Anda di halaman 1dari 45

Drug Delivery Sistem

By:

Yan Hendrika

Program Studi Magister Farmasi


Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara
2016

Floating tablets of Famotidine


with natural polymer: An
approach for gastric treatment
Tablet Famotidin Mengambang dari
Polimer Alam: Suatu Pendekatan
Pengobatan Tukak Lambung

Introduction
Floating tablet digunakan untuk

meningkatkan waktu tinggal lambung


Penggunaannya lebih baik karena absorpsi
bisa diatur dan mengurangi frekuensi
pemberian.
Banyak polimer bisa digunakan sebagai
bahan dasar tablet mengambang HPMC,
SCMC

Famotidine>> Antihistamin>>Pengobatan

tukak lambung, refluks


esophagitis>>absorpsi rendah dalam GI>>
t1/2 singkat (2,5-4jam)
Tujuan>> Formulasi floating tablet dg
polimer alam untuk meningkatkan waktu
tinggal dilambung, penyerapan ditingkatkan,
bioavailabilitas meningkat

Bahan dan Metode:

Persiapan Floating tablet Famotidin untuk


studi aktivitas anti ulcer
Dengan Granulasi basah
Dosis 0,62 mg/Kg BB hewan
Zat aktif, asam sitrat, NaHCO2 dan polimer

dicampur homogen + larutan polimer 2% w/v


dalam alkohol sebagai pembentuk masa.
Ayak dengan ayakan mesh 16
Granul dikeringkan pada suhu 50 selama 45
menit
Granul kering di ayak dengan ayakan no. 20
untuk menyeragamkan ukura granul

Persiapan plasebo Floating Tablet


untuk uji mengambang secara in Vivo
Penyiapan floating tablet 250 mg

dengan granulasi basah


Menggunakan BaSO4 Sebagai
penanda dalam uji X-ray

Granul kering dicampurkan dengan 3% MCC

sebagai lubrikan
Asam sitrat dan NaHCO2 sebagai penstabil dan
penghasil gas untuk tablet
Evaluasi granul
Dicetak dengan bobot 250 mg dengan
ketebalan 6,8 mm dan kekuatan kempa mesin
4-5 kg/cm2
Evaluasi: Kekerasan, kandungan, waktu
mengambang, persentase pelepasan obat

Studi Radiografi secara in vivo


menggunakan anjing sebagai hewan
uji
Dilakukan untuk melihat sifat

mengambang dari floating tablet


menggunakan X-Ray
Dilakukan pada anjing deng berat 4-5 kg,
selama uji hewan dipuasakan, pemberian
secara oral plasebo floating tablet.
Setelah ditelan, anjing di X- Ray pada jam
ke 4, 8, dan 12 setelah pemberian
Posisi Floating tablet akan diketahui

Uji Aktivitas Anti Ulcer


Faktor psikologi seperti stres berperan

penting dalam patogenesis tukang lambung


pada manusia
Selye (1936), Hanson dan Brodie
(1960) menjelaskan metode untuk
mempelajari efek obat anti ulcer pada tikus
yang di streskan.
Kali ini menggunakan kelinci

3 kelompok kelinci New Zealand jantan

dan betina berat 1,5-2 kg untuk kontrol


dan sediaan uji.
Tidak diberi makan dan minum 24 jam
sebelum percobaan
Setelah pemberian oral sediaan uji,
hewan dibius dengan eter.
Kelinci dimasukkan dalam kandang
kawat, kemudian diletakkan secara
horizontal ditempat gelap dengan suhu
20 C selama 24 jam

Stelah 24 jam, hewan dikorbankan

dengan pemberian Na fenobarbital


sebagai anestesi.
Lambung dikeluarkan dan diletakkan
diatas piringan gabus dan diamati secara
microskopik dan dicatat penilaiannya.
- 0 untuk lambung yang berwarna normal
- 0,5 untuk perubahan warna menjadi
merah
- 1 untuk spot ulcer
- 2 untuk luka > 3 mm tapi < 5 mm
- 3 untuk luka > 5 mm

