Anda di halaman 1dari 30

Transformator dan

Distribusi Daya
STEFANUS AGNES DWI PUTANTO

21030114060096

MARIA ANGELINA

21030114060082

JHON CALVIN GINTING

21030114060067

PINGKI ALBA TARUNA

21030114060125

PAUGERAN HOLYMAN

21030114060110

Circle Mapping Transformator


Pengertian
Transformato
r

Kerugian
Transformato
r

Jenis
Transformato
r

Sejarah
Transformato
r

Prinsip Kerja
Transformato
r

Bagian
Transformato
r

Persamaan
Transformato
r

Efisiensi
Transformato
r

Pengertian Transformator

Transformator (trafo) adalah alat


yang digunakan untuk
menaikkan atau menurunkan
tegangan bolak-balik (AC).
Transformator terdiri dari 3
komponen pokok yaitu:
kumparan pertama (primer)
yang bertindak sebagai input,
kumparan kedua (skunder) yang
bertindak sebagai output, dan
inti besi yang berfungsi untuk
memperkuat medan magnet
yang dihasilkan

Pengertian dan Penerapan


Transformator

Transformator atau trafo adalah komponen elektromagnet yang dapat


mengubah taraf suatu tegangan AC ke taraf yang lain. Umumnya,
Transformator adalah suatu alat listrik yang dapat memindahkan dan
mengubah energi listrik dari satu atau lebih rangkaian listrik ke rangkaian
listrik yang lain, melalui suatu gandengan magnet dan berdasarkan prinsip
induksi-elektromagnet. Transformator digunakan secara luas, baik dalam
bidang tenaga listrik maupun elektronika. Penggunaan transformator dalam
sistem tenaga memungkinkan terpilihnya tegangan yang sesuai ,dan
ekonomis untuk tiap-tiap keperluan misalnya kebutuhan akan tegangan
tinggi dalam pengiriman daya listrik jarak jauh.

Dalam bidang elektronika, transformator digunakan antara lain sebagai


gandengan impedansi antara sumber dan beban, untuk memisahkan satu
rangkain dari rangkaian yang lain, dan untuk menghambat arus searah
sambil tetap melakukan atau mengalirkan arus bolak-balik antara rangkaian.

Sejarah Transformator

1831, Michael Faraday mendemonstrasikan sebuah koil dapat


menghasilkan tegangan dari koil lain.

1832, Joseph Henry menemukan bahwa perubahan flux yang cepat


dapat menghasilkan tegangan koil yang cukup tinggi

1836, Nicholas Callan memodifikasi penemuan Henry dengan dua


koil.

1850 1884, era penemuan generator AC dan penggunaan listrik AC

1885, Georges Westinghouse & William Stanley mengembangkan


transformer berdasarkan generator AC.

1889, Mikhail Dolivo-Dobrovolski mengembangkan transformer 3


fasa pertama

Prinsip Kerja Transformator

Kumparan yang dihubungkan ke sumber


tegangan disebut kumparan primer dan
Kumparan tempat hasil disebut kumparan
sekunder. Dengan menghubungkan
kumparan primer ke sumber listrik AC, maka
arus listrik selalu berubah, kutub magnet
juga selalu berubah dan kumparan sekunder
terus mengalami perubahan garis gaya
magnet dan menghasilkan listrik secara
terus menerus. Agar kumparan sekunder
menghasilkan listrik terus-menerus, maka ia
harus mengalami perubahan garis gaya
magnet terus menerus, yaitu dengan cara
merubah kutup-kutup magnet secara terus
menerus .

Prinsip Kerja Transformator


Prinsip

kerja dari sebuah transformator adalah sebagai berikut.


Ketika Kumparan primer dihubungkan dengan sumber
tegangan bolak-balik, perubahan arus listrik pada kumparan
primer menimbulkan medan magnet yang berubah. Medan
magnet yang berubah diperkuat oleh adanya inti besi dan
dihantarkan inti besi ke kumparan sekunder, sehingga pada
ujung-ujung kumparan sekunder akan timbul ggl induksi. Efek
ini dinamakan induktansi timbal-balik (mutual inductance).

Pada

skema transformator di samping, ketika arus listrik dari


sumber tegangan yang mengalir pada kumparan primer
berbalik arah (berubah polaritasnya) medan magnet yang
dihasilkan akan berubah arah sehingga arus listrik yang
dihasilkan pada kumparan sekunder akan berubah
polaritasnya.

Persamaan Transformator

Hubungan antara tegangan primer, jumlah lilitan primer,


tegangan sekunder, dan jumlah lilitan sekunder, dapat
dinyatakan dalam persamaan:

Keterangan:
Vp = tegangan primer (volt)
Vs = tegangan sekunder (volt)
Np = jumlah lilitan primer
Ns = jumlah lilitan sekunder

Efisiensi Transformator
Efisiensi transformator dapat diketahui dengan rumus :

Karena adanya kerugian pada transformator. Maka efisiensi


transformator tidak dapat mencapai 100%. Untuk transformator
daya frekuensi rendah, efisiensi bisa mencapai 98%.

