Anda di halaman 1dari 17

ILMU KEALAMAN

DASAR
ALAM PIKIR MANUSIA
DAN
PERKEMBANGANNYA
Kelompok 1

Gusti Ayu Anderia Marilanda 201510370311052


Maulidya Yuniarti Anwar 201510370311109
Fany Fahmi Faizar

201510370311129

Sugeng Prasetiyono201510370311157

Hakekat Manusia
dan Sifat
Keingintahuannya

Deduktif
dan Induktif

Perkembangan
Alam dan
Pikiran Manusia

MATERI

Mitos dan
Berpikir Ilmiah

Sejarah
Pengetahuan
Manusia

HAKEKAT MANUSIA DAN


SIFAT KEINGINTAHUANNYA
Manusia dengan kemampuan berpikir dan bernalar, dengan akal serta
nuraninya memungkinkan untuk selalu berbuat yang lebih baik dan
bijaksana untuk dirinya maupun lingkungannya.

Kelebihan Manusiadari PenghuniBumi Lainnya


Manusiasebagaimakhlukberpikirdanbijaksana(Homosapiens)yangdicermi

nkandalam tindakan dan perilakunya terhadap lingkungannya.

Manusia sebagai pembuat alat karena sadar akan keterbatasan inderanya.


Manusiadapatberbicara(HomoLangues)baiksecaralisanmaupuntulisan.
Manusiadapat

hidupbermasyarakat(Homososius)danberbudaya(HomoHumanis).

Manusiadapatmengadakanusaha(HomoEconomicus).
Manusiamempunyaikepercayaandanberagama(Homoreligious).

Sifat keingin tahuan manusia


Manusia selalu mempunyai rasa ingin tau yang sangat tinggi, sehingga
dalam mencari penjabaran tentang denomena yang terjadi manusia sering
menerka nerka jawaban mereka sendiri (Pseudo Science).
Ada beberapa cara agar manusia bisa memperoleh penjabaran melalui
Pseudo Science :
Mitos
Wahyu
Otoritas atau Tradisi
Prasangka
Institusi
Penemuan kebetulan

PERKEMBANGAN ALAM DAN


PIKIRAN MANUSIA
Manusia pada dasarya memilik rasa keingin tahuan yang tinggi. Tetapi
terbatasnya alat yang ada membuat manusia hanya bisa berfikir secara
terbatas saja. Sehingga manusia hanya membuat pemikiran sebatas Mitos.
Karena kemajuan teknologi membuat manusia bisa menyimpulkan aau
menemukan suatu pemikiran yang lebih bersifat realistis dan logis.
Sehingga manusia mampu menghasilkan suatu metode pemecahan masalah
yang di sebut Metode Ilmiah.

Ada beberapa Hasil dari pemikiran manusia oleh tokoh tokokh Yunani kuno :
Anaximander (624-549 SM), berpendapat bahwa langit yang kita lihat sebenarnya adalah

setengah.
Anaximenes (560-520 SM), berpendapat bahwa unsure-unsur dasar pembentukan semua benda

itu adalah air.


Herakleitos (560-470 SM), berpendapat bahwa Anaximenes bahwa justru apilah yang

menyebabkan adanya trasmutasi itu.


Pythagoras (500 SM), berpendapat bahwa unsure dasar semua benda sebenarnya adalah empat,

yaitu tanah, api, udara, dan air. Beliau juga terkenal sebagai ahli matematika: - Dalil Pythagoras
Demokritos (460-370 SM), berpendapat tentang unsure-unsur dasar benda. Bila suatu benda

dibagi terus menerus suatu saat akan sampai pada bagian yang terkecil yang tidak dapat dibagi
lagi, bagian terkecil tersebut disebut atom.
Empedokles (480-430 SM), orang yang menyempurnakan ajaran Pythagoras tentang empat

unsur dasar yaitu tanah, air, udara, dan api.


Plato (427-345 SM), berpendapat keanekaragaman yang tampak ini sebenarnya hanya suatu

duplikat dari semua yang kekal dan immaterial.


Aristoteles (384-322SM), membuat intisari ajaran orang-orang sebelumnya. Dalam pemikiran

suatu masalah, ia membuang hal-hal yang tidak masuk akal dan memasukkan pendapatnya sendiri.
Ptolomeus (127-151 SM), berpendapat bahwa bumi sebagai pusat system tatasurya, berbentuk

bulat, dan diam seimbang tanpa tiang penyangga.


Avicenna (abad 11), ilmu pengetahuan dan filsafat yunani diterjemahkan dan dikembangkan

dalam bahasa Arab.

SEJARAH PENGETAHUAN
MANUSIA
Manusia memnyai sejarah dalam pengembangan pengetahuan. Dari Zaman
Pra-sejarah (Zaman Batu Purba) sampai Zaman Yunani. Adapun pembagian
nya :
1.

Zaman Batu (4.000.000-10.000 SM)

Pada zaman batu atau zaman PraSejarah manusia sudah mampu


menggunakan alat alat untuk memenuhi kebutuhuannya yaitu dengan
berburu. Dapa diartikan pada zaman ini manusia sudah bisa memikirkan
lingkungan sekitarnya untuk dimanfaatkan. Meskipun pola pemikiran mereka
masih sangat sederhana. Di buktikan dengan peninggalan alat alat mereka
yang masih berbentuk sederhana.

