Anda di halaman 1dari 83

GANGGUAN NEUROTIK

Gangguan Neurotik
Neurosa atau juga disebut dengan
Psikoneurosa(istilah lama, tak dipakai
lagi), istilah ini kurang tepat karena tak
ada gangguan neuron (sel saraf) atau
disebut Psikogenik.
PPDGJ III menggunakan istilah Gangguan
Neurotik
(F-40
dst,
bersama
Ggn.
Somatoform dan Ggn terkait Stres)

PPDGJ III
Gangguan neurotik adalah gangguan
mental yg tidak mempunyai dasar
organik
(fungsional)
yg
dpt
ditunjukkan,
pasien
cukup
mempunyai tilikan (insight) serta
kemampuan daya nilai realitasnya
tdk
terganggu
dan
prilakunya
biasanya masih di dalam batas-batas
normal sosial serta kepribadiannya
tetap utuh.
Contoh : Phobia Tikus.
Daya realitasnya pada Psikosa

Etiologi
1. Psikoanalisa
Pengalaman di masa lalu yaitu konflik
antara
beberapa
dorongan
yang
bertentangan (id dgn super ego) dan
timbulnya
tingkah
laku
kompromi
(contoh: oedipus complex, castraxion
anxiety)
yg
mendamaikan
dan
memuaskan dorongan sebagian dan
sedapat dapatnya meniadakan atau
mengendalikan ansietas.

Etiologi
2. Behavioristik
Pengalaman di masa lalu sebagai
sebagai wadah pembentukan pola
tingkah laku melalui proses belajar
(learning process)
3. Fisik Konstitusional.
Manusia dilahirkan dengan kondisi
fisik tertentu / fisik eksogen

Gangguan anxietas (cemas)


Takut dan cemas perasaan normal
terhadap bahaya dan ancaman.
Ketika rasa takut dan cemas menjadi
intens dan mengganggu fungsinya dalam
kegiatan sehari-hari maka rasa takut dan
cemas tersebut disebut gangguan cemas
Gangguan cemas merupakan jenis
gangguan psikis yang tersering, sekitar
10-30% dari seluruh populasi.

Teori Psikoanalitik
Sigmund Freud
Ansietas (cemas) adalah hasil dari konflik psikis
antara pikiran agresif & ancaman dari superego
atau realita eksternal.
Sebagai respons, ego memobilisasi mekanisme
pertahanan (defense) untuk mencegah
munculnya pikiran/ perasaan yang tidak dapat
diterima tersebut dalam alam sadar.

Teori Perilaku
Ansietas adalah respons terkondisi terhadap
stimulus lingkungan yang spesisfik.
Seorang anak perempuan yang biasa dirawat
oleh ayah penyiksa akan cemas setiap kali
melihat ayahnya tersebut.

Teori Eksistensial
Ansietas umum muncul tanpa adanya stimulus
spesifik yang memicu rasa cemas.
Konsep sentral teori ini : seseorang merasa hidup
dalam dunia yang tidak berarah.

Sistem Saraf Otonom


SSO pada orang dengan gangguan
panik :
Tonus simpatis
Adaptasi lambat terhadap stimulus
berulang
Respons berlebihan terhadap stimulus
sedang

Efek aktivasi SSO pada orang


cemas : kardiovaskular (takikardia),

Neurotrasmitter
Norepinephrine fungsi NE
(akibat stimulasi pada locus ceruleus
di rostral pons).
HPA axis cortisol mobilisasi
& isi ulang cadangan energi,
kewaspadaan & fokus .
CRH sekresi cortisol & inhibisi
food intake.
Serotonin
GABA fungsi abnormal reseptor

Brain Imaging Studies


CT & MRI
Ukuran ventrikel serebral
Defek spesifik di lobus temporal kanan pada
gangguan panik.
PET, fMRI, SPECT, EEG
Pada gangguan cemas abnormalitas yang
bervariasi di korteks frontal, occipital & temporal.
Pada gangguan panik abnormalitas pada gyrus
parahippocampus.
Pada OCD gangguan pada caudate nucleus.
Pada PTSD gangguan pada amygdala (pusat
rasa takut).

Physical and psychological


symptoms of anxiety
Physical symptoms
Gastrointestinal

Dry mouth
Difficulty in swallowing
Epigastric discomfort Aerophagy
(swallowing air)
'Diarrhoea (usually frequency)

Respiratory

Feeling of chest constriction


Difficulty in inhaling
Overbreathing
Choking

Cardiovascular
Palpitations
Awareness of missed beats
Chest pain

Genitourinary
Increased frequency
Failure of erection
Lack of libido

Nervous system

Fatigue
Blurred vision
Dizziness
Sensitivity to noise and/or light
Headache
Sleep disturbance
Trembling

Psychological symptoms
Apprehension and fear Irritability
Difficulty in concentrating
Distractibility
Restlessness
Depersonalization
Derealization

Klasifikasi DMS-IV-TR

Gangguan panik dengan atau tanpa agorafobia


Agorafobia tanpa riwayat gangguan panik
Fobia spesifik dan sosial
Gangguan obsesif kompulsif
Gangguan stress pascatrauma
Gangguan stres akut
Gangguan ansietas menyeluruh
Gangguan ansietas akibat keadaan medis umum
Gangguan ansietas yg diinduksi zat
Gangguan ansietas yg tidak tergolongkan

