Anda di halaman 1dari 46

DIET AND THE MICROBIAL

AETIOLOGY OF DENTAL
CARIES: NEW PARADIGMS
David J. Bradshaw and Richard J.M Lynch
International Dental Journal 2013

Anis Dien Hartini (150676094)

PROBLEM
Pencegahan karies gigi hanya pada
Streptococcus Mutans atau hanya pada diet
sukrosa tidak akan mendapatkan hasil yang
efektif

COMPARATI
VE
Pada tikus dengan perlakuan bebas
mikroba tidak ditemukan adanya
karies gigi

Pada tikus tanpa perlakuan bebas


mikroba ditemukan banyak lesi karies
aktif

INTERVENTI
ON
B. Teori Diet Gula (Sukrosa)
Penelitian dilakukan terhadap 2 populasi:
1. Anak-anak dengan konsumsi gula yang
sangat dibatasi
2. Anak-anak dengan konsumsi gula yang
tidak dibatasi

COMPARATI
VE
Anak-anak dengan konsumsi gula yang
dibatasi menunjukkan jumlah karies
yang signifikan lebih sedikit
dibandingkan dengan anak-anak
dengan konsumsi gula yang tidak
dibatasi

INTERVENTI
ON
C. Teori Fluoride Dapat Menurunkan
Efek

Metabolisme Sukrosa

Penelitian dilakukan terhadap 2 jenis populasi:


1. Populasi yang menggunakan pasta gigi
berfluoride
2. Populasi yang menggunakan pasta gigi tanpa
fluoride

COMPARAT
IVE
Pada populasi yang
menggunakan pasta gigi tanpa
fluoride menunjukkan
demineralisasi terjadi ketika
subjek diberikan diet gula

COMPARAT
IVE
Pada populasi yang menggunakan
pasta gigi dengan fluoride menunjukka
demineralisasi terjadi ketika subjek
diberikan diet gula sukrosa dengan
frekuensi 7x atau >7x lebih banyak
dari jumlah normal

PERAN BAKTERI DALAM


KARIES GIGI
Glukosa dan sukrosa dimetabolisme oleh
bakteri streptococcus mutan, menghasilkan
asam laktat yang dapat menurunkan PH di
dalam mulut

Streptococcus mutan merupakan jenis


streptococcus yang dapat tumbuh dan
berkembang serta melakukan aktivitas
metabolisme walaupun dalam kondisi PH
yang rendah

Pada perkembangan ilmu selanjutnya


diketahui bahwa streptococcus mutan bukan
bakteri spesifik penyebab karies

PERAN BAKTERI DALAM


KARIES GIGI
Pada suatu penelitian mengenai bakteri
pada lesi karies, ditemukan adanya jenis
bakteri lain, yaitu Actinomyces, Abiotrophia,
Atopobium, Bifidobacterium, Lactobacillus
dan Veillonella

Pada suatu studi diketahui meski S. mutans


sering ditemui dalam jumlah yang tinggi
dalam tahap awal karies, S. mutans juga
ditemukan dalam pasien dengan kondisi gigi
geligi yang sehat, dan secara statistik tidak
berkaitan dengan tingkat keparah karies;
melainkan jenis Propionibacterium berkaitan
dengan perkembangan karies walaupun

PERAN BAKTERI DALAM


KARIES GIGI
Pada studi ini ditemukan terdapat S. mutans
dalam jumlah banyak pada beberapa subjek,
namun beberapa subjek yang terkena karies
tidak terdapat S.mutans, namun terdapat
kenaikan jumlah S. salivarius, S.
parasanguinis, dan S. sobrinus

Berdasarkan study yang dilakukan oleh Aas


et al, Veillonella spp. Berkaitan dengan
karies dan jumlah asam yang dihasilkan oleh
bakteri. Adanya jenis Veillonella spp
diprediksi sebagai faktor resiko karies

STUDI TERHADAP INTERAKSI DIET,


MICROFLORA DAN KARIES
Pada penelitian ditemukan 3 bakteri yang
terkait, yaitu S. mutans, S. sobrinus dan
Bifidobacterium

Selain itu juga diketahui faktor diet yang


berkaitan dengan karies, termasuk jus
diantara waktu makan, solid retentive food,
putative cariogenicity of food, dan frekuensi
makan