2.

Zaman Pola Pikir Koheren (10.000 - 500 SM)

Pada zaman ini manusia sudah bisa berfikir secara abstrak. Sudah bisa
berfikir tentang ilmu pengetahuan. Diuktikan dengan berhasil di temukannya
cara penghiungan waktu dan penentuan zodiac dari bintang-bintang. Selain
itu manusia sudah bisa menulis dan berhitung di buktikan dengan di
temukannnya Hieroglif di Mesir, dan alat hitung Abacus yang ditumukannya
di China yang masih di gunakan sampai sekarang.

3.

Zaman Pola Pikir Rasional (600 SM 200 M)

Pada zaman ini cara piker manusia saudah rasional (Berfikir menggunakan
akal sehat) dengan metode Deduktif. Pada zaman ini cenderung
menggunaknan pemikiran Yunani dari pada menggunakan cara pikir orang
Babilonia. Di zaman ini pula dimunculkan nya pernyataan oleh Thales (624565 SM) yaitu bahwa bintang-bintang mengeluarkan sinarnya sendiri
sedangkan bulan hanya sekedar memantulkan cahayanya dari matahari
munculkan pemikiran bahwa semua benda pasti ada yang menciptakan
yaitu dewa- dewa. Selain itu pada zaman ini banyak muncul peikiran
pemikiran dasar yang dipakai sampai pada saat ini seperti : dasar pemikiran
Phytagoras dan pikiran bahwa planet planet beredar pada lintasan nya
sendiri.

MITOS DAN CARA BERPKIR


ILMIAH
Mitos

: adalah suatu cerita atau arahan yang dijadikan pedoman hidup

manusia. Melalui mitos para orangtua dapat mengajarkan anak-anaknya


tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Namun arahan itu belum
tentu akan berhasil, masih diperlukan kepercayaan anak-anak mereka
terhadap mitos.

Dan karena pemikiran dari Mitos inilah masyarakat masih cenderung


mempercayainya dari pada mempercayai hal yang lebih ilmiah.

Adapun contoh Mitos yang masih berkembang di Masyarakat :

Pohon Beringin Pasti mempunyai Penuggu (Setan)


Saat berpergian di Laut Selatan jangan menggunakan Baju Hijau
Jika kita menabrak kucing berarti kita mendapat kesialan
Kalo duduk di depan pintu tidak bisa dapat jodoh

Pemikiran Ilmiah

: Cara pemikiran manusia yang dilakkukan berdasarkan

penelitian. Ada 2 cara pokok untuk memperoleh pengetahuan yang benar :


1.

Cara berdasarkan Rasio, atau sering dikenal dengan Rasionalisme


Paham ini dipelopori oleh Descartes. Menurutnya, rasio adalah sumber dan

pangkal dari segala pengertian. Dan hanya rasio yang dapat membawa orang pada
kebenaran dan dapat memberi pimpinan dalam segala jalan pikiran.
2.

Cara berdasarkan Pengalaman, atau sering dikenal dengan Empirisme


Bahwa pengetahuan manusia tidak diperoleh lewat penalaran rasional yang

abstrak, tetapi lewat pengalaman yang konkrit, yang bisa dilihat dari gejala gejala
alam karena dapat dinyatakan lewat tangkapan panca indra.

Deduktif
Merupakan cara berfikir dari sesuatu yang umum untuk menghasilkan
kesimpulan yang bersifat khusus. Cara penarikan kesimpulannya
menggunakan pola pikir yang disebut silogisme, pola pikir ini teridiri dari dua
pernyataan dan satu kesimpulan.
Contoh:
Premis mayor

: Orang yang tersenyum pasti sedang bahagia.

Premis mayor

: Rudi sedang tersenyum.

Kesimpulan

: Rudi pasti sedang bahagia.

Kelemahan Penalaran Deduktif :

Untuk menilai kebenaran premis - premis yang digunakan terdapat beberapa


kesulitan karena pengamatan terhdapat fenomena tidak dilakukan secara
berulang ulang. Dengan melakukan penalaran secara deduktif maka
penalaran yang dilakukan bersifat abstrak serta lepas dari pengalaman
karena penalaran ini tidak mungkin diamati dengan panca indera, tanpa ada
kesepakatan yang dapat diterima oleh semua pihak. Selain itu juga terdapat
kesulitan untuk menerapkan konsep rasional pada kehidupan praktis

Iduktif
Penalaran Induktif adalah cara berpikir yang diperoleh berdasarkan pengalaman
kongkrit yang dapat diamati oleh panca indra, hal ini disebut juga paham
empirisme. Berdasarkan paham empirisme, pengetahuan yang benar adalah
pengetahuan yang diperoleh secara langsung dari pengalaman nyata.

Kelemahan :
Apabila menggunakan penalaran induktif, maka kumpulan fakta, gejala,
kasus yang diamati belum tentu menunjukan suatu hal yang bersifat tetap,
bahkan bisa saja bersifat bertentangan. Hal ini dikarenakan fakta - fakta
yang diamati tersebut belum dapat menjamin tersusunnya pengetahuan
yang sistematis dan benar. Disamping itu batasan yang dimaksud
pengalaman tersebut apakah hanya dorongan pengalaman atau hanya
persepsi dari pengamat.

TERIMA
KASIH