Gangguan panik dengan atau tanpa agorafobia


Agorafobia tanpa riwayat gangguan panik

Definisi
Gangguan panik serangan panik yang
berulang yang mengganggu.
Agorafobia rasa takut sendirian
ditempat umum, terutama tempat yg sulit
untuk keluar dengan cepat saat terjadi
serangan panik
Terdiri dari 2 tipe:
Tanpa agorapobia
Dengan agorapobia
Rasa takut terhadap kesulitan menyingkir ke tempat
aman (rumah), seperti takut keramaian, takut pergi
jauh dari rumah, takut naik kereta, pesawat, dll

Gambaran klinis
Gangguan panik
Serangan dimulai dengan me gejala dengan
cepat selama 10 menit
Gejala mental utama : rasa takut yg ekstrim
dan rasa kematian serta ajal yg mengancam
Tanda fisik : takikardi, palpitasi, dispnea dan
berkeringat
Serangan biasa bertahan 20-30 menit dan
jarang >1 jam
Selama serangan terdapat perenungan,
kesulitan berbicara, dan gangguan memori

Agorafobia
Secara kaku menghindari situasi yg akan sulit
untuk didapatkan bantuan
Pasien akan berkeras untuk ditemani setiap
waktu saat meninggalkan rumah
Yg mengalami gangguan parah dapat menolak
meninggalkan rumah

Gejala terkait
Gejala depresif bunuh diri

Diagnosis
Serangan panik
Yg tidak terduga, terjadi kapan pun dan tidak
disertai stimulus situasi yg dapat diidentifikasi
Terduga, terjadi jika ada stimulus spesifik atau
dikenali
Serangan panik dengan predisposisi situsional,
serangan yg dapat atau tidak dapat terjadi
ketika pasien terpajan pemicu khusus atau
terjadi segera setelah pajanan atau setelah
beberapa saat

Kriteria DSM-IV-TR untuk serangan panik


Catattan : serangan panik bukanlah gangguan yg diberi kode.
Buatlah kode diagnosis spesifik saat serangan panik terjadi
(cth : gangguan panik dengan agorafobia)
Suatu periode diskret rasa takut atau ketidaknyamanan yang
intens, dengan tiba-tiba timbul 4 (atau lebih) gejala berikut dan
mencapai puncak dalam 10 menit
(1)palpitasi, jantung berdebar, atau denyut jantung me
(2)Berkeringat
(3)Gemetar
(4)Rasa napas pendek atau tercekik
(5)Rasa tersedak
(6)Nyeri atau tidak nyaman di dada
(7)Mual atau gangguan abdomen
(8)Rasa pusing, tidak stabil, kepala terasa ringan, atau pingsan
(9)Derealisasi (rasa tidak nyaman) atau depersonalisasi (lepas
dari diri sendiri)
(10)Rasa takut kehilangan kendali atau menjadi gila
(11)Rasa takut mati
(12)Parestesi (kebas atau rasa kesemutan)
(13)Mengigil atau rona merah di wajah

Gangguan panik
Kriteria diagnostik DSM-IV-TR Gangguan panik tanpa agorafobia
A. Mengalami (1) dan (2) :
(1)Serangan panik berulang yg tidak terduga
(2)Sedikitnya satu serangan telah diikuti selama 1 bulan (atau
lebih) oleh salah satu (atau lebih) hal berikut :
(a) kekhawatiran menetap akan mengalami serangan
tambhan
(b) khawatir akan akibat atau konsekuensi serangan (cth :
hilang kendali, serangan jantung, menjadi gila)
(c) perubahan perilaku bermakna terkait serangan
B. Tidak ada agorafobia
C. Serangan panik tidak disebabkan efek fisiologis langsung zat
(penyalahgunaan obat, pengobatan) atau keadaan medis
umum (hipertiroidisme)
D. Serangan panik tidak dapat dimasukkan ke dalam gangguan
jiwa lain, seperti fobia sosial (cth : pajanan terhadap situasi
sosial yg ditakuti), fobia spesifik (cth : pajanan terhadap situasi
fobik tertentu), gangguan obsesif kompulsif (cth : pajanan
terhadap kotoran pada seseorang dengan obsesi tentang
kontaminasi), gangguan stress pascatrauma (cth : respons

Kriteria diagnostik DSM-IV-TR Gangguan panik dengan agorafobia


A. Mengalami (1) dan (2) :
(1)Serangan panik berulang yg tidak terduga
(2)Sedikitnya satu serangan telah diikuti selama 1 bulan (atau
lebih) oleh salah satu (atau lebih) hal berikut :
(a) kekhawatiran menetap akan mengalami serangan
tambhan
(b) khawatir akan akibat atau konsekuensi serangan (cth :
hilang kendali, serangan jantung, menjadi gila)
(c) perubahan perilaku bermakna terkait serangan
B. Adanya agorafobia
C. Serangan panik tidak disebabkan efek fisiologis langsung zat
(penyalahgunaan obat, pengobatan) atau keadaan medis
umum (hipertiroidisme)
D. Serangan panik tidak dapat dimasukkan ke dalam gangguan
jiwa lain, seperti fobia sosial (cth : pajanan terhadap situasi
sosial yg ditakuti), fobia spesifik (cth : pajanan terhadap situasi
fobik tertentu), gangguan obsesif kompulsif (cth : pajanan
terhadap kotoran pada seseorang dengan obsesi tentang
kontaminasi), gangguan stress pascatrauma (cth : respons
terhadap rangsangan terkait stresor berat), atau gangguan

