Anda di halaman 1dari 28

PERCOBAAN I

PENGARUH CARA PEMBERIAN TERHADAP


ABSORBSI OBAT

Kelompok L/4

Risnitama Septiarani (1041211157)


Santi Oktafialdhe .S.
Sofhie Winanda

(1041211161)

(1041211172)

A.TUJUAN

Mengenal, mempraktekkan dan


membandingan cara-cara
pemberian obat terhadap
kecepatan absorbsinya,
menggunakan data farmakologi
sebagai tolak ukur

Bentuk sediaan dan cara pemberian merupakan penentu


dalam memaksimalkan proses absorbsi obat oleh tubuh
karena keduanya sangat menentukan efek biologis suatu
obat seperti
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Absorbs
Kecepatan absorbsi,
Bioavaibilitas (total obat yang dapat diserap),
Cepat atau lambatnya obat mulai bekerja (onset of
action),
Lamanya obat bekerja (duration of action),
Intensitas kerja obat,
Respon farmakologi yang dicapai
Dosis yang tepat untuk memberikan respon tertentu.

. Tempat pemberian, cara pemberian dan bentuk


sediaan obat diatur menurut:
Sifat fisika dan kimia bahan obat
Munculnya kerja dan lama kerja yang
diingikan
Tempat obat seharusnya bekerja

Apabila di inginkan kerja yang cepat maka harus


dipilih suatu cara pemberian, yang pada cara ini
periode laten antara waktu pemberian dan
munculnya kerja singkat yaitu dengan meniadakan
absorpsi. Sebaliknya jika di inginkan kerja yang
tertunda, umumnya yang mungkin ialah bentukbentuk pemberian yang melalui absorbs.

Disamping faktor formulasi, cara pemberian obat


turut menentukan kecepatan dan kelengkapan
resorbsi obat. Ada banyak cara untuk memberikan
obat yaitu :
1.

Oral

Pemberian obat melalui mulut (per oral)

2.

Sub kutan (hypodermal) Injeksi dibawah kulit

3.

Intra muscular (i.m)

4.

Intra peritoneal (i.p)

injeksi didalam otot,

Kecepatan resorbsi terutama tergantung pada bentuk


pemberian obat, cara pemberiannya dan sifat fisika
kimia dari obat. Resorbsi dari usus ke dalam sirkulasi
berlangsung cepat bila obat diberikan dalam bentuk
terlarut. Dengan sendirinya pemberian injeksi secara
intravena (iv) menghasilkan efek yang tercepat, karena
obat langsung masuk ke dalam sirkulasi sistemik. Efek
lebih lambat diperoleh dengan injeksi intra muscular
(i.m) dan efek yang lebih lambat lagi dengan injeksi
subcutan (s.c) karena obat harus melintasi banyak

Kecepatan resorbsi terutama tergantung pada


bentuk pemberian obat, cara pemberiannya dan
sifat fisika kimia dari obat.
Resorbsi dari usus ke dalam sirkulasi berlangsung
cepat bila obat diberikan dalam bentuk terlarut.

Dengan sendirinya pemberian injeksi secara


intravena (iv) menghasilkan efek yang tercepat,
karena obat langsung masuk ke dalam sirkulasi
sistemik.
Efek lebih lambat diperoleh dengan injeksi intra
muscular (i.m) dan efek yang lebih lambat lagi
dengan injeksi subcutan (s.c) karena obat harus
melintasi banyak membran sel sebelum tiba dalam
peredaran darah.

Luminal (golongan barbiturat)


Barbiturate merupakan derivate asam barbiturate (2,4,6
trioksoheksahidropirimidin).
Efek utama barbiturate adalah depresi SSP. Semua tingkat depresi
dapat dicapai, mulai dari sedasi, hypnosis, berbagai tingkat anesthesia
koma, sampai kematian.
Barbiturate tidak dapat mengurangi rasa nyeri tanpa disertai hilangnya
kesadaran, dan dosis kecil barbiturate dapat meningkatkan reaksi
terhadap rangsangan nyeri.
Pada beberapa individu, dan dalam keadaan tertentu, misalnya adanya
rasa sakit, barbiturate tidak menyebabkan sedasi melainkan malah
menimbulkan eksitasi (kegelisahan dan delirium).Hal ini mungkin
disebabkan adanya depresi pusat penghambatan.
Efek hipnotik barbiturate meningkatkan total lama tidur dan
mempengaruhi tingkatan tidur yang bergantung pada dosis.

Hipnotik-sedatif Barbiturat yang biasanya diberikan secara oral diabsorbsi


cepat dan sempurna. Barbiturat bentuk garam natriumnya diabsorbsi lebih
cepat daripada bentuk asam bebasnya, terutama bila diberikan sebagai
sediaan cair.
Mula kerja bervariasi antar 10-60 menit, bergantung kepada zat serta bentu
formulasinya dan dihambat adanya makanan dilambung.

Barbiturat didistribusi secara luas dan dapat lewat plasenta. Barbiturat yang
sangat larut lemak, yang digunakan sebagai penginduksi anestesi, misalnya
Thiopental dan Metoheksital, setelah pemberian secara iv, akan ditimbun
dijaringan lemak dana otak. Hal ini menyebabkan penurunan kadarnya
dalam plasma dan otak secara cepat, meyebabkan pasien sadar dalam
waktu 5-15 menit setelah penyuntik dengan dosis anestetik. Setelah depot
lemak jenuh, terjadi redistribusi ke aliran sistemik, akibatnya pemulihan
setelah pemberian barbiturat sangat larut lemak memerlukan waktu yang
lama.

Waktu
No.

Cara

Hewan

Pemberia

Uji

Refleks Balik Badan


Pemberian

Kembali

Onset
(menit)

Durasi
(menit)

Hilang

08.01

09.02

13.00

67

238

07.55

09.25

13.00

88

215

07.37

09.35

13.00

140

205

08.17

09.55

13.00

98

185

08.11

12.06

13.00

23,5

54

07.48

09.38

14.00

110

262

07.56

09.50

14.00

114

250

08.04

09.28

14.00

84

272

08.07

09.41

14.00

94

259

08.12

08.55

14.00

43

245

Per oral
(p.o.)

4
5

1
2

Subkutan
(s.c.)

07.44

08.33

13.00

79

262

07.55

08.28

13.00

33

272

07.52

08.23

13.00

52

256

07.57

09.39

13.00

26

277

07.48

09.39

13.00

111

201

07.57

09.52

13.00

115

188

08.01

08.22

13.00

21

278

08.07

08.55

13.00

48

245

08.12

08.36

13.00

24

264

08.16

09.00

13.00

44

240

Intramuscular
(i.m.)

Intra peritoneal
(i.p.)

Dosis Phenobarbital
Per oral, Subkutan, Intraperitoneal :
Etiket Phenobarbital = 50 mg/ml
pengeceran 10 5 mg/ml
Dosis Phenobarbital = 80 mg/kg BB mencit
Intra muskular :
Etiket Phenobarbital = 50 mg/ml
Dosis Phenobarbital = 80 mg/kg BB mencit