Anda di halaman 1dari 12

OBJEK DAN SIFAT HUKUM

PERBURUHAN

Obyek Hukum Ketenagakerjaan


dibedakan menjadi dua yaitu obyek
materiil dan obyek formil. Obyek
Materiil Hukum Ketenagakerjaan ialah
kerja manusia yang bersifat sosial
ekonomis. Titik tumpunya obyek ini
terletak pada kerja manusia.
Kerja manusia ialah merupakan bagian
dari kerja manusia secara umum
(aktualisasi unsur kejasmaniaan
manusia dengan diberi bentuk dan
terpimpin oleh unsur kejiwaannya
dotolekaryakan

Secara obyektif tujuannya ialah hasil


kerja sedang secara ekonomis tujuannya
ialah tambahan nilai. Tambahan nilai
bagi buruh berupa upah sedang bagi
majikan berupa keuntungan. Upah dan
keuntungan bukan merupakan tujuan
akhir kerja manusia yang bersifat sosial
ekonomis, tujuan akhirnya ialah
kelangsungan /kesempurnaan hidup
manusia.

Obyek formil hukum ketenagakerjaan ialah


komplek hubungan hukum yang
berhubungan erat dengan kerja manusia
yang bersifat sosial ekonomis. Hubungan
hukum adalah hubungan yang dilindungi oleh
UU. Hubungan hukum dalam hukum
perburuhan terjadi sejak adanya perjanjian
kerja. Dengan terjadinya perjanjian kerja
berarti telah terjadi pula hubungan kerja
antara pengusaha dengan pekerja. Hubungan
hukum bisa terjadi karena perjanjian dan UU.

Intervensi pemerintah dalam bidang


ketenagakerjaan melalui peraturan perundangundangan telah membawa perubahan yang
mendasar yakni menjadikan sifat hukum
perburuhan menjadi ganda. Intervensi
pemerintah dalam bidang ketenagakerjaan
dimaksudkan untuk tercapainya keadilan di
bidang ketenagakerjaan karena jika hubungan
antara pekerja dengan pengusaha diserahkan
salah satu pihak saja maka pengusaha sebagai
pihak yang lebih kuat akan menekan pekerja
sebagai pihak yang lemah secara sosial
ekonomi.

Campur tangan pemerintah ini tidak hanya terbatas pada aspek


hukum dalam hubungan kerja saja tetapi meliputi aspek hukum
sebelum hubungan kerja (pra employment) dan sesudah
hubungan kerja (post employment).
Hukum ketenagakerjaan dapat bersifat:
Privat/perdata
Oleh karena Hukum Ketenagakerjaan mengatur hubungan antara
orang perseorangan dalam hal ini antara pengusaha dengan
pekerja dimana hubungan kerja yang dilakukan dengan
membuat suatu perjanjian yaitu perjanjian kerja.
Publik
Keharusan mendapat ijin pemerintah dalam masalah PHK
Adanya campur tangan pemerintah dalam menetapkan
besarnya standar upah (upah minimum)
Adanya sanksi pidana, denda dan sanksi administratif bagi
pelanggara ketentuan peraturan perburuhan/ketenagakerjaan.

Pada saat yang sama hukum perburuhan


yang bertujuan melindungi buruh
terutama adalah hasil desakan para
pembaharu di dalam maupun di luar
parlemen. Secara perlahan, lahirnya
hukum perlindungan buruh merupakan
bukti bahwa secara sosial mulai muncul
kesadaran bahwa doktrin laissez-faire
mulai ditinggalkan atau setidaknya tidak
lagi dapat diterapkan secara mutlak.
Mulai muncul kesadaran bahwa negara
harus intervensi dalam hubungan buruh

Kesadaran baru ini ditandai dengan munculnya teori sosial


yang ingin mengimbangi gagasan di balik doktrin laissezfaire. Misalnya, M. G. Rood berpendapat bahwa undangundang perlindungan buruh merupakan contoh yang
memperlihatkan ciri utama hukum sosial yang didasarkan
pada teori ketidakseimbangan kompensasi. Teori ini
bertitik-tolak pada pemikiran bahwa antara pemberi kerja
dan penerima kerja ada ketidaksamaan kedudukan secara
sosial-ekonomis. Penerima kerja sangat tergantung pada
pemberi kerja. Oleh karena itu, hukum perburuhan
memberi hak lebih banyak kepada pihak yang lemah
daripada pihak yang kuat. Hukum bertindak tidak sama
kepada masing-masing pihak dengan maksud agar terjadi
suatu keseimbangan yang sesuai. Hal ini dipandang
sebagai jawaban yang tepat terhadap rasa keadilan umum.

Levenbach yang disebut juga bapak hukum


perburuhan mengatakan:
Peraturan-peraturan perburuhan dapat disebut
sebagai pengeculian darurat karena peraturanperaturan itu memuat campur tangan negara yang
ditujukan kepada hubungan yang seharusnya
merupakan kebebasan para pihak. Aturan-aturan
mutlak dalam hal perorangan yang tak terbatas
sudah tidak diakui lagi. Mengenai peraturan
perburuhan, orang terlalu banyak melihat dari segi
persamaan hak yang tidak normal, yang akan
mengingkari persamaan hak di depan hukum.
Pendapat seperti ini keliru dalam menafsirkan
pengertian persamaan kedudukan di depan hukum.

S. Mok mengemukakan,
Pada umumnya orang tidak melihat lagi
bahwa pemberi kerja dan penerima kerja
di dalam hukum perburuhan, bukan lagi
mitra yang sederajat. Kepentingan buruh
jauh lebih besar. Merekalah, kaum lemah,
yang harus dilindungi. Sedangkan
pengusaha (pemberi kerja), walaupun
mereka menyetujui pemberian
perlindungan bagi buruh, mereka sendiri
tidak membutuhkannya.[

Commons dan Andrews berikut ini:


Dimana para pihaknya tidak setara (dan
jelas adanya kepentingan umum), maka
negara yang menolak memperbaiki
ketidaksetaraan itu sebenarnya tidak
memberikan kepada pihak yang lemah
perlindungan hukum yang sama.

Dari pendapat di atas, terdapat dua hal


yang sangat penting. Pertama, bahwa
para pihak dalam hukum perburuhan,
yaitu buruh dan majikan, adalah pihak
yang tidak seimbang kedudukannya.
Kedua, bahwa perlindungan yang sama
di hadapan hukum bagi mereka harus
berarti mengatasi ketidakseimbangan itu.
Di sini Commons dan Andrews memakai
istilah yang suka dipakai oleh penganut
paham liberalisme untuk membela
keberadaan hukum perburuhan, yaitu