Anda di halaman 1dari 52

BENIGN

PROSTATE
HYPERPLASI
A
dr. Monica Handayani
Pembimbing : dr. Gardjito,
Sp.U
Pendamping : dr. Agnes Maria
T

IDENTITAS PASIEN
Nama
: Tn. B
Umur
: 68 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Pensiun
Alamat
: Kebayoran lama, Jaksel
No. RM
: 15-00-66
Bangsal
: Salawati
Status
: BPJS
Tgl masuk
: 29 April 2016

Keluhan Utama
tidak bisa berkemih lancar tanpa obat

RPS
Sejak 1 tahun yang lalu paisen mengeluh sering
sulit buang air kecil. BAK sering mengedan. Pasien
merasakan hampir setiap kali BAK tidak puas,
frekuensi berkemih diakui bertambah banyak akan
tetapi seringkali urin yang keluar hanya sedikit.
Pasien mengaku bahwa seringkali setelah berkemih
dirsakannya perut bagian bawahnya masih penuh,
sehingga hampir setiap kali BAK pasien mengedan
terlebih dahulu agar urin yang keluar terasa lebih
tuntas. Pasien mengaku pancaran BAK melemah
dan BAK terasa terputus-putus. Frekuensi BAK
menjadi lebih sering baik siang maupun malam hari.
Riwayat BAK berdarah, BAK berpasir, nyeri
pinggang, dan demam disangkal pasien.

RPS
Pasien lalu berobat ke dokter di RSUD Tarakan dan dinyatakan
menderita BPH, kemudian diberikan obat minum. Setelah itu
pasien rutin mengkonsumsi obat tamsulosin dan avodart masingmasing sehari 1 kali.
Sejak 8 bulan yang lalu pasien mengaku obat-obat yang
dikonsumsi membuatnya ketergantungan, setiap mengurangi
frekuensi minum obat tersebut, keluhan dirasakan kembali
berulang dengan rasa sulit BAK bertambah sering, sehingga pasien
kembali rutin mengonsumsi obat-obatan. Keluhan pun dirasakan
membaik kembali. Sejak 1 bulan yang lalu pasien mengeluh ingin
dapat berkemih normal tanpa adanya ketergantungan obat-obat
prostat.
Sejak 12 hari yang lalu, pasien kontrol ke poli urologi RSAL
Mintoharjo dan disarankan untuk operasi prostat.

Riwayat Pengobatan
Parkinson sejak 1 th yll rutin
konsumsi obat tremon, leparson, dan sifrol
masing-masing 3x1 tab sehari.
Penyakit prostat 1 th yll rutin
konsumsi obat tamsulosin dan avodart
masing-masing 1x1 tab sehari.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat asma, alergi obat, HT, dan DM disangkal.
Kolesterol dan asam urat ada tetapi tidak rutin minum obat
dan kontrol.
Riwayat opname di RS Tarakan dengan diagnosa
pembengkakan jantung kiri.
Riwayat batu saluran kemih disangkal.
Riwayat pemasangan kateter sebelumnya ada.
Riwayat trauma pada genital, pinggul, selangkangan
disangkal.
Riwayat infeksi saluran kemih disangkal.
Riwayat operasi prostat sebelumnya disangkal.
Pasien memiliki riwayat operasi :
appendisitis di RS Tarakan (20 Juni 2015)
hernia di RS Tarakan (7 Desember 2015)

RPK

Tidak ada keluarga yang


mengalami keluhan yang sama
seperti pasien.
Riwayat asma, DM, hipertensi,
jantung pada keluarga disangkal

RPSosek

Pasien pensiun tahun 2014.


Pekerjaan pasien sebelumnya
sebagai pengurus parkir di GBK.
Biaya pengobatan ditanggung
BPJS.

Riwayat Kebiasaan, Kondisi Lingkungan


Sosial dan Fisik :
Pasien tinggal dengan istri dan kedua
anaknya.

Pemeriksaan Fisik
KU

Kesadar
an

TTV

BMI

Kesan

BAIK,
kooperatif

Compos
mentis

BP = 100/70
mmHg

BB = 65 Kg

NORMAL

HR = 65
x/menit

TB = 170 cm

RR = 18
x/menit

BMI = BB/
TB2 = 22,49

T = 36,5 C

Pemeriksaan Fisik
Kepala
: mesocephali, alopecia (-), rambut putih
distribusi tidak merata, tidak mudah dicabut.
Mata : edema palpebra (-/-), konjungtiva anemis (-/-),
Sklera ikterik (-/-), RC (+/+) 3mm/3mm, pupil bulat isokor.
Hidung
: simetris, discharge (-) napas hidung (-)
Telinga
: bentuk normal, discharge (-)
Esofagus : hiperemis (-) radang tenggorokan (-)
Mulut : sianosis (-) bibir kering (-)
Leher : Tekanan vena jugularis (5-2) cmH2O, pembesaran
KGB (-), deviasi trakhea (-) limfadenopati (-)

