Anda di halaman 1dari 23

SINDROM NEFROTIK

TINJAUAN
PUSTAKA

Sindrom Nefrotik

Sindrom nefrotik (SN) pada anak


merupakan penyakit ginjal anak yang
paling sering ditemukan.
Sindrom nefrotik adalah keadaan
klinis yang ditandai dengan :
Proteinuria masif (>40 mg/m2/jam)
Hipoalbuminemia (<3.0 g/dl)
Hiperlipidemia (>250 mg/dl)
Edema
2

BATASAN

Remisi: proteinuria negatif atau trace (proteinuria <


4 mg/m2 LPB/jam) 3 hari berturut-turut dalam 1
minggu

Relaps : proteinuria 2+ (proteinuria >40 mg/m2


LPB/jam) 3 hari berturut-turut dalam 1 minggu

Relaps jarang : relaps kurang dari 2 x dalam 6 bulan


pertama setelah respons awal atau kurang dari 4 x
per tahun pengamatan

Relaps sering (frequent relaps): relaps 2 x dalam 6


bulan pertama setelah respons awal atau 4 x
dalam periode 1 tahun
3

Batasan2

Dependen steroid : relaps 2 x berurutan pada


saat dosis steroid diturunkan (alternating) atau
dalam 14 hari setelah pengobatan dihentikan

Resisten steroid : tidak terjadi remisi pada


pengobatan prednison dosis penuh (full dose)
2 mg/kgbb/hari selama 4 minggu

Sensitif steroid : remisi terjadi pada pemberian


prednison dosis penuh selama 4 minggu

EPIDEMIOLOGI

Insiden di negara berkembang >>>


Indonesia 6/100.000 / tahun pada
anak <14 thn
Anak laki-laki : perempuan 2:1
Angka kejadian SN Idiopatik 2-3
kasus / 100.000 kelahiran / tahun.

ETIOLOGI
Secara klinis sindrom nefrotik dibagi
menjadi 2, golongan, yaitu :
1. SN Primer
2. SN Sekunder

Faktor Resiko
Usia
Usia pra sekolah dengan prevalensi paling tinggi
pada usia 2-3 tahun, (dapat terjadi pada usia
berapapun).

Jenis Kelamin
Laki laki : perempuan = 2:1

Penyakit sistemik
penyakit
sistemik
seperti
systemic
lupus
erythematosus
(SLE)
dan
Henoch
schonlein
merupakan
penyakit
sistemik
yang
dapat
menyebabkan sindroma nefrotik sekunder.

Patofisiologi

PROTEINURIA
HIPOALBUMINEMIA
EDEMA
HIPERLIPIDEMIA

52

Underfilled

Overfilled

PATOFISIOLOGI

Proteinuria masif
dimana dalam urin terdapat protein
40mg/m2 lpb/jam atau 50mg/kgBB/24
jam atau dipstick 2+
Hipoalbuminemia
terjadi apabila kadar albumin dalam
darah < 2,5 gr/100 ml
Hiperlipidemia
apabila kolesterol serum lebih dari
200mg/dl
10

Manifestasi Klinis
Sembab
Sembab berpindah dengan perubahan posisi,
tampak spt sembab muka pada pagi hari bangun
tidur, & kemudian bengkak pada ekstremitas
bawah pada siang harinya(pitting edema).

Diare sembab mukosa usus.

Hepatomegali sintesis albumin meningkat


atau edema / keduanya.
Sesak Nafas : Efusi Pleura
Hipertensi

11

DIAGNOSIS
o
o

o
o

Anamnesis
Keluhan yang sering diteukan adalah bengkak di
kedua kelopak mata,perut,tungkai,atau seluruh
tubuh .
Pemeriksaan Fisis
Pada pemeriksaan fisik SN dapat ditemukan
edema di kedua kelopak mata tungkai atau
adanya asites dan edema skrotum/labia

56

Diagnosis Banding
1. Glomerulonefritis Akut Post
Streptokokus (GNAPS)
Glomerulonefritis akut /
glomerulonefritis akut post
sterptokokus (GNAPS) adalah suatu
proses radang non-supuratif yang
mengenai glomerulus, sebagai akibat
infeksi kuman streptokokus beta
hemolitikus grup A. Penyakit ini sering
mengenai anak-anak.
13

