Anda di halaman 1dari 21

REAKSI

HIPERSENSITIVITAS
Farhan Husein
1510211069

Definisi
Hipersensitivitas adalah
peningkatan reaktivitas atau
sensitivitas terhadap antigen yang
pernah dipajankan atau dikenal
sebelumnya. (Imunologi Dasar
FKUI, 2012)

Reaksi cepat

Reaksi lambat
Tipe 1/ Alergi

el
G

Tipe 2/ Sitolitik

l&

Reaksi
Hipersensitivita
s

W
ak

tu

tim

bu
l

Reaksi
intermediet

Co
bs
om

Tipe 3/
Kompleks imun
Tipe 4
Tipe modifikasi

Waktu timbulnya reaksi


1. Reaksi cepat
Terjadi dalam hitungan detik,
hilang dalam 2 jam.
2. Reaksi intermediet
Terjadi setelah beberapa jam,
hilang dalam 24 jam
3. Reaksi lambat
Terjadi setelah 48jam terpajanan

Faktor Penyebab
Hipersensitifitas
Faktor genetik => di sebabkan oleh
keturunan
Faktor makanan => kekebalan tubuh
melepas antibodi sebagai respon
terhadap masuknya makanan
tertentu.
Faktor fisik => kelelahan merupakan
salah satu penyebab utama dan
paling mengganggu fisisk yang
menimbulkan alergi.

Faktor psikis => stres dapat


menimbulkan alergi.
Faktor lingkungan => lingkungan
sekitar seperti debu, asap
kendaran, asap rokok, bau cat, dll.
Faktor cuaca => udara panas,
lembab, dan perubahan cuaca
ekstrim dapat mengakibatkan
alergi.

Macam-macam alergen
Alergen
Obat
hormon
Darah / produk darah
Enzim
makanan
Venom / bisa
Lain-lain

Contoh
Antibiotik, analgesik,
vaksin,
Insulin, progesteron
Imunoglobulin IV
streptokinase
Susu, telor, ikan, kacang
tanah
Lebah, semut api
Tungau debu, polen

Obat-obat yg biasanya memicu


terjadinya alergi
Nama obat
Paracetamol
Aspirin
Ibuprofen
Penicilin
Amoksilin
Antibiotik golongan sulfa :
sulfadoxin, sulfadiaxine

golongan
Analgesik, antipiretik
Analgesik, antipiretik
Analgesik, antipiretik
Antibiotik
Antibiotik
Antibiotik

Reaksi Tipe I (Alergi)


Disebut juga reaksi cepat atau
reaksi anafilaksis.
Reaksi ini timbul segera sesudah
terpajan dengan alergen.
Terdapat 3 fase:
Fase sensitasi Pembentukan Ig E
sampai diikat silang oleh reseptor
Fase aktivasi Pajanan ulang
Fase efektor Waktu terjadi respon
kompleks (anafilaksis)

Urutan kejadian reaksi Tipe 1


1. Fase sensitisasi: waktu yang dibutuhkan
u/ pembentukan IgE sampai diikat oleh
reseptor spesifik (Fce-R) pada
permukaan sel mast & basofil
2. Fase aktivasi: waktu yg diperlukan
antara pajanan ulang dengan antigen
spesifik & sel mast melepas isinya yang
berisi granul yg menimbulkan reaksi
3. Fase efektor: waktu terjadi respons
kompleks (anafilaksis) sebagai efek
mediator yang dilepas sel mast dengan
aktivitas farmakologik

Reaksi Tipe II (Reaksi


sitolitik)
Hipersensitivitas tipe II disebabkan oleh
antibodi yang berupa Imunoglobulin G
(IgG) dan Imunoglobulin M (IgM) untuk
melawan antigen pada permukaan sel.

IgG dan IgM berikatan dengan antigen


di permukaan sel
Fagositosis sel target atau lisis sel target
oleh komplemen, ADCC dan atau
antibodi
Pengeluaran mediator kimiawi
Timbul manifestasi (anemia hemolitik
autoimun, eritoblastosis fetalis, sindrom
Good Pasture atau pemvigus vulgaris)

Manifestasi Klinik
1. Reaksi Transfusi kasus
golongan darah
2. Penyakit hemolitik bayi baru lahir
karena inkompatibilitas Rh
dalam kehamilan
3. Anemia hemolitik Antibiotika
tertentu diabsorbsi nonspesifik
membentuk hapten Ab
mengikat obat pada SDM lisis

Reaksi Tipe III (Kompleks Imun)


Hipersensitivitas tipe II merupakan
hipersensitivitsa kompleks imun.
Hal ini disebabkan adanya
pengendapan kompleks antigenantibodi yang kecil dan terlarut
dalam jaringan. Hal ini ditandai
dengan timbulnya inflamasi atau
peradangan.

(lanjutan)
Kompleks Imun mengendap di
dinding pembuluh darah
antigen biasanya berasal dari
kuman patogen yang persisten,
bahan yang terhirup atau dari
jaringan sendiri.
disebabkan tidak adanya
respons antibodi yang efektif.

(lanjutan)
Bentuk Reaksi:
Reaksi Lokal atau Fenomena
Arthus ditemukan dgn
menyuntikkan serum kuda ke
dalam kelinci intradermal
Reaksi tipe III sistemik (serum
sickness) kompleks imun kecil
sulit dibersihkan fagosit.

Reaksi Tipe IV
Hipersensitivitas tipe IV dikenal
sebagai hipersensitivitas yang
diperantarai sel atau tipe lambat
(delay-tipe). Reaksi ini terjadi
karena aktivitas perusakan
jaringan oleh sel T dan makrofag.
Yang berperan: CD4+ dan CD8+

(lanjutan)
Manifestasi Klinis
a. Dermatitis Kontak akibat
kontak dengan bahan tidak
berbahaya
b. Hipersensitivitas Tuberkulin
alergi bakterial spesifik thdp
produk filtrat biakan M.
tuberkulosis
c. Reaksi Jones Mote terhadap

d. Penyakit CD8+ kerusakan


terjadi pada sel CD8+ yang
langsung membunuh sel sasaran.