Anda di halaman 1dari 48

PERDARAHAN

PADA KEHAMILAN
MUDA
Pusparasmi Mas Ayu Suprabha
0961050156
FK-UKI

Pendahuluan
Perdarahan selama kehamilan dapat
dianggap sebagai suatu keadaan
akutyang dapat membahayakan ibu dan
anak, sampai dapat menimbulkan
kematian sebanyak 20% wanita hamil
pernah mengalami perdarahan pada awal
kehamilan dan sebagian mengalami
abortus.
Salah satu komplikasi terbanyak pada
kehamilan ialah terjadinya perdarahan.
Pada kehamilan muda sering dikaitkan

1. ABORTUS
DEFINISI

Abortus adalah pengeluaran hasil


konsepsi sebelum janin berkembang
sepenuhnya dan dapat hidup di luar
kandungan dan sebagai ukuran digunakan
kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat
janin kurang dari 500 gram.

Klasifikasi
Abortus spontan
Abortus provokatus:
Abortus medisinalis
Abortus kriminalis
Menurut gambaran klinis:
Abortus iminens, insipiens, inkomplit, komplit,
missed abortion, abortus habitualis, infeksius dan
septik

Etiologi
Faktor genetik : kelainan kariotip dari embrio
Faktor anatomi : kelainan duktus mulleri, uterus

bikornu, uterus unikornu, serviks inkompeten


Faktor endokrin : kadar progesteron rendah
Faktor infeksi : adanya metabolik toksik, endotoksin,
eksotoksin, dan sitokin yang berdampak langsung
pada janin dan unit fetoplasenta yang berakibat
kematian janin dan cacat berat sehingga janin sulit
untuk bertahan hidup
Faktor trauma
Faktor nutrisi dan lingkungan

Patogenesis
Pada kehamilan di bawah 8 minggu, hasil

konsepsi dikeluarkan seluruhnya, karena vili


korialis belum menembus desidua terlalu
dalam; sedangkan pada kehamilan 8-14
minggu, vili korialis telah masuk agak dalam,
sehingga sebagian keluar dan sebagian lagi
akan tertinggal. Perdarahan yang banyak
terjadi karena hilangnya kontraksi yang
dihasilkan dari aktivitas kontraksi dan retraksi
miometrium.

DIAGNOSIS
ANAMNESIS
nyeri di perut bagian bawah terutamanya di
bagian suprapubik yang bisa menjalar ke
punggung,bokong dan perineum, perdarahan
pervaginam dan demam yang tidak tinggi.
Perdarahan pervaginam dapat tanpa atau
disertai jaringan hasil konsepsi
Bentuk jaringan yang keluar juga ditanya
apakah berupa jaringan yang lengkap seperti
janin atau tidak atau seperti anggur

Abortus imminesns
terjadinya perdarahan dari uterus pada
kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil
konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa
adanya dilatasi serviks.

Proses awal dari suatu keguguran, yang ditandai dengan


:
Perdarahan pervaginam, sementara ostium uteri
eksternum masih tertutup dan janin masih dalam
intrauterine timbul pada pertengahan trimester
pertama
Perdarahan biasanya sedikit, hal ini dapat terjadi
beberapa hari.
Kadang nyeri, terasa nyeri tumpul pada perut bagian
bawah menyertai perdarahan.
Tidak ditemukan kelainan pada serviks dan serviks
tertutup

Penatalaksanaan
Tirah baring
Tidak perlu terapi hormonal (estrogen atau
progestin) atau tokolitik (salbutamol atau
indometasin) karena obat ini tidak dapat
mencegah abortus.
Anjurkan untuk tidak melakukan aktifitas fisik
secara berlebihan atau melakukan hubungan
seksual
Bila reaksi kehamilan 2x berturut-turut negative,
maka sebaiknya uterus dikosongkan (kuret)

Abortus insipien
peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan
sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri
yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus.
Ditandai dengan adanya :
robeknya selaput amnion dan adanya pembukaan serviks
terjadi kontraksi uterus untuk mengeluarkan hasil konsepsi
perdarahan per vaginam masif, kadang kadang keluar
gumpalan darah.
nyeri perut bagian bawah seperti kejang karena kontraksi
rahim kuat.

