Anda di halaman 1dari 12

Geological

Influence on Coal
Di Susun oleh :
Dwi Nugraha Hutama
(03021181419049)
Komang Suta Wibawa
(03021181419023)
M. Fardan (03021181419025)
M. Rakha Rajasa Putra
(03021181419063)
Nova Fathona (03021181419021)
Reza David Naufal
(03021181419015)
Yuwan M R F (03021181320001)
Kelas
A

Formation of Coals
Pembentukan Batu Bara

Proses Pembentukan Batubara dimulai pada saat tanaman terendapkan dan


terendam secara bertahap hingga dapat mengurangi proses oksidasi, tapi
cukup untuk penguraian oleh mikroba. Selanjutnya, tanaman yang telah
diuraikan mulai mengalami sedimentasi, adanya pengaruh tekanan,
temperatur, dan waktu hingga membentuk batu bara.
Kemudian seiring berjalannya waktu dan meningkatnya suhu, terbentuk gas
metan secara termogenik. Gas metana ini terjebak dalam mikropori mikropori
batu bara dan tersimpan selama waktu geologi.

Stratigraphic Periods
Periode Stratigraf

Periode Pembentukan Batubara


Lignit terbentuk sebelum periode
Pliocene dan Miocene.

Influence of Coal Properties


Pengaruh dari Sifat Batubara
Perbedaan masa tanaman, lingkungan pengendapan, gaya tektonik,
waktu, dan suhu membuat adanya dua periode stratigraf utama
dengan sifat yang sangat berbeda pada masa sekarang. Perbedaan
ini berdasarkan dari variasi produk gas metana batubara yang
dihasilkan oleh batubara di Amerika Timur (Carboniferus) dan
Amerika Barat (Cretaceous).
Beberapa karakteristik dari batubara pada cekungan black warrior
(Carboniferus) dibandingkan dengan batubara pada cekungan San
Juan (Cretaceous).
Kondisi pada dua
area ini dianggap
dapat
mewakili
pengembangan
gas
metana
batubara
di
seluruh dunia.

A Genesis Model Of Coal


Ganesa Batubara
Pada periode Carboniferus, selama
10-25 juta tahun. Terbentuklah
sebuah
cekungan
besar
di
permukaan bumi karena adanya
gaya tektonik. Cekungan tersebut
terisi air (1mm/tahun) hingga
kedalaman dan kondisinya cocok
untuk vegetasi dan rawa gambut.
Kemudian, sedimen organik yang
terendam mengalami oksidasi dan
adanya
gaya
tektonik
yang
membentuk
lipatan
lipatan.
Lipatan inilah yang sering dijumpai
dalam eksplorasi gas metana
batubara (CBM). Adanya gaya
tektonik
tersebut
menjelaskan
adanya Batubara dengan peringkat
yang tinggi karena mengalami

A Genesis Model Of Coal


Ganesa Batubara
Pada umunya rawa gambut hanya
terbentuk di muara sungai atau di
delta dimana proses peatifkasi
perlahan muncul. Melelehnya es di
kutub
menyebabkan
banjirnya
rawa rawa gambut, merubah arus
sungai, adanya gaya tektonik,
perubahan
iklim
dinyatakan
sebagai
akhir
dari
proses
pembentukan rawa gambut.
Adanya
variasi
tanaman
pembentuk batubara, dan vegetasi
yang bervariasi seiring waktu.
Fakta ini menunjukkan bahwa
adanya variasi dalam sifat fsik dan
sifat
kimia
batubara
yang
menyebabkan
batubara
dapat
dikelompokan. Hal ini memiliki ari
penting dalam pembentukan gas

A Genesis Model Of Coal


Ganesa Batubara
Selain bahan organik, mineral asli
dari
tanaman
merupakan
pembentuk
batubara.
Bahan
mineral
tambahan
biasanya
didapat dari udara atau dari
pengikisan batuan sekitar menjadi
fragmen fragmen batuan, material
anorganik
biasanya
juga
terendapkan bersama dengan air.
Clay, pirit, kalsit, dan kuarsa
biasanya ada dalam endapan
batubara
bersamaan
dengan
mineral lainnya. Zat zat anorganik
ini menjadi bagian dari batubara
dan mempengaruhi sifat kimia dari
batubara.

