang
Anjuran cek TSH &
FT4diluar
Jemur / fototerapi
konvensional
di
rumah
Kontrolkepoli

26-07-2016
datang dengn
laboratorium
tanggal
19- 07-2016
TSH Neonatus
5,68 /U/ml (20
/U/ml)
F T4 1,65 mg/dl
(0,56-2,37 mg/dl).

Dugaan
hipotiroid
kongenital
dapat
disingkirk
an

Dugaan
diagnosis:
Prolong
jaundice ec
suspect
Breastfeeding
jaundice +
Suspect down
sindrom +
Intoleransi susu
sapi

PEMBAHASAN
Pada pasien ini
terjadi ikterik >14
hari mulai dari usia
3 hari (12-07-2016)
sampai saat kontrol
ke poli RSUD
Tengku Rafian (2607-2016) pasien
masih terlihat
kuning.

Terjadi
ikterik
>14 hari

Prolon
g
jaundic
e.

IKTERUS FISIOLOGIS

PASIEN

Kadar bilirubin tak terkonjugasi


minggu pertama >2 mg/dL.

Pada bayi cukup bulan + susu formula


bilirubin akan mencapai puncaknya sekitar
6-8 mg/dL pada hari ke-3 kehidupan dan
kemudian akan menurun cepat selama 2-3
hari diikuti dengan penurunan yang lambat
sebesar 1 mg/dL selama 1 sampai 2 minggu.

pada

Bayi cukup bulan + ASI kadar bilirubin


puncak mencapai kadar yang lebih tinggi (714mg/dL) dan penurunan terjadi lebih
lambat. Bisa terjadi dalam waktu 2-4

Pasien
mengalami
kuning
sejak
usia 3 hari
Terjadi
peningkatan
bilirubin
total
10,3
Bilirubin
direk
(3,7 mg/dl)
Bilirubin indirek
(6,6 mg/dl)

Table of diagnostic tests[20]


Pre-hepatic
Function test
jaundice
Normal /
Total bilirubin
increased
Conjugated bilirubin Normal
Unconjugated
Normal /
bilirubin
increased
Normal /
Urobilinogen
increased
Urine color

Normal

Hepatic jaundice

Post-hepatic
jaundice

Increased
Increased

Increased

Increased

Normal

Decreased

Decreased /
negative

Dark
(urobilinogen +
conjugated
bilirubin)
Normal/pale

Dark
(conjugated
bilirubin)

Pada
pasien
Susp
prehepati
k

Stool color
Normal
Pale
Alkaline phosphatase
Increased
levels
Normal
Alanine transferase
and aspartate
Increased
transferase
levels
Goljan, Edward
F. (2007) Rapid Review Pathology, 2nd ed., Elsevier Health Sciences, pp. 368369,

G6PD
defisiensi

Hypotiroid kongenital

Breast milk
jaundice

Breast
feeding

Inkompatibil
itas

Terlihat
pucat
Cepat
lelah/lemas
Takikardia
Jaundice
Splenomegali
Urin pekat
atau seperti
teh karena
pewarnaan
hemoglobinu
ria
Penunjang
(+) defisiensi
G6Pd

Bayi baru lahir s.d usia 8


minggu keluhan tidak
spesifik
Retardasi perkembangan
Gagal tumbuh
Letargi/kurang aktif
Konstipasi
Malas menetek
Suara menangis serak /
hipotonia
Pucat, kuning(ikterik)
Lahir di daerah endemik
Biasanya lahir matur /
lebih bulan
Riwayat gangguan tiroid
di keluarga
Dull face, lidah besar
Kulit kering
Biasanya disertai kelainan
bawaan lainnya

Kuning
Semakin di
beri asi
semakin
kuning

Kuning
Keterlamba
tan
mendapat
ASI

Kuning
Terbukti
adanya
inkompatibilit
as ABO atau
rhesus

Hipotiroid kongenital

TATALAKSANA

Pasien ini
diterapi
dengan
Urdafalk
3x25 mg
(8-10mg/kg)
mengandung
Ursodeoxych
olic acid

Ursodeoxycholic acid berfungsi


Menekan sintesis dan sekresi kolesterol dari
hati
Menghambat penyerapan kolesterol pada usus.
Penghambatan kecil pada sintesis dan sekresi
asam empedu endogen, tanpa mempengaruhi
sekresi fosfolipid ke dalam empedu.

TATALAKSANA

Fototerap
i Intensif

Fototerapi
intensif
adalah
fototerapi dengan menggunakan
sinar
blue-green
spectrum
(panjang gelombang 430-490 nm)
dengan kekuatan paling kurang
30uW/cm

Pemfis
Pasien
dengan
BAB cair
rentan
terjadi
Anamnes
dehidrasi

is

Tanda
dehidrasi
(-)

Rawat perina
IVFD GZ 4:1/D5
NS 150 cc
/kgBB/hari 14
tts/i mikro
L-bio (probiotik)
2x 1/3
Urdafalk 3x25 mg
(Ursodeoxycholic
Acid) Terapi
ASI OD
pasien

IVFD GZ
41/ D5
NS

komposisi Per 1000 mL GLucose 55 gram,


NaCl 2,25 gram, air untuk larutan injeksi ad
1.000 mL., Per 5 mL mengandung : Natrium
38.5 meg/Liter, Klorida 38.5 meg/Liter,
Dextrose 50 gram/Liter (NaCl 2.25 gram, water
for injeksion 1.000 mL). Osmolaritis : 355
mOsm/Liter.
diindikasikan untuk neonatus untuk mengatasi
dehidrasi, menambah kalori dan
mengembalikan keseimbangan elektrolit.