Kesan: NORMAL

Pemeriksaan Fisik
Paru-paru

Jantung

Abdomen

Hiperpigmentasi (-),
hemithorax D = S, ICS
normal, diameter AP <
LL, retraksi otot-otot
bantu napas (-),
retraksi costa (-)

Iktus kordis tak tampak

RR = 20 x/menit,
datar, luka bekas op
(+), striae (-), skuama
(-) pelebaran vena (-),
hiperpigmentasi (-),
spider nevi (-)

Palpasi

Nyeri tekan (-), tumor


(-), pelebaran ICS (-),
stem fremitus D = S

Iktus kordis teraba di ICS


5 mid clavicula line
sinistra 2 cm ke arah
medial, thrill (-), pulsus
epigastrium (-), pulsus
parasternal (-), sternal lift
(-)

Hepar, lien dan ginjal


tidak teraba, massa
abdomen (-), nyeri
abdomen (-)

Perkusi

Sonor D = S

Redup

Timpani

Auskultas
i

Suara napas vesikuler


(+)
Rh -/-, Wh-/-

BJ I dan II reguler, tidak


ada suara tambahan
Murmur - gallop -

Bising usus (+)


normal

Inspeksi

Kesan

NORMAL

Pemeriksaan Fisik
Ekstremitas

Superior

Inferior

Oedem

-/-

-/-

Akral dingin

-/-

-/-

Reflek fisiologis

+/+

+/+

Ikterik

-/-

-/-

Kesan

NORMAL

Status Lokalis

Regio CVA ( Costo-Vertebra Angle )

Kanan

Kiri

Inspeksi : Simetris,
hiperemis (-)
Palpasi : Tidak teraba
massa, nyeri tekan (-),
balottement (-).
Perkusi : nyeri ketok
(-)

Inspeksi : Simetris,
hiperemis (-)
Palpasi : Tidak teraba
massa, nyeri tekan (-),
balottement (-).
Perkusi : nyeri ketok
(-)

Status Lokalis
Regio Suprapubis
Inspeksi : Bulging (-)
Palpasi : Nyeri tekan
(-)

Rectal Toucher
Tonus sphinter ani baik
ampula tidak prolaps
mukosa licin
prostat teraba membesar
kira-kira 2-3 ruas jari
(sekitar 30gram)
konsistensi kenyal
sulcus medianus tidak
teraba
pole atas teraba
nodul (-)
Pada handscoen darah (-),
feses (+) min.

Pemeriksaan Penunjang
Jenis Pemeriksaan

Hasil

Hemoglobin

15,6 gr/dl

Leukosit

8.100 / l

Trombosit

161.000 / l

Hematokrit

46 %

Eritrosit

4,91 juta/l

Clotting Time

11

Bleeding Time

Ureum

25 mg/dl

Kreatinin

0,9 mg/dl

GDS

91 mg/dl

Laborat (26 April 2016)

Pemeriksaan Penunjang

EKG (26 April 2016)

Pemeriksaan Penunjang

Ro Thorax (26 April 2016) Kesan : cor dan pulmo tak tampak
kelainan

Diagnosa
Benign Prostate
Hyperplasia

Tatalaksana
Non medikamentosa
Pro-operasi TURP
Tatalaksana post operasi (30/4/2016)
Cek HB,bila kurang dari 10mg/dL maka
transfusi
Bed rest total 24 jam
IVFD RL 30 tpm
Cefixime inj 2x1gr
Ketorolac inj 3x1 amp

ketidakmampuan
seseorang untuk
RETENSIO URINE
mengeluarkan urin yang
terkumpul di dalam bulibuli hingga kapasitas
maksimal buli-buli
terlampaui

Etiologi . .
Kelemahan otot detrusor
Hambatan / obstruksi uretra
Inkoordinasi antara Detrusor-Uretra

KLASIFIKASI dan
TATALAKSANA
Retensi urin akut
Retensi urin kronik
Tx/ kateterisasi bila gagal
dilakukan Sistostomi

BENIGN PROSTATE
HYPERPLASIA

Definisi
perbesaran kelenjar prostat, memanjang ke atas kedalam
kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan
menutupi orifisium uretra akibatnya terjadi dilatasi ureter
(hidroureter) dan ginjal (hidronefrosis) secara bertahap
(Smeltzer dan Bare, 2002).
pertumbuhan nodul-nodul fibroadenomatosa majemuk
dalam prostat, pertumbuhan tersebut dimulai dari bagian
periuretral sebagai proliferasi yang terbatas dan tumbuh
dengan menekan kelenjar normal yang tersisa, prostat
tersebut mengelilingi uretra dan, dan pembesaran bagian
periuretral menyebabkan obstruksi leher kandung kemih
dan uretra parsprostatika yang menyebabkan aliran kemih
dari kandung kemih (Price dan Wilson, 2006).

