Anda di halaman 1dari 24

PAJAK

PENGHASILAN

UU No 6/83 Sttd 28/07 Ps 1


kontribusi wajib kepada
negara
yg terutang oleh OP/Badan
yg bersifat memaksa
berdasarkan UU,
dengan tidak
mendapatkan
imbalan secara langsung
dan digunakan utk
keperluan
negara
bagiSttd
sebesarUU
No 7/83
36/08 Ps 4
besarnya
(1)
Tambahan kemampuan
kemakmuran
rakyat.
ekonomis
yang diterima/diperoleh
WP,
baik yg berasal dari
Indonesia
maupun dari luar
Indonesia,
yang dapat dipakai untuk
konsumsi/untuk
menambah

Pajak

Penghasilan

UU No 7/83 Sttd 36/08


Ps. 1

Pajak
Penghasilan
dikenakan
terhadap
Subyek Pajak
atas Penghasilan
yg
diterima/diperoleh
dalam tahun
pajak.

Pajak
Penghasilan
Penghasilan

Kas Negara

Pajak

Subjek Pajak

APBN
Untuk kemakmuran
Rakyat RI

KARAKTERISTIK PPh INDONESIA


Jenis/gol
Pajak
Sifat
Pajak

Dipikul sendiri o/ WP, tdk dpt dibeban

Pajak Langsung kan/dilimpahkan kepada orang lain

Pajak Subjektif Memperhatikan keadaan diri WP

Stelsel
Pajak

Stelsel campuranAwl thn besarnya pajak dihitung berdasarkan anggapan, akhir thn disesuai
(riel & fictieve Stsl)

Asas
Pemungutan

Asas Domisili & Subjek DN, dikenakan pjk brdasrkan


Asas Sumber asas domisili. Subjek LN dikenakan

Sistem
Pemungutan

Self Assesment

kan dg yg sebenarnya

berdasarkan asas sumber

Menghitung, membayar dan


melaporkan sendiri

SUBJEK
PAJAK
Pasal 2 (1) UU PPh
Segala sesuatu yg
mempunyai potensi u/
memperoleh Ph & menjadi
sasaran u/ dikenakan PPh

Subjek
Pajak

1. Orang Pribadi
2. Warisan Belum Terbagi

BADAN

BENTUK USAHA TETAP


(BUT)

SUBJEK PAJAK ORANG PRIBADI


DAN WARISAN BELUM TERBAGI

SubjekPaja
k
pengganti

Memori penjelasan Pasal 2 ayat (1) huruf a.

OP DN
Meninggal
Dunia

SP
Orang
Pribadi

Bertempat tinggal
Atau
Berada di Ind >
183 hr dlm 12 bln
Atau
Berada & berniat
tinggal di Ind

T
OP LN

Warisan berupa
kegiatan usaha

Bagi
waris
SP berpindah
Ke Ahli waris

SUBJEK PAJAK BADAN


Memori penjelasan Pasal 2
ayat (1) huruf b.

perseroan terbatas (PT)


perseroan komanditer (CV)
perseroan lainnya
BUMN dan BUMD dg nama
dan bentuk apapun
Firma (Fa)
kongsi
sekumpulan orang dan atau modal koperasi
yang merupakan kesatuan baik
dana pensiun,
yang melakukan usaha maupun
persekutuan,
tidak
perkumpulan,
yayasan,
organisasi massa,
organisasi sosial politik,
lembaga,
bentuk usaha tetap (BUT)
Badan usaha lainnya
termasuk reksadana

BADAN

SUBJEK PAJAK BUT


Ps. 2 (5)
Bukan
BUT

OP LN
T
Ada tempat usaha
(place of business)
yg bersifat permanen

BADAN LN

Active Income :
Menjalankan usaha Y
(business)
Melakukan kegiatan
(activities)

Tidak semata-mata
memperoleh :
Employment
income
Pasive Income
(bunga,
dividen, sewa &
royalti

BUT

SUBJEK PAJAK BUT


Ps. 2 (5)

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.