Jenis-Jenis Transformator

Transformator step-up dan step-down

Transformator step-up adalah transformator yang


memiliki lilitan
sekunder lebih banyak daripada lilitan
primer, sehingga berfungsi sebagai penaik tegangan.
Transformator ini biasa ditemui pada pembangkit
tenaga listrik sebagai penaik tegangan yang dihasilkan
generator menjadi tegangan tinggi yang digunakan
dalam transmisi jarak jauh.
Transformator step-down memiliki lilitan sekunder
lebih sedikit daripada lilitan primer, sehingga berfungsi
sebagai penurun tegangan. Transformator jenis ini
sangat mudah ditemui, terutama dalam adaptor AC-DC.

Jenis-Jenis Transformator

Autotransformator

Transformator jenis ini hanya terdiri dari satu lilitan yang berlanjut
secara listrik, dengan sadapan tengah. Dalam transformator ini,
sebagian lilitan primer juga merupakan lilitan sekunder. Fasa arus
dalam lilitan sekunder selalu berlawanan dengan arus primer,
sehingga untuk tarif daya yang sama lilitan sekunder bisa dibuat
dengan kawat yang lebih tipis dibandingkan transformator biasa.
Keuntungan dari autotransformator adalah ukuran fisiknya yang
kecil dan kerugian yang lebih rendah daripada jenis dua lilitan. Tetapi
transformator jenis ini tidak dapat memberikan isolasi secara listrik
antara lilitan primer dengan lilitan sekunder. Selain itu,
autotransformator tidak dapat digunakan sebagai penaik
tegangan
lebih dari beberapa kali lipat (biasanya tidak lebih dari 1,5 kali).

Jenis-Jenis Transformator

Autotransformator variabel

Autotransformator variabel sebenarnya adalah


autotransformator
biasa yang sadapan tengahnya bisa diubahubah, memberikan perbandingan lilitan primer-sekunder yang
berubah-ubah.

Transformator isolasi

Transformator isolasi memiliki lilitan sekunder yang berjumlah


sama dengan lilitan primer, sehingga tegangan sekunder sama
dengan
tegangan primer. Tetapi pada beberapa desain, gulungan
sekunder dibuat sedikit lebih banyak untuk mengkompensasi
kerugian. Transformator seperti ini berfungsi sebagai isolasi antara
dua kalang. Untuk penerapan ausio, transformator jenis ini telah
banyak digantikan oleh kopling kapasitor.

Jenis-Jenis Transformator

Transformator pulsa

Transformator pulsa adalah transformator yang didesain khusus


untuk memberikan keluaran gelombang pulsa. Transformator jenis ini
menggunakan material inti yang cepat jenuh sehingga setelah arus
primer mencapai titik tertentu, fluks magnet berhenti berubah. Karena
GGL induksi pada lilitan sekunder hanya terbentuk jika terjadi
perubahan fluks magnet, transformator hanya memberikan keluaran
saat inti tidak jenuh, yaitu saat arus pada lilitan primer berbalik arah.

Transformator tiga fasa

Transformator tiga fasa sebenarnya adalah tiga transformator yang


dihubungkan secara khusus satu sama lain. Lilitan primer biasanya
dihubungkan secara bintang (Y) dan lilitan sekunder dihubungkan
secara delta ().

Bagian-bagian Transformator

Inti besi

Kumparan transformator

Kumparan tertier

Minyak transformator

Bushing

Tangki dan konservator

Inti besi

Kumparan

Minyak transformator

Tangki

Bushing

Kerugian dalam Transformator

kerugian tembaga.

Kerugian kopling.

Kerugian kapasitas liar.

Kerugian histeresis .

Kerugian efek kulit.

Kerugian arus eddy (arus olak).

Kerugian dalam Transformator

Perhitungan diatas hanya berlaku apabila kopling primersekunder sempurna dan tidak ada kerugian, tetapi dalam praktek
terjadi beberapa kerugian yaitu:

1. Kerugian tembaga.Kerugian I2R dalam lilitan tembaga yang


disebabkan oleh resistansi tembaga dan arus listrik yang
mengalirinya.

2. Kerugian kopling. Kerugian yang terjadi karena kopling primersekunder tidak sempurna, sehingga tidak semua fluks magnet
yang diinduksikan primer memotong lilitan sekunder. Kerugian ini
dapat dikurangi dengan menggulung lilitan secara berlapis-lapis
antara primer dan sekunder.

Kerugian dalam Transformator

3. Kerugian kapasitas liar. Kerugian yang disebabkan oleh


kapasitas liar yang terdapat pada lilitan-lilitan transformator.
Kerugian ini sangat mempengaruhi efisiensi transformator untuk
frekuensi tinggi. Kerugian ini dapat dikurangi dengan
menggulung lilitan primer dan sekunder secara semi-acak (bank
winding)

4. Kerugian histeresis. Kerugian yang terjadi ketika arus primer


AC berbalik arah. Disebabkan karena inti transformator tidak
dapat mengubah arah fluks magnetnya dengan seketika.
Kerugian ini dapat dikurangi dengan menggunakan material inti
reluktansi rendah.

