Anda di halaman 1dari 38

MORBILI

Oleh:
Devia Widhianingsih, dr
Pendamping:
Wiwin Winarti, dr. Sp.A
Dini Azora, dr., Mars.
H. Ade Zulkarnaen, dr.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: An. R
Jenis kelamin
: Laki-laki
Umur
: 4 tahun 6 bulan
Alamat
: Cipicung, Maja
No. CM
: 267774
Masuk rumah sakit
: 15 Agustus 2016
Tanggal pemeriksaan
: 16 Agustus 2016

ANAMNESA
Alloanamnesa dengan ibu pasien pada

tanggal 16 Agustus 2016.


Keluhan utama :Demam
Keluhan tambahan :Batuk,flu, nyeri
menelan, susah untuk makan, diare, dan
timbul bercak kemerahan pada wajah,
tubuh,tangan dan kaki.

Perjalanan Penyakit

Keluhan :

5 hri SMRS
Keluhan:
- batuk
berdahak
- pilek

4 hri SMRS 3 hri SMRS


Keluhan :
Keluhan :
- batuk
berdahak
- pilek
- demam
- mata
terlihat
merah
- nafsu
makan
menurun

- Demam
semakin
tinggi
- muncul
ruam
kemeraha
n dari
belakang
leher
- Mual
- Muntah
1x berisi
sisa
makanan

1 hri SMRS
- Demam
- ruam
menyeba
r ke
muka,
badan,
tangan
dan kaki
bagian
atas
- Mual
- Muntah
3x
- BAB
lembek
1x, lendir
(+)

Keluhan :
Masuk RS
- Demam
- ruam
menyeba
r hingga
kaki
- Mual
- Muntah
3x
- BAB
lembek
2x
- Tidak
mau
makan
dan
minum

Keluhan demam tidak disertai mengigil dan tidak

disertai nyeri sendi, mimisan, gusi berdarah


ataupun tanda perdarahan lainnya.
Keluhan kejang, penurunan kesadaran dan sesak

nafas pada pasien juga disangkal oleh orang tua


pasien.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien belum pernah mengalami gejala seperti ini
sebelumnya. Pasien tidak memiliki riwayat batukbatuk lama, konsumsi obat dalam jangka waktu lama
yang membuat pipis berwarna merah atau pun tinggal
dengan orang yang mengidap batuk lama. Pasien
tidak memiliki alergi terhadap obat ataupun makanan.
Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga pasien tidak ada yang mengalami keluhan
yang sama, namun tetangga pasien ada yang
mengalami keluhan serupa dan terdiagnosa campak
oleh dokter.

Riwayat Kehamilan dan Persalinan


Pasien merupakan anak pertama dari ibu P3G3A0
dengan usia kehamilan 39 minggu
Ibu pasien mengatakan telah melakukan
pemeriksaan kehamilan rutin ke bidan puskemas
dengan jumlah 1 kali saat trimester pertama, 1 kali
saat trimester kedua dan 2 kali saat trimester
ketiga.
Selama kehamilan ibu mengaku dalam kondisi
sehat, tidak mengonsumsi obat-obatan, tidak
pernah minum minuman beralkohol, dan tidak
Riwayat
merokok.
Imunisasi

PEMERIKSAAN FISIK
KEADAAN UMUM
Keadaan sakit : Tampak Sakit Sedang
Kesadaran : Composmentis (E4,V5,M6)
GCS=15
PENGUKURAN
Umur
: 4 tahun 6 bulan
Berat Badan : 15 Kg
Status Gizi : baik

TANDA VITAL
Nadi
: 114 x/menit, regular, equal, isi
cukup
Respirasi : 24 x/menit
Tipe
: Abdominothorakal
Suhu
: 38,4 C

PEMERIKSAAN KHUSUS
Kepala
Mata : Sklera : Ikterik : -/Konjungtiva : Hiperemis
Pupil
: Bulat isokor
THT : Telinga

