Anda di halaman 1dari 24

TASAWUF & TAREKAT

ALFIAN // 13660002
DIMAS MAULANA FASYA //
13660105


1. Asal-usul Tasawuf:
SECARA ETIMOLOGI
Ada beberapa sumber tentang pengertian Tasawuf
menurut etimologi, diantaranya berkata bahwa tasawuf
berasal dari kata "Sufi". Pandangan yang umum adalah kata
itu berasal dari Suf, bahasa Arab untuk wol, merujuk kepada
jubbah sederhana yang dikenakan oleh para asetik Muslim.
Namun tidak semua Sufi mengenakan jubah atau pakaian dari
wol. Teori etimologis yang lain menyatakan bahwa akar kata
dari Sufi adalah Safa, yang berarti kemurnian. Hal ini menaruh
penekanan pada Sufisme pada kemurnian hati dan jiwa. Teori
lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata Yunani
theosofie artinya ilmu ketuhanan.

SECARA TERMINOLOGI
Tasawuf (Tasawwuf) atau Sufisme adalah ilmu untuk
mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihkan
akhlaq, membangun zhahir dan batin, untuk memporoleh
kebahagiaan yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan
gerakan zuhud (menjauhi kesenangan duniawi) dalam Islam,
dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme
Islam.
Syekh Abdul Qodir al-Jilani berpendapat bahwa taswuf
adalah mensucikan hati dan melepaskan nafsu dari
pangkalnya dengan kholwah, riyadoh dan terus-menerus
berdzikir dengan dilandasi iman yang benar, mahabbah,
taubat dan ikhlas.

Obyek Ilmu Tasawuf:


Obyek ilmu tasawuf adalah perbuatan hati dan panca indera ditinjau dari segi cara
pensuciannya.

Buah Ilmu Tasawuf:


Buah tasawuf adalah terdidiknya hati mengetahui (marifah) terhadap ilmu gaib
secara ruhani, selamat di dunia dan bahagia di akhirat, dengan mandapat
keridoan Allah.

Keutamaan Ilmu Tasawuf:


Ilmu tasawuf adalah ilmu yang paling mulia karena berkaitan dengan marifah
kepada Allah Taala dan mahabbah kepada-Nya.

Hubungan ilmu tasawuf dengan ilmu yang lainnya:


Nisbah ilmu taswuf terhadap ilmu yang lain baagikan nisbah ruh bagi jasad. Ilmu
tasawuf adalah ruh, sementara ilmu yang lain adalah jasad. Jasad tidaklah dapat
hidup tanpa ruh.

Pencipta Ilmu Tasawuf :


Pencipta ilmu tasawuf adalah Allah Tabaraka wa Taala. Allah menciptakan ilmu ini
kepada Rasulullah dan para Nabi yang sebelumnya.

Nama Ilmu Tasawuf


Ilmu tasawuf mempunyai beberapa nama, antara lain sebagai
berikut:
A. Ilmu Batin
b. Ilmu al-Qalbi
c. Ilmu Laduni
d. Ilmu Mukasyafah
e. Almu Asrar
f. Ilmu Maknun
g. Ilmu Hakikat

Pilar Ilmu Tasawuf


Pilar ilmu tasawuf ada lima perkara
a. Taqwallah (bertakwa kepada Allah) baik sewaktu sirr
maupun alabiyah (terbuka).
b. Mengikuti Sunnah baik qauli maupun fili serta
mengaktualisasikannya dalam penjagaan diri dan akhlak yang
baik.
c. Berpaling dari makhluk yang diwujudkan dalam sikap sabar
dan tawakkal.
d. Rida terhadap ketentuan Allah yang diwujudkan dengan
sikap qonaah dan menerima (tafwid).
e. Kembali kepada Allah baik sikala senang maupun di waktu
susah.

Sumber Ilmu Tasawuf


Ilmu tasawuf diambil dari Al-Quran dan Sunnah Rasulullah
Saw. Juga dari atsar assabitah (jejak yang sudah tetap) dari
umat-umat pilihan di masa silam.

Hukum Mempelajari Ilmu Tasawuf


Hukum mempelajarai ilmu tasawuf adalah wajib ain artinya
kewajiban yang mengikat kepada setiap individu muslim.

Masalah-masalah yang dibahas dalam ilmu Tasawuf


Masalah inti yang dibahas dalam ilmu tasawuf adalah sifat-sifat
jiwa manusia, cara-cara pensucian jiwa, dan penjelasan istilahistilah yang khas dalam disiplin ilmu ini misalnya; maqamat,
taubat, zuhud, wara, al-mahabbah, fana baqa dan yang
lainnya.