Pada karies aktif ditemukan meningkatnya


jumlah bifidobacteria, lactobacilus, mutansstreptococci dan jamur pada saliva

Bifidobacteria dan jamur memiliki hubungan


dengan caries-associated behaviours (OH
buruk, sugar intake yang tinggi, dan

JENIS MAKANAN KARIOGENIK


SELAIN SUKROSA
Terdapat jenis karbohidrat lain yang juga
memiliki potensi untuk menyebabkan karies gigi

Pada studi diketahui starchy food tidak


menyebabkan turunnya Ph dalam mulut secepat
yang dihasilkan glukosa dan sukrosa

Namun pada jenis starchy food yang sudah


melalui berbagai macam proses pemasakan,
seperti keripik kentang dan biskuit , memiliki
retensi yang lama di dalam mulut (+- 20 menit)

Jadi, meski starchy food tidak begitu cepat


dalam menurunkan pH, sifatnya yang sangat
retentif di dalam mulut dapat terus menerus
menyebabkan pH semakin menurun hingga 15
menit.

FREKUENSI KONSUMSI GULA DN


CRITICAL PH
Kelarutan enamel tidak hanya dipengaruhi oleh
pH kritisnya, tapi juga dipengaruhi oleh derajat
saturasi enamel yang bergantung pada
konsentrasi kalsium dan fosfat pada lingkungan
dalam mulut

Meski kondisi pH plak di bawah nilai pH kritis,


enamel tidak akan larut apabila terdapat
sejumlah ion kalsium dan fosfat yang dapat
mencegah larutnya enamel.

Oleh karena itu setiap indvidu akan berbeda


derajat kelarutan enamelnya, tergantung pada
kandungan kalsium dan fosfat yang terdapat
dalam salivanya

FREKUENSI KONSUMSI GULA DN


CRITICAL PH
Diketahui bahwa fluoride dapat
menurunkan nilai pH kritis, yaitu
dengan mengurangi kecepatan
demineralisasi enamel

Semakin pH menjadi rendah, deposisi


fluoride akan semakin cepat. Hal
tersebut meningkatkan resistensi
enamel terhadap kelarutannya

FREKUENSI KONSUMSI GULA DN


CRITICAL PH
Kemampuan fluoride dalam mengurangi efek
demineralisasi yang disebabkan oleh sukrosa
telah dibuktikan oleh penelitian. Kesimpulan
yang didapat dari penelitian yang dilakukan
adalah subjek yang menggunakan pasta gigi
berfluoride akan mengalami demineralisasi
pada enamel setelah frekuensi intake
sukrosa ditingkatkan 7x lebih banyak.
Sedangkan pada subjek yang memakai pasta
gigi tanpa fluoride, demineralisasi terjadi
setelah
frekuensi
intake
sukrosa
ditingkatkan sebanyak 5x.

FREKUENSI KONSUMSI GULA DN


CRITICAL PH
Oleh karena itu dapat disimpulkan
bahwa tidak ada hubungan antara
kuantitas
intake
gula,
namun
secara
signifikan
terdapat
hubungan antara frekuensi intake
gula dengan karies

KOMPONEN YANG MEMILIKI


POTENSI ANTIKARIES
FLUORIDE
Bahan ini bisa didapatkan melalui air minum, pasta
gigi, dan produk perawatan kesehatan lainnya

Bahan ini dapat menurunkan resiko terjadinya


karies seiring dengan frekuensi aplikasi fluoride

Namun fluoride tidak memiliki efek secara langsung


atau tidak langsung terhadap bakteri

Kadar fluoride dalam cairan plak tidak cukup


banyak, oleh karena itu diperlukan sejumlah
tambahan fluoride melalui aplikasi pasta gigi
berfluoride

KOMPONEN YANG MEMILIKI


POTENSI ANTIKARIES
Sejumlah jenis gula yang tidak dapat
difermentasi, pengganti gula dan pemanis
diajukan sebagai solusi dari masalah karies
Xylitol telah dianjurkan sebagai agent anti
karies yang berpotensi
Beberapa jenis makanan dianggap memiliki sifat
kariostatik, seperti susu dan produk olahan susu
lainnya, apel, cranberies, the, kacang dan
makanan dengan serat yang tinggi
Susu dan produk olahan susu lainnya dapat
meningkakan kesehatan gigi karena memiliki
kandungan kalsium yang tinggi dan memiliki
efek sistemik