: +/+

: Discharge ( -)
Hidung :Nafas Cuping hidung (-)
Rhinorhea (+/+)
Sekret berwarna putih

Tenggorokan/mulut
Bibir : Sianosis (-), pucat (-)
Gusi : perdarahan (-)
Faring : Hiperemis
Lidah : tidak kotor
koplik spot (-)
Leher

KGB : Tidak teraba


Ruam : Ruam Makulopapular (+)

Dada Dinding Dada/Paru


Depan

Inspeksi : Bentuk datar dan gerak simetris


Palpasi
: Vokal Fremitus normal, kanan = kiri
Auskultasi : VBS kanan = kiri
Ronkhi -/- Wheezing -/- slem -/
Belakang
Inspeksi : Bentuk datar dan gerak simetris
Palpasi : Vokal Fremitus normal, kanan = kiri
Auskultasi : VBS kanan = kiri
Ronkhi -/- Wheezing -/- slem -/-

Jantung
Inspeksi
: Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS IV
lnea midclavicularis
Perkusi : tidak ada pembesaran
Auskultasi : BJ I, II murni reguler
Perut
Inspeksi
: Datar, terdapat ruam makulopapular
Auskultasi : Bising usus (+) 4 kali / menit
Palpasi : Lembut, NT (-), turgor kulit kembali cepat
Hepar
: Tidak Teraba
Lien : Tidak Teraba
Perkusi : Tympani

Anggota Gerak
Atas
Sendi
: Tidak ada kelainan
Otot : Tidak ada kelainan
Edema : Tidak ditemukan
Kuku : Pucat (-)
Bawah
Sendi
: Tidak ada kelainan
Otot : Tidak ada kelainan
Edema : Tidak ditemukan
Kuku : Pucat (-)
Kulit : CRT < 2 detik

STATUS LOKALIS
Tampak ruam makulopapular eritema generalisata
pada wajah, leher,dada, punggung, kedua
ekstremitas atas, kedua tungkai bagian atas.

HASIL PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan laboratorium (Tanggal
16/8/2016)
Hb
: 12,5 gr% N
Leukosit
: 4900 /mm3 N
Eritrosit : 4,5/mm3 N
PCV
: 37 % N
Trombosit
: 169.000/ mm3 N
Hitung jenis : 0/0/0/73/26/1
Diagnosa
: Morbili
Diagnosa Banding : Drug Eruption
Rubella

Terapi 15/8/2016 (IGD)


Inf. KAEN 3B 15 tpm (makro drip)
Inj Ranitidin 2x15 mg iv
Paracetamol syr 4x x 1 cth p.o
Vit. A 200.000 iu/hari p.o selama 2 hari

berturut-turut
Ambroxol syr 3 x cth p.o

15Agustus/2016 (R.
Melati)

16/Agustus/2016

18/Agustus/2016

demam tinggi (+),


batuk(+), pilek (+), ruam
(+), muntah 3x, BAB cair
ampas(+), lendir(+)
darah (-)

demam (+) dengan suhu


yang tidak setinggi
sebelumnya, batuk(+),
pilek (+), ruam (+), BAB
lembek 1x, muntah(-)

demam (-), batuk dan


pilek membaik

KU: CM
T : 38,8C
Kepala :
Mata:
konjungtivahiperemis +/+

KU: CM
T : 37,8C
Kepala :
Mata: konjungtiva sedikit
hiperemis
Hidung: rhinnorhea (+)
Thorax :
pulmo : VBS ki=ka,
wheezing -/-, ronchi -/ekstremitas : makula
eritema

KU: CM
T : 36,3C
Kepala :
Mata: konjungtiva
hiperemis -/Hidung: rhinnorhea (+)
Thorax :
pulmo : VBS ki=ka,
wheezing -/-, ronchi -/ekstremitas : makula
eritema berdeskuamasi

Hidung: rhinnorhea (+)