Kriteria diagnostik DSM-IV-TR Agorafobia


Catatan : Agorafobia bukanlah gangguan yg dapat diberi kode. Buatlah
kode gangguan spesifik saat terjadinya agorafobia (cth : gangguan
panik dengan agorafobia atau agorafobia tanpa riwayat gangguan
panik)
A. Ansietas saat berada di tempat atau situasi yg jalan keluarnya sulit
(atau memalukan) atau tidak ada pertolongan saat mengalami
serangan panik dengan predisposisi situsional atau tidak terduga
atau gejala mirip panik. Rasa takut agorafobik secara khas
melibatkan kelompok khas situasi yg mencakup berada jauh dari
rumah sendirian; berada di keramaian atau mengantri; berada di
jembatan; dan berjalan-jalan dengan bus, kereta atau mobil.
Catatan : pertimbangkan diagnosis fobia spesifik jika penghindaran
terbatas pada satu atau hanya sedikit situasi spesifik, atau fobia
sosial jika penghindaran terbatas pada situasi sosial.
B. Situasi tersebut dihindari (cth : bepergian sangat terbatas) atau
dijalani dengan penderitaan yg jelas atau dengan ansietas akan
mengalami serangan panik atau gejala mirip panik, atau
membutuhkan adanya teman.
C. Ansietas atau penghindaran fobik tidak disebabkan gangguan jiwa
lain, seperti fobia sosial (cth : pajanan terhadap situasi sosial yg
ditakuti), fobia spesifik (cth : pajanan terhadap situasi fobik tertentu),
gangguan obsesif kompulsif (cth : pajanan terhadap kotoran pada

Kriteria diagnosis DSM-IV-TR Agorafobia tanpa


riwayat gangguan panik
A. Adanya agorafobia terkait rasa takut mengalami
gejala lir-panik (cth : pusing, diare)
B. Kriteria tidak pernah memenuhi gangguan panik
C. Gangguan tidak disebabkan efek fisiologis
langsung suatu zat (cth : penyalahgunaan zat,
obat) atau keadaan medis umum.
D.Jika terdapat keadaan medis umum yg terkait, rasa
takut yg dijelaskan pada kriteria A dengan jelas
melebihi rasa takut yg biasanya berkaitan dengan
keadaan medis tersebut

Terapi
Farmakoterapi
Alprazolam (xanax ) dan Paroksetin (paxil) obat
yg disetujui U.S. Food and Drug Administration
(FDA) untuk terapi gangguan panik
Nefazodon (serzone) dan venlafaksin (effexor) serta
buspiron (buspar) obat tambahan
Gangguan panik terisolasi memulai dengan
paroksetin, sertralin (zoloft) atau fluvoxamin (luvox)
Kendali yg cepat terhadap gejala yg parah
alprazolam bersamaan dengan SSRI, diikuti pe
dosis benzodiazepin secara perlahan
Penggunaan jangka panjang fluoxetine (prozac)

Terapi Perilaku dan kognitif


Terapi kognitif, 2 fokus utama :
Instruksi mengenai keyakinan salah pasien
salah mengartikan sensasi tubuh ringan
sebagai tanda khas akan terjadinya
serangan panik, ajal atau kematian
Informasi mengenai serangan panik
penjelasan bahwa serangan hanya terbatas
waktu dan tidak mengancam jiwa

Aplikasi relaksasi
Melalui teknik standar relaksasi otot dan
membayangkan situasi yg membuat santai

Pelatihan pernapasan
Melatih pasien mengendalikan dorongan
untuk melakukan hiperventilasi

Pajanan in vivo
Dengan pemajanan pasien terhadap
stimulus yg ditakuti yg semakin lama
semakin berat; dari waktu ke waktu pasien
menjadi mengalami desensitisasi terhadap
pengalaman tersebut

Fobia spesifik dan sosial

Fobia Sosial
Rasa takut yang kuat dan menetap
akan situasi yang dapat
menimbulkan rasa malu.
Orang dengan fobial sosial memiliki
rasa takut yang berlebihan akan rasa
malu di depan umum, buang air kecil
di wc umum (shy bladder) ,berbicara
didepan umum .

Fobia Sosial
Ketakutan tetap, berat, irasional, thd situasi sosial
Misal : takut bicara atau menampilkan diri di depan umum;
makan/mandi di tempat umum, menulis di depan orang lain,
atau ketakutan lain dimana ia akan diperhatikan orang lain
Dpt mjd suatu ketidakmampuan
Banyak orang merahasiakan gangg ini shg sering tjd salah
interpretasi sbg kesombongan, ketidaktertarikan, keras
kepala
Lebih sedikit dibanding agoraphobia
Perempuan menderita 2x dibanding laki-laki
Sering dimulai pd akhir masa kanak2 atau remaja awal, &
mungkin menetap selama bertahun2 meskipun intensitasnya
fluktuatif

Fobia Spesifik
Definisi
Takut pada objek, tempat situasi tertentu.
Ketakutan yang berlebihan dan persisten terhadap objek /
situasi spesifik, seperti :
Acrophobia : takut terhadap ketinggian, bahkan hanya setinggi
2 meter.
Claustrophobia : takut terhadap tempat tertutup/terkunci.
Fobia binatang : takut shg mengganggu kehidupan sehari-hari /
menyebabkan distres emosional yang signifikan terhadap
binatang tertentu seperti tikus, ular, atau binatang-binatang
menjijikkan.
Fobia benda-benda tertentu : seperti jarum suntik (bukan
sakitnya yang mereka takuti, tetapi jarumnya), pisau, bendabenda elektronik, atau benda-benda lain.