KOMPONEN YANG MEMILIKI


POTENSI ANTIKARIES
Konsumsi beberapa jenis keju kemungkinan
dapat meningkatkan laju alir saliva dan pH,
meningkatkan konsentrasi kalsium dalam plak
dan serta calcium phosphopeptide-amorphous
calcium phosphate (CPP-ACP) nano complex.
Kandungan
flavonoids
pada
apel
dan
cranberries, the dan produk lain dibuktikan
memilki kemampuan mengurangi adhesi bakteri
dan memiliki sifat antibakteri.
Bahan makan berserat dan kacang juga memiliki
kemampuan menstimulasi aliran saliva

KOMPONEN YANG MEMILIKI


POTENSI ANTIKARIES
Dalam beberapa tahun, terdapat bahan yang
potensial seperti urea, yang menstimulasi alkali
dalam plak dan mengurangi efek asam yang
dihasilkan bakteri
Diketahu bahwa pada pasien dengan gangguan
ginjal memiliki karies yang rendah, yang
dihubungkan dengan jumlah urea yang
meningkat pada salivanya dan pH saliva
meningkat

PERKEMBANGAN ETIOLOGI
KARIES
Streptococcus Mutans + Sukrosa

kroorganisme dengan jenis yang lebih bervar


+ Sukrosa dan karbohidrat jenis lainnya

Mikroorganisme + Diet + Faktor Predisposis

OUTCOME
Karies gigi merupakan penyakit yang disebabkan oleh

demineralsasi enamel, sebagai hasil dari metabolisme


karbohidrat oleh mikroflora oral serta adanya faktor
predisposisi

OUTCOM
E

Etiologi karies memiliki spektrum bakteri


yang lebih luas, bukan hanya streptococcus
mutans
Karbohidrat jenis lain juga memiliki potensi
untuk menyebabkan terjadinya karies
Karies juga dipengaruhi faktor predisposisi,
seperti kualitas dan kuantitas saliva,
fluoride, anatomi gigi gelgi, gigi tiruan dan
lainnya

STREPTOCOCCUS MUTANS,
CANDIDA ALBICANS, AND THE
HUMAN MOUTH : A STICKY
SITUATION
Khalid H. Metwalli, Shariq A. Khan, Bastiaan P. Krom, Mary Ann Jabra-Rizk
PLOS Pathogens, October 2013

RIZKY AMALIA

PROBLE
M

Karies merupakan hasil dari interaksi yang kompleks antara


spesies mikrobial dengan diet, saliva, dan genetik. Interaksi
mikroba pada biofilm akan menghasilkan produk asam, dan hal
inilah yang menginisiasi penelitian tentang spesies mikroba yang
berperan penting dalam proses karies
Streptococcus mutans merupakan organisme kariogenik utama
dikarenakan kemampuannya untuk menghasilkan glukan dan
asam dalam jumlah yang besar. Namun pada penelitian terbaru
terdapat indikasi bahwa pada saat ditemukan S. Mutans dalam
jumlah besar, pada permukaan gigi tersebut juga terdapat
Candida albicans
Candida albicans adalah spesies fungi yang umumnya berkoloni
di permukaan mukosa. Faktanya, beberapa studi in vitro
menunjukkan C. Albicans memperkuat ikatan S. Mutans pada
permukaan gigi. Hal ini mengindikasikan kemungkinan
mekanisme kerjasama antara kedua spesies ini dalam proses
karies

OUTCO
ME
Saat ini, kehadiran C. Albicans di rongga mulut
sudah dianggap sebagai faktor yang perlu
diperhatikan perannya bersama dengan S.
Mutans sebagai etiologi

OUTCO
ME

Oleh karena itu, penelitian mendatang sebaiknya fokus


Oleh
itu,
penelitian
mendatang
pada
studikarena
klinis yang
meneliti
secara mendalam
tentang
sebaiknya
fokus
pada
studidan
klinis
yang dengan
meneliti
detil interaksi
antara
S. Mutans
C. Albicans,
tujuan nantinya
untuk tentang
mengembangkan
strategi
secara
mendalam
detil interaksi
pencegahan karies

antara S. Mutans dan C. Albicans, dengan


tujuan nantinya untuk mengembangkan
strategi pencegahan karies

Sugar-sweetened
beverages and dental
caries in adults: A 4-year
prospective study
Sani Suryadarma
Eduardo Bernabe, Miira M. Vehkalahti, Aubrey Sheiham, Arpo Aromaa, Anna L. Suominen.

