Anda di halaman 1dari 52

Fisiologi

Bicara
Drg Ervin Rizali M.Kes
AIFM

Berbicara
Bahasa adalah bentuk aturan atau sistem lambang yang digunakan
dalam berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungannya yang
dilakukan untuk bertukar gagasan, pikiran dan emosi.

Percakapan
digunakan
untuk
berkomunikasi antar individu. Untuk
menyempurnakan proses percakapan
diperlukan aktivitas otot.
Bagian penting percakapan dan
bahasa adalah cerebral cortex.
(berkembang sejak lahir).

Definisi Bicara :
Bicara kemampuan seseorang
untuk berkomunikasi dengan bahasa
oral (mulut) yang membutuhkan
kombinasi yang serasi dari sistem
neuromuskular untuk mengeluarkan
fonasi dan artikulasi suara.

Kemampuan Reseptif
Melirik ke sumber suara

Memperlihatkan ketertarikan terhadap suara-suara

Umur
Lahir

2 4 bulan
6 bulan

Memberi respon jika namanya dipanggil

Kemampuan Ekspresif
-

Menangis

Tertawa dan mengoceh tanpa arti

- Mengeluarkan suara yang merupakan kombinasi huruf


hidup (vowel) dan huruf mati (konsonan)

9 bulan

Mengerti dengan kata-kata yang rutin (da-da)

Mengucapkan ma-ma, da-da

12 bulan

Memahami dan menuruti perintah sederhana

Bergumam

Mengucapkan satu kata

15 bulan

Menunjuk anggota tubuh

Mempelajari kata-kata dengan perlahan

18 24 bulan

Mengerti kalimat

Menggunakan / merangkai dua kata

24 36 bulan

Menjawab pertanyaan

Frase 50 % dapat dimengerti

Mengikuti 2 langkah perintah

Membentuk 3 (atau lebih) kalimat

Menanyakan apa

Menanyakan mengapa

Kalimat 75 % dapat dimengerti, bahasa sudah mulai

36 48 bulan

Mengerti banyak apa yang diucapkan

jelas, menggunakan lebih dari 4


kalimat
48 60 bulan

6 tahun

Mengerti banyak apa yang dikatakan, sepadan dengan -

Menyusun kalimat dengan baik

fungsi kognitif

Bercerita

100 % kalimat dapat dimengerti

Pengucapan bahasa lebih jelas

kata dalam satu

Merupakan penghubung
faring dan trakea.
Didesain untuk
memproduksi suara
(fonasi).
Laring ini tdd 9
kartilago, 3 kartilago
berpasangan dan 3 tidak
berpasangan.
Letak : pada midline
di depan cervikal
vertebra ke 3 s.d c 6.

Terdiri dari
dari tiga
tiga
Terdiri
bagian:
bagian:

Pergerakan pita suara (abduksi, adduksi dan tension)


dipengaruhi oleh otot-otot yang terdapat disekitar laring, dimana
fungsi otot-otot tersebut adalah:
1) M. Cricothyroideus
menegangkan pita suara
2) M. Tyroarytenoideus
(vocalis) relaksasi pita
suara
3) M. Cricoarytenoideus
lateralis adduksi pita
suara
4) M. Cricoarytenoideus
posterior abduksi pita
suara
5) M. Arytenoideus transversus menutup bgn
posterior rima glotidis

1. Vocal Tract merupakan


acoustic tube dari cross
section.
2. Lokasi : vocal fold - bibir.
3. Panjang 17 cm.
4. Luas area cross section :
bervariasi 0-20 cm2 dengan
penempatan bibir, rahang,
lidah, dan velum (soft
palate).
5. Panjang dan luas Nasal
Cavity : 12 cm dan 60
cm3.

Dibuat perangkap (trap-door


action) fungsi sebagai
secondary cavity
berpartisipasi dalam speech
production- nasal tract.
Sumber rangsang bunyi suara
adalah velocity volume dari
udara yang melewati vocal
cords.
V.T berfungsi sebagai filter
suara (penyaring).

Suara dasar dihasilkan vocal


Panjang Ligament yang bergetar

tract, lalu disaring dan

:18 mm dan glottal yang

dimodifikasi lagi menghasilkan

bervariasi dalam area dari 0-20

suara yang jelas. (disebut dengan

mm2.

