Anda di halaman 1dari 18

Difteri Pada Anak

Skenario 10

Seorang anak laki-laki berusia 3


tahun dibawa ibunya ke IGD RS
karena sesak nafas sejak 1 hari yang
lalu.

Anamnesis

Identitas pasien: anak laki2 usia 3


tahun
Keluhan utama: sesak sejak 1 hari lalu
Keluhan tambahan: batuk pilek sejak
1mg yl, demam disertai nyeri menelan
dua hr yl, tidak mau makan
Riwayat imunisasi: tidak lengkap
Riwayat penyakit dahulu:Riwayat penyakit keluarga:-

Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum: tampak sakit berat


Kesadaran: compos mentis, tampak sesak, gelisah
Frekuensi napas: 50 x/menit
Denyut nadi: 130 x/menit
Suhu: 38,5C
Inspeksi: leher tampak membesar, retraksi
Pemeriksaan faring dan rongga mulut: leher teraba
keras, tonsil membesar dg ditutupi selaput putih
keabu2an menyebar sampai ke dinding faring, bila
berusaha diangkat tonsil berdarah.
Palpasi: fremitus simetris
Perkusi: sonor
Auskultasi: stridor

Diagnosis Kerja

Difteri

Gejala Klinis

Masa inkubasi 2-7 hari.


Gejala umum: demam tidak terlalu tinggi, lesu, pucat,
nyeri kepala, anoreksia
Difteri hidung: Mula2 hanya tampak pilek, kemudian
secret yg keluar tercampur darah sedikit yg berasal dr
pseudomembran.
Difteri faring dan tonsil: Gejala berupa radang pada
selaput ledir dan membentuk pseudomembran
Difteri laring dan trakea: Gejala suara serak dan stridor
inspirasi bila berat timbul sesak nafas hebat, sianosis,
dan retraksi suprasternal serta epigastrium. Terdapat
bull neck. Pada pemeriksaan, laring akan tampak
kemerahan, sembab, secret dan permukaan akan
banyak diselubungi oleh pseudomembran.

Diagnosis Banding
Abses Peritonsil
Komplikasi tonsilitis akut.
Biasanya unilateral & lebih sering pada anak2 yg
lebih tua & dewasa muda.
Abses peritonsiler disebabkan oleh organisme yang
bersifat aerob maupun yang bersifat anaerob.
Contohnya: Streptococcus pyogenes (Group A Betahemolitik streptoccus), Staphylococcus aureus, dan
Haemophilus influenzae. Prevotella, Porphyromonas,
Fusobacterium, dan Peptostreptococcus spp.
Kebanyakan abses peritonsiler diduga karena
kombinasi antara organisme aerob dan anaerob.

Diagnosis Banding
Abses Retrofaringeal
Paling sering pada anak-anak lebih muda
Seringkali merupakan sekuel infeksi saluran
pernapasan atas dgn supurasi kelenjar getah bening
retrofaring yg membentuk abses
Dapat pula disebabkan oleh trauma tembus.
Abses bermanifestasi sbg nyeri tenggorokan akut
disertai demam tinggi, kaku leher, dan kadang
gangguan pernapasan, pembengkakan, disertai
limfadenitis servikal yang nyeri tekan.
Pada pemeriksaan, sering ditemui dinding faring
membengkak dan eritematosa.
Organisme piogenik sering kali menjadi penyebab

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan darah
Pemeriksaan laboratorium
Schick test

Etiologi

Corynebacterium diphtheriae
Bakteri gram positif

Patogenesis

Epidemiologi

Penyakit difteri tersebar diseluruh


dunia terutama pada negara
berkembang dimana masih banyak
terdapat tempat-tempat pemukiman
dengan hygiene dan sanitasi yang
buruk serta kurangnya fasilitas
kesehatan

Penatalaksanaan

Terapi Umum
Terapi umum yang dilakukan terdiri dari
perawatan yang baik, tirah baring,
isolasi penderita dan pengawasan
seketat mungkin agar tidak terjadi
komplikasi antara lain dengan
pemeriksaan EKG setiap minggu.

Penatalaksanaan
Terapi Spesifik
Terapi spesifik terdiri dari:
1. Anti Difteri Serum (ADS)
20.000 U/hari selama 2 hari berturut-turut
2. Antibiotik
penisilin prokain 50.000 U/kgbb/hari
sampai 3 hari bebas demam.
3. Kortikosteroid
Cegah komplikasi miokarditis. Dapat
berikan prednisone 2mg/kgbb/hari selama
3 minggu

Pencegahan

Isolasi penderita
Serta pencarian dan pengobatan
pada karier difteria
Imunisasi.

Komplikasi

Komplikasi yaitu kegagalan


pernafasan, miokarditis, neuritis,
pneumonia bakterialis sekunder,
aritmia, enselopati anoksik, sepsis.

Prognosis

Menurut Nelson 3-5 % kematian


bergantung pada umur, semakin
muda umur anak prognosis semakin
buruk.
Perjalanan penyakit.
Letak lesi difteri.
Dilihat juga keadaan umum
Pengobatan

Kesimpulan
Setelah pembahasan diatas dapat
disimpulkan pasien menderita difteri
karena infeksi bakteri Corynebacterium
diphtheriae.