Anda di halaman 1dari 11

Asuhan Kebidanan pada Ibu dengan Mola

Hidatidosa, Kehamilan Ektopik terganggu


dan Ruptura Uteri

Mola Hidatidosa
Definisi

Klasifikasi

Etiologi

Mola hidatidosa (atau hamil anggur) adalah


kehamilan abnormal berupa tumor jinak yang
terbentuk akibat kegagalan pembentukan janin.
Mola hidatidosa juga dapat didefinisikan sebagai penyakit yang
berasal dari kelainan pertumbuhan calon plasenta (trofoblas
plasenta) dan diserai dengan degenerasi kistik villi serta
perubahan hidropik.
Komplit, apabila tidak terdapat adanya tanda-tanda embrio, tali
pusat, atau membran. Biasanya memiliki 46 kromosom yang
hanya berasal dari pihak ayah (paternal).
Inkomplit (parsial), bila selain proliferasi trofoblas terdapat
element mudigah. Ciri histologik: gambaran edema villi hanya fokal
dan proliferasi trofoblas hanya ringan dan terbatas pada lap.
Sinsitiotrofoblas. Umumnya mati pada Trimester I.

Penyebab penyakit ini belum diketahui pasti, namun diduga


terdapat faktor sosial ekonomi yang memicu:
- Perkawinan pada usia muda kurang dari 15th dan diatas 45th.
- Pernah mengalami mola hidatidosa atau abortus.
- Kekurangan nutrisi, seperti kekurangan protein, kalori dan
defisiensi vitamin A

lanjutan...
Patofisiologi

sel-sel trofoblas yang up normal meresopsi cairan


yang berlebih kedalam villi sehingga timbul
gelembung-gelembung yang menyebabkan
gangguan peredaran darah dan kematian
mudigah (janin). Akan tetapi villus-villus yang
membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh
terus, gambaran yang diberikan ialah sebagai
sekaligus buah anggur. Jaringan trofoblas pada
villi kadang-kadang keras, dan mengeluarkan
hormon HCG (Human Chorionic Gonadothropin)
dalam jumlah yang lebih besar daripada
kehamilan biasa.

lanjutan...

Tanda Gejala

Rencana asuhan

Penanganan

- Perdarahan pervaginam
- Suatu pertumbuhan abnormal dalam ukuran uterus
bberkaitan dengan umur kehamilan. Ada pertumbuhan
berlebihan dalam kira-kira 1/2 kasus dan pertumbuhan lebih
kecil dibanding yang diharapkan di (dalam) kira-kira 1/3
kasus.
- Sesak napas.
- Ovarium biasanya nyeri tekan dan membesar.
- Tidak ada denyut jantung janin.
- Pada palpasi tidak ditemukan bagian-bagian janin
- Gejala yang menyerupai preeklampsia yang terjadi pada trimester
pertama atau awal trimester kedua.
a) Beritahu ibu dan keluarga tentang kondisi ibu saat ini.
b) Perbaiki KU Ibu
c) Anjurkan ibu untuk istirahat
d) Berikan ibu terapi B6
e) Anjurkan untuk melakukan rujukan.
f) Beri tahu ibu tentang Mola Hidatidosa yang di
alaminya.
g) Lakukan pendokumentasian.

a. Kuretase isap (suction curettage)


b. Histerektomi abdominal (operasi pengangkatan rahim)
c. Program lanjut

Kehamilan Ektopik
Terganggu
Definisi

Klasifikasi

Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang terjadi bila sel


telur berimplementasi dan tumbuh di luar endometrium
kavum uter
1. Kehamilan Tuba, fertilisasi yakni penyatuan ovum dengan
spermatozoon terjadi di ampula tuba.
2. Kehamilan Ovarium, jarang di temukan. Keluhan yang lebih
sering dikaitkan dengan perdarahan pervaginam dalam jumlah
banyak, diagnosis ini akan di tegakkan jika penurunan kadar hCG
berlangsung dan pemeriksaan ultrasonografi mendukung
3. Kehamilan Serviks, merupakan kehamilan dengan nidasi di kanalis
servikalis, dinding servik menjadi tipis dan membesar. Kehamilan di
servikalis ini jarang dijumpai. Tanda dari kehamilan ini adalah:
kehamilan terganggu, perdarahan, tanpa nyeri, abortus spontan.
4. Kehamilan Abdomen, primer: apabila ovum di fertilisasi dan
berimplantasi langsung di kavum abdomen. sekunder: terjadi bila fetus
keluar dari tempat implantasi primernya melalui suatu robekan ataupun
memalui ujung fimbria dan berimplantasi di kavum abdomen

lanjutan...

Etiologi

Patofisiologi

Kehamilan ektopik terjadi karena hambatan pada perjalanan


sel telur dari indung telur (ovarium) ke rahim (uterus).
yang diperkirakan sebagai penyebabnya adalah:
a. Infeksi saluran telur (salpingitis), dapat menimbulkan
gangguan pada motilitas saluran telur.
b. Riwayat operasi tuba.
c. Cacat bawaan pada tuba, seperti tuba sangat panjang.
d. Kehamilan ektopik sebelumnya.
e. Aborsi tuba dan pemakaian IUD.
f. Kelainan zigot, yaitu kelainan kromosom.
g. Bekas radang pada tuba; disini radang menyebabkan
perubahan-perubahan pada endosalping, sehingga walaupun
fertilisasi dapat terjadi, gerakan ovum ke uterus terlambat.
h. Operasi plastik pada tuba.
i. Abortus buatan

Prinsip patofisiologi yakni terdapat gangguan mekanik terhadap


ovum yang telah dibuahi dalam perjalanannya menuju kavum uteri.
Pada suatu saat kebutuhan embrio dalam tuba tidak dapat terpenuhi
lagi oleh suplai darah dari vaskularisasi tuba itu

lanjutan...