RESONANSI dan ARTIKULASI).

Otot laryngeal yang mengatur

Kualitas akhir suara tergantung

vocal folds dibagi menjadi

pada :

TENSORS, ABDUCTORS, DAN


ADDUCTORS.

1. Ukuran

Naik dan turunnya pitch suara

2. Bentuk cavitas berhubungan

dikontrol : TENSOR CRICO-

dgn mulut dan hidung. (bentuk

THYROID dan OTOT

cavitas ini dapat berubah karena

VOCALIS.

aktivitas bgn lain).

4. Pergerakan palatum lunak, laring, dan pharynx tercapai


keseimbangan yang baik antara resonansi oral + nasal
AKHIRNYA menjadi karakteristik dari suara tiap-tiap
individu.

Artikulasi : proses penghasilan suara oleh pergerakan bibir, mandibula, lidah, dan
mekanisme palatopharyngeal dlm kordinasi dgn respirasi dan phonasi
KONSONAN gel. udara yang berkontak dari arah yang berlawanan. Misal:
1.Kontak 2 bibir saat pengucapan huruf p dan b.
2.Lidah yang menyentuh gigi dan palatum saat pengucapan huruf t dan d.

Sistem vokal dapat menghasilkan dua macam suara-suara yang tak terdengar:
FRICATIVE SOUNDS dan PLOSIVE SOUNDS.
1.FRICATIVE SOUNDS
Contoh : konsonan S,SH, F, dan TH dihasilkan ketika traktus vokal
tertutup di bbrpa titik, udara tertekan melewati konstriksi kecepatan
menghasilkan turbulensi. Konsonan ini Butuh sedikit penyesuaian artikulator, dan
sering terdengar tidak sempurna pada kasus maloklusi atau penggunaan denture.
2.PLOSIVE SOUNDS
Contoh : konsonan P, T, dan K diproduksi ketika traktus vokal tertutup
seluruhnya tekanan udara me- saat menutup lalu membuka tiba-tiba.
Untuk beberapa suara, seperti V dan Z yang terdengar : kombinasi dari dua
sumber suara.

1. Laring berperan penggetar (vibrator).


2. Elemen yang bergetar : pita suara.
Pita suara menonjol dinding lateral laring
ke arah tengah dari glotis. Posisinya diatur
dan direnggangkan bbrpa otot spesifik di
laring.

Gambar memperlihatkan irisan pita suara setelah mengangkat tepi mukosanya. Tepat di
sebelah dalam setiap pita terdapat lig. elastik yang kuat LIGAMEN VOKALIS melekat
pada anterior dari KARTILAGO TIROID (kartilago yang menonjol dari permukaan anterior
leher dan Adams Apple. Di posterior, LIGAMEN VOKALIS terlekat pada PROSESSUS
VOKALIS dari kedua KARTILAGO ARITENOID.
KARTILAGO TIROID + KARTILAGO ARITENOID ini kemudian berartikulasi pada bagian
bawah dengan kartilago lain KARTILAGO KRIKOID.

Gambar . Memperlihatkan pita suara. Selama pernapasan normal, pita akan terbuka lebar agar
aliran udara mudah lewat. Selama fonasi, pita menutup bersama-sama sehingga aliran udara
diantara mereka akan menghasilkan getaran (vibrasi). Kuatnya getaran terutama ditentukan
oleh derajat peregangan pita, juga oleh bagaimana kerapatan pita satu sama lain dan oleh
massa pada tepinya.

Pita suara dapat diregangkan Rotasi Kartilago Tiroid ke Depan atau Rotasi Posterior dari
Kartilago Aritenoid diaktivasi oleh otot-otot Kartilago Tiroid dan Kartilago Aritenoid ke
Kartilago Krikoid.
Otot-otot sebelah Lat. Lig. vokalis Otot Tiroaritenoid dapat mendorong kartilago
aritenoid ke kartilago tiroid pita suara longgar . Efek lainnya : mengubah bentuk dan massa tepi
pita suara, menajamkannya menghasilkan bunyi bernada , dan menumpulkannya suara yang
lebih (bass).

