Anda di halaman 1dari 16

LGBT

(Lesbian Gay Bisex Transgender)

Pengert
ian
LGBT
LESBIAN :
Orientasi seksual seorang Perempuan yang hanya Mempunyai Hasrat
Sesama Perempuan
GAY :
Orientasi Seksual seorang Pria yang hanya Mempunyai Hasrat Sesama
Pria
BISEX :
Sebuah Orientasi Sexsual Seorang Pria/Wanita yang menyukai dua jenis
kelamin baik Pria/Wanita
TRANSGENDER :
Sebuah Orientasi seksual seorang Pria/Wanita dengan mengidentifikasi
dirinya menyerupai Pria/Wanita (Misal:Waria)

Sekilas Tentang LGBT


LGBT tak dapat dilepaskan dari

pembahasan tentang seksualitas

karena hal tersebut yang menyebabkan adanya diskriminasi dan


kekerasan yang dialami oleh kalangan LBGT. Seksualitas yang
dimaksud disini memiliki makna yang luas yaitu

sebuah aspek

kehidupan menyeluruh meliputi konsep tentang seks (jenis kelamin),


gender, orientasi seksual dan identitas gender, identitas seksual,
erotism, kesenangan, keintiman dan reproduksi. Seksualitas dialami
dan diekspresikan dalam pikiran, fantasi, hasrat, kepercayaan/nilainilai, tingkah laku, kebiasaan, peran dan hubungan. Namun demikian,
tidak

semua

aspek

dalam

seksualitas

selalu

dialami

atau

diekspresikan. Seksualitas dipengaruhi oleh interaksi faktor-faktor


biologis, psikologis, sosial, ekonomi, politik, sejarah, agama, dan
spiritual (Definisi WHO dalam Ardhanary Institute dan HIVOS)

LGBT MENURUT
PERATURAN PERUNDANGUNDANGAN DI INDONESIA
DAN HUKUM AGAMA

LGBT MENURUT KUHP & RUUKUHP


KUHP HANYA melarang persetubuhan sejenis kelamin antara orang

dewasa dengan orang belum dewasa (Pasal 292 KUHP) atau orang
belum berumur 18 tahun (Pasal 492 RUU-KUHP).
Pasal 292 KUHP: hukuman bagi pelaku persetubuhan sejenis kelamin

dengan ORANG BELUM DEWASA, yaitu

dikenakan PENJARA

PALING LAMA 5 TAHUN.


Pasal 492 RUU-KUHP: hanya melarang persetubuhan sejenis kelamin

dengan ORANG BELUM MENCAPAI UMUR 18 TAHUN, dikenakan


hukuman PENJARA paling singkat 1 TAHUN paling lama 7 TAHUN.

Ditinjau dari Hukum Islam


Al-Quran, surah al-Araf ayat 60 s/d 84

yaitu melarang homoseksual baik gay


(liwath) maupun lesbian (musahaqah).

TRANSEKSUAL / TRANSGENDER
MENURUT HUKUM ISLAM DI
INDONESIA
FATWA MUI dalam Musyawarah Nasional II

Tahun 1980:
1. Merubah jenis kelamin laki-laki menjadi
perempuan atau sebaliknya hukumnya
HARAM, karena bertentangan dengan alQuran surah an-Nisa ayat 19 (...Mungkin
kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah
menjadikan padanya kebaikan yang banyak)
dan bertentangan pula dengan jiwa Syara.
2. Orang yang kelaminnnya diganti kedudukan
hukum jenis kelaminnya sama dengan jenis
kelamin sebelum diganti.

LARANGAN HOMOSEKSUAL
(LIWATH/GAY, MUSAHAQAH/LESBIAN)
MENURUT HUKUM ISLAM: AL-QURAN
& HADITS
AL-QURAN melarang Homoseksual baik

gay (liwath) dan lesbian (musahaqah)


dalam 10 surat, antara lain surah al-Araf:
80 84, dan Hadits Rasulullah SAW.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku


seksual, menurut Purnawan (2004) antara lain:
a. Faktor Internal
1. Tingkat perkembangan seksual
(fisik/psikologis)
Perbedaan kematangan seksual akan
menghasilkan perilaku seksual yang berbeda
pula. Misalnya anak yang berusia 4-6 tahun
berbeda dengan anak 13 tahun.
2. Pengetahuan mengenai kesehatan
reproduksi
Anak yang memiliki pemahaman secara benar
dan proporsional tentang kesehatan reproduksi
cenderung memahami resiko perilaku serta
alternatif cara yang dapat digunakan untuk
menyalurkan dorongan seksualnya

