Anda di halaman 1dari 94

11 Juni 2014

KELOMPOK 4
Sistem Saraf & Kejiwaan
PEMICU 6

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TARUMANAGARA
JAKARTA 2014

LEARNING OBJECTIVE
BLOK 18 Saraf & Kejiwaan
PEMICU 6
Virginia Chriselda
405110179
KELOMPOK 4

GANGGUAN NEUROTIK

Definisi
Prof Maramis:
Neurosa adalah kesalahan penyesuaian
diri secara emosional karena tak dapat
diselesaikannya suatu konflik a-sadar.
Kecemasan yg timbul dirasakan secara
langsung atau diubah oleh berbagai
mekanisme
pertahanan
psikologik
(defence-mechanism)
dan
muncullah
gejala-gejala
subjektif
lain
yg
mengganggu.
Karena ada konflik, maka mengganggu
sistem/susunan saraf otonom.
4

Definisi...
Lubis (ahli Psikoanalisa FK UI)
Neurosa dapat dipandang sebagai
suatu bentuk khusus dari
penjelmaan ansietas dan
penjelmaan ikhtiar individu untuk
meniadakan ansietas itu
Contoh : Phobia Pisau

PPDGJ III
Gangguan neurotik adalah gangguan
mental yg tidak mempunyai dasar
organik
(fungsional)
yg
dpt
ditunjukkan,
pasien
cukup
mempunyai tilikan (insight) serta
kemampuan daya nilai realitasnya
tdk
terganggu
dan
prilakunya
biasanya masih di dalam batas-batas
normal sosial serta kepribadiannya
tetap utuh.
Contoh : Phobia Tikus.
6

Reaksi terhadap suatu kecemasan

1.

Secara sadar. Kecemasan di hilangkan dgn


penyesuaian diri yg berorientas kepada tugas
(coping-adaptation)
2. Secara tak sadar.
a. Mekanisme konversi:
Akut : Sindroma Histerik, Stupor dll.
Menahun.
Tanpa perubahan organik yaitu ggn
psikosomatik. Contoh: goal getter
type(maag), hunger of love
(asma), agresifitas tertahan(dermatitis)
Dgn perubahan organik yaitu ggn
psikofisiologik (organik-fungsional) : Ulcus
peptikum, dll.
7

Perbandingan Neurosa dan Psikosa


Neurosa

Psikosa

1. Tilikan (insight) + Baik


daya nilai realita

Terganggu/buruk

2. Pengobatan

Ansiolitik/anti depresan
psikoterapi, dll

Antipsikotik/ECT/
Psikoterapi, dll

3. Hospitalisasi

Jarang dirawat

Sering

4. Prognosa

Umumnya baik

Umumnya buruk

5. Kapasitas kerja

Umumnya baik (diluar


stressor)
Umumnya baik

Umumnya
terganggu/buruk
Umumnya terganggu

6. Sosialisasi
7. Perilaku

Jarang membahayakan diri Sering


sendiri/masyarakat

8. Kepribadian

Dekompensasi ringan

Berat
8

GANGGUAN CEMAS

Teori-teori
Psikoanalitik
Sigmund Freud
Sinyal adanya bahaya pada ketidak
sadaran akibat konflik psikis antara
keinginan tidak disadari yang bersifat
seksual/agresif dan ancaman thdp hal
tsb dari ego yg berlebihan dan realitas
eksternal.

10

Teori Perilaku-Kognitif
Anxietas adalah respon yang dipelajari
thdp stimulus lingkungan spesifik..
Pasien dengan serangan panik hilang
kendali dan takut mati diikuti sensasi
fisiologis ( palpitasi,takikardi)

11

Teori Eksistensial
Bahwa orang menyadari rasa kosong
yang mendalam dalam hidup
mereka,perasaan yang membuat tidak
nyaman thdp kematian.

12

Neurotransmitter
NE
Pasien dengan anxietas memiliki aktivitas
adrenergik yang diatur dengan ledakan
aktivitas yang kadang-kadang terjadi
Agonis adrenergik-(isoproterenol) dan
antagonis adrenergik-2(yohimbin)
mencetuskan serangan panik yang berat dan
sering
Agonis adrenergik-2(klonidin) terapeutik
dan sedikit gejala anxietas
13

Serotonin
Antidepresan serotonergik punya efek
terapeutik pada dejumlah g3 anxietas
clomipramin pd OCD

GABA
Didukung o/ aktivitas benzodiazepin
aktivitas GABA di reseptor GABA
Benzodiazepin :
Potensi rendah u/ gangguan cemas menyeluruh
Potensi tinggi u/ terapi gangguan panik