Diagnosis
Menurut DSM-IV-TR
Ditandai dan diperkuat mengenai ketakutan yang berlebihan
dan tidak masuk akal, diisyaratkan dengan kehadiran /
antisipasi terhadap objek / situasi spesifik. Contohnya :
terbang, ketinggian, atau melihat darah.
Pada stimulus fobia hampir selalu memberikan respon anxiety
dengan segera, mungkin dalam bentuk situasi serangan panik.
(pada anak-anak, kecemasan mungkin di ekspresikan dengan
menangis atau tantrum).
Orang mengenal ketakutan tersebut sebagai sesuatu yang
berlebihan dan tidak masuk akal. (pada anak-anak cirri ini
mungkin tidak ditonjolkan).
Situasi fobia menghindarkan atau menahan kecemasan yang
intens atau distress.
Penghindaran, antisipasi kecemasan, atau distress yang
mengganggu secara signifikan dengan fungsi orang normal,
aktivitas atau hubungan sosial, atau ditandai dengan distress

Gangguan obsesif kompulsif

Gangguan ObsesifKompulsif
Kumpulan gejala seperti pemikiran, ritual, gagasan
dan dorongan yang mengganggu.
Obsesif sebuah perasaan, pemikiran, ide, sensasi
yang mengganggu apabila sebuah tindakan yang
khas tidak dilakukan.
Kompulsif kebiasaan yang disadari, dan berulang,
seperti mencuci, membersihkan, checking,
menghitung, mengumpulkan, mengulang tindakan
tertentu, berdoa.
Pasien dengan GOK biasa merasa terganggu dengan
expresi Obsesif dan kompulsif, yang dikenal sebagai
ego-dystonic (unwanted behavior).

Etiologi dan
Pathophysiology
1. Genetik
2. Kelainan pada sirkuit basal gangliafrontocortical

volume orbitofrontal dan thalamus


aktivitas orbitofrontal dan anterior
cingulate cortical pemikiran yang
mengganggu (gejala obsesif), dan cemas;
dan mempengaruhi basal ganglia
bertanggung jawab terhadap gejala
Kompulsif

3. Kelainan pada fungsi serotonin dan


dopamin

Agonis serotonin memperburuk gejala GOK


Sintesis serotonin menurunkan aktifitas
prefrontal cortex dan caudate nucleus
Stimulasi dopamin gerakan berulang, yang
munkin dapat dihentikan dengan pemberian
dopamin antagonis
Beberapa penelitian memperkirakan
kurangnya serotonin dan kontrol dari dopamin
merupakan defek primer pada GOK

Gangguan stress pascatrauma

Post Traumatic Stress Disorder


Timbul sbg akibat/respons yg berkepanjangan & atau
tertunda thd kejadian atau situasi yg menimbulkan stres
Faktor predisposisi yaitu ciri kepribadian (misalnya
kompulsif astenik) dpt menurunkan kadar ambang
Gejala khas
Episode2 bayangan kejadian traumatik terulang kembali
(flash backs) atau mimpi
Terjadi perasaan beku dan penumpukan emosi
Menjauhi orla
Tidak responsif thd lingkungannya
Menghindari aktivitas2/situasi yg berkaitan menghindari
ingatan traumatik
Bisa mendadak ketakutan, panik atau agresif

Post Traumatic Stress


Disorder
Terjadi bangkitan otonomik berlebihan dgn kenekatan
yg berlebih, mudah kaget, tertegun, insomnia
Bisa disertai anxietas & depresi, dan ide bunuh diri
Onset bbrp minggu bulan = 6 bulan (perjalanan
berfluktuasi)

Pedoman Diagnostik
Timbulnya dlm waktu 6 bln, disebabkan oleh suatu
peristiwa traumatik yg luar biasa berat
Onset > 6 bln dgn manifest klinis khas seperti yg telah
disebutkan
Termasuk : Neurosis Traumatik

Post Traumatic Stress


Disorder

Tipikal Gejala PTSD


Reexperiencing the traumatic event
Menghidupkan kembali dlm ingatannya ttg peristiwa
traumatis tsb
Avoidance
Penderita akan menghindari aktivitas atau situasi yg
mengingatkan kembali pd kejadian traumatis
Reduced responsiveness
Tdk responsif thd dunia luar, psychic numbing
(kaku/dingin), emotional anesthesia
Increased arousal, anxiety, and guilt
Meningkatkan keterbangkitan, mjd waspada, respon
yg berlebihan & gangguan tidur
Perasaan bersalah krn dpt bertahan dr kejadian
traumatis, sedangkan orang lain tdk

Post Traumatic Stress


Disorder
Terapi
Pendekatan utama adalah mendukng,
mendorong untuk mendiskusikan
peristiwa dan pendidikan tentang
berbagai mekanisme mengatasinya.
Uji klinis menyatakan imipramin dan
antitriptilin baik.
Obat lain yang mungkin berguna
adalah SSRI, MAOI, dan antikonvulsan.