American Psychiatric Associations Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder


(DSM IV) membagi gangguan bahasa dalam 4 tipe, yaitu:

PENYEBAB

EFEK PADA PERKEMBANGAN BICARA

1. LINGKUNGAN

a. Sosial ekonomi kurang

a. Terlambat

b. Tekanan keluarga

b. Gagap

c. Keluarga bisu

c. Terlambat pemerolehan bahasa

d.
rumah menggunakan bahasa bilingual
2. Di
EMOSI

d.Terlambat pemerolehan bahasa

a. Ibu yang tertekan

a. Terlambat pemerolehan bahasa

b. Gangguan serius pada orang tua

b. Terlambat atau gangguan perkembangan bahasa

c. Gangguan serius pada anak


3. MASALAH PENDENGARAN

c. Terlambat atau gangguan perkembangan bahasa

a. Kongenital

a. Terlambat atau gangguan bicara permanen

b. Didapat
4. PERKEMBANGAN TERLAMBAT

b. Terlambat atau gangguan bicara permanen

a. Perkembangan lambat

a. Terlambat bicara

b. Perkembangan lambat, tetapi masih dalam b. Terlambat bicara


batas rata-rata
c. Pasti terlambat bicara
c.
Retardasi
mental
5. CACAT
BAWAAN
a. Palatoschizis

a. Terlambat dan terganggu kemampuan bicara

b. Sindrom Down
6. KERUSAKAN OTAK

b. Kemampuan bicaranya lebih rendah


a. Mempengaruhi kemampuan menghisap, menelan, mengunyah dan akhirnya
timbul gangguan bicara dan artikulasi seperti diasartria

a. Kelainan neuromuskular
b. Kelainan sensorimotor
c. Palsi serebral
d. Kelainan persepsi

b. Mempengaruhi kemampuan menghisap, menelan, akhirnya menimbulkan


gangguan artikulasi, seperti dispraksia
c. Berpengaruh pada pernapasan, makan dan timbul juga masalah artikulasi
yang dapat mengakibatkan disartria dan dispraksia

MEKANISME NEUROLOGI BICARA

Untuk berkomunikasi, manusia menerima


rangsang
melalui organ reseptor umum maupun
khusus.
Tahapan:

Impuls diterima oleh reseptor sensorik: organ reseptor umum


(eksteroresoptif, interoreseptif, proprioreseptif) dan organ
reseptor khusus (penglihatan, pendengaran, keseimbangan,
penghidu, pengecap) menerima rangsang.

Saraf efferent saraf otak N.I-XII dan saraf spinal: menghantarkan


impuls saraf ke pusat pemrosesan di SSP

SSP: Brocas Area (Premotor area pembuat kata terdapat


di anterior primary motor korteks dan diatas fisur sylvian),
area auditif (area Wernickes), pusat ideamotor (pusat reflex
memilih kata dan kalimat) merupakan pusat-pusat yang
terlibat dalam proses bicara.
Saraf efferent dari SSP ke SST: menyampaikan sinyal saraf
kepada efektor untuk melakukan aktifitas bicara.

Sinyal bunyi diterima area


auditorik primer kata2
Diinterpretasikan di area
Wernicke
Penentuan buah pikiran dan
kata2 yang akan diucapkan
Penjalaran sinyal dari area
Wernicke area Broca
melalui fasikulus arkuatus
Pembentukan kata
Sinyal ke korteks motorik
pengaturan otot bicara

etoArea Asosiasi Pari


oksipitotemporal
Pada ruang kortikal parietal
dan oksipital besar yang
dibatasi korteks
somatosensorik anterior,
kortrks penglihatan posterior,
dan korteks pendengaran
lateral
Area Pemahaman
Bahasa
Area Proses Awal
Bahasa Penglihatan
(Membaca)
Area Penamaan
Objek

frontal
Area Asosiasi Pre
Proses berpikir dalam benak
pikiran
Perluasan pikiran
Perencanaan pola kompleks
dan berurutan dari gerakan
motorik
Area Broca
Pembentukan kata
Berkaitan dengan area
Wernicke

bik
Area Asosiasi Lim
Belahan anterior lobus
temporalis, ventral lobus
frontalis
Pengaturan tingkah laku,
emosi, dan motivasi

Tempat pertemuan dimana


area asosiasi somatik, visual,
dan auditorik pada bagian
posterior lobus temporalis
superior

Lobus parietalis posterior yang


paling inferior (tapat di
belakang area Wernicke dan di
posterior bergabung dengan
area visual lobus oksipitalis)