GNAPS
Klinis yang umumnya muncul:
Keluhan : anoreksia, lemas, tidak
jarang disertai demam, (tanda penyakit
infeksi)

Hematuria makroskopis (gross) sering


ditemukan, hampir 40% dari semua
pasien. Hematuria ini tidak jarang
disertai keluhan-keluhan ISK bawah
walaupun tidak terbukti secara
bakteriologis.
14

PP pada GNAPS
Pemeriksaan urinalisis
sering didapatkan hematuria makroskopis,
jumlah urin berkurang, berat jenis urin meninggi,
ada proteinuria (albuminuria +), eritrosit (+),
leukosit (+), dan sedimen urin berupa silinder
leukosit, eritorsit, hialin, dan berbutir.
Kadar LED meninggi.
Kadar komplemen C3
90% kadar komplemen C3 rendah. Kadar ini
diperiksa sejak 2 minggu pertama sakit.

15

Protokol pengobatan SN
International Study of Kidney Disease in Children
(ISKDC)
memulai

dengan pemberian prednison oral sebesar


60 mg/m2/hari dengan dosis maksimal 80 mg/hari
selama 4 minggu

kemudian

dilanjutkan dengan dosis rumatan


sebesar 40 mg/m2/hari secara selang sehari dengan
dosis tunggal pagi hari selama 4 minggu, lalu
setelah itu pengobatan dihentikan.

Steroid

dimulai apabila gejala menetap atau


memburuk dalam waktu 10-14 hari.

16

Tatalaksana Medika Mentosa


Sindrom nefrotik serangan pertama
1. Perbaiki KU penderita
Diet tinggi kalori, rendah garam, rendah
lemak.
. Na : 1-2 gram/hari. Protein 1,5-2
gram/kgBB/hari.
Tingkatkan kadar albumin serum.
Berikan antibiotik bila ada tanda-tanda
infeksi.
17

Tatalaksana SN
2. Berikan terapi suportif yang diperlukan:

Tirah baring bila ada edema anasarka.


Diuretik diberikan bila ada edema

anasarka atau mengganggu aktivitas.


furosemid 1-3 mg/kgBB/hari.
Selama pengobatan diuretic perlu
dipantau kemungkinan hipokalemia,
alkalosis metabolic, atau kehilangan
cairan intravascular berat.
18

Th/: Non Medika Mentosa


=O= Intervensi Diet
Tujuan diet untuk mengganti
kehilangan protein terutama albumin
atau mengurangi edema dan menjaga
keseimbangan cairan tubuh.
Selain itu juga bertujuan memonitor
hiperkolesterolimia dan penumpukan
trigliserida serta mengontrol
hipertensi dan mengatasi anoreksia
19

KOMPLIKASI

SN yang tidak diobati, dapat menyebabkan


berbagai komplikasi. Seperti, hipovolemia,
hipertensi, hiperlipidemia, hiperkoagulopati,
terlambat tumbuh kembang, dan anemia.

Asites kronis jika tidak diobati, menyebabkan


dilatasi dindning abdominal. Menyebabkan
hernia umbilical, rectal prolaps, kesulitan
bernapas, nyeri skrotum.

Penderita SN berisiko tinggi mengalami infeksi,


terutama dengan streptococcus pneumonia.
20

Prevensi & Edukasi

Sindoma Nefrotik sering tidak dapat


dicegah

Segera setelah ditegakannya


diagnosis Sindrom Nefrotik, pasien
dan keluarga pasien perlu diedukasi
terlebih dahulu mengenai perihal apa
yang dialami pasien, penanganannya,
dan hasil yang diharapkan.
21

PROGNOSIS
Prognosis umumnya baik

22

KESIMPULAN

Sindrom nefrotik (SN) merupakan sekumpulan


manifestasi klinis yang ditandai oleh proteinuri
masif, hipoalbuminemi, edema,
hiperkolesterolemia dengan etiologi yang tidak
diketahui atau berbagai penyakit tertentu.

Penatalaksanaan SN meliputi terapi spesifik


untuk kelainan dasar ginjal atau penyakit
penyebab, menghilangkan /mengurangi
proteinuria, memperbaiki hipoalbuminemi serta
mencegah dan mengatasi penyulit.

23