Anda di halaman 1dari 9

IDENTIFIKASI SENYAWA

GOLONGAN ALKALOIDA DALAM


TANAMAN (Ekstrak Piper nigrum
L.)
KELAS : B
KELOMPOK 2
IRDA RIZKY WIHARTI 201310410311005
LILIK ERAWATI 201310410311037
LUH AYU RIZKA 201310410311082
MANGGI KURNIA 201310410311112
SELVIA MUFIDAH 201310410311133

Klasifikasi
Divisi
:
Subdivisi
Kelas
:
Famili
:
Genus
:
Spesies

Spermatophyta
: Angiospermae
Dicotydonae
Diperaciae
Piper
: Piper nigrum L

Tanaman

lada merupakan tanaman tahunan yang memanjat dan mempunyai


empat macam struktur yaitu panjat, sulur buah, sulur gantung dan sulur
tanah (Alirman, 2001). Secara morfologi, lada tergolong tanaman dimorfik
yang memiliki dua macam sulur, yaitu sulur panjat dan sulur buah.
Perbedaan yang jelas antara sulur panjat dan sulur buah yaitu sulur panjat
memiliki akar lekat, sedangkan sulur buah tidak memilikinya (Syakir, 2001).
Akar tanaman lada yang berasal dari biji sudah jarang ditemukan karena
umumnya tanaman lada dikembangkan melalui stek sehingga yang ada
hanya akar lateral. Akar lada akan terbentuk pada buku-buku di ruas batang
pokok dan cabang. Akar lada yang tumbuh di dalam tanah atau yang tumbuh
di dekat pangkal tanaman disebut akar utama dan akar lada yang tumbuh
diatas permukaan disebut akar lekat (Nurmas, 2010).
Batang tanaman lada biasa disebut stolon yaitu batang pokok yang tumbuh
ke atas dan dari bagian batang pokok akan tumbuh cabang-cabang vertikal
dan horizontal. Batang lada terbentuk agak pipih dan beruas-ruas degan
panjang setiap ruas 7-12 cm. Daunnya merupakan daun tunggal dengan
tekstur kenyal, panjang daun 12-18 cm dan mengkilat dan bagian bawah
berwarna hijau tua pucat tidak mengkilat. Daun lada agak unik karena
bentuknya berbeda-beda tergantung darimana daun tersebut tumbuh. Daun
yang keluar pada bagian atas bentuknya panjang dan daun yang tumbuh
pada bagian bawah cenderung membulat.

Alat dan Bahan

Batang Pengaduk

Tabung reaksi

Rak tabung reaksi

Penjepit kayu

Plat KLT

Chamber KLT

Lampu UV 254 nm dan 365 nm

Pipet tetes

Gelas ukur

Waterbath

Cawan porselen

Pipa kapiler

Etanol

Ekstrak Piper nigrum

HCL 2N

NH4OH pekat 28%

Pereaksi Mayer

Pereaksi Wagner

Pereaksi Dragendroff

Kloroform

Prosedur Kerja
Preparasi

Sampel
Ekstrak sebanyak 0,9 gram ditambah etanol ad larut, ditambah 5 ml HCl 2
N, dipanaskan di atas penangas air selama 2-3 menit, sambil di aduk.
Setelah dingin ditambah 0,3 gram NaCl, diaduk rata kemudian disaring.
Filtrat ditambah 5 ml HCl 2 N. Filtrat dibagi tiga bagian dan disebut sebagai
larutan IA, IB, IC dan ID.
Reaksi Pengendapan
Larutan IA ditambah pereaksi Mayer, larutan IB ditambah dengan pereaksi
Wagner, dan larutan IC dipakai sebagai blanko.
Adanya kekeruhan atau endapan menunjukkan adanya alkaloid.
Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Larutan ID ditambah NH4OH pekat 28% sampai larutan menjadi basa,
kemudian diekstraksi dengan 5 ml kloroform (dalam tabung reaksi).
Filtrat (fase CHCl3) diuapkan sampai kering, kemudian dilarutkan dalam
metanol (1 ml) dan siap untuk pemeriksaan dengan KLT.
Fase diam : Kiesel gel GF 254
Fase gerak : CHCl3 etil asetat (1:1)
Penampak noda : Pereaksi Dragendrof
Jika timbul warna jingga menunjukkan adanya alkaloid dalam ekstrak.

Hasil
Nilai

Rf
Rf = 6,3 : 8 = 0,7875
Tabel Hasil Pengamatan Reaksi
Pengendapan
Larutan
Perlakuan
Pengamatan
IA

+ Pereaksi Mayer

(+) endapan putih


kekuningan

IB

+ Pereaksi Wagner

(+) endapan coklat

IC

Sebagai blanko

(-)

Pembahasan
Pada praktikum ini dilakukan proses identifikasi senyawa golongan

alkaloid pada ekstrak Piper nigrum secara kualitatif. Analisis kualitatif


berkaitan dengan cara untuk mengetahui ada atau tidaknya suatu
senyawa dalam suatu sampel. Proses identifikasi dilakukan pada tiga
tahap yaitu preparasi sampel, reaksi pengendapan dan kromatografi
lapis tipis (KLT). Tahap pertama yaitu preparasi sampel. Sampel yang
digunakan adalah ekstrak Piper nigrum yang ditambah sedikit etanol
dan HCl 2N. Penambahan HCl 2N bertujuan untuk menarik alkaloid
dari dalam ekstrak. Alkaloid bersifat basa, sehingga dengan
penambahan HCl dapat membentuk garam. Ekstrak yang telah larut
dipanaskan di atas waterbath selama 2 menit sampai ada perubahan
yaitu sampel menjadi berwarna kuning kecoklatan, didinginkan lalu
ditambah NaCl, diaduk rata dan di saring, didapat filtrat dan residu.
Filtrat ditambahkan HCl 2N dan dibagi menjadi 4 bagian yaitu larutan
IA, IB, IC dan ID.

Larutan ID ditotolkan pada titik yang berada dibagian bawah lempeng


KLT, lalu dimasukkan ke dalam chamber KLT yang berisi fase gerak,
dibiarkan sampah jenuh. Lempeng KLT dikeluarkan dilihat dibawah
sinar UV 254 nm dan 365 nm, lalu disemprot dengan penampak noda
pereaksi dragendrof, di amati secara visual dan dilihat dibawah sinar
UV 254 nm dan 365 nm. Warna noda terlihat pada sinar UV 254 nm.
Dari hasil praktikum ini, ekstrak Piper nigrum terbukti mengandung
senyawa alkaloid dari Uji pengendapan dan Uji Kromatografi Lapis

Kesimpulan
Identifikasi

senyawa golongan alkaloida dapat dilakukan


dengan cara yaitu preparasi sampel, reaksi pengendapan
dan pengujian dengan metode Kromatografi Lapis Tipis.
Reaksi pengendapan dilakukan dengan menambahkan
pereaksi Mayer dan pereaksi Wagner pada larutan
sampel, kemudian diamati perubahan yang terjadi dan
dibandingkan dengan blanko.
Kromatografi Lapis Tipis merupakan metode pemisahan
fisikokimia dengan proses absorbsi dimana fase gerak
akan terabsorbsi oleh fase diam.
Berdasarkan hasil yang diperoleh, ketika dilihat dibawah
sinar UV dengan panjang gelombang 254 nm dan 365
nm terlihat noda berwarna kuning. Nilai Rf yang didapat
yaitu 0,79. Nilai Rf yang didapat mendekati nilai Rf
standart yaitu 0,66.