Post Traumatic Stress Disorder


Prognosis
30% pasien pulih sempurna,
40% terus menderita gejla ringan
20%terus mengalami gejala sedang
10% tidak berubah atau malah
memburuk
Umumnya orang yang sangat muda
atau sangat lebih tua mengalami
kesulitan

Gangguan ansietas menyeluruh

Definisi
DSM IV-TR
Ansietas & kekhawatiran yang
berlebihan mengenai beberapa
peristiwa atau aktivitas hampir
sepanjang hari selama sedikitnya 6
bulan
Kekhawatiran ini sulit dikendalikan &
berkaitan dgn gejala somatik seperti
otot tegang, iritabilitas, sulit tidur, dan
gelisah

Etiologi
Faktor biologis
Pasien dgn gangguan ansietas
menyeluruh mungkin memiliki
subsensitivitas reseptor 2-adrenergik
Studi EEG tidur melaporkan
diskontinuitas tidur yg meningkat,
penurunan tidur delta, berkurangnya
tidur tahap I, dan berkurangnya tidur
REM

Faktor psikososial
Kelompok perilaku-kognitif
Pasien dgn gangguan ansietas menyeluruh
memberikan respon pada hal-hal yg secara
tidak benar & tidak akurat dianggap sbg
bahaya

Kelompok psikoanalitik
Bahwa ansietas adalah gejala konflik yg
tidak disadari & tidak terselesaikan

Kriteria diagnostik DSM-IV-TR untuk


gangguan ansietas menyeluruh
A. Ansietas dan kekhawatiran berlebihan (perkiraan yang
menakutkan), terjadi hampir setiap hari selama setidaknya
6 bulan, mengenai sejumlah kejadian atau aktivitas (seperti
bekerja atau bersekolah)
B. Orang tersebut merasa sulit mengendalikan
kekhawatirannya
C. Ansietas dan kekhawatiran dikaitkan dengan tiga (atau
lebih) dari keenam gejala berikut (dengan beberapa gejala
setidaknya muncul hampir setiap hari selama 6 bulan)
Perhatikan: hanya satu gejala yang diperlukan pada anakanak:
1. Gelisah atau merasa terperangkap atau terpojok
2. Mudah merasa lelah
3. Sulit berkonsentrasi atau pikiran menjadi kosong
4. Mudah marah

D. Fokus dari ansietas dan kekhawatiran tidak terbatas hanya


pada gambaran gangguan Axis I, misal: ansietas atu cemas
bukan karena mengalami serangan panik, (sepert pada
gangguan panik), merasa malu berada dikeramaian
(seperti pada fobia sosial), merasa kotor (seperti pada
gangguan obsesif kompulsif), jauh dari rumah atau kerabat
dekat (seperti pada gangguan ansietas perpisahan),
bertambah berat badan (seperti pada anoreksia nervosa),
mengalami keluhan fisik berganda (seperti pada gangguan
somatisasi), atau mengalami penyakit serius (seperti pada
hipokondriasis), juga ansietas dan kekhawatiran tidak
hanya terjadi selama gangguan stres pasca trauma.
E. Ansietas, kekhawtiran, atau gejl fisis menyebbkan distres
yang secara klinis bermakna atau hendaya sosial,
pekerjaan, atau are pentng fungsi lainnya
F. Gangguan tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung dri
suatu zat, atau keadaan medis umum, dan tidak terjadi
hanya selama gangguan mood, gangguan psikotik, atau
gangguan perkembangan privasif.

Diagnosis banding
Gangguan penyesuaian dgn ansietas,
hipokondriasis, gangguan defisitatensi / hiperaktivitas dewasa,
gangguan somatisasi, dan gangguan
kepribadian

Terapi
Psikoterapi
Terapi perilaku-kognitif
Terapi suportif
Psikoterapi berorientasi tilikan
Sebagian besar pasien mengalami
berkurangnya ansietas secara nyata
ketika diberikan kesempatan untuk
mendiskusikan kesulitan mereka dengan
dokter yg simpatik & peduli

Farmakoterapi
Benzodiazepine
Obat pilihan untuk gang. Ansietas menyeluruh

Buspiron
Lebih efektif mengurangi gejala kognitif
Kerugian : efeknya 2-3 minggu baru terlihat
Kombinasi jangka panjang dgn benzodiazepin
lebih efektif

Venlafaksin
Mengobati insomnia, gelisah, konsentrasi buruk,
iritabilitas, tegang otot berlebih akibat
gang.ansietas

Selective serotonin reuptake inhibitors


Sertralin (Zoloft), paroksetin (Paxil) pilihan yg baik
Efektif untuk pasien dgn komorbid depresi

GANGGUAN SOMATOFORM

Gangguan Somatoform
Merupakan kelompok luas dari
penyakit yang memiliki tanda &
gejala fisik sebagai komponen
utama.
Gangguan ini mencakup interaksi
pikiran & tubuh dimana otak
mengirim sinyal yang mempengaruhi
kesadaran pasien, menunjukan
masalah serius dalam tubuh.

Kriteria DSM-IV-TR
Gangguan somatoform spesifik:
1.
2.
3.
4.
5.

Gangguan somatisasi: banyak keluhan fisik yang mengenai


banyak system organ
Gangguan konversi: satu/dua keluhan neurologis
Hipokondriasis: focus gejala yang lebih ringan daripada
kepercayaan pasien bahwa ia menderita penyakit tertentu
Gangguan dismorfik tubuh: kepercayaan palsu/persepsi
berlebihan bahwa suatu bagian tubuh mengalami cacat
Gangguan nyeri: gejala nyeri yang semata-mata
berhubungan dengan/dieksaserbasi oleh factor psikologis

Kategori diagnostik sisa:


6.
7.