Kerugian dalam Transformator

5. Kerugian efek kulit. Sebagaimana konduktor lain yang dialiri arus


bolak-balik, arus cenderung untuk mengalir pada permukaan
konduktor. Hal ini memperbesar kerugian kapasitas dan juga
menambah resistansi relatif lilitan. Kerugian ini dapat dikurang dengan
menggunakan kawat Litz, yaitu kawat yang terdiri dari beberapa kawat
kecil yang saling terisolasi. Untuk frekuensi radio digunakan kawat
geronggong atau lembaran tipis tembaga sebagai ganti kawat biasa.

6. Kerugian arus eddy (arus olak). Kerugian yang disebabkan oleh GGL
masukan yang menimbulkan arus dalam inti magnet yang melawan
perubahan fluks magnet yang membangkitkan GGL. Karena adanya
fluks magnet yang berubah-ubah, terjadi olakan fluks magnet pada
material inti. Kerugian ini berkurang kalau digunakan inti berlapislapisan.

Mind Mapping Distribusi Daya


Distribusi
Daya

Pengelompokan
sistem tenaga
listrik
Sistem
Distribusi

Ruang lingkup
jaringan
distribusi
Klasifikasi
Distribusi

Sistem Distribusi
Sistem distribusi ini berguna untuk menyalurkan tenaga listrik
dari sumber daya listrik besar (Bulk Power Source) sampai ke
konsumen.
Jadi fungsi distribusi tenaga listrik adalah:
pembagi atau penyaluran tenaga listrik ke beberapa tempat
(pelanggan)
merupakan sub sistem tenaga listrik yang langsung
berhubungan dengan pelanggan, karena catu daya pada pusatpusat beban (pelanggan) dilayani langsung melalui jaringan
distribusi.

Pengelompokan Sistem Tenaga


Listrik

Daerah I : Bagian pembangkitan


(Generation)

Daerah II : Bagian penyaluran


(Transmission) , bertegangan
tinggi (HV,UHV,EHV)

Daerah III : Bagian Distribusi


Primer, bertegangan menengah
(6 atau 20kV).

Daerah IV : (Di dalam bangunan


pada beban/konsumen),
Instalasi,bertegangan rendah

Ruang lingkup Jaringan Distribusi

SUTM, terdiri dari : Tiang dan peralatan kelengkapannya,


konduktor dan peralatan perlengkapannya, serta peralatan
pengaman dan pemutus.

SKTM, terdiri dari : Kabel tanah, indoor dan outdoor termination


dan lain-lain.

Gardu trafo, terdiri dari : Transformator, tiang, pondasi tiang,


rangka tempat trafo,panel2, pipa-pipa pelindung, Arrester, kabelkabel, peralatan grounding,dan lain-lain.

SUTR dan SKTR, terdiri dari: sama dengan perlengkapan/material


pada SUTM dan SKTM. Yang membedakan hanya dimensinya.

Klasifikasi Distribusi
Klasifikasi menurut nilai tegangannya:

Saluran distribusi Primer

Terletak pada sisi primer trafo distribusi, yaitu antara titik


Sekunder trafo substation (Gardu Induk) dengan titik primer trafo
distribusi. Saluran ini bertegangan menengah 20 kV. Jaringan listrik
70 kV atau 150 kV, jika langsung melayani pelanggan, bisa disebut
jaringan distribusi.

Saluran Distribusi Sekunder

Terletak pada sisi sekunder trafo distribusi, yaitu antara titik


sekunder dengan titik cabang menuju beban.

Klasifikasi menurut Jenis Konduktornya:

Saluran udara, dipasang pada udara terbuka dengan bantuan


penyangga (tiang) dan perlengkapannya, dan dibedakan atas:

Saluran kawat udara, bila konduktornya telanjang, tanpa isolasi


pembungkus.
Saluran kabel udara, bila konduktornya terbungkus isolasi.

Saluran Bawah Tanah, dipasang di dalam tanah, dengan


menggunakan kabel tanah (ground cable).

Saluran Bawah Laut, dipasang di dasar laut dengan


menggunakan kabel laut (submarine cable)

Menurut susunan (konfigurasi) salurannya :

Saluran Konfigurasi Horisontal

Saluran Konfigurasi Vertikal

Saluran Konfigurasi Delta

SK Horizontal SK VertikalSK Delta

Menurut Susunan Rangkaiannya :

Rangkaian Jaringan Sistem Distribusi Primer, yaitu:

Jaringan Distribusi Radial, dengan model: Radial tipe pohon, Radial dengan tie dan
switch pemisah, Radial dengan pusat beban dan Radial dengan pembagian phase
area.

Jaringan distribusi ring (loop), dengan model: Bentuk open loop dan bentuk Close
loop.

Jaringan distribusi Jaring-jaring (NET)

Jaringan distribusi spindle

Saluran Radial Interkoneksi

Jaringan Sistem Distribusi Sekunder,

Pada sistem distribusi sekunder bentuk saluran yang paling banyak digunakan
ialah sistem radial. Sistem ini dapat menggunakan kabel yang berisolasi maupun
konduktor tanpa isolasi