14

Studi Pencitraan
CT dan MRI
Kadang menunjukkanukuran ventrikel otak
Peningkatan dihub dg penggunaan dizepam
lama
MRI : defek lobus temporalis ka px dg g3
panik
Dll

Studi Genetik
Ada hub dgn genetik
Saudara kemungkinan lbih besar

15

GANGGUAN CEMAS
PHOBIA
16

1. Gangguan Panik dan agoraphobia


Adalah adanya serangan panik yang tidak
diduga dan spontan terdiri atas periode
rasa takut intens yang hati-hati dan
bervariasi dari sejumlah serangan
sepanjang hari sampai hanya sedikit
serangan dalam 1 tahun
Pasien dengan gangguan panik bisa
disertai dengan kondisi komorbid, paling
sering adalah agorafobia, yaitu Takut
sendirian di tempat umum.
17

DSM-IV-TR menggolongkan :
gangguan panik yang disertai agorafobia
gangguan panik yang tanpa agorafobia
agorafobia tanpa riwayat gangguan
panik

Serangan panik juga dapat timbul


pada berbagai gangguan jiwa (seperti
gangguan depresi), kondisi medis
(gejala putus zat dan intoksikasi zat.
18

Diagnosis
Serangan Panik
Serangan panik dapat timbul pada
gangguan mental lain yaitu terutama
pada fobia sosial dan fobia spesifik
Serangan panik yg tak terduga dpt terjadi
kpn saja & tdk berhub. dgn stimulus
situasional yg dpt dikenali
Serangan pd ps. dgn fobia sosial &
spesifik biasanya dipicu oleh stimulus yg
dikenali
19

Kriteria Diagnostik DSM IV Serangan


Panik
Palpitasi, jantung berdebar kuat atau
denyut jantungg meningkat
Berkeringat
Gemetar atau bergoncang
Rasa sesak napas atau tertahan

20

Perasaan tercekik
Nyeri dada atau perasaan tdk nyaman
Mual atau ggn abdominal
Pusing, bergoyang, melayang atau pingsan
Derealisasi (perasaan tdk realistis)
Takut kehilangan kendali
Takut mati
Parestesia
Kedinginan atau perasaan panas
21

Gangguan Panik
DSM-IV membagi kriteria diagnosis
gangguan panik menjadi dua, yaitu
dengan dan tanpa agorafobia tapi pada
keduanya harus ada serangan panik
ICD-10 mewajibkan adanya 3 serangan
dlm 3 minggu (untuk penyakit yg
sedang) atau 4 serangan dlm 4 minggu
(untuk penyakit yg berat)
22

DSM-IV tdk memspesifikasi jmlh


serangan panik minimal atau jangka
waktu tapi mensyaratkan :
min1 serangan yg diikuti min periode 1
bln

DSM-IV juga mensyaratkan bahwa


serangan panik pd umumnya tak
terduga, tapi memperbolehkan
adanya serangan yg terduga.

23

Kriteria Diagnostik Gangguan Panik Tanpa


Agorafobia
(DSM IV)

Baik (1) dan (2):


(1) Serangan panik rekuren yang tidak diharapkan
(2) Sekurangnya 1 serangan telah diikuti oleh 1 bulan
berikut ini :
a. Kekhawatiran yang menetap akan mengalami
serangan
tambahan
b. Ketakutan tentang arti serangan atau akibatnya
(misalnya
kehilangan kendali, menderita serangan jantung,
menjadi
gila)
c. Perubahan perilaku bermakna berhubungan
dengan
serangan

Tidak terdapat agorafobia


Serangan panik bukan karena efek fisiologis
langsung dari zat/suatu kondisi medis umum

24

Kriteria Diagnostik Gangguan Panik Dengan


Agorafobia
(DSM IV)

Baik (1) dan (2):


(1) Serangan panik rekuren yang tidak diharapkan
(2) Sekurangnya 1 serangan telah diikuti oleh 1
bulan berikut ini :
a. Kekhawatiran yang menetap akan mengalami
serangan
tambahan
b. Ketakutan tentang arti serangan atau
akibatnya (misalnya
kehilangan kendali, menderita serangan
jantung,
menjadi gila)
c. Perubahan perilaku bermakna berhubungan
dengan
serangan

Terdapat agorafobia
Serangan panik bukan karena efek fisiologis
langsung dari zat/suatu kondisi medis
umum

25

Kriteria Diagnostik Agorafobia Tanpa


Riwayat Gangguan Panik
(DSM IV)