n
O

Place of
Business
Tempat
kedudukan manajemen;

Cabang perusahaan;
Kantor perwakilan;
Gedung kantor;
Pabrik;
Bengkel;
Gudang
Ruang untuk promosi dan penjualan
Pertambangan dan penggalian sumber alam
Wilayah kerja pertambangan minyak & gas bumi
Perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan, atau kehutanan;
Proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan;
Pemberian jasa dalam bentuk apa pun oleh pegawai atau orang lain,
sepanjang
dilakukan lebih dari 60 hari dalam jangka waktu 12 bulan;
Orang/badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak bebas;
Agen/pegawai dari perusahan asuransi yg tidak didirikan & tidak bertempat
kedudukan
di Indonesia yg menerima premi asuransi atau menanggung risiko di
Indonesia
Komputer, agen elektronik, atau peralatan otomatis yg dimiliki,
disewa,/digunakan oleh

SUBJEK
PAJAK
Pasal 2 (2) UU PPh
SUBJEK PAJAK
LUAR NEGERI

SUBJEK PAJAK
DALAM NEGERI
Orang Pribadi Warisan Blm Terbagi Badan

Pemenuhan
kewajiban
Perpajakannya
dipersamakan

Orang Pribadi

Badan

mnjalankn
Y usaha/melakukan
kegiatan usaha
melalui
BUT

PPh Ps.26
Atau
Tax treaty

KEWAJIBAN PAJAK SUBJEKTIF


SUBJEK
PAJAK

MULAI

BERAKHIR

OP DN

Saat dilahirkan
Saat berada di Indonesia
atau
berniat tinggal di
Indonesia

Saat meninggal dunia


Saat meninggalkan
Indonesia
untuk selamanya

Warisan
belum
terbagi

Saat timbulnya warisan yg


belum terbagi
(meninggalnya pewaris)

Saat warisan selesai


terbagi

Badan DN

Saat didirikan atau


bertempat kedudukan di
Indonesia

Saat dibubarkan atau tidak


lagi bertempat kedudukan
di Indonesia

OP/Badan
LN
tidak
melalui BUT

Saat menerima atau


memperoleh penghasilan
dari Indonesia

Saat tidak lagi menerima


atau memperoleh
penghasilan dari Indonesia

OP/Badan
LN melalui
BUT

Saat menjalankan usaha


atau melakukan kegiatan
melalui BUT

Saat tidak lagi


menjalankan usaha atau
melakukan kegiatan
melalui BUT

BADAN :
Badan perwakilan negara asing
Organisasi internasional yg ditetapkan dg KMK,dengan syarat
1) Indonesia menjadi anggota
2) tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia selain pemberian pinjaman
kepada pemerintah yg dananya berasal dari iuran para
anggota;

TIDAK TERMASUK
SUBJEK PAJAK Orang Pribadi
Pejabat2 perwakilan diplomatik & konsulat/ pejabat2 lain dari
Pasal 3
negara asing & orang2 yg diperbantukan kepada mereka yg
bekerja pada & bertempat tinggal bersama-sama mereka
dengan syarat :
- bukan WNI & di Indonesia tidak menerima/memperoleh
penghasilan di luar jabatan/pekerjaannya tersebut
- negara bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik;

Pejabat2 perwakilan organisasi internasional


dengan syarat :
- bukan warga negara Indonesia dan
- tidak menjalankan usaha, kegiatan, atau pekerjaan lain
untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia.