Thorax :
pulmo : VBS ki=ka,
wheezing -/-, ronchi -/ekstremitas : makula
eritema
A

Morbili

Morbili

Morbili

IVFD KAEN 3B 15 tpm


makro
Ampicillin 4 x 750 mg
Paracetamol syr 4 x 1
cth p.o
Ambroxol syr 3 x cth
Cetirizine tab 1 x 1 p.o

IVFD KAEN 3B 15 tpm


makro
Ampicillin 4 x 750 mg
Paracetamol syr 3 x 1
cth p.o
Ambroxol syr 3 x cth
Cetirizine tab 1 x 1 p.o

aff infus, BLPL


Ambroxol syr 3 x cc
cefixime syr 2 x 3 ml

MORBILI

Definisi
Morbili adalah penyakit virus akut, menular

yang ditandai dengan 3 stadium, yaitu


stadium prodormal ( kataral ), stadium
erupsi dan stadium konvalisensi, yang
dimanifestasikan dengan demam,
konjungtivitis dan bercak koplik.

Etiologi
Penyebabnya adalah virus morbili yang

terdapat dalam sekret nasofaring dan


darah selama masa prodormal sampai 24
jam setelah timbul bercak-bercak. Virus ini
berupa virus RNA yang termasuk famili
Paramiksoviridae, genus Morbilivirus.
Cara penularan dengan droplet infeksi.

Patogenesis Infeksi Campak


tanpa Penyulit

Manifestasi Klinis
Masa tunas/inkubasi penyakit

berlangsung kurang lebih dari 10-20 hari


dan kemudian timbul gejala-gejala yang
dibagi dalam 3 stadium
Stadium kataral (prodormal)
Stadium erupsi
Stadium konvalesensi

Stadium Katral (Prodromal) 3-5 hari


Ditandai dengan :
Demam ringan-sedang
Tanda 3C (cough, coryza, conjunctivitis)
Demam, cough, dan coryza semakin memberat sampai ruam

timbul di seluruh tubuh. Lalu demam menurun dalam 2 hari.


Koplik spots
Dapat disertai fotofobia
Pada akhir masa prodromal, dinding posterior faring

biasanya menjadi hiperemis penderita


mengeluhkan nyeri tenggorokkan.

Koplik Spot
Bintik kecil tidak beraturan, berwarna merah terang, dengan noda putih

keabuan di tengahnya
Sering ditemukan pada mukosa bukal di depan gigi geraham bawah , rongga

mulut, palatum bagian tengah bibir bawah dan karunkula lakrimalis.


Muncul 1 2 hari sebelum timbulnya ruam, menghilang dengan cepat (12-18

jam kemudian).

Stadium Erupsi (5-8 hari)


Timbul enantema, eritema yang berbentuk ruam makulo-

papular dari leher (belakang telinga), menyebar ke wajah,


badan lalu ekstremitas dalam 2-3 hari lalu mulai menghilang
dengan urutan yang sama dengan saat timbulnya
Kadang-kadang terdapat perdarahan ringan pada kulit Rasa
gatal, muka bengkak, mual, muntah, diare dan pembersaran
kelenjar getah bening. Dapat pula muncul gejala black
measless (morbili disertai perdarahan kulit, mulut, hidug dan
tract. Digestifus)

Stadium Kovalesensi
Erupsi berkurang, meninggalkan bekas

yang berwarna lebih tua (hiperpigmentasi)


yang bisa hilang sendiri setelah 1-2
minggu.
Sering ditemukan pula kulit yang bersisik.
Suhu menurun sampai menjadi normal

Komplikasi
Pneumonia / bronkopneumoni
Disebabkan oleh invasi langsung virus campak maupun infeksi

sekunder. Ditandai dengan adanya ronki basah halus, batuk,


dan meningkatnya frekuensi nafas.
Diare
terjadi akibat invasi virus campak ke mukosa saluran cerna

sehingga mengganggu fungsi normal ataupun sebagai akibat


menurunnya daya tahan penderita campak .
Otitis Media
Gendang telinga biasanya hiperemi pada fase prodromal dan

stadium erupsi.
Encefalitis
Gejala encephalitis biasanya timbul pada stadium erupsi dan

dalam 8 hari setelah onset penyakit. Gejala yang muncul


adalah : kejang, letargi, koma, nyeri kepala, kelainan frekuensi
nafas, twitching dan disorientasi.