3. Motivasi
Perilaku manusia pada dasarnya berorientasi pada
tujuan atau termotivasi untuk memperoleh tujuan
tertentu. Hersey & Blanchard cit Rusmiati (2001)
perilaku seksual seseorang memiliki tujuan untuk
memperoleh kesenangan, mendapatkan perasaan
aman dan perlindungan, atau untuk memperoleh
uang (pada gigolo/WTS)

b. Faktor Eksternal
1. Keluarga
Menurut Wahyudi (2000) kurangnya komunikasi secara
terbuka antara orang tua dengan remaja dapat
memperkuat munculnya perilaku yang menyimpang
2. Pergaulan
Menurut Hurlock perilaku seksual sangat dipengaruhi
oleh lingkungan pergaulannya, terutama pada masa
pubertas/remaja dimana pengaruh teman sebaya lebih
besar dibandingkan orangtuanya atau anggota
keluarga lain.

KONTRA HOMOSEKSUAL
Sikap Islam dalam masalah homoseksual dan lesbian sudah jelas.
Mengharamkan!
Menurut Muhammad Ibn Al Hasan As Syaibani dan Abu Yusuf (murid Abu
Hanifah) : praktik homoseksual dikategorikan zina, dengan alasan adanya
beberapa unsur kesamaan antara keduanya, seperti:
Pertama, tersalurkannya syahwat pelaku.
Kedua, tercapainya kenikmatan (karena penis dimasukkan ke lubang
dubur).
Ketiga, tidak diperbolehkan dalam Islam.
Keempat, menumpahkan (menya-nyiakan) air mani.
Berdasarkan alasan-alasan tersebut, Muhammad Ibn Al Hasan dan Abu
Yusuf berpendapat bahwa hukuman terhadap pelaku homoseksual sama
seperti hukuman yang dikenakan kepada pezina, yaitu: kalau pelakunya
muhshan (sudah menikah), maka dihukum rajam (dilempari dengan batu
sampai mati), kalau gair muhshan (perjaka), maka dihukuman cambuk dan
diasingkan selama satu tahun. [dalam al hidayah syarhul bidayah 7/194196, fathul qadir juz : 11 hal : 445-449 dan al mabsuth juz :11 hal : 78-81]

HOMOSEKSUAL MENURUT AGAMA KRISTEN


Pasal 23
Apa Pandangan Alkitab tentang Homoseksualitas?
Sikap terhadap homoseksualitas mungkin berbeda dari satu generasi
ke generasi lain atau dari satu negeri ke negeri lain. Tetapi, orang
Kristen tidak dibawa ke sana kemari oleh setiap angin pengajaran. (
Efesus 4:14) Sebaliknya, mereka berpaut pada pandangan Alkitab.
Apa kata Alkitab tentang homoseksualitas?
Alkitab mengatakan dengan jelas bahwa Allah merancang agar
hubungan seks dilakukan hanya di antara pria dan wanita, dan hanya
dalam
ikatan
perkawinan.
(Kejadian 1:27, 28; Imamat 18:22;
Amsal 5:18, 19) Alkitab mengutuk percabulan, yang mencakup perilaku
homoseksual maupun heteroseksual terlarang.*Galatia 5:19-21.

Homoseksual Dan Ajaran Theravada


Di dalam agama Buddha, bisa kita katakan bahwa bukanlah dari
nafsu seksual seseorang yang menentukan apakah suatu hubungan
seksual seseorang yang baik atau tidak, melainkan sifat dari emosi
dan maksud yang melandasinya.Walaupun demikian, Buddha
kadangkala menganjurkan untuk menghindari perilaku tertentu,
bukan karena hal ini salah dari sudut pandang etika melainkan akan
menjadi seseorang aneh di dalam lingkungan sosial, atau karena
akan mengakibatkan sanksi akibat pelanggaran hukum yang
berlaku. Dalam hal-hal seperti ini, Buddha berkata bahwa
menjauhkan diri dari perilaku seperti itu akan membebaskan
seseorang dari kecemasan dan rasa malu yang disebabkan oleh
ketidaksetujuan sosial atau ketakutan akan sanksi hukum.

Walaupun di negara-negara yang banyak penganut agama


Buddha, homoseksual tidak ditentang secara nyata-nyata
dalam hukum yang berlaku, bukanlah berarti homoseksualitas
bisa diterima di negara-negara tersebut. Hal ini lebih
disebabkan karena pengaruh agama Buddha yang
berlandaskan manusiawi dan penuh toleransi. Walaupun
demikian, seringkali ditemui adanya prasangka dan
diskriminasi terhadap kaum homoseksual di negara-negara
tersebut.