Anda di halaman 1dari 16

ETIKA KEDOKTERAN

FORENSIK
dr. Henky, Sp.F., M.BEth., FACLM.

henky@unud.ac.id

Learning Outcomes
Mampu bersikap dan berperilaku sesuai dengan standard

nilai moral yang luhur dalam praktik kedokteran


forensik.
Bersikap sesuai dengan prinsip dasar etika kedokteran
dan pedoman etik kedokteran forensik Indonesia.
Mampu mengambil keputusan terhadap dilema etik yang
terjadi pada pelayanan kedokteran forensik.

henky@unud.ac.id

Prinsip Etika Kedokteran


Hippocrates (460 - 377 SM)

Doing good, not doing harm.

Beauchamp and Childress


Autonomy.
Beneficence.
Non-maleficence.
Justice.

henky@unud.ac.id

Fungsi Spesifik IKF


Mempergunakan

ilmu kedokteran untuk membantu

peradilan.
Etika kedokteran forensik praktik
forensik yang baik.
Kekhususan:
Interaksi dengan penegak hukum.
Dualisme: pasien dan korban/pelaku.
Certifying & Assessing doctors

henky@unud.ac.id

kedokteran

Peran IKF
Expertise (sbg certifying physician):
Mengubah fakta empirik menjadi

kebenaran ilmiah
untuk kepentingan peradilan & penegakan hukum.
Etiko-medikolegal (sbg assessing physician):
Pemeriksaan salah/benar dalam professional conduct
dokter di MKEK/MKDKI.
Pembuatan penalaran hukum di bidang pelayanan
kesehatan (medical & legal reasoning).
Penyelesaian sengketa anggota profesi.

henky@unud.ac.id

Prinsip Etika Kedokteran Forensik


Profesionalisme.
Objektifitas/Pihak netral.
Imparsialitas.
Kerjasama intraprofesional.
Kerjasama interprofesional.
Privacy.
Konfidensialitas.

henky@unud.ac.id

Privacy
Konsep peran ganda korban sebagai pasien & BB.
IKF memeriksa korban sebagai benda bukti.
Walaupun sebagai BB bukan berarti hak asasinya hilang.
Pemeriksaan forensik bukan atas kehendak bebas/rela.
Oleh karena itu privacy harus tetap dijaga.
Segala sesuatu yang diperiksa dokter atas permintaan &
untuk keperluan polisi dan hakim Rahasia Jabatan

henky@unud.ac.id

Konfidensialitas
Rahasia Jabatan: asas kepercayaan (-), pejabat negara.
Rahasia Pekerjaan: asas kepercayaan (+), swasta.
Dokter Rahasia Kedokteran asas kepercayaan (+).
Rahasia Kedokteran tetap disimpan hingga pasien .
Di pengadilan hak tolak (verschoningsrecht).
Dapat diungkap dalam kondisi:

Persetujuan pasien,
Perintah hukum/pengadilan,
Kepentingan umum terkait masalah kesehatan dan keselamatan.

henky@unud.ac.id

Kode Etik Kedokteran Forensik (1)


2. Dokter forensik harus tetap objektif dan menggunakan
kemampuannya sebaik-baiknya sehingga keadilan dapat
dilayani dengan fakta kedokteran forensik yang akurat.
8. Keterangan ahli dan atau visum et repertum yang diajukan ke
depan pengadilan harus merupakan keterangan ahli yang
independen dan imparsial dan juga harus terlihat demikian
(should be and should be seen to be), tidak dipengaruhi oleh
apa dan siapapun, baik bentuk maupun isinya).
9. Sebagai saksi ahli, dokter forensik harus memberikan bantuan
yang independen kepada pengadilan dengan pendapatnya
yang objektif dan tidak bias, serta tidak sekali-kali berperan
sebagai advokat.
henky@unud.ac.id

Kode Etik Kedokteran Forensik (2)


10. Sebagai saksi ahli, dokter forensik harus menyajikan fakta yang
objektif dan menyeluruh serta dasar pemikiran dan sumber dari
mana pendapatnya dikemukakan.
11. Sebagai saksi ahli, dokter forensik harus dapat menjelaskan
sedemikian rupa dengan tidak menjawab pertanyaan atau
menerangkan masalah yang berada di luar keahliannya.
12. Sebagai saksi ahli, dokter forensik harus memastikan bahwa
keterangannya adalah benar, seluruhnya benar dan tiada lain selain
benar.
15. Dokter forensik harus mendukung sejawatnya yang telah melakukan
profesinya sesuai dengan standar tetapi memperoleh penekanan
oleh pihak lain sehingga kebebasan profesinya terganggu.

henky@unud.ac.id

Pedoman Perilaku dan Etik


di Kamar Jenazah

Menghormati martabat jenazah.


Menghormati dan mengakomodir

keragaman

agama dan budaya.


Mengenakan pakaian yang sepatutnya.
Objektif dan tidak bias.
Bekerja dengan standar profesi tertinggi.
Menerapkan standar pemeriksaan sesuai
prosedur yang berlaku.
henky@unud.ac.id

Pedoman Perilaku dan Etik


di Kamar Jenazah (2)
Selalu mengembangkan keilmuannya.
Menjaga keutuhan rantai barang bukti

dengan
mencegah kontaminasi sampel, menjaga keamanan
dan keutuhan barang bukti, serta melabel dan
mencatat sampel / barang bukti.
Mematuhi aturan kesehatan dan keselamatan kerja,
termasuk prosedur penanganan pencegahan infeksi.
Menyadari pentingnya keamanan dan akses yang
terbatas di kamar jenazah.
henky@unud.ac.id

Pedoman Perilaku dan Etik


di Kamar Jenazah (3)

Menjaga kerahasiaan medis.


Mengakui kesalahan yang diperbuat.
Bekerja sama dalam tim.
Tidak memberikan informasi yang
kepada wartawan / pers.

henky@unud.ac.id

berlebihan

Simpulan
Ethics

in forensic medicine has specific and unique


characteristics because of its interaction between
forensic practitioners and investigators, and its dualism
role between patient and victim/perpetrator

henky@unud.ac.id

Daftar Pustaka
1. Beauchamp TL, Childress JF. The Principles of Biomedical
Ethics 7th ed. New York: Oxford University Press; 2013.
2. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Winardi T, Munim
A, Sidhi, Hertian S, et al. Ilmu kedokteran forensik. First
Edition. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 1997.
3. El-Nageh M, Linehan B, Cordner S, Wells D, McKelvie H.
Ethical Practice in Laboratory Medicine and Forensic
Pathology. WHO Regional Publications; 1999.
4. Kode Etik Kedokteran Forensik Indonesia; 2004.

henky@unud.ac.id

THANK YOU

henky@unud.ac.id