Laringitis obstruksi dan laringotrakkhetis


Laringitis timbul akibat edema hebat pada mukosa saluran nafas,

yang bertambah parah pada saat demam mencapai puncaknya.


Ditandai dengan distress pernafasan, sesak, sianosis dan stridor.
Ketika demam turun keadaan akan membaik dan gejala akan
menghilang.
Subacute Slcerosing Panencephalitis (SSPE)
Merupakan penyulit campak onset lambat yang rata-rata baru

muncul 7 tahun setelah infeksi campak pertama kali akibat


degenerasi susunan syaraf pusat dan dapat menyebabkan
kerusakan otak progresif dan fatal
Miokarditis dan Perikarditis
Black measles
Bentuk infeksi berat dari campak yang ditandai dengan ruam kulit

konfluen yang bersifat hemoragik. Penderita menunjukkan gejala


encephalitis atau encephalopati dan pneumonia. Terjadi
perdarahan ekstensif dari mulut, hidung dan usus. Dapat pula
terjadi koagulasi intravaskuler diseminata

Diagnosis Banding
1. Roseola infantum. Pada Roseola infantum, ruam muncul saat demam

telah menghilang.
2. Rubella (German measles). Pada penyakit ini tidak ada bercak

Koplik, tetapi ada pembesaran kelenjar di daerah suboksipital, servikal


bagian posterior, belakang telinga. Ruam berwarna merah muda dan
timbul lebih cepat dari campak. Gejala yang timbul tidak seberat campak.
3. Alergi obat. Didapatkan riwayat penggunaan obat tidak lama sebelum

ruam muncul dan biasanya tidak disertai gejala prodromal.

4. Demam skarlatina. Ruam bersifat papular, difus terutama di

abdomen. Tanda patognomonik berupa lidah berwarna merah stroberi


serta tonsilitis eksudativa atau membranosa
5. Eksantema subitum. Ruam akan timbul bila suhu badan menjadi

normal.

Diagnosa Banding
PENYAKI
T

Measles

Rubella
(German
measles,
minor
measles)

PENYE
BAB

Virus
campak

Virus
rubella

UMUR

TRANS
MISI

Bayi,
remaja

Droplet 10-12
pernapa
san

Bayi,
Droplet
dewasa pernapa
muda
san

INKU
BASI

14-21

PRODROMAL

Demam tinggi,
batuk, pilek,
konjungtivitis,
2-4 hari

Malaise,
demam tidak
tinggi,
pembesaran
kelenjar leher,
belakang
telinga, dan
oksipital; 0-4
hari

GAMBARAN
DAN
STRUKTUR
RUAM

ENAN
TEMA

Makulopapular
(konfluen), mulai
dari wajah,
menyebar ke
tubuh; 3-6 hari;
menjadi coklat;
deskuamasi
halus; toksik,
tampak tidak
nyaman,
fotofobia; ruam
mungkin tidak
muncul pada
infeksi HIV

Kopliks
spot pada
mukosa
bukal
sebelum
ruam

Diskrit,
nonkonfluen,
makula dan
papula berwarna
merah muda,
dimulai dari
wajah dan
menyebar ke
bawah; 1-3 hari

Berbagai
makula
eritematus
pada
palatum
molle

KOMPLIKASI

PREVENSI

Kejang
vaksin
demam, otitis, campak
pneumonia,
ensefalitis,
laringotrakeitis
,
trombositopen
ia; SSPE yang
tertunda