A. Agorafobia berhubungan dengan


rasa takut, mengalami gejala mirip
panik
B. Tidak pernah memenuhi kriteria
untuk gangguan panik
C. Gangguan bukan karena efek
fisiologis langsung dari suatu zat
/suatu kondisi medis umum.
D. Jika ditemukan suatu kondisi medis
umum yang berhubungan, rasa
takut berlebihan dalam kriteria A

26

Gambaran Klinis
Gangguan Panik
Sifat: spontan, terjadi setelah luapan kegembiraan,
kelelahan fisik, aktivitas seksual, atau trauma
emosional.
Serangan panik sering dimulai selama 10 menit,
biasanya berlangsung tidak melebihi 30 menit.
Gejala berupa ketakutan yang kuat dan suatu perasaan
ancaman kematian dan kiamat. Biasanya pasien tidak
mampu menyebutkan sumber ketakutannya.
Tanda fisik: takikardia, palpitasi, sesak nafas dan
berkeringat.
Pada pemeriksaan status mental didapatkan:
perenungan (rumination), kesulitan bicara, dan
gangguan daya ingat.

27

Diagnosis Banding
Gangguan Medis :
- Penyakit KV
- Penyakit pulmonal
- Penyakit neurologis
- Penyakit endokrin
- Intoksikasi obat
- Halusinogen
- Putus obat

Gangguan Mental :
- Pura-pura
- Gangguan buatan
- Hipokondriasis
- Fobia sosial&spesifik
- Gangguan stress pasca
traumatik
- Gangguan depresif
- Skizofrenia

28

Terapi
Trisiklik dan tetrasiklik
(clomipramine dan imipramine)
MAOI (phenelzine dan
tranylcypromine)
SSRI (fluoxetine, setraline dan
paroxetine)
Benzodiazepine
Kombinasi gagal terapi

29

Nonfarmakoterapi
Terapi kognitif dan
perilaku:
Terapi kognitif
Latihan
pernafasan

Terapi psikososial
lain:
Terapi keluarga
Psikoterapi

30

Phobia Spesifik dan Sosial


Agoraphobia
:Epidemiology
F:M=2:1
.Prevalence : 2 10%
.Onset : 2o 35 y
:Etiology
.Personality predis
.Psychosocial trigger
:Treatment
.CBT with graded exp
:Medications
Either; SSRIs, TCAs, or
MAOIs +/- BNZ

Social
:Epidemiology
%.prevalence : 3 - 13
.only 10 % come
Etiology: genetic predis.
( shyness )
psychosocial (shame
.criticism )
:Treatment
CBT, Ass. T. & SST
:Medications
PRN : B-blockers,BNZ
SSRIs , MAOIs , or TCA

Specific
:Epidemiology
M=F
common in children
:Etiology
Modeling ?
cont. of childhood fears
:Treatment
.behavior therapy: exp
B- blockers / BNZ + / -

31

GANGGUAN CEMAS
LAINNYA
32

1. Gangguan Somatoform
somatization disorder
many physical complaints affecting many organ systems

conversion disorder
one or two neurological complaints

Hypochondriasis
a focus on symptoms than by patients' beliefs that they have a specific disease

body dysmorphic disorder


a false belief or exaggerated perception that a body part is defective

pain disorder
symptoms of pain that are either solely related to, or significantly exacerbated
by, psychological factors

undifferentiated somatoform disorder


somatoform disorders not otherwise described that have been present for 6
months or longer

somatoform disorder not otherwise specified


somatoform symptoms that do not meet any of the somatoform disorder
33

34

35

36

37

Somatization Disorder

38

Etiology
Psychosocial Factors
avoid obligations
symbolize a feeling or a belief
symptoms substitute for repressed
instinctual impulses

Biological Factors ??
Genetics
Cytokines
39

Clinical Features
Patients classically (but not always)
describe their complaints in a
dramatic, emotional, and
exaggerated fashion, with vivid and
colorful language; they may confuse
temporal sequences and cannot
clearly distinguish current from past
symptoms
40

Treatment
a single identified physician as primary
caretaker
> 1 clinician > somatic complaints

regularly scheduled visits, relatively brief,


although a partial physical examination should be
conducted to respond to each new somatic
complaint

Psychotherapy, both individual and group


helped to cope with their symptoms, to express
underlying emotions, and to develop alternative
strategies for expressing their feelings
41

