Anda di halaman 1dari 14

PENATALAKSANAAN KURATIF TERBATAS I

PERILAKU PASIEN DI PERAWATAN GIGI

Anggota
Nailul Husna (P1337425215001)
Anisa Puspita Rahayu (P1337425215007)
Ratna Puspita (P1337425215018)
Tasya Anjani Putri Tunjungsari
(P1337425215027)
Mayril Yusrin Syarfina (P1337425215029)
Viki Kumala Dewi (P1337425215032)
Winda Nur Hidayati (P1337425215038)
Gian Sandi Prayoga (P1337425215050)

Komunikasi yang baik


Selain gangguan fisik, pasien juga mengalami beban
psikologik atau ketegangan jiwa,untuk itu seorang petugas
kesehatan harus memahami bagaimana cara berkomunikasi
yang baik dengan pasien. Karena gangguan fisik dan beban
psikologik itu, sebagian besar pasien akan sulit untuk
melakukan komunikasi atau bekerja sama dengan dengan
staf klinik,dokter,dan tenaga kesehatan lainnya. Hal tersebut
sangat mengganggu upaya pertolongan dalam prosedur
pengobatan, terutama pada kasus gawat darurat. Dengan
mengetahui cara komunikasi yang baik antara petugas
kesehatan dan pasien dapat dengan segera menciptakan
hubungan atau komunikasi yang positif, dapat mengurangi
rasa cemas dan ingin diperhatikan.

Cara petugas kesehatan menyampaikan informasi sangat


mempengaruhi hasil dan kejelasan informasi yang diterima oleh
pasien. Hal ini juga berkaitan dengan kenyamanan selama
tindakan , Keberhasilan atau kegagalan upaya pertolongan dan
kesalahpahaman dalam menilai apa yang telah mereka terima
selama dalam perawatan. Para pasien akan kesulitan , terutama
bila ada unsur kesengajaan , untuk menjelaskan faktor-faktor
yang mungkin menjadi penyebab suatu komplikasi . Pasien baru
mengerti mengapa petugas bertanya secara rinci , apabila
dijelaskan kaitan informasi yang diinginkan dengan terapi yang
akan dijalankan. Kelancaran komunikasi antara pasien dan
petugas kesehatan sangat membantu pertukaran informasi
diantara kedua belah pihak. Landasan untuk membina hubungan
yang baik tersebut adalah rasa saling percaya diantara kedua
belah pihak.

Pendengar yang baik

Macam-macam perilaku pasien


Perilaku merupakan hasil dari segala macam pengalaman
dan interaksi
manusia dengan lingkungannya.Wujudnya bisa berupa
pengetahuan, sikap, dan tindakan.Perilaku manusia
cenderung bersifat menyeluruh (holistik).Perilaku
manusia merupakan pencerminan dari berbagai unsur
kejiwaan yang mencakup hasrat, sikap, reaksi, rasa
takut, atau cemas, dan sebagainya. Perilaku kesehatan
adalah respon seseorang terhadap stimulus yang
berhubungan dengan konsep sehat, sakit, dan
penyakit.Sedangkan perilaku kesehatan gigi adalah
pengetahuan, sikap, dan tindakan yang berkaitan dengan
konsep sehat dan sakit gigi serta upaya pencegahannya

Klasifikasi perilaku anak menurut Wright


a. Kooperatif(Cooperative)
Sikap kooperatif ini ditunjukkan dengan sikap anak yang cukup tenang, memiliki rasa takut
yang minimal, dan antusias terhadap perawatan gigi dan mulut yang diberikan. Anak
dengan sikap kooperatif memudahkan tenaga kesehatan dalam melakukan perawatan dan
pendekatan yang dapat dilakukan, yakni
dengan menggunakan teknik tell show do (TSD).

b. Tidak mampu kooperatif (Lacking in cooperative ability)


Kategori ini terdapat pada anak-anak yang masih sangat muda misalnya anak usia
dibawah 3 tahun dengan kemampuan komunikasi yang terbatas dan pemahaman yang
kurang mengenai perawatan yang akan dilakukan. Kelompok lain yang termasuk dalam
kategori tidak mampu kooperatif adalah mereka dengan keterbatasan fisik maupun
mental. Oleh karena itu, anak dengan kondisi seperti ini membutuhkan teknik manajemen
perilaku yang khusus, misalnya dengan menggunakan premedikasi maupun anastesi
umum.

c. Berpotensikooperatif(Potentially cooperative)
Kategori perilaku ini berbeda dengan tidak mampu kooperatif.Karena anak dalam kategori
ini memiliki kapabilitas untuk menjadi kooperatif.Sehingga diperlukan kompetensi tenaga
kesehatan yang mampu melakukan manajemen perilaku dalam mengembangkan potensi
kooperatif menjadi kooperatif.