Wajib Pajak
PPh

Penghasila
n

WAJIB PAJAK

=
Wajib Pajak

Kewajiba
n
Subjektif

Penjelasan Pasal 2 ayat (2) UU PPh

Kewajiba
n
Objektif

OP DN

Menerima dan/atau memperoleh penghasilan


> PTKP

BADAN
DN
OP dan
BADAN
LN
BUT

Saat didirikan/bertempat kedudukan di


Indonesia
Menerima dan/atau memperoleh penghasilan
dari Indonesia

WAJIB PAJAK
Pasal 1 angka 2. KUP

Wajib Pajak
Pembayar Pajak

Pemotong Pajak Pemungut Pajak

Mempunyai hak & kewajiban perpajakan


sesuai ketentuan peraturan UU Perpajakan

Kewajiban :
Mendaftarkan diri untuk mendapat NPWP
Menyampaikan SPT
Menyelenggarakan pembukuan atau catatan yang
memadai untuk dapat menghitung pajak
Menghitung, menyetor, memperhitungkan jumlah
pajak menurut cara yang ditetapkan
Memberi keterangan & memperlihatkan buku,
catatan & dokumen lain bila diminta DJP

WAJIB PAJAK OP DN Vs OP LN
Kewajiban
Perpajakan
Keberadaan

Subjek Pajak
OP DN

Brtempat tnggal di
Ind
Brada di Ind. > 183
hr
dlm jk waktu 12 bln
atau
Brada di Ind &
berniat
tinggal di Ind
Dimulai saat
Kewajiban
Pajak subjektif dilahirkan,
berada, atau berniat
tinggal di Ind.
Berakhir saat
meninggal dunia atau
meninggalkan Ind u/
slamanya
Sumber Pengh. Penghasilan dari Ind
yg dikenai
dan dari Luar Ind
pajak
(World Wide

Subjek Pajak OP LN
BUT
Non BUT
Berada di Ind 183 Tidak bertempat
hr
tinggal di Ind.
dlm jk waktu 12
atau
Berada di Ind 183
bulan
hr
dlm jk waktu 12
bulan

Dimulai saat
mnjalankan usaha/kegiatan
melalui BUT
Berakhir saat tidak
lg
mnjalankan usaha/
kegiatan melaui
BUT
Penghasilan dari Ind
dan dari Luar Ind
sepanjang dr

Dimulai saat
menerima/mperoleh penghasilan dr
Indonesia
Berakhir saat tidak
lg
menerima/mperoleh
penghasilan tsb
Penghasilan yang
berasal dari Ind saja
(asas sumber)

Hubungan Istimewa

Related party

Hubungan Istimewa
(Related Party)

Hubungangan yang ditandai adanya


pertalian, keterkaitan, dan
ketergantungan antara satu pihak dg
pihak lainnya
Sebab
Adanya :
Pertalian keluarga
Unsur Kepemilikan
Unsur penguasaan
akibat
Transaksi tidak dengan harga yg wajar
Pengthasilan dilapor kurang dari
semestinya
Biaya melebihi dari seharusnya

HUBUNGAN ISTIMEWA
ORANG PRIBADI
Ps. 18 ayat (4) UU PPh
Keluarga Sedarah

Keluarga Semenda

Ayah/Ibu

Kakak/adik
kandung

Mertua

Kakak/adik
Ipar

Andi

Anak
kandung

Anak
Tiri

HUBUNGAN ISTIMEWA
SUBJEK PAJAK BADAN
Ps. 18 ayat (4) UU PPh

HUBUNGAN ISTIMEWA
Karena kepemilikan

HUBUNGAN ISTIMEWA
KARENA PENGUASAAN

HUBUNGAN ISTIMEWA
Karena kepemilikan
1. WP memiliki penyertaan modal 25% atau lebih baik langsung
maupun tidak langsung
PT
A
Tidak
langsun
g

50%

PT
B

50%

PT
C

langsun
g

25%

PT
D

HUBUNGAN ISTIMEWA
Karena kepemilikan
2. Hubungan antara 2 pengusaha/lebih yang modalnya 25% atau
lebih dipegang oleh satu pengusaha
Tn
PT
Ahmad
A
50%
PT
B

50%

PT
C

25%

PT
D

HUBUNGAN ISTIMEWA
KARENA PENGUASAAN
Penguasaan Manajemen
PT A
PT B

PT C

Direktur=
direksi PT A

Direktur=
direksi PT A

PT D
Direktur=
direksi PT B

Penguasaan Teknologi
PT A

Teknologi

PT B

To Be Continue