DDx

42

Undifferentiated Somatoform
Disorder

43

Somatoform Disorder Not Otherwise


Specified

44

GANGGUAN KONVERSI
Merupakan suatu penyakit dengan gejala atau defisit yang
mempengaruhi motoric volunteer atau fungsi sensorik,
yang menunjukkan kondisi medis lain, tetapi dinilai
disebabkan oleh factor psikologis karena didahului oleh
konflik atau stressor lain.
Epidemiologi
Populasi umum: 11-300 dari 100,000
Wanita > pria
Umum di antara penduduk pedesaan, orang
berpendidikan rendah, IQ rendah, kelompok socialekonomi rendah, dan anggota militer yang pernah terlibat
perang.
45

Etiologi
Faktor Psikoanalitik
Gangguan konversi disebabkan oleh represi konflik intrapsikis
bawah sadar & konversi kecemasan ke dalam suatu gejala fisik.
Konflik adalah antara impuls instinctual dan penghalangan
terhadap ekspresinya.
Gejala juga memungkinkan pasien mengomuniasikan bahwa
mereka membutuhkan perhatian & pengobatan khusus.

Learning Theory
Gejala sebagai bagian dari classically conditioned learned
behavior sarana untuk mengatasi situasi yang tidak mungkin.

Faktor Biologis
Gejala mungkin disebabkan oleh kesadaran kortikal berlebihan
yang mematikan umpan balik negative antara korteks serebral
& formasi retikularis batang otak.
46

Gambaran Klinis
Gejala Motorik

Gerakan involunter
Tics
Blepharospasm
Torticollis
Opisthotonos
Kejang
Gait abnormal
Jatuh
Astasia-abasia
Paralisis
Kelemahan
Afonia

Gejala Sensorik
Anastesia, khususnya pada
ekstremitas
Midline anesthesia
Kebutaan
Tunnel vision
Ketulian

Gejala Viseral

Muntah psikogenik
Pseudocyesis
Globus hystericus
Sinkop
Retensi urin
Diare
47

Ciri Penyerta Lain


Tujuan primer: pasien mendapat tujuan primer
dengan mempertahankan konflik internal di luar
kesadaran mereka.
Tujuan sekunder: pasien mendapat keuntungan
nyata akibat mereka sakit.
La belle indifference: sikap sombong pasien yang
tidak sesuai terhadap gejala serius pasien
tampak tidak memperhatikan apa yang
tampaknya merupakan gangguan berat.
Identifikasi: pasien mungkin secara tidak sadar
membentuk gejalanya seperti seseorang yang
penting bagi mereka.
48

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan


Konversi (DSM-IV)
A. Satu atau lebih gejala atau deficit yang
mengenai fungsi motoric volunteer atau sensorik
yang mengarahkan pada kondisi neurologis atau
kondisi medis lain.
B. Faktor psikologis dpertimbangkan berhubungan
dengan gejala atau deficit karena awal atau
eksaserbasi gejala atau deficit adalah didahului
oleh konflik atau stressor lain.
C. Gejala atau deficit tidak ditimbulkan secara
sengaja atau dibuat-buat (seperti pada
gangguan buatan atau berpura-pura).
D. Gejala atau deficit tidak dapat setelah penilitian
yang diperlukan, dijelaskan sepenuhnya oleh 49

E. Gejala atau deficit menyebabkan penderitaan yang


bermakna secara klinis atau gangguan dalam
fungsi social, pekerjaan, atau fungsi penting lain
atau memerlukan pemeriksaan medis.
F. Gejala atau deficit tidak terbatas pada nyeri atau
disfungsi seksual, tidak terjadi semata-mata
selama perjalanan gangguan somatisasi, dan tidak
dapat diterangkan dengan lebih baik oleh
gangguan mental lain.
Sebutkan tipe gejala atau deficit:
. dengan gejala atau deficit motoric
. dengan gejala atau deficit sensorik
. dengan kejang atau konvulsi
. dengan gambaran campuran
50

Prognosis
Jika gejala berlangsung selama 6 bulan,
prognosis untuk resolusi gejala < 50% dan
berkurang sejalan dengan waktu.
Rekurensi muncul pada 1/5 pasien dalam 1
tahun.
Prognosis baik: onset akut, stressor yang jelas,
waktu yang singkat antara onset sampai terapi,
dan inteligesni di atas rata-rata.
Paralisi, afonia & kebutaan dihubungkan dengan
prognosis baik, sedangkan tremor dan kejang
dengan prognosis buruk.
51