2. RUKUN TASAWUF
Al-Kalabazi dengan mengutip pendapat Abu al-Hasan Muhammad bin
Ahmad al-Farisi menerangkan bahwa rukun tasawuf ada sepuluh macam,
antara lain :
1. Tajrid at-Tauhid (memurnikan tauhid)
2. Memahami informasi. Maksudnya mendengar tingkah laku bukan hanya
mendengar ilmu saja.
3. Baik dalam pergaulan.
4. Mengutamakan kepentingan orang banyak ketimbang kepentingan diri
sendiri.
5. Meninggalkan banyak pilihan.
6. Ada kesinambungan antara pemenuhan kepentingan lahir dan batin.
7. Membuka jiwa terhadap intuisi (ilham).
8. Banyak melakukan bepergian untuk menyaksikan keagungan alam
ciptaan Tuhan sekaligus mengambil pelajaran.
9. Meninggalkan iktisab untuk menumbuhkan tawakkal.
10. Meninggalkan iddikhar (banyak simpanan) dalam keadaan tertentu
kecuali dalam rangka mencari ilmu.

3. PERKEMBANGAN TASAWUF
Secara keilmuan, tasawuf adalah disiplin ilmu yang baru dalam
syariat Islam, demikian menurut Ibnu Khaldun. Adapaun asal-usul
tasawuf menurutnya adalah konsentrasi ibadah kepada Allah,
meninggalkan kemewahan dan keindahan dunia dan menjauhkan diri
dari Allah SWT.
Akar-akar tasawuf dalam Islam merupakan penjabaran dari ihsan.
Ihsan sendiri merupakan bagian dari trilogi ajaran Islam. Islam
adalah satu kesatuan dari iman, islam dan ihsan. Islam adalah
penyerahan diri kepada Allah secara zahir, iman adalah Itikad batin
terhadap hal-hal gaib yang ada dalam rukun iman, sedangkan ihsan
adalah komitmen terhadap hakikat zahir dan batin.
Islam, iman dan ihsan adalah landasan untuk melakukan suluk
dan taqqarub kepada Allah. Iz bin Abdissalam berpendapat bahwa
sistematika keberagamaan bagi kaum muslimin, yang pertama
adalah Islam. Islam merupakan tingkat pertama beragama bagi
kaum awam. Iman adalah tingkatan pertama bagi hati orang khusus
kaum mukminin, sedangkan ihsan adalah tingkatan pertama bagi ruh
kaum muqarribin.

4. Tahapan-tahapan Supaya bisa


Dekat Dengan Allah
1. Taubah
Taubah ada tiga tingkatan :
a) Taubah orang sadar
Awalnya kebiasaan yang terjadi dalam linngkungan beragama
tetapi akhirnya menjadi tinggi dalam perasaan tambah-tambah
menjadi peringatan.
b) Taubat Salik
Taubah orang salik bukan dari dosa dan kesalahan dan bukan dari
penyesalan dan istigfar tetapi terjadi karena perpindahan kondisi
jiwa yang naik menjadi sempurna sehingga dapat menghadirkan
Allah dalam setiap gerak nafasnya.
c) Taubat Arif
Taubat seorang arif (orang yang marifah) bukan dari dosa atau
dari menyalahi jiwa tetapi taubah dari kelupaan terhadap dirinya
sendiri bahwa dirinya itu dalam gemgaman Tuhannya.

2. Zuhud
Awal mula zuhud adalah sikap wara dalam beragama yakni
menjauhi hal-hal yang diharamkan syara. Memang kewaraan
dapat menimbulkan keinginan untuk berlaku zuhud secara
ruhani secara mendalam. Hanya makna zuhud secara sufistik
lebih jauh dari itu.

3. Wara (al-Wara)
Secraa lugawi wara artinya hati-hati. Secara istillahi wara
adalah sikap menahan diri agar hatimu tidak menyimpang
sekejap pun dari mengingat Allah.

Wara ada empat tingkatan


a. Wara orang awam, Ialah wara orang kebanyakan yaitu menahan
diri dari melakukan hal-hal yang dilarang Allah.
b. Wara orang saleh, Menahan diri dari menyentuh atau memakan
sesuatu yang mungkin akan jatuh kepada haram.
c. Wara muttaqin, Menahan diri dari sesuatu yang tidak diharamkan
dan tidak syubhat karena takut jatuh kepada haram.
Nabi bersabda, yang artinya :
Seorang hamba tidak akan mencapai derajat muttaqin sehingga
dia meninggalkan apa yang tidak berdosa karena takut akan apa
yang dapat menimbulkan dosa (Ibnu Majah).
d. Wara orang benar, Menahan diri dari apa yang tidak berdosa
sama sekali dan tidak khawatir jatuh ke dalam dosa, tapi dia
menahan diri melakukannya kaena takut tidak ada niat untuk
beribadat kepada Allah.

