Anda di halaman 1dari 26

dispepsia

RESTU MATRA PRATIWI

IDENTITAS PASIEN

Nama
: Ny. S
Janis kelamin : Perempuan
Usia
: 46 tahun
Alamat
: Sanggrahan, Pakis, Magelang
Agama
: Islam
Tgl masuk RS : 10-2-2016 jam 10.00
No.RM : 108527

KELUHAN UTAMA
Nyeri Perut
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pasien datang dengan keluhan nyeri perut epigastrik, terasa
perih seperti terbakar sudah dirasakan sejak 3 bulan yang
lalu. Nyeri dirasakan hilang timbul. Nyeri tetap timbul
meskipun pasien makan. Nyeri perut selama ini sudah
pernah diobati dengan Mylanta tapi tidak membaik. Pasien
juga
merasakan
mual
dan
sempat
memuntahkan
makanannya setelah makan. BAB dan BAK tidak ada keluhan.
Keluhan BAB hitam dan muntah darah disangkal. Pasien
datang ke poli penyakit dalam karena pasien merasakan
nyeri perutnya semakin memburuk, panas, perih seperti
disilet-silet.

PEMERIKSAAN FISIK
KU
: Baik
Kesadaran
: Compos Mentis
Vital Sign
Tekanan Darah : 120/90 mmHg
Suhu
: 36,5 0C
Nadi
: 92 x/menit
Respirasi
: 20 x/menit

Kepala
Mata
: conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),
penglihatan kabur (-/-)
Hidung
: sekret (-), epistaksis (-)
Mulut
: bibir pucat (-), gusi berdarah (-)
Telinga
: nyeri tekan mastoid (-), berdenging (-)
Tenggorokan : faring hiperemis (-) nyeri telan (-)

Leher
Pembesaran kelenjar tiroid (-), pembesaran limfonodi (-), JVP

PEMERIKSAAN FISIK
Paru
Inspeksi : simetris kanan kiri (+), retraksi (-)
Perkusi : sonor depan belakang (+/+)
Palpasi : ketinggalan gerak (-)
Auskultasi: SDV (+/+), Ronki kasar apex paru (-), wheezing
(-)
Abdomen
Inspeksi
: membesar (-)
Auskultasi : bising usus (+)
Perkusi
: hepatomegali (-)
Palpasi
: supel (+),nyeri tekan epigastirum (+), undulasi (-)
splenomegali (-), hepar teraba (-)
Ekstremitas
Akral hangat (+/+)
Pitting edem tungkai (-/-)

Pemeriksaan Laboratorium
PEMERIK
SAAN
HEMATOLOGI
Hemoglobin
JUMLAH SEL
DARAH
Leukosit (H)
Eritrosit
Hematokrit
Angka
Trombosit
Eosinofil (L)
Basofil
Netrofil
segmen (H)
Limfosit (L)
Monosit
DIAMETER
SEL / SIZE
RDW-CV
RDW-SD
P-LCR

HASIL SATUAN

CALCULATED
MCV
MCH
MCHC

13

g/dL

13,5
4,6
41
350
1
0
65
25
8

103/uL
106/uL
%
103/Ul
%
%
%
%
%

KIMIA KLINIK
GDS (H)
FUNGSI HATI
SGOT
SGPT
FUNGSI GINJAL
Ureum
Kreatinin

12,7
40,0
27,8

%
FL
%

SERO IMUNOLOGI
HBs Ag

86,7
28,8
33,2

fL
pg
g/dL

71

mg/dL

43
80

U/L
U/L

7,8
0,61

Mg/dL
Mg/dL

Negatif

Negatif

PEMERIKSAAN PENUNJANG
HASIL
ESOPHAGUS :
Mukosa normal. LES
Normal
GASTER :
Mukosa daerah antrum
dan cardia hiperemis
dengan bintik
perdarahan. Tidak
edema, tidak tampak
ulkus atau massa.
Dilakukan biopsi di
antrum.
KESIMPULAN :
GASTRITIS

DIAGNOSIS BANDING
Dyspepsia dd
Gastritis
Ulkus Gaster

TERAPI

Sukralfat 3x1 cth


Lansoprazole 1 x 1

FOLLOW UP :
11/2/2016

Nyeri daerah ulu hati (+), terasa


panas bagian dada (+), mual (+),
muntah (-)
T: 120/80 N: 80 R: 20 t: 36,3
Nyeri tekan abdomen (+)
(ulu hati dan kuadran kiri atas)
Dyspepsia Pro Endoskopi

12/2/2016

Nyeri daerah ulu hati (+), terasa


panas bagian dada (-), mual (-),
muntah (-)
T: 120/80 N: 84 R: 20 t: 36,6
Nyeri tekan abdomen (+)
(ulu hati dan kuadran kiri atas)
Gastritis
Sucralfate 3x1cth
Lansoprazole 1 x 1

MASALAH YANG DIKAJI

Bagaimana menegakkan diagnosis


pada kasus ini?
Bagaimana penanganan yang tepat
pada kasus ini?