Klasifikasi perilaku anak menurut


Frankl
a. Jelas negatif (--)
Anak menolak perawatan gigi yang akan dilakukan. Penolakan ini ditunjukkan dengan cara menangis
keras, penuh rasa takut, mengisolasi diri, anak bersikap menentang dan tidak mau mendengar apapun
yang dikatakan oleh tenaga kesehatangigi.

b. Negatif (-)
Anak enggan menerima perawatan, bersikap tidak kooperatif, menunjukkan beberapa perilaku negatif,
tetapi tidak diucapkan misalnya cemberut atau menyendiri.

c. Positif (+)
Anak mau menerima perawatan tetapi selalu bersikap hati-hati, bersedia untuk menuruti tenaga
kesehatannya dengan mengajukan syarat tetapi si anak tersebut tetap mengikuti arahan tenaga
kesehatannya secara kooperatif.

d. Jelas positif (++)


Anak menjalin hubungan yang baik dengan tenaga kesehatan, anak tertarik dengan prosedur perawatan
gigi, anak juga merasa senang, menikmati prosedur perawatan gigi, menunjukkan kontak verbal yang
baik, dan banyak bertanya. Akan tetapi kelemahan dari klasifikasi Frankl adalah teknik tersebut tidak
spesifik sehingga mampu menggambarkan situasi secara tepat dan tidak sesuai dengan fakta di
lapangan.Pendiagnosaan perilaku negatif dan sangat negative bertentangan dengan etika dan memberi
pencitraan yang tidak baik.

Penatalaksanaan perilaku pasien

Cara Komunikasi Yang Baik Antara Dokter Dan Pasien


Saat Sebelum Pengobatan Dilakukan.
Untuk membuat rencana pengobatan, diperlukan cukup
masukan informasi klinis untuk membuat suatu diagnosis
yang tepat. Pastikan pasien mengerti bahwa semua
pertanyaan yang diajukan digunakan untuk memberikan
cara pengobatan yang terbaik bagi dirinya . Beri
kesempatan pada pasien menentukan pengobatan yang
ditawarkan. Sebaliknya, pasien membutuhkan informasi
tentang kondisi kesehatannya dan pilihan prosedur klinik
yang akan dilakukan. Gunakan bahasa sederhana
sehingga mereka mengerti pertanyaan yang diajukan dan
informasi yang telah diberikan. Petugas kesehatan harus
menjelaskan informasi khusus dan penting untuk pasien.

Cara Komunikasi Yang Baik Antara Dokter Dan Pasien


Selama Prosedur Klinik

Selama prosedur klinik ,Perhatian dan


bantuan yang diberikan oleh dokter atau
petugas kesehatan dapat mengurangi
kecemasan dan rasa nyeri yang dialami oleh
pasien. Dialog yang disampaikan secara
lembut dan menenangkan , dapat
mengalihkan fokus perhatian pasien dan rasa
kurang nyaman yang sedang dialaminya.
Peran dokter dan semua petugas pelayan
dalam menerapkan hal ini akan memberikan
hasil yang luar biasa.

Cara Komunikasi Yang Baik Antara Dokter Dan Pasien


Setelah Tindakan

Tenangkan pasien dengan penjelasan


tentang kondisi kesehatan dan hasil
tindakan yang telah dilakukan .
Setelah rasa khawatir dan
kecemasan , akibat prosedur yang
dihadapinya berkurang, berikan
beberapa informasi baru tentang
langkah perawatan dan pemantauan
lanjutan.

Petunjuk Berkomunikasi Untuk Cara Komunikasi Yang Baik


Antara Dokter Dan Pasien :

Cara komunikasi yang baik antara dokter dan pasien hendaknya


memperhatikan petunjuk umum berikut ini :
Dengarkan keluhan dan ungkapan perasaan pasien, jangan
memotong pembicaraan.
Beri kesan bahwa kita sedang mendengar dan mencoba
memahami apa yang diungkapkan pasien.
Jawab setiap pertanyaan dengan sabar dan penuh perhatian.
Berikan penjelasan secara singkat , lengkap, dan mudah
dimengerti. Ulangi informasi penting yang harus diketahui oleh
pasien.
Gunakan istilah umum dan sederhana, jangan gunakan bahasa
medis yang tidak dimengerti oleh pasien.
Tunjukkan isyarat atau komunikasi nonverbal, misalnya
mendekat atau tersenyum