HASIL

Studi mengambang secara in vivo

Dari pemeriksaan dengan X-ray dengan interval

setiap 4 jam, terlihat bahwa terjadi perubahan


yang signifikan pada posisi plasebo floating
tablet, tablet tidak kontak dengan mukosa
lambung tapi mengapung pada cairan lambung
Pembatasan waktu tinggal obat dosis tunggal
pada saluran cerna bagian atas dalam keadaan
puasa terdiri dari 3 tahap dr Migrasi myoelectric
komplek (MMC), dimana setiap w jam pada
manusia, dan setiap 1 jam pada anjing.
Menunjukkan bahwa rata2 waktu tinggal
lambung 6 jam pada anjing, dan diharapkan
lebih lama lagi waktu tinggal dilambung
manusia.

Makroskopik dan histopatologi


Terjadi perubahan secara makroskopik

lambung kelinci yang dibuat stres pda


gambar 2 5
Histopatologi menunjukkan degenerasi,
perdarahan, dan peradangan pada jaringan
lambung, sedangkan pengobatan dengan
floating tablet famotidin berkurang secara
drastis
Etilogi tukak lambung tidak diketahui
dengan pasti tapi secara umum karena
ketidak seimbangan faktor agresif dan
protektif.

Conclusion
Formulasi floating tablet menunda pengosongan
lambung tablet Famotidine pada anjing. Anjing
menjalani migrasi myoelectric kompleks (MCC)
lambung lebih lama daripada manusia, scr signifikan
keterlambatan dalam pengosongan lambung diamati
dengan floating tablet bila bandingkan dengan kontrol
diharapkan akan lebih lama lagi di manusia.
Hal ini akan memaksimalkan penyerapan dengan
memungkinkan obat perlahan-lahan dilepas di
lambung untuk bagian atas usus halus untuk diserap.
Dalam studi floating tablet Famotidine menunjukkan
sitoproteksi lambung lebih baik bila dibandingkan
dengan bentuk sediaan konvensional.Hal ini mungkin
karenawaktu pelepasan diperpanjang dan absorpsi
lebih baik

FORMULATION AND
EVALUATION OF
ARIPIPRAZOLE LOADED
LIPOSOMES FOR BRAIN
DRUG DELIVERY

FORMULASI DAN EVALUASI


ARIPIRAZOLE MENGGUNAKAN
LIPOSOME PENGHANTARAN
OBAT KE OTAK

Introduction
Aripiprazole adalah dopamin baru reseptor D2 agonis
parsial yang digunakan dalam pengobatan gangguan
psikotik. Selain aktivitas agonis parsial di D2 reseptor,
Aripiprazole juga merupakan agonis parsial pada
reseptor 5-HT1A dan profil antagonis pada reseptor 5HT2A.
Liposom adalah sistem pengiriman obat koloid, memiliki
dua lapisan Phosphatidyl terdiri dari hidrofobik dan
hidrofilik secara bersamaan, sehingga dapat
menkapsulasi gugus obat lipophillic dan hidrofilik.
Biasanya biokompatibel, biodegradable dan tidak
beracun.
Aripiprazole yang terperangkap dalam liposom dapat
lebih baik mengantarkan otak dan meningkatkan
keberhasilan terapi dan memiliki waktu retensi di otak.

MATERIALS
Aripiprazole
Soyalecithin
Cholesterol
Egg phosphatidylcholine
Dan bahan kimia lain

METHODS
1. Pembuatan kurva kalibrasi Aripiprazole

100mg Aripiprazole dilarutkan dalam 100 ml


metanol. Dari 10ml ini diambil dan
diencerkan dengan MeOH ad 100 ml. Dari
10ml ini diambil dan dibuat hingga 100 ml
dengan pH 7,4 penyangga fosfat. Dari larutan
stok ini (10g / ml) dibuat serangkaian
konsentrasi 2, 4, 6 dan 8g / ml, sampel
dipindai menggunakan UV-spektrofotometer.
Absorbansi tercatat sebesar 254nm.