Artritis,
trombositopen
ia,
ensefalopati,
vaksin
embriopati
rubella
fetal

KOMENTAR

Laporan epidemi;
menular 3 hari
sebelum muncul
gejala sampai 4 hari
setelah ruam

laporan epidemi,
menular 2 hari pra
gejala dan 5-7 hari
pasca ruam
Tidak ada epidemi
;

PENYA
KIT

Scarlet
fever

PENYE
BAB

Group A
streptoco
ccus

UMUR

Usia
seko
lah

TRANS
MISI

Kontak
langsung,
droplet

INKU
BASI

1-4

PRO
DROMAL

GAMBARAN DAN
STRUKTUR RASH

Nyeri
tenggoro
kan, nyeri
kepala,
nyeri perut,
pembesa
ran kelenjar
leher,
demam, 0-2
hari, onset
akut

Eritema difus
seperti sandpaper
pada perabaan;
aksentuasi eritema
pada lipatan
fleksural (garis
pastia); kepucatan
sekeliling mulut,
selama 2-7 hari

Rewel,
demam
tinggi, 3-4
hari,
pembesaran
kelenjar
servikal dan
oksipital

Makula diskrit pada


tubuh dan leher;
ruam mendadak
timbul saat demam
turun lalu
menghilang; 0,5-2
hari

ENAN
TEMA

Petekiae di
palatum,
lidah
strawberry

KOMPLI
KASI

PREVENSI

Abses
peritonsilar,
demam
reuma,
glomerulone
fritis

Cegah demam
reuma dengan
penisilin dalam
10 hari onset
faringitis; obati
dengan
penisilin

Tidak ada

Roseola
(exanthem
a subitum)

HHV 6 dan
7

Bayi (6 Tidak
bulan-2 diketahui;
tahun) saliva atau
karier tanpa
gejala

5-15 (?)

Berbagai
makula
eritematus
pada
palatum
molle

Kejang
demam
tunggal/ber
ulang
sindroma
hemofagosit
ik;
ensefalopati

Penatalaksanaan
Pengobatan bersifat suportif, terdiri dari :

Tirah baring
Hindari penularan
Pemberian cairan serta kalori yang cukup
Suplemen nutrisi
Antibiotik diberikan apabila terjadi infeksi sekunder
Anti konvulsi apabila terjadi kejang
Pemberian vitamin A untuk membantu pertumbuhan epitel

saluran nafas yg rusak.


6 bln-1 th: 100.000 U
>1 th : 200.000 U

Indikasi rawat inap : hiperpireksia (suhu > 39,00 C),

dehidrasi, kejang, asupan oral sulit, atau adanya komplikasi.

Pencegahan
Imunisasi aktif: vaksin campak
usia 9 bulan
ulangan 15 bulan MMR

Imunisasi pasif
bayi yang dilahirkan dari ibu yang pernah

mendapat penyakit campak atau imunisasi


campak akan mendapat antibodi pasif
transplasenta
menetap hingga 4-6 bulan s/d 9 bulan setelah

lahir

DAFTAR PUSTAKA
Ilmu Kesehatann Anak Edisi 2, th 1991. FKUI
Ilmu Kesehatan Anak vol 2, Nelson, EGC, 2000
Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 23. Jakarta: EGC
Cherry J.D. 2004.Measles Virus. In: Feigin, Cherry, Demmler,

Kaplan (eds) Textbook of Pediatrics Infectious Disease.


5thedition. Vol 3.Philadelphia. Saunders. p.2283 2298
Soegijanto, Soegeng, Harsono Salimo. 2011. Campak dalam
Pedoman Imunisasi Di Indonesia. Edisi 4. Jakarta: Badan
Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia
Pudjiadi, Antonius H, Badriul Hegar, et al. 2009. Campak
dalam Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak
Indonesia. Jakarta: IDAI
World Health Organisation. 2008. Pelayanan Kesehatan Anak
di Rumah Sakit. Jakarta: Departemen Kesehatan RI