Penatalaksanaan
Bila kehamilan < 16 minggu dapat dilakukan
evakuasi uterus dengan Aspirasi Vakum
Manual (AVM).
Jika evakuasi tidak dapat dilakukan segera
lakukan :
Berikan ergometrin 0,2 mg I.M yang diulangi
15 menit kemudian jika perlu ATAU
Misoprostol 400 mg per oral dan bila masih
diperlukan dapat diulang setelah 4 jam jika
perlu
Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran
hasil konsepsi dari uterus.

Bila kehamilan > 16 minggu tunggu ekspulsi

spontan kemudian dilakukan evakuasi uterus


dengan Aspirasi Vakum Manual (AVM).
Jika evakuasi tidak dapat dilakukan segera lakukan :
Induksi oksitosin 20 unit dalam 500 ml NS atau RL
mulai 8 tetes sampai 40 tetes/ menit, sesuai kondisi
kontraksi uterus sampai terjadi pengeluaran hasil
konsepsi
Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil
konsepsi dari uterus.
Lakukan Pemantauan Pasca Abortus

Abortus kompletus
proses abortus dimana keseluruhan hasil

konsepsi (desidua dan fetus) telah keluar melalui


jalan lahir sehingga rongga rahim kosong.
Tanda dan Gejala
Serviks menutup.
Rahim lebih kecil dari periode yang ditunjukkan
amenorea.
Gejala kehamilan tidak ada.
Uji kehamilan negatif.

Penatalaksanaan
Tidak perlu evakuasi lagi
Observasi untuk melihat perdarahan
banyak/tidak.
Lakukan Pemantauan Pasca Abortus
Apabila terdapat anemia sedang, berikan
tablet sulfas ferrosus 600mg/hari selama 2
minggu, jika anemia berat berikan tranfusi
darah.

Abortus inkompletus
pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum

20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus.


Gejala Klinis :
Didapati amenorea, sakit perut, dan mulas-mulas
Perdarahan bisa sedikit atau banyak dan biasanya berupa
stolsel (darah beku).
Sudah ada keluar fetus atau jaringan
Pada pemeriksaan dalam (V.T.) untuk abortus yang baru terjadi
didapati serviks terbuka, kadang-kadang dapat diraba sisa
jaringan pada kanalis servikalis atau kavum uteri, serta uterus
yang berukuran lebih kecil dari seharusnya.

Penatalaksanaan
Hasil konsepsi yang terperangkap pada serviks
yg disertai perdarahan, dapat dikeluarkan secara
digital, atau cunam ovum kemudian dievakuasi
Bila perdarahan berhenti diberi ergometrine 0,2 mg I.M
atau misoprostol 400 mg per oral
Bila perdarahan terus berlangsung, evakuasi sisa
konsepsi dengan kuret vakum (KV)

Bila tidak ada tanda-tanda infeksi, antibiotika

prophilaksis
Bila terjadi infeksi beri Ampicillin 1 gr dan
Metronidazol 500 mg setiap 8 jam
Bila anemia terapi dengan Fe kalau perlu transfusi
darah.

Missed abortion
berakhirnya suatu kehamilan sebelum 20 minggu, namun

keseluruhan hasil konsepsi tertahan dalam uterus 8 minggu atau


lebih
Gejala Klinis
Ditandai dengan kehamilan yang normal dengan amenorrhea,
dapat disertai mual dan muntah
Pertumbuhan uterus mengecil dengan fundus yang tidak
bertambah tinggi.
Mamae menjadi mengecil
Gejala-gejala kehamilan menghilang diiringi reaksi kehamilan
menjadi negative pada 2-3 minggu setelah fetus mati.
Pada pemeriksaan dalam serviks tertutup dan ada darah sedikit
Pasien merasa perutnya dingin dan kosong.