Definisi
suatu keadaan yang sering terjadi
pada pria umur 50 tahun atau lebih
yang ditandai dengan terjadinya
perubahan pada prostat yaitu prostat
mengalami atrofi dan menjadi
nodular, pembesaran dari beberapa
bagian kelenjar ini dapat
mengakibatkan obstruksi urine
(Baradero, Dayrit, dkk, 2007).

ANATOMI
Kelenjar prostat terletak dibawah kandung kemih,
mengelilingi uretra posterior dan disebelah
proksimalnya berhubungan dengan buli-buli,
sedangkan bagian distalnya kelenjar prostat ini
menempel pada otot dasar panggul.
Ukuran normal pada laki-laki dewasa sebesar buah
walnut atau buah kenari besar. Ukuran,
panjangnya sekitar 4 - 6 cm, lebar 3 - 4 cm, dan
tebalnya kurang lebih 2 - 3 cm dengan berat
sekitar 20 gram. Bagian- bagian prostat terdiri dari
50 70 % jaringan kelenjar, 30 50 % adalah
jaringan stroma (penyangga) dan kapsul/muskuler.

Letak anatomi prostat (Hidayat,


2009)

Bagian
prostat
(Hidaya
t, 2009)

Vaskularisasi
Vaskularisasi utama prostat berasal dari :
a. vesikalis inferior (cabang dari a. iliaca
interna)
a. hemoroidalis media (cabang dari a.
mesenterium inferior)
a. pudenda interna (cabang dari a. iliaca
interna).
Cabang-cabang dari arteri tersebut masuk
lewat basis prostat di Vesico Prostatic
Junction.

Persarafan
Sekresi dan motor yang mensarafi
prostat berasal dari plexus
simpatikus dari Hipogastricus dan
medula sakral III-IV dari plexus
sakralis.

ETIOLOGI
1. Teori dihidrotestosteron
2. Ketidakseimbangan antara estrogentestosteron
3. Hiperplasia Epitel dan Stroma pada
Kelanjar Prostat
4. Berkurangnya kematian sel (apoptosis)
5. Teori stem cell
6. Teori Reawakening

MANIFESTASI KLINIS
Purnomo (2011)
Pada saluran kemih bagian bawah
Gejala obstruksi : retensi urin (urin tertahan
dikandung kemih sehingga urin tidak bisa keluar),
hesitansi (sulit memulai miksi), pancaran miksi
lemah, intermiten (kencing terputus-putus), dan
miksi tidak puas (menetes setelah miksi)
Gejala iritasi : frekuensi, nokturia, urgensi
(perasaan ingin miksi yang sangat mendesak)
dan disuria (nyeri pada saat miksi), inkontinensia

Pada saluran kemih bagian atas


Keluhan akibat hiperplasi prostat pada
saluran kemih bagian atas berupa adanya
gejala obstruksi, seperti nyeri pinggang,
benjolan di pinggang (merupakan tanda
dari hidronefrosis), atau demam yang
merupakan tanda infeksi atau urosepsis

Gejala diluar saluran kemih


Pasien datang diawali dengan keluhan penyakit hernia
inguinalis atau hemoroid.
Timbulnya penyakit ini dikarenakan sering mengejan
pada saan miksi sehingga mengakibatkan tekanan
intraabdominal. Adapun gejala dan tanda lain yang
tampak pada pasien BPH, pada pemeriksaan prostat
didapati membesar, kemerahan, dan tidak nyeri tekan,
keletihan, anoreksia, mual dan muntah, rasa tidak
nyaman pada epigastrik, dan gagal ginjal dapat terjadi
dengan retensi kronis dan volume residual yang besar.