PROBLE
M
Konsumsi minuman mengandung pemanis
(sugar-sweetened beverages) meningkat
sangat besar di berbagai negara dalam 20
tahun terakhir
Beberapa penelitian menyimpulkan terdapat
hubungan antara jumlah gula yang
dikonsumsi dengan terjadinya karies

PROBLE
M
Karena kurangnya data mengenai hubungan
antara gula dan karies pada orang dewasa,
maka dilakukan penelitian untuk
mengetahui hubungan antara konsumsi
minuman manis dengan terjadinya karies
pada orang dewasa

INTERVENTI
ON

Sampel: 1248 subjek penelitian (orang Finlandia),


dikelompokkan berdasarkan frekuensi konsumsi,
demografis (usia, jenis kelamin), tingkat
sosioekonomi, dan faktor perilaku kesehatan
Pemeriksaan awal intra-oral, lalu dilakukan
pemeriksaan ulang sebanyak 939 orang dewasa
(428 pria, 511 wanita).
Waktu penelitian: 4 tahun

COMPARAT
IVE

COMPARATI
VE
Tabel 1:
Pada jenis kelamin pria, usia muda, tingkat
pendidikan dasar/ sekunder, dan frekuensi sikat
gigi 1x sehari, menunjukkan tingkat konsumsi
minuman manis yang lebih tinggi

COMPARART
IVE

Tabel 2:
Tingkat konsumsi minuman
manis berhubungan dengan
kenaikan DMFT.
Usia dan pemakaian pasta
gigi berflouride tidak
berhubungan dengan
kenaikan DMFT

OUTCO
ME

Kebiasaan mengonsumsi minuman manis (Sugarsweetened beverages) berhubungan dengan


kenaikan insidensi karies pada orang dewasa
Kebiasaan mengonsumsi minuman manis tidak
berhubungan dengan karakteristik sosiodemografis dan penggunaan pasta gigi berfluoride

Study on relationship
between the nutritional
status and dental caries in 812 year old children of
Udaipur city, India
NOVITA SHINTARINI

PROBL
EM

Status kesehatan individu tergantung dari nutrisi yang baik


pada masa kanak-kanak
Obesitas
berkontribusi
karbohidrat pada anak

meningkatnya

konsumsi

Obesitas dan karies merupakan diet-base condition yang


memiliki penyebab yang sama, yaitu konsumsi karbohidrat
berlebih
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan
hubungan status nutrisi dengan terjadinya karies pada
anak usia 8-12 tahun di kota Udaipur, India

INTERVENTI
ON terhadap 1000 anak (500 anak
Pengujian dilakukan
laki-laki dan 500 anak perempuan) usia 8-12 tahun di
kota Udaipur, Rajasthan, India dengan kriteria:
1. Tidak memiliki kelainan dentofasial atau sindroma
2. Tidak dalam pengobatan jangka panjang
3. Tidak dalam perawatan ortodontik
4. Pasien kooperatif
Pemeriksaan klinis dilakukan di ruang pemeriksaan
Institusi atau di ruang kelas dengan instrumen kaca
mulut, sonde

INTERVENTI
ON

Dilakukan pengambilan penimbangan berat badan


dan pengukuran tinggi badan untuk mengetahui
BMI (Body Mass Index)
BMI = Weight (kg)
Height2(m2)

COMPARAT
IVE
Distribusi
kelompok studi
berdasarkan
usia dan jenis
kelamin

COMPARART
IVE
Distribusi kelompok
studi
Berdasarkan BMI
dan jenis
kelamin

COMPARAT
IVE

COMPARAT
IVE

OUTCO
ME
Pada penelitian ini menunjukkan anak
dengan BMI normal memiliki gigi karies
yang paling banyak, baik pada gigi sulung
dan gigi permanen dibanding dkan engan
anak dengan BMI over weight

TERIMA KASIH