Abortus habitualis

Abortus yang terjadi 3 kali berturut turut atau lebih oleh sebab
apapun.
Pemeriksaan :
Histerosalfingografi, untuk mengetahui adanya mioma uterus
submukosa atau anomali congenital.
BMR dan kadar jodium darah diukur untuk mengetahui apakah ada
atau tidak gangguan glandula thyroidea
Psiko analisis
Terapi :
Pada serviks inkompeten terapinya operatif SHIRODKAR atau MC
DONALD (cervical cerlage).
Merokok dan minum alcohol sebaiknya dikurangi atau dihentikan.
Pengobatan pada kelainan endometrium pada abortus habitualis
lebih besar hasilnya jika dilakukan sebelum ada konsepsi daripada
sesudahnya.

Abortus infeksious
suatu abortus yang telah disertai komplikasi berupa
infeksi genital
Diagnosis :
Adanya abortus : amenore, perdarahan, keluar jaringan
yang telah ditolong di luar rumah sakit.
Pemeriksaan : Kanalis servikalis terbuka, teraba
jaringan, perdarahan, dan sebagainya.
tanda tanda infeksi yakni kenaikan suhu tubuh lebih
dari 38,5 derajat Celcius, kenaikan leukosit dan
discharge berbau pervaginam, uterus besar dan
lembek disertai nyeri tekan.

Penatalaksanaan
Bila perdarahan banyak, berikan transfusi darah
dan cairan yang cukup
Berikan antibiotika yang cukup dan tepat (buat
pemeriksaan pembiakan da uji kepekaan obat)
Berikan

suntikan penisilin 1 juta satuan tiap 6 jam


Berikan suntikan streptomisin 500mg setiap 12 jam
Atau antibiotika spektrum luas lainnya.

Bila tetap terjadi perdarahan banyak setelah 1-2

hari lakukan dilatasi dan kuretase untuk


mengeluarkan hasil konsepsi

Septic abortion
Abortus infeksiosus berat disertai penyebaran kuman
atau toksin ke dalam peredaran darah atau
peritoneum.
Diagnosis septic abortion ditegakan jika didapatkan
tanda tanda sepsis, seperti nadi cepat dan lemah,
syok dan penurunan kesadaran.
Penatalaksanaan sama dengan abortus infeksious,
hanya dosis dan jenis antibiotika ditinggikan dan
dipilih jenis yang tepat sesuai dengan hasil
pembiakan dan uji kepekaan kuman. Perlu di
observasi apakah ada tanda perforasi atau akut
abdomen.

Pemeriksaan fisis
Bercak darah diperhatikan banyak, sedang atau

sedikit.
Palpasi abdomen dapat memberikan idea
keberadaan hasil konsepsi dalam abdomen
dengan pemeriksaan bimanual.
Pada pemeriksaan pelvis, dengan menggunakan
spekulum keadaan serviks dapat dinilai sama
ada terbuka atau tertutup , ditemukan atau
tidak sisa hasil konsepsi di dalam uterus yang
dapat menonjol keluar, atau didapatkan di liang
vagina.

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium berupa tes

kehamilan, hemoglobin, leukosit, waktu


bekuan, waktu perdarahan, trombosit, dan
GDS.
Pada pemeriksaan USG ditemukan kantung
gestasi tidak utuh, ada sisa hasil konsepsi
dalam uterus.

Komplikasi
Perdarahan
Perforasi
Syok
infeksi

2. KEHAMILAN EKTOPIK
DEFINISI

semua kehamilan dimana sel telur yang dibuahi


oleh spermatozoa berimplantasi dan tumbuh
diluar endometrium kavum uterus

Kehamilan ektopik dapat dibagi dalam beberapa golongan yaitu :


Tuba Fallopii
Uterus (diluar endometrium kavum uterus)
Ovarium
Intraligamenter
Abdominal
Kombinasi kehamilan didalam dan diluar uterus
Berdasarkan penggolongan diatas, maka kehamilan ektopik

paling sering terjadi di Tuba ( 97% ), yang mana 55% muncul di


pars ampullaris, 25% di isthmus, dan 17 % di fimbriae. Sisa 3 %
berlokasi di uterus, ovarium, abdominal, dan intraligamenter,
dimana sekitar 2-2,5% muncul di kornua uterus.