HIPOKONDRIASIS
Hipokondriasis ditandai dengan 6 bulan atau lebih
preokupasi umum dan nondelusional oleh ketakuan
menderita, atau ide bahwa dirinya menderita, penyakit
serius berdasarkan interpretasi yang salah akan gejala fisik.
Epidemiologi:
Prevalensi 6 bulan dari hipokondriasis: 4 6% pada populasi
medis umum, tetapi dapat mencapai 15%.
Pria = wanita.
Onset kebanyakan pada orang usia 20 30 tahun.
Muncul pada sekitar 3% mahasiswa kedokteran, biasanya
pada 2 tahun pertama, tetapi pada umumnya hanya
sementara.
52

Etiologi
1. Pasien memiliki ambang rendah atau toleransi
rendah terhadap gangguan fisik.
2. Model belajar social gejala dipandang
sebagai keinginan untuk mendapatkan
peransan sakit oleh seseorang yang
menghadapi masalah.
3. Variasi dari gangguan mental lain (gangguan
depresif, gangguan kecemasan)
4. Psikodinamika: harapan agresif & permusuhan
terhadap orang lain dipindahkan (melalui
represi dan pengalihan) kepada keluhan fisik.
53

Kriteria Diagnosis untuk


Hipokondriasis (DSM-IV)
A. Preokupasi dengan ketakutan menderita, atau ide
bahwa ia menderita, suatu penyakit serius
didasarkan pada interpretasi keliru orang tersebut
terhadap gejala-gejala tubuh.
B. Preokupasi menetap walaupun telah dilakukan
pemeriksaan medis yang tepat dan
penenteraman.
C. Keyakinan dalam kriteria A tidak memiliki
intensitas waham (seperti pada gangguan
delusional, tipe somatic) dan tidak terbatas pada
kekhawatiran yang terbatas tentang penampilan
(seperti pada gangguan dismorfik tubuh).
54

D. Preokupasi menyebabkan penderitaan yang


bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi
social, pekerjaan, atau fungsi penting lain
E. Lama gangguan sekurangnya 6 bulan.
F. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh
gangguan kecemasan umum, gangguan obsesifkompulsif, gangguan panic, gangguan depresif berat,
cemas perpisahan, atau gangguan somatoform lain.
Sebutkan jika:
dengan tilikan buruk: jika, untuk sebagian besar
waktu selama episode terakhir, orang tidak
menyadari bahwa kekhawatirannya tentang
menderita penyakit serius adalah berlebihan atau
tidak beralasan.
55

Prognosis
Perjalanan hipokondriasis biasanya episodic; episode
berlangsung beberapa bulan hingga beberapa tahun
dan dipisahkan oleh periode tenang yang sama
panjang.
Diperkirakan sepertiga sampai sestengah pasien
hipokondriasis keadaanya membaik secara signifikan.
Prognosis baik: status sosioekonomi tinggi, ansietas
dan depresi yang berespon terhadap terapi, gejala
yang tiba-tiba, tidak adanya gangguan kepribadian,
dan tidak adanya kondisi medis nonpsikiatrik terkait.
Kebanyakan anak dengan hipokondriasis pulih pada
akhir masa remaja atau awal masa dewasa.
56

Tatalaksana
Pasien hipokondriasis biasanya menolak
perawatan psikiatri, meskipun beberapa
menerima jika dilakukan di lingkungan medis
dan berfokus pada pengurangan stress dan
edukasi cara mengatasi penyakit kronis.
Psikoterapi kelompok menyediakan
dukungan dan interaksi social yang dapat
mengurangi ansietas.
Psikoterapi individual berorientasi-tilikan, terapi
perilaku, terapi kognitif, dan hypnosis mungkin
berguna.
57

GANGGUAN DISMORFIK
TUBUH
Gangguan dismorfik tubuh ditandai dengan
preokupasi dengan cacat khayalan dalam
penampilannya.
Jika terdapat anomaly fisik minor, perhatian
orang terhadap anomaly tersebut berlebihan
dan mengganggu.
Epidemiologi
Paling sering pada usia antara 15 30 tahun.
Wanita > pria.
58

Etiologi
Penyebab tidak diketahui.
Komorbiditas tinggi dengan gangguan depresi, riwayat
keluarga gangguan mood dan gangguan obsesifkompulsif.
Mungkin dipengaruhi oleh serotonin dan gangguan
mental lainnya.
Stereotipe konsep kecantikan pada keluarga atau
budaya dapat mempengaruhi pasien secara signifikan.
Psikodinamik: gangguan dismorfik tubuh dilihat
sebagai refleksi perpindahan dari konflik seksual atau
emosional ke bagian tubuh yang tidak berhubungan.