Fungsi Interpretasi Bagian


Posterosuperior Lobus
Temporalis

Fungsi Interpretasi Bagian


Posterosuperior Lobus
Temporalis

- komunikasi suara di otak


bagian kiri.
- Kerusakan pada otak
belahan kiri aphasia
terhadap bahasa.
-Luka pada otak belahan
kanan tidak menyebabkan
kerusakan pada bahasa.
- Korpus kalosum
menghubungkan kedua
hemisfer

Aphasia
Kehilangan daya
pengutaraan melalui
bicara, menulis,
atau penggunaan
tanda-tanda, dan
kehilangan
pengertian bahasa
yang didengar atau
yang dibaca

Teori pemrosesan bahasa


the connectionist theory
Kata terdengar : output dari primary
auditory area diterima oleh Wernickes
area
Kata diucapkan : pola dari Wernickes
area dikirim ke Brocas area dan motor
area
Kata dijelaskan (spell) : pola auditory
dikirim ke agranular korteks dimana
bentuk-bentuk visual diperoleh
Kata dibaca : output dari area primary
visual menjadi bentuk auditory pada
Wernickes area

Teori pemrosesan bahasa


Teori moduler
bahasa diproses secara
paralel dengan berbagai
area yang berbeda yang
bertanggung jawab atas
tugas kognitif yang
berbeda

Kelainan fungsi bicara


Ganggguan artikulasi disartria
kelainan pada gerakan otot-otot
berbicara akibat kerusakan pada regio
fasial dan laringeal korteks motorik
mengakibatkan ketidakmampuan
parsial atau total untuk berbicara
dengan jelas.
Gangguan suara bicara disfonia: lemah
dalam bersuara, parau, sesak, serak.
Gangguan perkembangan bahasadisfasia: kehilangan kemampuan
dalam merumuskan, meliputi
kegagalan pengertian dalam menulis
(disleksia), tanda gerak tangan
(asimbolia), dan tanda music (amusia)

Kelainan fungsi bicara


Gangguan membaca disleksia
Gangguan irama bicarastammering: gagap, terjadi
pengulangan, pemanjangan,
keraguan mengucapkan katakata.
Gangguan sekunder: merupakan
lanjutan gangguan faktor-faktor
ketulian, mental, kejiwaan.

Untuk berkomunikasi, manusia menerima


rangsang
melalui organ reseptor umum maupun
khusus.
Tahapan:

Impuls

diterima

oleh

reseptor

sensorik:

organ

reseptor

umum

(eksteroresoptif, interoreseptif, proprioreseptif) dan organ reseptor


khusus (penglihatan, pendengaran, keseimbangan, penghidu, pengecap)
menerima rangsang.
Saraf efferent saraf otak N.I-XII dan saraf spinal: menghantarkan
impuls saraf ke pusat pemrosesan di SSP

SSP: Brocas Area (Premotor area pembuat kata terdapat di anterior primary
motor korteks dan diatas fisur sylvian), area auditif (area Wernickes), pusat
ideamotor (pusat reflex memilih kata dan kalimat) merupakan pusat-pusat yang
terlibat dalam proses bicara.
Saraf efferent dari SSP ke SST: menyampaikan sinyal saraf kepada efektor untuk
melakukan aktifitas bicara.

Study APHASIA memiliki


peranan penting dalam
memahami basis neural dari
bahasa
WERNICKES APHASIA
dimana pasien berbicara
sangat cepat, pemeliharaan
irama, grammar dan artikulasi.
Pasien tidak mampu
meninterpretasikan pikiran
yang diekspresikan. Terjadi
jika area Wernickes di
posterior hemisfer dominan
pada gyrus temporal superior
mengalami kehancuran.

Jika lesi meluas, sampai:


1.Belakang regio gyrus angular
2.Inferior ke area bawah gyrus temporal
3.Ke superior ke tepi superior fissura
sylvian
Penderita terbelakang untuk mengerti
bahasa, global
aphasia
Brocca aphasia
Pasien tidak dapat mengatur sistem
vokalnya, lambat dan sulit berbicara, artikulasi
kasar, menghasilkan suara ribut.

komunikasi suara di otak bagian kiri.


Kerusakan pada otak belahan kiri
aphasia terhadap bahasa.
Luka pada otak belahan kanan tidak
menyebabkan kerusakan pada bahasa.

TERIMAKASIH