Gangguan somatoform yang tidak dibedakan


(undifferentiated)
Gangguan somatoform yang tidak ditentukan

GANGGUAN SOMATISASI
Merupakan penyakit dengan banyak gejala
somatic pada banyak system organ yang muncul
selama beberapa tahun.

Epidemiologi
Perempuan dengan gangguan somatisasi
jumlahnya 5-20 kali dibanding laki-laki
Sering pada pasien dengan pendidikan rendah
dan miskin.
Muncul sebelum usia 30 tahun, bahkan sering
pada usia remaja.
Sering muncul dengan gangguan mental lainnya.

Etiologi

Faktor Psikososial
Rumusan psikososial mengenai penyebabnya melibatkan
interpretasi gejala sebagai komunikasi social yang hasilnya
adalah menghindari kewajiban, mengekpresikan emosi,
atau melambangkan perasaan atau keyakinan (cth: sakit di
perut).
Yang mungkin berpengaruh: ajaran & contoh parenteral,
etika moral, keadaan rumah tangga yang tidak stabil,
penyiksaan fisik, serta factor social, kultural & etnik.
Faktor Biologis
Dasar neuropsikologis: pasien memiliki gangguan perhatian
& kognitif karakteristik yang dapat menyebabkan persepsi
dan penilaian yang salah terhadap input somatosensorik.
Genetik
Sitokin
Sitokin mungkin berpengaruh terhadap beberapa gejala
nonspesifik seperti hypersomnia, anoreksia, kelelahan, dan
depresi.

Gambaran Klinis
Mungkin memiliki banyak keluhan somatik dan
riwayat medis yang panjang dan rumit.
Gejala paling sering: mual dan muntah (selain
hamil), sulit menelan, nyeri pada lengan dan
tungkai, napas pendek yang tidak berhubungan
dengan aktivitas, amnesia, dan komplikasi selama
kehamilan & menstruasi.
Pasien sering yaking bahwa mereka sakit selama
sebagian besar hidupnya.
Penderitaan psikologis dan interpersonal adalah
menonjol: ansietas & depresi, ancaman bunuh diri.
Sering disertai gangguan mental lain, termasuk
gangguan depresi mayor, gangguan kepribadian,
gangguan terkait zat, gangguan kecemasan umum,

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan


Somatisasi (DSM-IV)
A. Riwayat banyak keluhan fisik yang dimulai sebelum
usia 30 tahun yang terjadi selama periode
beberapa tahun dan menyebabkan terapi yang
dicari atau gangguan bermakna dalam fungsi
social, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
B. Tiap kriteria berikut ini harus ditemukan dengan
gejala individual yang terjadi pada sembarang
waktu selama perjalanan gangguan:
1. Empat gejala nyeri: riwayat nyeri yang berhubungan
dengan sekurangnya empat tempat atau fungsi yang
berlainan (misalnya, kepala, perut, punggung, sendi
anggota gerak, dada, rectum, selama menstruasi, selama
hubungan seksual, atau selama miksi)

2.

3.

4.

Dua gejala gastrointestinal: riwayat sekurangnya dua


gejala gastrointestinal selain dari nyeri (misalnya, mual,
kembung, muntah selain dari selama kehamilan, diare
atau intoleransi terhadap beberapa jenis makanan)
Satu gejala seksual: riwayat sekurangnya satu gejala
seksual atau reproduktif selain dari nyeri (misalnya,
indiferensi seksual, disfungsi erektil atau ejakulasi,
menstruasi yang tidak teratur, perdarahan menstruasi
yang berlebihan, muntah sepanjang kehamilan)
Satu gejala pseudoneurologis: riwayat sekurangnya
satu gejala atau deficit yang mengarahkan pada kondisi
neurologis yang tidak terbatas pada nyeri (gejala
konversi seperti gangguan koordinasi atau
keseimbangan, paralisis atau kelemahan setempat,
sulit menelan atau benjolan di tenggorokan, afonia,
retensi urin, halusinasi, hilangnya sensasi sentuh atau
nyeri, pandangan ganda, kebutaan, ketulian, kejang;
gejala disosiatif seperti amnesia; atau hilangnya
kesadaran selain pingsan).

C. Salah satu (1) atau (2):


1) Setelah penelitian yang diperlukan, tiap gejala dalam
kriteria B tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh
sebuah kondisi medis umum yang dikenal atau efek
langsung dari suatu zat (misalnya, efek cedera,
medikasi, obat, atau alcohol)
2) Jika terdapat kondisi medis umum, keluhan fisik atau
gangguan social atau pekerjaan yang ditimbulkannya
adalah melebihi apa yang diperikan dari riwayat
penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium.

D. Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau


dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau
pura-pura).

Prognosis
Gangguan somatisasi adalah suatu gangguan
kronik, bergelombang, sering kambuh, dan jarang
mencapai remisi penuh.
jarang individu yang dapat bebas gejala selama
> 1 tahun.
Walaupun pasien dengan gangguan ini
menganggap dirinya sakit secara medis, bukti
menunjukan mereka tidak lebih mungkin untuk
mendapat penyakit medis lain dalam 20 tahun ke
depan dibandingkan orang tanpa gangguan
somatisasi

