Anda di halaman 1dari 12

Professor James Cottrell dari SUNY (State University of New York)

dalam Anesthesia for Neurosurgery mengatakan bahwa dengan


ditemukannya alat diagnostik yang baru (misalnya CT-scan, MRI, MRI
kontras ), alat pantau yang baru (SJO2 untuk memantau oksigenasi
otak), obat anestesi yang baru (Sevofluran), serta pengertian baru
mengenai obat yang bisas dipakai (RL bersifat hipoosmoler yang dapat
meningkatkan edema otak), akan memperbaiki pasien dengan kelainan
serebral.

Sasaran ahli anestesi dalam memeberikan anestesi pada pasien


bedah saraf adalah untuk mengendalikan tekanan intrakranial serta
volume otak, memeberikan proterksi otak akibat iskemia dan injury,
serta mengurangi perdarahan. Adanya otak yang kembung akibat
peningkatan tekanan intrakranial akan menyebabkan iskemia akibat
retraksi ahli bedah atau robekan jaringan otak oleh tulang selain akan
menambah iskemia karena penurunan tekanan perfusi otak.

Pengendalian tekanan intrakranial sangat penting dan harus segera


dilakukan, karena makin tekanan intrakranial, maka makin tinggi
mortalitas. Bila tekanan intrakrnial 20 mmHg maka terpai untuk
menurunkan tekanan intrakranial harus segera dilakukan.

Isi cranium terdiri dari jaringan otak (86%), darah (4%), dan cairan
serebrovaskuler (10%). Mengurangi volume jaringan otak dapat
dilakukan dengan mannito dan furosemid karena jaringan otak terdiri
dari sel, jaringan interstitial yang berisii air. Mengurangi darah otak
dapat dengan menurunkan aliran darah otak. Aliran darah otak
dipengaruhi oleh PaCO2, autoregulasi, PaO2, simpatis, parasimpatis,
dan suhu. Oleh karena itu aliran darah otak dapat diturunkan dengan
menurunkan PaCO2, menurunkan tekanan darah, jangan hipoksia,
menurunkan suhu tubuh. Menurunkan cairan serbrospinal dapat
dlakuakn dengan melakukan drainase cairan serebrospinal atau
dengan mekai bat anestetikan yan menurunkan produksi cairan
serebrospinal dan atau meningkatkan absorpsinya.

Dasar neuroanestesi adalah pengertian tentang aliran darah otak.


Aliran darah otak otak dipertahankan kira-kira 50-54 ml/100 gr
jaringan/menit. Faktor utama yang mengengaturnya adalah
autoregulasi, PaCO2, dan PaO2. Aliran darah otak tetap konstan 50-54
ml/100 gr jaringan/menit pada tekanan arteri rerata 50-150
mmHgkarena pembuluh darah akan berkonstriksi dan berdilatasi. Bila
tekanan arteri rerata < 50 mmHg terjadi penurunan aliran darah otak
dan kalan makin menurun terjadi iskemia dan infark otak. Peningkatan
tekanan arteri rerata > 150 mmHg akan menyebabkan hilangnya
kemampuan vasokonstriski dan terjadi kerusakan BBB dan dapat
terjadi edema otak dan perdarahan otak. Perubahan 1 mmHg PaCO2
dari 24-80 mmHg akan merubah aliran darah otak sebesar 4% (kirakira 1,75 ml/100g/menit), hiperkaribia kan menyebabkan serebral

Mekanisme mempertahankan autoregulasi selama anestesi adalah


sangat penting. Lam 1997 menyampaikan bahwa pada cedera kepala,
intactnya autoregulasi akan berhubungan dengan mortalitas, serta
harus diingat bahwa pada cedera kepala ringanpun ternya 9 dari 29
pasien autoregulasinya terganggu. Bila autoregulasi hilang, dari 11
pasien 2 pasien dari penilaian GOS (Glasgow Outcome Scale)
menunjukkan 2 severe disability dan 9 pasien meninggal.

Penagaturan PaCO2 dan PaO2 dapat diataur dengan cara melakukan


ventilasi mekanis serta kadar O2 yang diberikan. Saat pemberian
anestesi supaya efek autoregulasi tetap ada, maka harus
dipertimbangkna penggunaan obat anestesi yang akan tetapi
mem[pertthanakn autoregulasi aselama pemberain anestesi. Sebagai
contok, yang disampai oleh Gupta et al, Summors etal serta Matta et al
bahwa autoregulasi tetap intact bila diberikan anestesi dengan
Sevofluran sampai 1,5 MAC, salah satu alasannya adalah efek
serebral vasodilatasi sevofluran < daripada isofluran ( MAC Sevofluran
2,08) tapi hilang pada 1,5 MAC Isofluran, dengan demikian selama
anestesi berikan Sevofluran < 3 vol % atau isofluran < 2 vol%).

Selama periode perioperatif (prabedah di UGD, selama pembedahan,


atau pascabedah di ICU atau ruangan perawatan lainnya) harus diingat
untuk melakukan proteksi otak akibat cedera sekunder. Proteksi otak
dapat dilakukan dengan metode dasar (ABC resusitasi), hipotermi, atau
dengan obat (Pharmacological Brain Protection).

Basic method merupakan ABC resusitasi. A adalah airway, jalan nafas


harus bebas sepanjang waktu. B, breathing adalah mengatur ventilasi
untuk mendapatkan oksigenasi adekuat/menghindari hipoksia dan
menghindari hiperkapnia dengan target normokapnia. Hiperventilasi
hanya dilakukan bila ada tanda herniasi. C, Circulation adalah untuk
mengenedalikan tekanan darah dengan target normotensi atau
menaikkan tekanan darah 10-20% dari tekanan darah asal, target CPP
> 70 mmHg. Terapi bila ICP > 20 mmHg. Koreksi asidosis, ketidak
seimbangan elektrolit, guladar jangan > 150 mg%. Bila > 200 mg%
beri insulin, Bila < 60 mg& beri glukosa.

Hipoksia dan hipovolemia dapat mempengaruhi oucome pasien


dengan cedera kepala. Dengan menhilangkan kedua faktor tersebut
maka mortalitas dapat menurun sampai 50%.

Prinsip pengelolaan anestesi bedah saraf disebutkan dalam istilah


A,B,C,D.E neuroanestesi. A yang berarti clear airway adalah jalan
nafas yang bebas sepanjang waktu. Adanya obstruksi jalan nafas
dapat menyebabkan terjadinya hipoksia dan hiperkarbia yang dapat
meningkatkan aliran darah otak, volume darah otak, dan akhirnya
peningkatan tekanan intrakranial. B breathing adalah mengendalikan
ventilasi sehingga dapat mengatur PaCO2, PaO2, targetnya adalah
normokapni pada cedera kepala dan sedikit hipokapnia pada tumor
otak. C sirkulasi dengan tujuan normotensi, normovolemia, isoosmile,
hindari peningkatan tekanan vena serebral. D drugs adalah hindari
pemberian obat-obatan yang meningkatkan tekanan intrakranial, dan
berikan obat yang mempunyai efek proteksi otak. E environment
adalah pengendalian temperatur denga menurunkan suhu tubuh

Air way, jalan nafas harus bebas sepanjang waktu maka gunakan pipa
endotrakheal yang non kinking dansebsar mungkin yang bisa masuk,
karena hiooksia dan hiperkarbia berbahaya pada pasien.