kebutuhan
pada
Neonatus

60-80 cc/kg/hari
Semakin rendah BB semakin besar kebutuhan
cairan
Setiap pertambahan usia di naikkan 10-20
cc/kg/hari
BB= 2570
Usia =7
140-150 cc./kg/hari 359 cc s.d 385 cc/hari

Pasien ini
diberikan
lacto B
(probiolti
k) 3x1/3
sachet

Berfungsi meningkatkan
perimbangan mikroflora usus,
Bifidobacteria menguntungkan
karena berperan menghambat
pertumbuhan kuman patogen,
aktivitas imunomodulasi, restorasi
flora usus setelah terapi
antibiotik, produksi enzim
pencernaan, memperbaiki diare
yang disebabkan penggunaan
antibiotik, represi rotavirus

mekanisme kerja dengan


melakukan perlekatan kompetitor
inhibisi pada enterosit, dan

Etiologi
Penyeba
b diare
Diare

Susp . Alergi
susu sapi
Diare muncul setelah
pemberian susu sapi 1
hari sebelum diare

Ikterus

Kriteria
mayor

KPD > 18
jam
Demam intra
partum > 38
0C
Korioamnioni
tis
Ketuban
hijau kental
berbau
Djj > 160 x/i

Pertimbangkan
karena
mekanisme
Infeksi / sepsis

Kriteria
minor

KPD >12 jam


Demam
intrapartum
> 37,5 0C
A/S 5/7
BBLSR
<1500 gr
Kembar
UK < 37
minggu
Keputihan

Inj.

Picyn

2x120

mg

(ampisilin & sulbaktam)

Inj.Gentamisin1x12mg

Pasien
Data Resiko
sepsis tidak
jelas
Pencegahan
sepsis

Pada tanggal 26-07-2016 pasien datang kepoli RSUD Tengku Rafian


membawa hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 19- 07-2016
dengan hasil
TSH Neonatus 5,68 /U/ml (20 /U/ml )
F T4 1,65 mg/dl (0,56-2,37 mg/dl)
Sehingga dugaan hipotiroid kongenital dapat disingkirkan.

Dugaan etiologi ikterik pada pasien adalah :


Prolong jaundice ec suspect sepsis + Suspect alergi susu sapi

PENUTUP

Kejadian hiperbilirubinemia pada neonatus dapat berupa


fisiologis dan patologis. Hal ini dapat kita bedakan dengan
secara teliti melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik
pada pasien serta dibantu dengan pemeriksaan penunjang.
Ketika kita sudah menegakan diagnosis, kita juga perlu
memikirkan jenis terapi apa yang akan diberikan kepada
pasien, sesuai dengan kriteria atau kondisi-kondisi yang
sudah dijelaskan pada makalah ini.
Namun kita juga harus memikirkan komplikasikomplikasi yang dapat terjadi baik dari penyakit itu sendiri
maupun dari pengobatan yang terjadi. Pencegahanpencegahan juga harus dipikirkan sedemikian rupa
sehingga tidak timbul komplikasi lebih lanjut dan mencapai

DAFTAR PUSTAKA
1. Department of Neonatology, Women and Children's Division, Director of Clinical Ethics, Oslo University Hospital HC,
Rikshospitalet,; Director of Pediatric Education, Faculty of Medicine, University of Oslo, Norway . Updated: Mar 04,
2016. http://emedicine.medscape.com

1. Sudigdo dkk. 2004.

Tatalaksana Ikterus Neonatorum. Jakarta: HTA Indonesia.

2. Mansjoer, A dkk. 2002. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: FKUI


3. Giannattasio A., Ranucci G., Raimondi F. 2015. Prolonged neonatal jaundice. Italian Journal Society of Pediatrics.
41(Suppl 2):A36

4. Sukadi, Abdulrahman. Buku Ajar Neonatologi. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Edisi I. 2010. IDAI. Hal 147-169
5. Guyton

AC. Hall JE. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Penterjemah: Irawati, Ramadani D, Indriyani F.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran. EGC.2006.

6. Pudjiadi

AH, Hegar B, Hamdrayastuti, et all. Pedoman pelayanan medis ikatan dokter anak indonesia. Jilid Ke-II.
Jakarta: Badan Penerbit IDAI; 2011. h. 112-22.

7. Damanik,

Sylvia. Pedoman Diagnosis dan Terapi Bagian Ilmu Kesehatan Anak. Edisi III. 2008. Rumah Sakit
dokter Soetomo. Hiperbilirubinemia. Hal : 17-21.

8. Behrman RE, Kliegman RM. Nelson esensi pediatri. Edisi ke-4. Jakarta: EGC; 2010. h. 244-7.
9. American

Academy of Pediatrics Subcommittee on Hyperbilirubinemia. Clinical Practice Guideline for the


Management of Hyperbilirubinemia in the Newborn Infant 35 or More Weeks of Gestation. Pediatrics July 2004;
Vol 114(1):297-316 http://aappolicy.aappublications.org/cgi/reprint/pediatrics;114/1/297.pdf

10.American Academy of Pediatrics. Technical Report: Phototherapy to Prevent severe


Neonatal Hyperbilirubinemia in the Newborn Infant 35 or More Weeks of Gestation.
Pediatrics, 2011; 128: e1046-e1052. http://pediatrics.aappublications.o