Tatalaksana
Dokter utama harus memeriksa pasien selama
kunjungan teratur yang terjadwal, biasanya
dengan interval 1 bulan. Kunjungan harus relative
singkat, walatupun pemeriksaan fisik sebagian
harus dilakukan sebagai respon keluhan somatic
yang baru. Pemeriksaan lab dan diagnostic
tambahan sebaiknya dihindari.
Tetapi, pasien dapat juga memiliki penyakit fisik
dokter harus selalu menggunakan
pertimbangannya megenai gejala mana yang
perlu diperiksa & sampai sejauh mana.
Psikoterapi pasien dibantu untuk mengatasi
gejalanya, mengekspresikan emosi yang
mendasari, & mengembangkan strategi

GANGGUAN KONVERSI
Merupakan suatu penyakit dengan gejala atau defisit
yang mempengaruhi motoric volunteer atau fungsi
sensorik, yang menunjukkan kondisi medis lain,
tetapi dinilai disebabkan oleh factor psikologis
karena didahului oleh konflik atau stressor lain.
Epidemiologi
Populasi umum: 11-300 dari 100,000
Wanita > pria
Umum di antara penduduk pedesaan, orang
berpendidikan rendah, IQ rendah, kelompok socialekonomi rendah, dan anggota militer yang pernah
terlibat perang.

Etiologi
Faktor Psikoanalitik
Gangguan konversi disebabkan oleh represi konflik intrapsikis
bawah sadar & konversi kecemasan ke dalam suatu gejala fisik.
Konflik adalah antara impuls instinctual dan penghalangan
terhadap ekspresinya.
Gejala juga memungkinkan pasien mengomuniasikan bahwa
mereka membutuhkan perhatian & pengobatan khusus.

Learning Theory
Gejala sebagai bagian dari classically conditioned learned
behavior sarana untuk mengatasi situasi yang tidak mungkin.

Faktor Biologis
Gejala mungkin disebabkan oleh kesadaran kortikal berlebihan
yang mematikan umpan balik negative antara korteks serebral &
formasi retikularis batang otak.

Gambaran Klinis
Gejala Motorik
Kelainan pergerakan

Gejala Sensorik

Kelemahan

Anastesia, khususnya pada


ekstremitas

Paralisis

Midline anesthesia

Tremor ritmikal yang jelas

Kebutaan

Gerakan koreiform

Tunnel vision

Gangguan gaya berjalan


astasia-abasia : gaya berjalan
yang sangat ataksik dan
sempoyongan yang disertai
oleh gerakan batang tubuh
yang menyentak, ireguler,
kasar, dan gerakan lengan
yang melambai dan tak
terkendali

Ketulian

Gejala kejang
Kejang semu (pseudo seizure)
yang terkadang memiliki
gangguan epileptik, menggiit
lidah, inkontinensia urin, dan
cedera setelah jatuh.

Ciri Penyerta Lain


Tujuan primer: pasien mendapat tujuan primer
dengan mempertahankan konflik internal di luar
kesadaran mereka.
Tujuan sekunder: pasien mendapat keuntungan
nyata akibat mereka sakit.
La belle indifference: sikap sombong pasien
yang tidak sesuai terhadap gejala serius
pasien tampak tidak memperhatikan apa yang
tampaknya merupakan gangguan berat.
Identifikasi: pasien mungkin secara tidak sadar
membentuk gejalanya seperti seseorang yang
penting bagi mereka.

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan


Konversi (DSM-IV)
A. Satu atau lebih gejala atau deficit yang
mengenai fungsi motoric volunteer atau sensorik
yang mengarahkan pada kondisi neurologis atau
kondisi medis lain.
B. Faktor psikologis dpertimbangkan berhubungan
dengan gejala atau deficit karena awal atau
eksaserbasi gejala atau deficit adalah didahului
oleh konflik atau stressor lain.
C. Gejala atau deficit tidak ditimbulkan secara
sengaja atau dibuat-buat (seperti pada
gangguan buatan atau berpura-pura).
D. Gejala atau deficit tidak dapat setelah penilitian
yang diperlukan, dijelaskan sepenuhnya oleh

E. Gejala atau deficit menyebabkan penderitaan


yang bermakna secara klinis atau gangguan
dalam fungsi social, pekerjaan, atau fungsi
penting lain atau memerlukan pemeriksaan
medis.
F. Gejala atau deficit tidak terbatas pada nyeri
atau disfungsi seksual, tidak terjadi sematamata selama perjalanan gangguan somatisasi,
dan tidak dapat diterangkan dengan lebih baik
oleh gangguan mental lain.
Sebutkan tipe gejala atau deficit:
. dengan gejala atau deficit motoric
. dengan gejala atau deficit sensorik
. dengan kejang atau konvulsi
. dengan gambaran campuran

Prognosis
Gejala awal pd sebagian besar pasien dengan
gangguan konversi (90-100%) membaik dalam
beberapa hari.
Prognosis baik : awitan mendadak, stressor
mudah diidentifikasi, penyesuaian pramorbid bai,
tdk ada gangguan medis, tdk sedang menjalani
proses hukum
Prognosis buruk : gangguan konversi semakin
lama

HIPOKONDRIASIS

Hipokondriasis ditandai dengan 6 bulan atau lebih


preokupasi umum dan nondelusional oleh ketakuan
menderita, atau ide bahwa dirinya menderita, penyakit
serius berdasarkan interpretasi yang salah akan gejala fisik.

Epidemiologi:
Prevalensi 6 bulan dari hipokondriasis: 4 6% pada
populasi medis umum, tetapi dapat mencapai 15%.
Pria = wanita.
Onset kebanyakan pada orang usia 20 30 tahun.
Muncul pada sekitar 3% mahasiswa kedokteran, biasanya
pada 2 tahun pertama, tetapi pada umumnya hanya
sementara.