Geochemical Transformation
Perubahan Geokimia
Peatifkasi, tahap pertama dalam pengembangan batubara, proses
biokimia dan proses fsika mengkonversi naterial organik jadi gambut
(peat) dengan bantuan dari proses geokimia. Gas metana biogenik yang
dihasilkan oleh bakteri pada proses peatifkasi akan hilang, kecuali
apabila batuan penutup batubara bersifat kompak dan kedap akan gas,
hingga gas metana biogenik yang dihasilkan terperangkap pada
jebakannya.
setelah itu tapa coalifkasi. Proses geokimia merubah bahan organik
di gambut menjadi batubara selama waktu geologi dengan bantuan
proses fsika. Reaksi geokimia dipengaruhi oleh suhu, waktu, tekanan
dan komposisi material organik. Suhu adalah parameter pentin yang
memepengaruhi struktur
kimia sushu
dari batubara.
Semakin dibutuhkan
tinggi suhu,
kenaikan
yang bertahap
maka proses geokimia
semakin peringkat
cepat. Sebaliknya,
untukakan
mencapai
batubarasemakin
yang tinggi
lebih
tekanan akan menghambat
proses geokimia.
tinggi. Tekanan
dan gaya tektonik secara kontinu
merubah karakteristik dari fsik dari batubara, tapi
tekana dianggap memiliki peran yang kecil dalam
proses kimia dan merupakan peran utama dalam
mengubah sifat fsik. Tekanan meningkat dengan
adanya
penyurutan,
mengurangi
porositas,

Geochemical Transformation
Perubahan Geokimia
Radiasi membuat perubahan yang mirip dengan proses coalifkasi,
tapi pengaruh dari radiasi hanya bergantung pada jarak tertentu saja.
Adanya unsur unsur radioaktif dapat meningkatkan peringkat batubara
di sekitarnya. Selain itu adanya intrusi natuan neku juga
mempengaruhi peringkat batubara karena apabila adanya intrusi,
maka suhu di sekitarnya akan meningkat.
CO2 dan H2O adalah matrial volatil yang
terebntuk pada suhu 212-300 F. suhu diman
terbentuknya
batubara
peringkat
sub
bituminus. Biasanya sedikit CH4 terbentuk
secara termal pada suhu yang lebih dingin
dari ini. Generasi metana menjadi cukup dari
batubara hvAb, dimana untuk merusak rantai
kabon memerlukan suhu yang tinggi (lihat
gamabr disamping). Pada saat batubara
mencapai
peringkat
antrasit,
batubara
menghasilkan lebih banyak gas metana dari
yang bisa ditampung. Gas yang dihasilkan

Geochemical Transformation
Perubahan Geokimia
gas volatil seperti CH4, CO2, H2O, dan N2 dibebaskan pada tahap
coalifkasi. Pada tahap dari gambut menuju lignit, biasanya
membebaskan CO2. CO2 termogenik, meskipun cenderung terserap ke
dalam batubara tapi lebih mudah larut dalam air. Sebagai molekul
terkecil dan lebih lemah teradsorbsi daripada CH4 dan CO2, N2 lebih
mudah terdifusi selam coalifkasi
Dapat diambil hipotesis bahwa hilangnya material volatil, terutama
H2O dan CH4 memberikan kontribusi terhadap pembentukan cleat pada
Batubara karena kehilangan material volatil.
CH4 termogenik dihasilkan setelah proses
batubara mencapai peringkat hvAb. Biasanya pada
maseral liptinite. Jeda coalifkasi menandakan titik
dimana terjadi perubahan pada sifat fsik dan kimia
batubara munculnya retakan mikroskopis dari
kehilangan gas metana yang dipercepat dan
menguapnya vollatile matter.
perubahan kimia selalu terjadi selama proses
coalifkasi, dan cenderung diikuti oleh proses
kondensasi.
Polimerisasi,
dan
silang
reaksi,

Geochemical Transformation
Perubahan Geokimia
Variasi sifat fsik dam kimia batubara ini menonjolkan perlunya ada
studi lebih lanjut. Peneliti mengkategorikan partikel organik mikroskopis
batubara, disebut maseralnya, termasuk dari tanaman apa batubara itu
terbentuk. Tiap maseral berkontribusi dalam jumlah yang berbeda beda
selama
metamorfsme.
Pendekatan
maseral
membantu
mengkategorikan studi. Kategori primernya adalah vitrinite, liptinite,
dan inertinite.