59

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan


Dismorfik Tubuh (DSM-IV)
A. Preokupasi dengan bayangan cacat dalam
penampilan. Jika ditemukan sedikit anomaly
tubuh, kekhawatiran orang tersebut akan
berlebihan dengan nyata.
B. Preokpasi menyebabkan penderitaan yang
bermakna secara klinis atau gangguan dalam
fungsi social, pekerjaan, atau fungsi penting
lainnya.
C. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh
gangguan mental lain (misalnya, ketidakpuasan
dengan bentuk dan ukuran tubuh pada anoreksia
nervosa).
60

Prognosis
Gangguan dismorfik tubuh biasanya muncul
saat masa remaja, meskipun mungkin juga
muncul lebih tua saat tidak puas
berkepanjangan terhadap tubuh.
Onset dapat muncul tiba-tiba atau bertahap.
Gangguan biasanya memiliki perjalanan
panjang dan bergelombang dengan beberapa
interval bebas geejala.
Bagian dari tubuh yang menjadi perhatian
mungkin tetap sama atau dapat berubah dari
waktu ke waktu.
61

Tatalaksana
Terapi dengan operasi, dermatologis,
dental, atau prosedur lainnya untuk
memperbaiki kekurangan biasanya
tidak berhasil.
Serotonin-specific drugs
(clomipramine, fluoxetine) dapat
mengurangi gejala pada 50% pasien.

62

*Pain Disorder

63

Etiology
Psychodynamic Factors
a method of obtaining love, a punishment for
wrongdoing, and a way of expiating guilt and atoning
for an innate sense of badness

Behavioral Factors
reinforced when rewarded and are inhibited when
ignored or punished

Interpersonal Factors
a means for manipulation and gaining advantage in
interpersonal relationships

Biological Factors
Serotonin and endorphin deficiency
64

Treatment
Pharmacotherapy
Antidepressant (SSRI, TCA)
Amphetamine (dosage monitor!)

Psychotherapy
therapeutic alliance
Cognitive therapy

Other
Pain control program
65

3.Post Traumatic Stress


Disorder
a condition marked by the
development of symptoms after
exposure to traumatic life events

66

Etiology

Stressor
Risk factor
Psychodynamic factors
Cognitive-Behavioral Factors
Biological Factors
Noradrenergic System
Opioid System
67

Clinical Feature

painful reexperiencing of the event


a pattern of avoidance and emotional
fairly constant hyperarousal
aggression, violence, poor impulse
control, depression, and substancerelated disorders

68

69

DDx

Panic disorder
Generalized anxiety disorder
Major depression
Borderline personality disorder

70

Treatment
Pharmacotherapy
SSRI
TCA (imipramine, amitryptiline)
MAOi (phenelzine)
Trazodone
Anticonvulsants (carbamazepine, valproat)

Psychotherapy
Behavior therapy
Cognitive therapy
Hypnosis
Support and developing a coping mechanisms
Stress management technique
Exposure management technique
71

Prognosis
Good :
rapid onset of the symptoms
short duration of the symptoms (less
than 6 months)
good premorbid functioning
strong social supports
absence of other psychiatric, medical, or
substance-related disorders or other risk
factors
72

4. Gangguan campuran
cemas
Terdapat gejala anxietas dan depresi yg
masing2 tdk menunjukkan rangkaian
gejala yg cukup berat utk menegakkan
diagnosa tersendiri.
Bbrp gejala otonomik harus ditemukan :
Tremor
Palpitasi
Mulut kering
Sakit perut (mulas), dsb
73

Diagnosa Banding :
Gangguan penyesuaian F 43.2
Depresi anxietas menetap (dstimia) F 34.1
Termasuk : depresi anxietas (ringan atau tak menetap)

F 41.3 GANGGUAN ANXIETAS CAMPURAN LAINNYA


Gangguan yg memenuhi kriteria gangguan
anxietas menyeluruh (F 41.1) dan yg
menunjukkan ciri2 yg menonjol dari gangguan
lain dlm F 40-F 49

74

F 41.8 GANGGUAN ANXIETAS LAINNYA TDT


Termasuk : histeria anxietas
F 41.9 GANGGUAN ANXIETAS YTT
Termasuk : anxietas YTT
F 42 GANGGUAN OBSESIF KOMPULSIF
Ciri utama : pikiran obsesif atau tindakan kompulsif yg berulang
Pikiran obsesional : gagasan, bayangan/impuls yg timbul dlm
pikiran individu scr berulang2 dlm bentuk yang sama tidak
dikehendaki
Tindakan kompulsif : perilaku yg stereotipik, diulang berkali2
tidak bermanfaat
75

5. Gangguan cemas
menyeluruh
Gambaran esensial :
Anxietas yg menyeluruh & menetap
Tidak terbatas hanya pd setiap keadaan lingkungan yg tertentu saja (misalnya
sifat mengambang atau free floating)