DERAJAT BENIGN PROSTAT


HIPERPLASIA (BPH)
Rectal grading
0 - 1 cm : Grade 0
1 - 2 cm : Grade 1
2 - 3 cm : Grade 2
3 - 4 cm : Grade 3
> 4 cm
: Grade 4

DERAJAT BPH
Sjamsuhidajat dan De jong (2005)
Berdasarkan perkembangan penyakitnya secara klinis :
1 : keluhan prostatismus + pada colok dubur ditemukan
penonjolan prostat, batas atas mudah teraba dan sisa urin
kurang dari 50 ml
2 : RT penonjolan prostat lebih jelas dan batas atas dapat
dicapai, sedangkan sisa volum urin 50-100 ml.
3 : RT batas atas prostat tidak dapat diraba dan sisa volum
urin lebih dari 100ml.
4 : Retensi urine total

Pemeriksaan
Pemeriksaan Fisik
Colok dubur
Pemeriksaan Lab
Pemeriksaan Ro
Pemeriksaan Uroflowmetri
Pemeriksaan Tekanan Pancaran
(Pressure Flow Studies)
Pemeriksaan Volume Residu Urin

COLOK DUBUR
Konsistensi prostat (pada hiperplasia
prostat konsistensinya kenyal)
Adakah asimetris
Adakah nodul pada prostate
Apakah batas atas dapat diraba
Sulcus medianus prostate
Adakah krepitasi
Tonus sfingter ani

Pemeriksaan Lab
ANALISA URINE
PSA Prostate Spesific Antigen (PSA)
< 4 ng/ml tidak perlu biopsi
4-10 ng/ml, hitung Prostate Specific
Antigen Density (PSAD) PSA serum :
volume prostat Bila PSAD 0,15
sebaiknya dilakukan biopsi
> 10 ng/ml biopsi

PEMERIKSAAN Ro
Foto polos abdomen batu
BNO-IVP filling defect, hidronefrosis,
menilai residu urin
Systocopy dan Cystografi
MRI atau CT menilai prostat dr
beberapa potongan
Transrektal Ultrasonografi (TRUS)
mengukur vol.residu urin

Pemeriksaan Uroflowmetri
Penilaian :
Volum miksi
Pancaran max (Qmax)
Pancaran rata-rata
(Qave)
Waktu yg diperlukan
utk mencapai
pancaran max
Lama pancaran

Flow rate :
15 ml/dtk = non
obstruktif
10 15 ml/dtk =
border line
10 ml/dtk =
obstruktif

Pemeriksaan awal
(dilakukan dr umum)
WAJIB
Anamnesa
Pf ( colok dubur dan refleks neurologis)
Urinalisa
RECOMMENDED
PSA
Ureum creatinin
IPSS dan QoL

Komplikasi
Hidroureter, hidroefrosis, dan gagal
ginjal
Infeksi Sal. Kemih
Batu Sal. Kemih
Hernia atau hemoroid

Tatalaksana
1. Watchfull
waiting
2. Medikamentosa
:

Penghambat
adrenergik alfa
Penghambat 5
reduktase
Fitoterapi

3. Terapi bedah

TURP
TUIP

4. Terapi invasif
minimal
Transurethral
Microwave
Thermotherapy
(TUMT)
Dilatasi Balon
Transuretral (TUBD)
High-intensity Focused
Ultrasound
Ablasi Jarum
Transuretra (TUNA)
Stent Prostat

Prognosis

Quo ad vitam
: ad bonam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam
Quo ad fungtionam : ad bonam

DAFTAR PUSTAKA
Purnomo, Basuki B. 2003. Hiperplasia Prostat dalam
Dasardasar Urologi Edisi 2. Jakarta: Sagung Seto.
De Jong W, Sjamsuhidajat R. 1997. Buku Ajar Ilmu
Bedah, Edisi Revisi. Jakarta: EGC.
Kozar Rosemary A, Moore Frederick A. 2005. Schwartz
Principles of surgery. 8th Edition. Singapore : The
McGraw-hill Companies.Inc.
Ramon P, Setiono, Rona. 2002. Buku Ilmu Bedah
Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. Bandung:
FK Unpad.
Sabiston, David. 1994. Sabiston : Buku Ajar Bedah.
Jakarta: EGC.
Sapardan Subroto. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta
: Bagian Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Hugh. A.F. Dudley. 1992. Hamilton Baileys Emergency


Surgery 11th edition. Gadjah Mada University Press.
McConnel JD. 1998. Epidemiology, etiology,
pathophysiology and diagnosis of benign prostatic
hyperplasia. In :Wals PC, Retik AB, Vaughan ED, Wein AJ.
Campbells urology. 7th ed. Philadelphia: WB Saunders
Company.
Mansjoer A. 2000. Kapita Selekta Kedokeran, Edisi 3.
Jakarta : Media Aesculapius.
Soeparman, Waspadji S. Batu saluran kencing dalam
Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Balai Penerbit FKUI. Jakarta,
1990 : 337 40.