4. Faqr (al-Faqr)
Faqr berarti kekurangan harta dalam menjalankan kehidupan
di dunia. Sikap faqr harus dimiliki oleh seorang salik sewaktu
menjalankan suluknya.
5. Sabar (as-Sabr)
Sabar berarti tabah dalam menghadapi segala kesulitan tanpa
ada rasa kesal dan menyerah dalam diri. Sabar juga dapat
berarti tetap merasa cukup meskipun kenyataannya tidak
memiliki apa-apa.
6. Syukur (as-Syukr)
Syukur yang berarti berterima kasih. Allahlah yang telah
memberikan nikmat dan berokah kepada umat manusia. Allah
berfirman : Jika kamu bersyukur, maka kami akan
menambahkan nikmat kepadamu (al-Baqarah :

7. Tawakal (at-Tawakkal)
Tawakkal arti dasarnya berserah diri kepada Allah. Secara
sufistik tawakkal adalah penyerahan diri hanya kepada
ketentuan Allah.
8. Rida (ar-Rida)
Rida artinya meninggalkan ikhtiar. Menurut al-Muhaisibi rida
adalah tentramnya hati dibawah naungan hukum.
Menurut an-Najjar, ahli rida terbagi empat tipe. Pertama,
golongan orang yang rida atas segala pemberian Al-Haq dan
inilah makrifat. Kedua, golongan orang rida atas segala
nikmat, itulah dunia. Ketiga, golongan yang rida atas musibah
dan itlah cobaan yang beragam. Keempat, golongan yang rida
atas keterpilihan, itulah mahabbah.
.

9. Al-Marifah
Marifah artinya mengenal atau melihat (melihat tuhan dengan
mata hati).
Dzunnun al-Misri membagi marifah menjadi tiga bagian : 1)
Marifah mukmin, 2) Marifah ahli kalam, 3) Marifah Auliya
muqarrabin. Sufi membagi manusia pada tiga klasifikasi.
Pertama, tingkatan kaum arif yang mendapatkan kebahagiaan
sebab hikmah (wisdom). Kedua, tingkatan orang-orang
mukmin yang mendapatkan kebahagiaan karena memiliki
keimanan. Ketiga, tingkaatn orang-orang bodoh dan mereka
ini orang-orang yang binasa

TAREKAT


1. Pengertian Tarekat

Asal kata tarekat dalam bahasa arab ialah Thariqah yang


berarti jalan, keadaan, aliran, atau garis pada sesuatu. Tarekat
adalah jalan yang ditempuh para sufi. Dapat pula
digambarkan sebagai jalan yang berpangkal dari syariat.
Menurut Harun Nasution, tarekat berasal dari kata thariqah,
yang artinya jalan yang harus ditempuh oleh seorang calon
sufi agar ia berada sedekat mungkin dengan Allah.
Pengertian lain tentang tarekat yaitu, tariqah adalah khazanah
kerohanian (esoterisisme). Dalam Islam dan sebagai salah
satu pusaka keagamaan yang terpenting karena dapat
mempengaruhi perasaan dan pikiran kaum. Serta sangat
penting dalam proses pembinaan mental beragama
masyarakat.

2. Hubungan Tarekat dengan Tasawuf


Tasawuf itu adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah
dengan sedekat mungkin, melalui penyesuaian rohani dan
memperbanyak ibadah. Usaha mendekatkan diri biasanya
dilakukan di bawah bimbingan seorang guru/syaikh. Ajaranajaran tasawuf yang harus ditempuh untuk mendekatkan diri
kepada Allah itu merupakan hakikat tarekat yang sebenarnya.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tasawuf adalah
usaha mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan tarekat itu
adalah cara dan jalan yang ditempuh seorang dalam usahanya
mendekatkan diri kepada Allah.