Etiologi
1. Pasien memiliki ambang rendah atau toleransi
rendah terhadap gangguan fisik.
2. Model belajar social gejala dipandang sebagai
keinginan untuk mendapatkan peransan sakit
oleh seseorang yang menghadapi masalah.
3. Variasi dari gangguan mental lain (gangguan
depresif, gangguan kecemasan)
4. Psikodinamika: harapan agresif & permusuhan
terhadap orang lain dipindahkan (melalui represi
dan pengalihan) kepada keluhan fisik.

Kriteria Diagnosis untuk


Hipokondriasis (DSM-IV)
A. Preokupasi dengan ketakutan menderita, atau ide
bahwa ia menderita, suatu penyakit serius
didasarkan pada interpretasi keliru orang
tersebut terhadap gejala-gejala tubuh.
B. Preokupasi menetap walaupun telah dilakukan
pemeriksaan medis yang tepat dan
penenteraman.
C. Keyakinan dalam kriteria A tidak memiliki
intensitas waham (seperti pada gangguan
delusional, tipe somatic) dan tidak terbatas pada
kekhawatiran yang terbatas tentang penampilan
(seperti pada gangguan dismorfik tubuh).

D. Preokupasi menyebabkan penderitaan yang


bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi
social, pekerjaan, atau fungsi penting lain
E. Lama gangguan sekurangnya 6 bulan.
F. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh
gangguan kecemasan umum, gangguan obsesifkompulsif, gangguan panic, gangguan depresif berat,
cemas perpisahan, atau gangguan somatoform lain.
Sebutkan jika:
dengan tilikan buruk: jika, untuk sebagian besar
waktu selama episode terakhir, orang tidak
menyadari bahwa kekhawatirannya tentang
menderita penyakit serius adalah berlebihan atau
tidak beralasan.

Prognosis
Perjalanan hipokondriasis biasanya episodic; episode
berlangsung beberapa bulan hingga beberapa tahun
dan dipisahkan oleh periode tenang yang sama
panjang.
Diperkirakan sepertiga sampai sestengah pasien
hipokondriasis keadaanya membaik secara
signifikan.
Prognosis baik: status sosioekonomi tinggi, ansietas
dan depresi yang berespon terhadap terapi, gejala
yang tiba-tiba, tidak adanya gangguan kepribadian,
dan tidak adanya kondisi medis nonpsikiatrik terkait.
Kebanyakan anak dengan hipokondriasis pulih pada
akhir masa remaja atau awal masa dewasa.

Tatalaksana
Pasien hipokondriasis biasanya menolak
perawatan psikiatri, meskipun beberapa
menerima jika dilakukan di lingkungan medis dan
berfokus pada pengurangan stress dan edukasi
cara mengatasi penyakit kronis.
Psikoterapi kelompok menyediakan dukungan
dan interaksi social yang dapat mengurangi
ansietas.
Psikoterapi individual berorientasi-tilikan, terapi
perilaku, terapi kognitif, dan hypnosis mungkin
berguna.

GANGGUAN DISMORFIK
TUBUH
Gangguan dismorfik tubuh ditandai dengan
preokupasi dengan cacat khayalan dalam
penampilannya.
Jika terdapat anomaly fisik minor, perhatian orang
terhadap anomaly tersebut berlebihan dan
mengganggu.
Epidemiologi
Paling sering pada usia antara 15 30 tahun.
Wanita > pria.

Etiologi
Penyebab tidak diketahui.
Komorbiditas tinggi dengan gangguan depresi,
riwayat keluarga gangguan mood dan gangguan
obsesif-kompulsif.
Mungkin dipengaruhi oleh serotonin dan gangguan
mental lainnya.
Stereotipe konsep kecantikan pada keluarga atau
budaya dapat mempengaruhi pasien secara
signifikan.
Psikodinamik: gangguan dismorfik tubuh dilihat
sebagai refleksi perpindahan dari konflik seksual atau
emosional ke bagian tubuh yang tidak berhubungan.

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan


Dismorfik Tubuh (DSM-IV)
A. Preokupasi dengan bayangan cacat dalam
penampilan. Jika ditemukan sedikit anomaly tubuh,
kekhawatiran orang tersebut akan berlebihan
dengan nyata.
B. Preokpasi menyebabkan penderitaan yang
bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi
social, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
C. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh
gangguan mental lain (misalnya, ketidakpuasan
dengan bentuk dan ukuran tubuh pada anoreksia
nervosa).

Prognosis
Gangguan dismorfik tubuh biasanya muncul saat
masa remaja, meskipun mungkin juga muncul
lebih tua saat tidak puas berkepanjangan
terhadap tubuh.
Onset dapat muncul tiba-tiba atau bertahap.
Gangguan biasanya memiliki perjalanan panjang
dan bergelombang dengan beberapa interval
bebas geejala.
Bagian dari tubuh yang menjadi perhatian
mungkin tetap sama atau dapat berubah dari
waktu ke waktu.

Tatalaksana
Terapi dengan operasi, dermatologis,
dental, atau prosedur lainnya untuk
memperbaiki kekurangan biasanya
tidak berhasil.
Serotonin-specific drugs
(clomipramine, fluoxetine) dapat
mengurangi gejala pada 50% pasien.

Daftar pustaka
Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan and
Sadocks Synopsis of Psychiatry 10th
edition. Philadelphia : Lippincott
Williams & Wilkins : 2007.