Anda di halaman 1dari 14

Diare dan Konstipasi

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Dita Kartika Rachmawati


Hanna Margaretha
Islami Nurani
Justisia Anggraina
Lintang Oktavia
Niwayan Sariyanti
Shahnaz Nadia

Diare
Sebuah penyakit di mana tinja atau feses berubah menjadi lembek
atau cair yang biasanya terjadi paling sedikit tiga kali dalam 24 jam.
Dalam keadaan normal feses mengandung volume air hingga 60-80%
sedangkan pada penderita diare bisa mencapai lebih 90%.
Menurut WHO diare adalah buang air besar encer atau cair lebih
dari 3x sehari.

Etiologi
1.

Pertumbuhan bakteri berlebih, dalam usus bakteri memegang peranan


penting dalam proses pencernaan, apabila jumlah bakteri diatas normal
akan terjadi gangguan dan bisa terjadi diare.

2.

Perubahan pasase usus, bisa menyebabkan diare untuk mendapatkan


konsistensi normal feses harus berada pada usus besar selama waktu
tertentu dan apabila terjadi perubahan/ feses terlalu cepat meninggalkan
usus, maka bentuk feses akan cenderung cair.

GEJALA
Diare juga dapat menyebabkan dehidrasi, maka tekanan darah akan turun dan
bisa terjadi pingsan pada penderita, kehilangan cairan tubuh juga dapat
mengakibatkan asidosis (ganguan asam basa pada darah)

Patofisiologi

Pada dasarnya diare adalah gangguan transport air & elektrolit di saluran
pencernaan, mekanisme gangguan ini terbagi sebagai berikut:
DIARE OSMOTIK
Diare ini terjadi bila bahan-bahan tertentu teringgal dalam usus tidak dapat
tercerna sempurna, bahan tersebut menyebabkan volume air pada feses meningkat
sehingga timbul diare, makanan tersebut antara lain kacang-kacangan, dan
senyawa pengganti gula sarbitol, manitol dan heksitol. Kekurangan laktse juga
bisa menyebabkan diare osmotik.
DIARE SEKRETORIK
Pada diare jenis ini terjadi peningkatan sekresi cairan dan elektrolit. Ada 2
kemungkinan timbulnya diare sekretorik yaitu diare sekretorik aktif dan pasif.
Diare sekretorik aktif terjadi bila terdapat gangguan aliran (absorpsi) dari lumen
usus ke dalam plasma atau percepatan cairan air dari plasma ke lumen dan diare
sekretorik pasif disebabkan oleh tekanan hidrostatik dalam jaringan karena terjadi
pada ekspansi air dari jaringan ke lumen usus.

Tatalaksana Terapi
Tujuan terapi:
Menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit
Mengurangi gejala yang menyertai
Menghilangkan penyebab
Mencegah komplikasi yang mungkin muncul, seperti
dehidrasi

Terapi Non Farmakologi


1.

Mengatur Pola Makan

2.

Terapi Cairan (Rehidrasi)


a.

Terapi Parenteral

b.

Terapi Oral (Oralit)


Anak < 1 thn

: 50100 ml

Anak 1 4 thn

: 100200 ml

Anak > 5 tahun

: 200300 ml

Dewasa : 300400 ml

Terapi Farmakologi
1.

Cairan elektrolit

2.

Zat penghambat peristaltik (opiat dan derivatnya)

3.

Adsorben
-

kaolin pectine

attapulgite

carbo adsorben

4.

Antisekresi, enzim pencernaan dan mikroflora usus

5.

Antibiotika
-

kotrimoksazole

amoksisilin dan ampisillin

kloramfenikol

metronidazole

KONSTIPASI
Konstipasi (sembelit) adalah keadaan atau kondisi seseorang kesulitan
untuk buang air besar dikarenakan terjadi pengerasan pada feses.
Konstipasi yang cukup hebat disebut juga dengan obstipasi.

Etiologi

Kekurangan cairan tubuh atau dehidrasi.

Pengaruh hormon dalam tubuh (misalnya dalam masa menstruasi atau


kehamilan).

Kelainan anatomis pada sistem pencernaan.

Gaya hidup dan pola makan yang kurang teratur (seperti diet yang buruk).

Efek samping akibat meminum obat yang mengandung banyak kalsium atau
alumunium (misalnya obat antidiare, analgesik, dan antasida).

Kekurangan asupan vitamin C dan kekurangan makanan berserat.

Sering menahan rangsangan untuk buang air besar dalam jangka waktu yang
lama.

Jarang atau kurang berolahraga.

Kelebihan memakan daging. Terutama daging merah karena sulit dicerna dan
memiliki banyak zat besi..

Dari penyalahgunaan obat, seperti obat laksatif.

Patofisiologi
Konstipasi dapat timbul dari adanya efek pengisian maupun
pengosongan rectum. Pengisian rectum yang tidak sempurna terjadi
bila peristaltic kolon tidak efektif. Statis tinja di kolon menyebabkan
proses pengeringan tinja yang berlebihan dan kegagalan untuk
memulai reflek dari rectum yang normalnya akan memicu evakuasi.
Pengosongan rectum melalui evakuasi spontan tergantung pada reflek
defekasi yang dicetuskan oleh reseptor tekanan pada otot-otot rectum,
serabut-serabut aferen dan aferen dari tulang belakang bagian sacrum
atau otot-otot perut dan dasar panggul. Kelainan pada reflaksi sfingter
ini juga bisa menyebabkan retensi tinja.

Terapi Non Farmakologi


Pengobatan dan peredaan konstipasi secara alami dapat dilakukan
dengan pengubahan pola makan menjadi lebih sehat, rajin berolahraga,
memijat perut dan punggung, minum air putih sebanyaknya, meminum
minuman prebiotik dan probiotik, atau membiasakan diri untuk buang
air besar setiap hari dengan membuat jadwal buang air besar yang
disebut bowel training. Terapi tertawa juga dapat dilakukan, karena
dengan tertawa otot perut secara refleks bergerak sehingga perut
terpijat sehingga merangsang gerakan peristaltik usus dan melancarkan
buang air besar.
Agar penderita konstipasi dapat cepat sembuh, maka penderita dilarang :

Menahan buang air besar.

Mengkonsumsi makanan siap saji dan bersifat panas.

Makan dalam porsi yang banyak.

Meminum minuman yang berkafein dan minuman ringan.

Mengkonsumsi makanan atau minuman dingin.

Terapi Farmakologi
Pemberian obat pencahar (laksatif) golongan obat ini cenderung efektif
serta aman digunakan dalam jangka lama. Golongan obat pencahar :
1.

Bulking agent: psylium, methylselulosa. Bulking agent, obat


pencahar yang aman untuk merangsang buang air besar

2.

Pelunak feses: decusate (membantu meningkatkan daya serap air


feses) membuat feses lunak dan mudah kontraksi untuk buang air
besar.

3.

Bahan osmotik : bahan osmotik mendorong air ke usus, sehingga


feses menjadi lunak dan mudah dieksresikan, pencahar ini
mengandung garam-garam (fosfat, sulfat, magnesium)

4.

Perangsang pencahar : merangsang langsung ke usus besar untuk


berkontraksi mengeluarkan feses, obat ini mengandung substansi
yang mengiritasi seperti senna, bisacodyl, cascara, tegaserod