Gejala yang sering dijumpai :

Keluhan tegang yg berkepanjangan


Gemetaran
Ketegangan otot
Berkeringat
Kepala terasa ringan

Palpitasi
Pusing kepala
Keluhan epigastrik
Ketakutan dirinya/ anggota kel lain akan celaka/sakit
Khawatir & firasat lain
76

Pedoman Diagnostik
Hrs menunjukkan gejala primer anxietas hampir
setiap hari selama bbrp minggu bulan
Gejala:
Kecemasan ttg masa depan (khawatir akan nasib buruk,
perasaan gelisah seperti diujung tanduk, sulit
berkonsentrasi)
Ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, gemetaran, tdk
dpt santai)
Overaktivitas otonomik (kepala terasa ringan, berkeringat,
tahikardi, keluhan epigastorik, pusing kepala, mulut kering,
dsb)
77

Diagnostik Banding :
Episode depresif (F 32)
Gangguan panik (F 41.0)
Gangguan obsesif-kompulsif (F 42)

Termasuk :
Neurosis anxietas
Reaksi anxietas
Keadaan anxietas
78

6. Trichotilomania
penderita memiliki keinginan tidak
tertahankan untuk menarik rambut
dari bagian-bagian tubuh mereka
sendiri.
Tidak terbatas pada rambut kepala,
penderita trikotilomania acap kali
merasakan kepuasan dan penurunan
tingkat ketegangan setelah
mencabuti rambut di bagian-bagian
tertentu tubuh mereka

79

Gejala
Senang menarik-narik rambutnya, tetapi tidak menggunakan jari melainkan
alat seperti pinset, kuas dan sisir.
kebotakan di kepala atau area lain dari tubuhnya.
Alis atau bulu mata mereka juga terlihat jarang atau tidak ada sama sekali.
pada kasus tertentu ada yang menjadi senang memainkan rambut dan
mengunyah rambut sambil menggosok-gosokkan rambut ke bibir atau
wajahnya.
Pada rambut penderita trikotilomania, kita bisa menemukan helai-helai rambut
lama yang rusak dengan ujung tumpul dan pertumbuhan-pertumbuhan rambut
baru dengan ujung runcing. Helai-helai rambut terlihat patah atau sangat tidak
rata (biasanya di poros kepala).
Individu dengan trikotilomania juga biasanya merasa kelainan mereka ini
memalukan sehingga sangat privat dan cenderung menutup-nutupi hal
ini.Inilah yang menyebabkan orang-orang dengan trikotilomania
menggunakan topi, bulu mata palsu, pensil alis, juga rambut palsu untuk
mengurangi perhatian pada bagian tubuh mereka yang mengalami kebotakan.

80

7. Gangguan Obsessive Compulsive

81

OBSESSIONS
Recurrent & persistent thought, impulses, or
images that are experienced, at some time during
the disturbance, as intrusive and inappropriate &
that cause marked anxiety or distress.
The thoughts, impulses, or images arent simply
excessive worries about life problems.
The person attempts to ignore or suppress such
thoughts, impulses, or images, or to neutralize
them with some other thought or action.
The person recognizes that the obsessional
thoughts, impulses, or images are a product of
his/her own mind (not imposed from without as in
thought insertion).
82

COMPULSIONS
Repetitive behaviors (e.g., hand washing,
ordering, checking) or mental acts (e.g.,
praying, counting, repeating words
silently) that the person feels driven to
perform in response to an obsession, or
according to rules that must be applied
rigidly.
The behaviors or mental acts are aimed at
preventing or reducing distress or
preventing some dreaded event or
situation; however, these behaviors or
mental acts either are not connected in a
realistic way with what they are designed 83

The Onset of OCD


Usually begins in adolescence or
early adulthood
Occasionally in childhood
Obsessions or cleaning rituals only
vs. checking or mixed rituals
Males vs. Females
Onset is usually gradual. Some acute
cases have been diagnosed
84

Causes of OCD
Parental influence and family rituals
Not learned
Causes now focus on neurobiological
factors and environmental influences

85

Elevated activity in
the Frontal Lobe
and Basal Ganglia
Activity is not
typical in people
without mental
illness
PET (Positron
emission
Tomography) scan
used in brain
imaging