Etiologi
Etiologi kehamilan ektopik telah banyak

diselidiki, namun sebagian besar


penyebabnya masih tidak diketahui
Resiko terjadinya kehamilan ektopik ini
meningkat dengan adanya beberapa factor,
termasuk riwayat infertilitas, riwayat
kehamilan ektopik sebelumnya, operasi pada
tuba, penggunaan IUD, dan fertilisasi in vitro
pada penyakit tuba.

Secara ringkas dapat dipisahkan faktor-faktor

pada tuba yang dapat mendukung terjadinya


kehamilan ektopik :
1. Faktor dalam lumen tuba
2. Faktor pada dinding tuba
3. Faktor diluar dinding tuba
4. Faktor lain

Patofisiologi
Telur di tuba bernidasi secara kolumner atau

interkolumner. Perkembangan telur


selanjutnya dibatasi oleh kurangnya
vaskularisasi dan biasanya telur mati secara
dini dan diresorbsi. Pada nidasi secara
interkolumner telur bernidasi antara jonjot
endosalping.

Setelah tempat nidasi tertutup, maka telur dipisahkan

dari lumen tuba oleh lapisan jaringan yang menyerupai


desidua dan dinamakan pseudokapsularis.
Karena pembentukan desidua di tuba tidak sempurna
malahan kadang-kadang tidak tampak, dengan mudah
villi korialis menembus endosalping dan masuk dalam
lapisan otot-otot tuba dengan merusak jaringan dan
pembuluh darah.
Perkembangan janin selanjutnya bergantung pada
beberapa faktor, seperti tempat implantasi, tebalnya
dinding tuba, dan banyaknya perdarahan yang terjadi
oleh invasi trofoblas. Dibawah pengaruh hormon
estrogen dan progesteron dari korpus luteum gravidatis
dan trofoblas, uterus menjadi besar dan lembek, dan
endometrium dapat pula berubah menjadi desidua.

1. Hasil konsepsi mati dini dan diresorbsi


2. Abortus tuba
3. Ruptur tuba

Jenis kehamilan ektopik


1.
2.
3.
4.
5.

Kehamilan pars interstisialis tuba


Kehamilan ektopik ganda
Kehamilan ovarial
Kehamlan servika
Kehamilan ektopik lanjut

Gambaran klinis
nyeri abdomen, amenore, dan perdarahan

pervaginam
Pada pemeriksaan dalam, dapat teraba
kavum douglas yang menonjol dan terdapat
nyeri gerakan serviks. Adanya tanda-tanda
peritoneal, nyeri gerakan serviks, dan nyeri
lateral atau bilateral abdomen atau nyeri
pelvik meningkatkan kecurigaan akan
kehamilan ektopik

Diagnosis
Pada pemeriksaan dalam mungkin ditemukan

tanda-tanda kehamilan muda. Perabaan serviks


dan gerakkannya menyebabkan nyeri. Bila uterus
dapat diraba, maka akan teraba sedikit membesar
dan kadang-kadang teraba tumor disamping uterus
dengan batas yang sukar ditentukan. Kavum
Douglas juga teraba menonjol dan nyeri raba yang
menunjukkan adanya hematokel retrouterina
Pemeriksaan beta hCG
USG
Pemeriksaan histologi dari hasil kuret

Penatalaksanaan
Tindakan bedah : Salpingektomi
Pengobatan : Metotrexate
Methotrexate diberikan dalam dosis tunggal (50
mg/m2 IM) atau dengan menggunakan dosis
variasi 1 mg/kgBB IM pada hari ke 1,3,5,7
ditambah Leukoverin 0,1 mg/kgBB IM pada
hari ke 2,4,6,8.

