Anda di halaman 1dari 26

OM SWASTYASTU

KELOMPOK IX
Putu Putri Larasati
Gita Apsari Dewi
Ni Putu Sintya Sari

1406305021
1406305023
1406305067

ETIKA LINGKUNGAN

Dimensi Polusi Dan Penyusutan


Sumber Daya

Etika Pengendalian Produksi


Etika Konservasi Sumber Daya Yang
Bisa Habis
Meningkatnya Perhatian Bisnis
Terhadap Etika Lingkungan

DIMENSI POLUSI DAN PENYUSUTAN


SUMBER DAYA

Polusi
kontaminasi
lingkungan.

Polusi Udara

mengacu
yang

pada

tidak

pencemaran

diinginkan

Polusi Air

atau

terhadap
Polusi Tanah

Penyusutan sumber daya mengacu pada penggunaan atau


konsumsi pada sumber daya yang terbatas.

1. Penyusutan Species dan


Habitat
Penangkapan ikan yang
menggunakan cara yang
illegal

Eksploitasi kayu oleh


industri kayu ataupun
non kayu

2. Penyusutan Bahan Bakar


Fosil

Semakin berkembangnya industri semakin


besar pula kebutuhan akan pemenuhan
sumber energy. Sumber energi ini diperoleh
dari bahan bakar fosil, penggunaan yang
tanpa etika ini menyebabkan kelangkaan
3. Penyusutan Mineral
penyusutan mineral adalah suatu hal yang tidak
dapat dihindarkan karena eksploitasi besar-besaran
tanpa melihat sisi negative terhadap lingkungan dan
ekonomi dalam jangka panjang.

ETIKA PENGENDALIAN PRODUKSI

Etika Ekologi
Etika ekologi adalah sebuah etika yang
mengklaim bahwa kesejahteraan dari bagian-bagian
non-manusia di bumi ini secara intrinsik memiliki
nilai tersendiri dan bahwa, karena adanya nilai
intrinsik ini, kita manusia memiliki tugas untuk
menghargai dan mempertahankannya.

Hak Lingkungan dan Pembatasan


Mutlak

Menurut William T. Blackstone,


lingkungan yang nyaman bukanlah
sesuatu yang kita semua inginkan,
melaikan sesuatu dimana yang lain
berkewajiban untuk memungkinkan kita

Utilitarianisme dan
Pengendalian Parsial

Pendekatan utilitarian menyatakan bahwa seseorang perlu


berusaha menghindari polusi karena dia juga tidak ingin
merugikan kesejahteraan masyarakat.

Biaya Pribadi dan Biaya


Sosial
Ketika
suatu
perusahaan

mencemari
lingkungan maka biaya pribadi selalu lebih kecil
dibanding dengan biaya social totalnya.
Polusi membebankan biaya eksternal, dan hal
ini selanjutnya berarti biaya-biaya produksi (biaya
pribadi atau internal) lebih kecil dibandingkan biaya
sosial.

Penyelesaian: Tugas-Tugas
Perusahaan

Penyelesaian untuk masalah biaya eksternal, jika menurut


utilitarian yang dapat dilakukan dengan memasukkan biaya
polusi atau pencemaran ke dalam perhitungan,sehingga biayabiaya ini ditanggung oleh produsen dan diperhitungkan untuk
menentukan harga komoditas mereka.

Keadila
n

Adanya pandangan keadilan retributive dan keadilan


kompensatif, maka muncul biaya pengendalian polusi harus
ditanggung

Biaya dan
Keuntungan

Thomas Klein memberikan ringkasan prosedur analisis biayakeuntungan dengan mengidentifikasi biaya dan keuntungan,
mengevaluasi biaya dan keuntungan, dan menambahkan biaya dan
keuntungan

Ekologi Sosial, Ekofeminisme, dan


Kewajiban untuk Memelihara
Ekologi social, merupakan krisis lingkungan yang kita
hadapi sekarang ini berakar dalam sistem-sistem hierarki dan
dominasi sosial yang menjadi karakteristik masyarakat.
Ekofeminisme digambarkan sebagai dimana
terdapat beberapa hubungan penting (historis,
eksperensial, simbolis,teoritis)antara dominasi atas
kaum perempuan dan dominasi atas alam, sebuah
pemahaman yang sangat penting baik bagi etika

ETIKA KONSERVASI SUMBER DAYA


YANG BISA HABIS

Etika konservasi sumber daya yang bisa habis


mengacu pada penghematan sumberdaya alam untuk
digunakan di masa mendatang

kepedulian
lingkungan yang
dangkal (shallow
ecology)
kepedulian lingkungan
yang dalam (deep
ecology)