86

DSM IV Criteria OCD


A. Either obsessions or compulsions:
Obsessions as defined by (1), (2), (3), and (4):
(1) recurrent and persistent thoughts, impulses, or images that are experienced at some
time during the disturbance, as intrusive and inappropriate and that cause marked
anxiety or distress
(2) the thoughts, impulses, or images are not simply excessive worries about real-life
problems
(3) the person attempts to ignore or suppress such thoughts, impulses, or images, or to
neutralize them with some other thought or action
(4) the person recognizes that the obsessional thoughts, impulses, or images are a
product of his or her own mind (not imposed from without as in thought insertion)

87

Compulsions as defined by (1) and (2):


(1) repetitive behaviors (e.g., hand washing, ordering, checking) or mental acts (e.g., praying, counting,
repeating words silently) that the person feels driven to perform in response to an obsession, or according
to rules that must be applied rigidly
(2) the behaviors or mental acts are aimed at preventing or reducing distress or preventing some dreaded
event or situation; however, these behaviors or mental acts either are not connected in a realistic way with
what they are designed to neutralize or prevent or are clearly excessive
B. At some point during the course of the disorder, the person has recognized that the obsessions or
compulsions are excessive or unreasonable. Note: This does not apply to children
C. The obsessions or compulsions cause marked distress, are time consuming (take more than 1 hour a day), or
significantly interfere with the persons normal routine, occupational (or academic) functioning, or usual
social activities or relationships.
D. If another Axis I disorder is present, the content of the obsessions or compulsions is not restricted to it (e.g.,
preoccupation with food in the presence of an Eating Disorder; hair pulling in the presence of
Trichotillomania; concern with appearance in the presence of Body Dysmorphic Disorder; preoccupation
with drugs in the presence of a Substance Use Disorder; preoccupation with having a serious illness in the
presence of Hypochondriasis; preoccupation with sexual urges or fantasies in the presence of a Paraphilia;
or guilty ruminations in the presence of Major Depressive Disorder).
E. The disturbance is not due to the direct physiological effects of a substance (e.g., a drug of abuse, a
medication) or a general medical condition.
Specify if:
With poor insight: if, for most of the time during the current episode, the person does not recognize that
the obsessions and compulsions are excessive or unreasonable.

88

Assessment Techniques
Office Visits
The Anxiety Disorder Interview
Schedule Revised (ADIS-R)
The Yale-Brown ObsessiveCompulsive Symptom Checklist (YBOC)
The Leyton Obsessional Inventory
(Lol)
The State Trait Anxiety Inventory of
Children (STAIC)

89

Differential Diagnosis
Anxiety disorder Due to a General
Medical Condition
Substance induced Anxiety
Disorder
Body Dysmorphic Disorder
Specific or Social Phobias
(Trichotillomania)

Stereotypic Movement
Disorder
Eating Disorders, Paraphilias,
Pathological Gambling, Alcohol
Dependence or Abuse
Obsessive Compulsive
Personality Disorder
Superstitions and Repetitive
Checking Behaviors

Major Depressive
Episode
Generalized Anxiety
Disorder
Hypochondriasis
Specific Phobia
Delusional Disorder
Psychotic Disorder Not
Otherwise Specified
Schizophrenia
Tic Disorder
90

OCD Treatment
Behavior Therapy

Traditional therapy which helps the client gain insight to his or her
problem is not recommended for OCD
A specific behavior therapy approach called exposure and
response prevention is effective
In this approach, the patient is deliberately and voluntarily
exposed to the feared object or idea, either directly or by
imagination, and then is discouraged or prevented from carrying
out the usual compulsive response
When treatment works well, the patient gradually experiences lass
anxiety form the obsessive thoughts and becomes able to do
without the compulsive actions for extended periods of time
A therapist will usually refer an OCD client to a specialist in this
kind of therapy

91

OCD Prognosis

Studies have shown that


OCD patients who
participate in both types of
therapy will be able to
function well in both their
work and social lives if the
following factors are
included:
The patient must be highly
motivated
The patients family must
be cooperative
The patient must be
faithful in fulfilling
homework assignments
92

OCD Prognosis

OCD tends to last for years,


even decades. The symptoms
may become less severe from
time to time, and there may
be long intervals where
symptoms are mild
For most, the symptoms are
chronic
With a combination of
pharmacotherapy and
behavior therapy, symptoms
can be controlled

93

What Can the Family Do?

OCD affects not only the sufferer,


but the whole family
Family and friends often have a
hard time accepting the fact that
the person with OCD cannot stop
the distressing behavior
Family members may show anger
or resentment, resulting in an
increase in the OCD behavior
Other times, to keep the peace,
they may assist or enable the
rituals
Education about OCD is as
important for the family as it is for
the patient

*Commit to
family
therapy
*Self-help
books
*Join
support
groups

94