3. Sejarah Timbulnya Tarekat


Harun Nasution menyatakan bahwa setelah al-Ghazali menghalalkan
tasawuf yang sebelumnya dikatakan sesat, tasawuf berkembang di dunia
Islam, tetapi berkembangnya melalui tarekat. Tarekat adalah organisasi
dari pengikut sufi-sufi besar yang bertujuan untuk melestarikan ajaranajaran tasawuf gurunya.
Para awal kemunculannya, tarekat berkembang dari dua daerah, yaitu
khurasan (Iran) dan Mesopotamia (Irak). Pada periode ini mulai timbul
beberapa, di antaranya:
1. Tarekat Yasariyah yang didirikan oleh Ahmad al-Yasari (wafat 562 H/
1169 M) dan disusul oleh tarekat Kharwajagawiyah yang disponsori oleh
Abd al-Khariq al-Ghuzdawani (wafat 617 H/ 1220 M).
2. Tarekat Naqsabandiyah, yang didirikan oleh Muhammad Baharuddin
an-Naqsabandi al-Awisi al-Bukhari (wafat 1389 M) di Turkistan.
3. Tarekat Khalwatiyah yang didirikan oleh Umar al-Khalwati (wafat 1397
M). tarekat Khalwatiyah adalah salah satu tarekat yang terkenal
berkembang di berbagai negeri, seperti Turki, Siria, Mesir, Hijaz, dan
Yaman. Tarekat Khawaltiyah pertama kali muncul di Turki dan didirikan
oleh Amir Sultan (wafat 1439 M).
4. Tarekat Safawiyah yang didirikan oleh Safiyudin al-Ardabili (wafat 1334
M)

Di daerah Mesopotamia masih banyak tarekat yang muncul


dalam periode ini dan cukup terkenal, tetapi tidak termasuk
rumpun al-Junaid tarekat-tarekat ini antara lain:
1. Tarekat Qadariyah yang didirikan oleh Muhy ad-Din abd alQadr al-Jailani (471 H/ 1078 M).
2. Tarekat Syadziliyah yang dinisbatkan kepada Nur ad-Din
Ahmad asy-Syadzili (593-656 H/ 1196-1258 M).
3. Tarekat Rifaiyah yang didirikan oleh Ahmad bin Ali ar Rifai
(1106-1182).

Orang-orang sufi mempunyai jalan rohani, yang menjadi


tempat mereka berjalan. Thariqah (jalan) ini berdasar pada
asas dan petunjuk serta berpatokan pada al-Quran al-Karim
dan as-Sunnah Nabi asy-Syarif.
Para tokoh sufi yang menjelaskan bahwa dalam
menempuh jalan menuju Allah Azza wajalla, mereka
mengandalkan al-Quran al-Karim. Jalan ini telah dilakukan
oleh orang-orang sufi dan telah nyata hasilnya. Prinsip jalan
sufi ini dinamakan al-Maqamat wal ahwaal (kedudukan dan
keadaan).

4. Pengaruh Tarekat di Dunia


Islam
Tarekat mempengaruhi dunia Islam mulai dari abad ke-13.
Kedudukan tarekat pada saat itu sama dengan PARPOL (Partai
Politik). Bahkan, banyak tentara juga menjadi anggota tarekat.
Penyokong tarekat Bektashi, umpamanya, adalah tentara
Turki. Oleh karena itu, waktu tarekat itu dibubarkan oleh
Sultan Mahmud II. Tentara Turki yang disebut Jenissari
menentangnya. Jadi, tarekat itu hanya bergerak dalam
persoalan dunia yang mereka pikirkan.
pada abad ke-19 mulailah timbul pemikiran yang sinis
terhadap tarekat dan juga terhadap tasawuf. Banyak orang
menentang dan meninggalkan tarekat/tasawuf.
Akan tetapi, pada akhir-akhir ini perhatian kepada tasawuf
timbul kembali karena dipengaruhi oleh paham materialism.
Orang-orang barat melihat bahwa materialism itu memerlukan
sesuatu yang bersifat rohani, yang bersifat immateri sehingga
banyak orang yang kembali memperhatikan tasawuf.

KESIMPULAN
Peralihan tasawuf yang bersifat personal pada tarekat yang
bersifat lembaga tidak terlepas dari perkembangan dan
perluasan tasawuf itu sendiri. Dalam perkembangannya
tarekat-tarekat itu bukan hanya memusatkan perhatian pada
tasawuf ajaran-ajaran gurunya., tetapi juga mengikuti
kegiatan politik,. Jadi sungguhpun mereka memusatkan
perhatian kepada akhirat, mereka pun ikut bergerak
menyelamatkan umat islam dari bahaya yang mengancamnya.
Tariqah mengandung arti organisasi (tarekat), maknanya yang
asli yang merupakan paduan yang khas dari doktrin, metode,
dan ritual. Istilah inipun sering dipakai untuk mengacu pada
organisasi yang menyatukan pengikut-pengikut jalan tertentu.
Tarekat meliputi segala aspek ajaran yang ada dalam agama
Islam, seperti Shalat, Puasa, Zakat, Haji dan sebagainya.

SEKIAN DAN
TERIMA KASIH

WASSALAMUALAIKU
M