ENAM MASALAH YANG


TIMBUL BERKAITAN DENGAN
LINGKUNGAN
1. Limbah
4. Hujan
Beracun

Asam

2. Efek Rumah
Kaca

5.
Penebangan
Hutan

3. Perusakan
Lapisan
Ozon

6.
Pencemaran
Udara

MENINGKATNYA PERHATIAN BISNIS


TERHADAP ETIKA LINGKUNGAN

1. Lingkungan hidup sebagai the


commons
The commons adalah ladang umum yang
dulu dapat ditemukan dalam banyak
daerah pedesaan di Eropa dan
dimanfaatkan secara bersama sama oleh
semua penduduknya. Sering kali the
commons adalah padang rumput yang
dipakai olehsemua penduduk kampong
2.
Lingkungan
hidup
tidak
lagi
tempat pengangonan ternaknya.
eksternalitas
Dengan demikian serentak juga harus
ditinggalkan pengandaian kedua tentang
lingkungan hidup dalam bisnis modern
yakni bahwa sumber-sumber daya alam itu

KASUS

PEMBAKARAN LIMBAH MEDIS


RSUD
BANGLI
Dunia
medis biasanya identik dengan lingkungan

yang
bersih dan jauh dari pencemaranatau polusi. Tetapi bagaimana
apabila pencemaran tersebut justru dilakukan sendiri oleh pihak
medis. Kasus inilah yang terjadi di daerah bangli, dimana
pembakaran limbah medis yang dilakukan oleh rumah sakit
umum daerah bangli berdampak buruk terhadap masyarakat
sekitar. Kepulan asap hitam dan disusul dengandebu yang
berjatuhan
di
areal
pemukimanmembuat
masyarakat
terkadang mengunci putra-putri mereka di kamar agar tidak
menghirup asap atau pun debu yang berjatuhan akibat adanya
pembakaran limbah.
Mesin incinerator yang digunakan untuk melakukan
pembakaran jaraknya juga sangat dekat dengan pemukiman
warga sekitar 3 meter dan bau yang ditimbulkan oleh asap dan
debu hasil pembakaran sangatlah menyengat sehingga warga
tidak dapat melakukan aktivitas di pekarangan/halaman rumah
serta tidak jarang pula debu-debu hasil pembakaran yang berupa
gumpalan-gumpalan hitam mengotori lingkungan termasuk
jemuran warga.

PEMBAHASAN

Dalam kasus pembakaran limbah, RSUD Bangli telah


melakukan pelanggaran etika terhadap lingkungan. Dimana mereka
melakukan tindakan yang merugikan lingkungan atau pencemaran
terhadap lingkungan yang diakibatkan oleh kepulan asap dari hasil
pembakaran limbah atau sering disebut pencemaran udara.
Limbah medis termasuk salah satu limbah bahan berbahaya
dan beracun (B3).Menurut UU No. 32 Tahun 2009 pada Bab I,
Limbah Bahan berbahaya dan beracun adalah zat, energy, dan/atau
komponen lain yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau jumlahnya,
baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan
dan/atau merusak lingkungan hidup dan/atau membahayakan
lingkungan hidup, kesehatan sertakelangsungan hidupmanusia
dan makhluk lain.

Dalam hal ini pihak rumah sakit tidak menjalankan AMDAL


(Analisis Mengnenai dampak lingkungan). Terdapat beberapa kriteria
dalam analisis dampak lingkungan ( AMDAL ) diantaranya dalam UU
No. 32 Tahun 2009:
Besarnya jumlah penduduk yang akan terkena dampak rencana usaha
dan/atau kegiatan.
Luas wilayah penyebaran dampak.
Intensitas dan lamanya dampak tersebut berlangsung.
Dapat dilihat dari penjelasan AMDAL diatas, pihak rumah sakit
mengabaikan dampak-dampak yang terjadi dari pembakaran limbah
rumah sakit sehingga mengakibatkan adanya pihak yang dirugikan
oleh kegiatan pembakaran limbah yakni masyarakat sekitar. Dari pihak
rumah sakit juga tidak merespon pengaduan yang dilakukan
masyarakat terhadap pencemaran pembakaran limbah.

Dilihat dari pendekatan-pendekatan yang digunakan sebagai


dasar pemikiran untuk menjalankan tanggungjawab lingkungan
hidup, pihak rumah sakit tidak melaksanakan pemikiranpemikiran tersebut, yang diantaranya:
Teori hak atas lingkungan.
Teori Deontology.
Utilitarianisme.
Keadilan.
Peran pemerintah disini sangat diperlukan untuk
menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Pemerintah tidak bisa
hanya berdiam diri saja atau hanya mengandalkan peraturan
yang telah berlaku tetapi pemerintah juga harus turun secara
langsung baik sebagai pihak ketiga ,karena peraturan atau UU
yang di buat oleh pemerintah belum tentu berjalan secara efisien
susuai dengan isi peraturan atau Undang-undang secara tertulis.
Tidak hanya pemerintah yang berperan dalam penyelesaian
kasus ini, kesadaran dari pihak rumah sakit juga sangat
diperlukan.

OM SHANTI SHANTI SHANTI


OM