2. Studi preformulasi
2.1. Karakterisasi Obat dan eksipien
Studi Kompatibilitas Aripiprazole, soya lecithin, egg PC
dan
kolesterol dengan spektroskopi IR. Kompatibilitas
fisikokimia antara Aripiprazole, soya lecithin, egg PC
dan kolesterol yang digunakan dalam penelitian ini
dilakukan dengan studi IR Spectral menggunakan
spektrofotometer inframerah Perkin Elmer Fourier,
pada panjang gelombang antara 4000cm -1 hingga
400cm-1 . Spektrum Aripiprazole, soya lecithin, egg
PC dan kolesterol yang diperoleh kemudian
dibandingkan.

2.2. Formulasi LiposomAripiprazole


Liposom aripiprazole diformulasi
dengan teknik hidrasi film tipis. Fase
larutan obat - lipid dibuat dengan
melarutkan obat, fosfatidilkolin dari
sumber yang berbeda ( kedelai , telur
) , dengan dan tanpa kolesterol
dalam 15 ml campuran pelarut
kloroform dan metanol ( 2 : 1 v / v )

Campuran yang diperoleh ditempatkan di labu

dan diRotary Vacuum kec. 100 rpm dan suhu


60o C dan tekanan 760 mmHg sampai pelarut
menguap dan lapisan lipid tipis mengendap di
dinding labu .
Lalu , 20 ml dapar phospat pH 7,4 dimasukkan
kelabu untuk hidrasi film lipid tipis
mempertahankan di bawah kondisi yang sama.
Dispersi yang diperoleh didiamkan pada suhu
ruangan selama 2-3 jam hingga pengembangan
lapisan film lipid selesai. Selanjutnya mereduksi
dg vibra cell probe sonicator pada 80 % amp
dan pulse pada 50 selama 3 menit
menghasilkan suspensi Liposomal .

3. Evaluasi Aripiprazole
liposom
3.1. Penentuan persentase obat terperangkap
dengan metode sentrifugasi

Penentuan obat yang tidak


terperangkap
10 ml suspensi liposomal dalam dua tabung terpisah

disentrifugasi pada 15.000 rpm dengan suhu 40 o C.


Supernatan didekantasi dan endapan yang dihasilkan
ditambahkan dengan 5 ml dapar fosfat pH7.4 selama
30 menit dipertahankan di bawah kondisi yang
sama . Supernatan didekantasi dan Proses diulang
lagi. dengan menambahkan dengan 5 ml dapar
fosfat pH7.4 untuk memastikan pemindahan obat yg
tidak terperangkap. Besarnya obat yang tidak
terperangkap (yaitu aliquot supernatan) diukur pada
254nm oleh spektrofotometer UV - Visible dengan
pengenceran yang cocok .

Penentuan obat yang


terperangkap
2ml larutan liposomal dicampur dengan 2ml
dari 10 % larutan triton X 100 dan
disentrifugasi pada 15.000rpm ,
dipertahankan pada 40o C selama 1 jam, isi
disaring melalui filter membran 0.45
menggunakan filter vakum . Filtrat dianalisis
dengan spektrofotometer UV 254nm dengan
pengenceran yang cocok .

3.2. Studi difusi Invitro (teknik


dialisis)
Suspensi Liposomal yg setara dg 5 mg
Aripiprazole ditempatkan dalam kantong dialisis
( 12.000 Da-pore size ) yang sebelumnya
direndam semalam dalam air suling dan disegel
di kedua ujungnya . Kantong dialisis direndam
dalam gelas yang berisi 250 ml dapar fosfat pH
7,4 , suhu dipertahankan 37 0,5 o C dengan
kecepatan 80rpm. 3ml sampel diambil secara
berkala dan diganti dengan buffer segar .
Jumlah obat menyebar dapat diukur pada 254
nm dengan UV spektrofotometer .

3.3. Sem Analisis


Satu tetes suspensi liposomal Aripiprazole
diencerkan ditempatkan pada kaca bersih dan
dianalisis menggunakan SEM HITACHI S 3700 N.