3. MOLA HIDATIDOSA
Definisi

Suatu kehamilan yang ditandai dengan adanya villi korialis


yang tidak normal secara histologis yang terdiri dari
beberapa macam tingkatan proliferasi trofoblastik dan
edema pada stroma villus.
Kriteria
Kehamilan yang berkembang tidak wajar
Tidak ditemukan janin
Hampir seluruh villi korialis mengalami perubahan hidropik
Bila disertai janin atau bagian janin disebut Mola parsial
Pembuahan sel telur yang kehilangan intinya atau inti tidak
aktif lagi

Klasifikasi
Mola hidatidosa komplit
Villi korion berubah menjadi massa vesikel dengan
ukuran bervariasi dari sulit terlihat sehingga
diameter beberapa sentimeter. Histologinya
memiliki karakteristik, yaitu :
Terdapat degenerasi hidrofik & pembengkakan
stroma villi
Tidak ada pembuluh pada villi yang membengkak
Proliferasi dari epitel trofoblas dengan bermacammacam ukuran
Tidak adanya janin atau amnion

Mola Hidatidosa parsial


Masih tampak gelembung yang disertai janin
atau bagian dari janin. Umumnya janin masih
hidup dalam bulan pertama. Tetapi ada juga
yang hidup sampai aterm. Pada pemeriksaan
histopatologik tampak di beberapa tempat villi
yang edema dengan sel trofoblas yang tidak
begitu berproliferasi, sedangkan tempat lain
masih banyak yang normal.

Faktor resiko
Defek pada ovarium
Defisiensi nutrisi antara lain defisiensi protein,

asam folat, karoten


Umur dibawah 20 tahun atau
Usia diatas 40 tahun : memiliki peningkatan
resiko 7x dibanding perempuan yang lebih
muda

Patogenesis
Sitogenetika : mola hidatidosa komplet berasal

dari genom paternal (genotipe 46 xx sering, 46 xy


jarang, tapi 46 xx nya berasal dari reduplikasi
haploid sperma dan tanpa kromosom dari ovum).
Mola parsial mempunyai 69 kromosom terdiri dari
kromosom 2 haploid paternal dan 1 haploid
maternal (triploid, 69 xxx atau 69 xxy dari 1
haploid ovum dan lainnya reduplikasi haploid
paternal dari satu sperma atau fertilisasi
dispermia).

Manifestasi klinis
Derajat keluhan mual muntah lebih hebat
Uterus lebih besar dari usia kehamilan
Perdarahan merupakan gejala utama
Terjadi pada bulan 1-7, rata-rata usia

kehamilan 12-14 minggu


Perdarahan bisa sampai syok dan meninggal

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dari anamnesis,

pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang


seperti laboratorium, USG dan histologis.

Penatalaksanaan
Perbaikan keadaan umum. Transfusi darah jika

anemia atau syok. Menghilangkan penyulit


seperti preeklampsia dan tirotoksikosa
Pengeluaran jaringan mola (evakuasi) :
Kuret hisap (Vakum) : Sambil diberikan
uterotonika untuk memperbaiki kontraksi,
sedia darah
Histerektomi : cukup umur atau cukup anak,
bila ditemukan tanda-tanda keganasan
berupa mola invasive.

Profilaksis dengan sitostatika. Kasus mola dengan

resiko tinggi akan terjadinya keganasan, atau


pada pemeriksaan Patologi Anatomi ditemukan
mencurigakan tanda keganasan, Methotrexate
atau actinomycin D dapat menghindarkan
keganasan dengan metastasis, mengurangi
koriokarsinoma di uterus sebanyak 3x.
Follow up. Dianjurkan untuk tidak hamil 1 tahun,
kondom atau pil KB. Pemeriksaan -hCG berkala
dan radiologi.

Kesimpulan
Gejala dari ketiga penyakit tersebut hampir

sama yaitu nyeri perut, amenore dan


perdarahan pervaginam, untuk membedakan
ketiga penyakit diatas maka harus dilakukan
anamnesis yang rinci mengenai gejala pasien
sedangkan dari pemeriksaan penunjang dapat
dibedakan dari pemeriksaan Ultra Sonografi
(USG) atau dari hasil jaringan patologi .

TERIMA KASIH