Tanda Gejala

Rencana asuhan

Penanganan

-Nyeri panggul atai abdomen


- Perdarahan uterus abnormal (biasanya berupa bercak perdarahan)
-Pusing, pandangan berkunang-kunang
-Ketegang abdomen
-Perubahan pada uterus yang dapat terdorong ke satu sisi oleh
massa kehamilan, atau tergeser akibat perdarahan. Dapat ditemukan
sel desidua pada endometrium uterus

a. Beritahu ibu dan keluarga kondisi ibu saat ini


b. Jelaskan pada ibu bahwa kehamilan di luar rahim, kehamilan ini
biasanya tidak bertahan berakhir dengan abortus
c. Ibu segera memeriksakan kehamilannya lebih lanjut ke dokter
spesialis kandungan agar ibu dan keluarga lebih jelas dengan
tindakan lebih lanjut untuk kehamilannya
d. Anjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan gizi
e. Menjelaskan pada ibu tengtang resiko kehamilan yang berulang
itu dilaporkan berkisar antara 0-14,6% kemungkinan melahirkan bayi
cukup bulan 50%

laparotomi
salpingektomi

Ruptura Uteri
Merupakan salah satu komplikasi yang serius dalam bidang
kebidanan dan obstetrik. Hal ini sering kali berakibat fatal
bagi janin dan juga dapat menyebabkan kematian ibu.

Definisi

Korpus uteri

Menurut
lokasinya

Segmen bawah rahim


( SBR )
Serviks uteri
Kolpoporeksi
s
Kompleta

Klasifikasi

Menurut robeknya
peritoneum
Menurut
etiologinya

Inkompleta
Ruptur uteri spontanea
Ruptura Uteri violenta
(traumatika)

Menurut Gejala
Klinis

Ruptura uteri imminens ( membakat =


mengancam)
Ruptura urteri
(sebenarnya)

lanjutan...

Etiologi

Patofisiologi

a. Ruptur jaringan parut uterus (riwayat kuretase)


b. Persalinan yang terhambat akibat disproporsi cephalopelvik
c. Stimulasi yang berlebihan pada uterus pada induksi persalinan
d.Paritas tinggi

Mekanisme utama dari ruptura uteri disebabkan oleh


peregangan berlebihan dari uterus yang kadang disertai
pembentukan cincin retraksi patologis pada ruptura uteri. Bila
disproporsi yang terjadi sedemikian besar maka uterus menjadi
sangat teregang dan kemudian dapat menyebabkan ruptura.
Walaupun jarang, dapat timbul konstriksi atau cincin lokal uterus
pada persalinan yang berkepanjangan. Yang paling sering adalah
cincin retraksi patologis Bandl. Pada waktu in partu, korpus uteri
mengadakan kontraksi sedang SBR tetap pasif dan serviks
menjadi lembek (effacement dan pembukaan). Bila oleh sesuatu
sebab partus tidak dapat maju (obstruksi), sedang korpus uteri
berkontraksi terus dengan hebatnya (his kuat), maka SBR yang
pasif akan tertarik ke atas menjadi bertambah regang dan tipislingkaran Bandl ikut meninggi, sehingga suatu waktu terjadilah
robekan pada SBR tadi- Ruptura Uteri.

lanjutan...

Tanda Gejala

a. Partus telah lama berlangsung.


b. Pasien nampak gelisah, ketakutan, disertai dengan perasaan
nyeri di perut.
c.Pada setiap datangnya his pasien memegang perutnya dan
mengerang kesakitan bahkan meminta supaya anaknya
secepatnya dikeluarkan.
d. Pernafasan dan denyut nadi lebih cepat dari biasa.
e. Ada tanda dehidrasi karena partus yang lama (prolonged labor),
yaitu mulut kering, lidah kering dan haus, badan panas (demam).
f. His lebih lama, lebih kuat dan lebih sering bahkan terus-menerus.
g.Perasaan sering mau kencing karena kandung kemih juga tertarik
dan teregang ke atas, terjadi robekan-robekan kecil pada kandung
kemih, maka pada kateterisasi ada hematuri.
h. Pada auskultasi terdengar denyut jantung janin tidak teratur (asfiksia).
i. Di antara korpus dan SBR nampak lingkaran Bandl sebagai lekukan
melintang yang bertambah lama bertambah tinggi, menunjukkan SBR
yang semakin tipis dan teregang. Sering lingkaran Bandl ini dikelirukan
dengan kandung kemih yang penuh, untuk itu lakukan kateterisasi
kandung kemih. Dapat peregangan dan tipisnya SBR terjadi di dinding
belakang sehingga tidak dapat kita periksa, misalnya terjadi pada
asinklitismus posterior atau letak tulang ubun-ubun belakang.
j. Pada pemeriksaan dalam dapat dijumpai tanda-tanda obstruksi seperti
edema porsio, vagina, vulva dan kaput kepala janin yang besar

lanjutan...

Rencana asuhan

Penanganan

a. Beritahu ibu dan keluarga kondisi ibu saat ini


b. observasi TTV
c. observasi perdarahan dari luka
d. penuhi nutrisi dan hidrasi ibu
e. Perbaiki kehilangan darah dengan pemberian infus Intravena
cairan sebelum pembedahan.

-rujuk agar persalinannya berlangsung di dalam rumah sakit


yang mempunyai fasilitas yang cukup dan di awasi dengan
penuh dedikasi oleh petugas berpengalaman
-histerektomi
-histerorafia, yaitu luka di eksidir pinggirnya lalu di jahit sebaikbaiknya