3.4. Penentuan rata-rata ukuran


partikel dan distribusi ukuran
Rata-rata ukuran partikel dan
distribusi ukuran formulasi
liposomal Aripiprazole
diperkirakan menggunakan Horiba
Nanopartica SZ - 100. Jumlah dan
ukuran rata-rata partikel berbeda
ditentukan dengan ukuran ratarata partikel.

3.5. Penentuan potensial


zeta
Potensi zeta formulasi liposomal
Aripiprazole diestimasi dengan
menggunakan Horbia
Nanopartical SZ - 100

Hasil dan Pembahasan


Hasil spektrum IR Aripiprazole, fosfolipid dan
kolesterol dan campuran fisik Aripiprazole, fosfolipid
dan kolesterol menyatakan bahwa puncak
karakteristik Aripiprazole sampel yang sebagian
besar identik dengan puncak dalam campuran fisik
Aripiprazole, fosfolipid dan kolesterol. Fosfolipid dan
kolesterol yang melekat tidak memberikan
peubahan dan menunjukkan kompatibilitas.
formulasi enkapsulasi liposom mempunyai
kemampuan untuk mempertahankan molekul obat
dicairan inti atau dalam membran lapisan bi bilayer
dari vesikel

Aripiprazole adalah obat lipofilik,

Aripiprazole terjebak dimembran


bilayer vesikel liposomal.
Jumlah obat yang terjerat pada liposom
meningkat dengan peningkatan
konsentrasi kolesterol hingga rasio
tertentu (1: 1, fosfolipid: kolesterol).
Disebabkan karena akibat dari
hidrofobisitas membran bilayere
kolesterol yang dapat mendukung
masuknya molekul hidrofobik

Dalam studi difusi in vitro liposom Aripiprazole

menunjukkan bahwa profil pelepasan obat


menurun dengan peningkatan konsentrasi
kolesterol. Hal ini mungkin disebabkan karena
kolesterol mendorong Aripiprazole ke inti yang
dapat
menurunkan
pelepasan
dengan
meningkatnya
konsentrasi
kolesterol.
Selanjutnya,
meningkatkan
konsentrasi
kolesterol menghasilkan lebih banyak lapiasan
lipid utuh sebagai penghalang pelepasan obat
dan
penurunan
kebocoran
dengan
meningkatkan fluiditas membran bilayer dan
mengurangi permeabilitas,

Dalam studi difusi in vitro liposom

Aripiprazole menunjukkan difusi


Aripiprazole mengikuti kinetika orde 1 dan
mekanisme Peppas. Aplikasi Persamaan
Korsmeyer Peppas data dari formulasi
mengungkapkan bahwa mekanisme difusi
Aripiprazole liposom didominai difusi NonFickian (kemiringan> 0,5).

Berdasarkan % obat terjerat dan % Pelepasan

obat, formulasi F3 dan F7 dianggap optimal.


Selanjutnya, % penjerapan dan pelepasan
obat dari formulasi fosfatidil kolin egg (F7)
menunjukkan ketahanan dan sifat kaku dari
egg fosfatidil kolin bila dibandingkan dengan
soyalecithin.
Liposom dipindai dengan mikroskop elektron
(SEM), partikel tampak berbentuk bulat. Ketika
dikenakan Horiba NanoPartica A2, distribusi
ukuran partikel formulasi liposomal
optimalkan (F7) berkisar 60-250 nm dan
ukuran partikel rata-rata ditemukan menjadi
120.9 nm menunjukkan baik dalam liposomals

Conclusion
Berdasarkan profil pelepasan dan

efisiensi penjerapan, formulasi F3 dan F7


dianggap
formulasi optimal. Selain itu efisiensi %
penjeratan obat dan% pelepasan obat
dari formulasi fosfatidil kolin (F7) diamati.
Hal ini disebabkan oleh ketahanan dan
sifat kaku kolin fosfatidil telur bila
dibandingkan dengan soyalecithin.

Thanks
^_^