DISPEPSIA

DEFINISI :
Merupakan suatu kumpulan gejala
(sindrom) yang terdiri dari nyeri atau
rasa tidak nyaman di epigastrium,
mual, muntah, kembung, cepat
kenyang, rasa perut penuh, sendawa,
regurgitasi dan rasa panas yang
menjalar di dada.

Secara garis besar, penyebab sindrom


dispepsia ini dibagi menjadi 2 kelompok:
1. kelompok penyakit organik (seperti
tukak peptik, gastritis, batu kandung
empedu, dll)
2. kelompok gangguan fungsional,
dimana sarana penunjang diagnostik yang
konvensional
atau
baku
(radiologi,
endoskopi, laboratorium) tidak dapat
memperlihatkan
adanya
gangguan
patologis struktural atau biokimiawi.

Empat tipe dispepsia (didasarkan atas gejala yang paling


dominan)
Dispesia tipe
dismotilitas

Dispepsia tipe
ulkus

Nyeri
epigastrium
Tempat nyeri
dapat ditunjuk
Nyeri malam hari
(membangunkan
tidur)
Nyeri berkurang
dengan makanan,
antasid atau
obat-obatan anti
sekresi asam

Cepat kenyang
Rasa penuh,
kembung
Sendawa
Mual
muntah

Dispepsia tipe
refluks

Dispepsia tipe non spesifik

Rasa terbakar
didaerah
restrosternal
(pirosis/heartb
urn)
Regurgitasi
asam

Gejala berupa campuran


dari gejala-gejala diatas,
serta tidak ada gejala
dominan

Penyebab Dispepsia
Esofago-gastro-duodenal Tukak

peptik,

gastritis

kronis,

gastritis

NSAID,

Obat-obatan

keganasan
Antiinflamasi non-steroid,teofilin, digitalis, antibiotik

Hepato-bilier

Hepatitis, kolesistitis, kolelitiasis, keganasan, disfungsi


sfingter Odii

Pankreas

Pankreatitis, keganasan

Penyakit sistemik lain

Diabetes

melitus,

penyakit

tiroid,

gagal

kehamilan, penyakit jantung koroner/iskemik

Gangguan fungsional

Dispepsia fungsional, irritable bowel syndrome

ginjal,

Dalam Konsensus Roma II yang khusus membicarakan


tentang kelainan gastrointestinal fungsional, dispepsia
fungsional
didefinisikan
sebagai
dispepsia
yang
berlangsung At least 12 weeks, which need not be
consecutive, in the preceding 12 month of :
1.) Persistent or recurrent dyspepsia (pain or
discomfort centered in the upper abdomen);
2.) No evidence of organic disease (including at upper
endoscopy) that is likely to explain the
symptoms,
and;
3.) No evidence that dyspepsia is exclusively relieved by
defecation or associated with the onset of a
change
in stool frequency or stool form (i.e.
not irritable
bowel).

Patofisiologi
Proses patofisiologis yang paling
banyak dibicarakan dan potensial
berhubungan dengan dispepsia
fungsional adalah hipersekresi asam
lambung, infeksi Helicobacter pylori,
dismotilitas gastrointestinal, dan
hipersensitivitas viseral.

1. Sekresi asam lambung


Kasus dengan dispepsia fungsional, umumnya mempunyai
tingkat sekresi asam lambung, baik sekresi basal maupun
dengan stimulasi pentagastrin yang rata-rata normal.
Diduga adanya peningkatan sensitivitas mukosa lambung
terhadap asam yang menimbulkan rasa tidak enak di
perut.
2. Helicobacter Pylori (Hp)
Peran infeksi Helicobacter Pylori pada dispepsia fungsional
belum sepenuhnya dimengerti dan diterima. Dari
berbagai laporan, kekerapan Hp pada dispepsia fungsional
sekitar 50% dan tidak berbeda bermakna dengan angka
kekerapan Hp pada kelompok orang sehat. Mulai ada
kecenderungan untuk melakukan eradikasi Hp pada
dispepsia fungsional dengan Hp positif yang gagal dengan
pengobatan konservatif baku.

3. Dismotilitas Gastrointestinal
Berbagai studi melaporkan bahwa pada dispepsia fungsional
terjadi perlambatan pengosongan lambung dan adanya
hipomotilitas antrum (sampai 50% kasus), tapi harus dimengerti
bahwa proses motilitas gastrointestinal merupakan proses yang
sangat kompleks, sehingga gangguan pengosongan lambung
tidak dapat mutlak mewakili hal tersebut.
4. Ambang rangsang persepsi
Dinding usus mempunyai berbagai reseptor, termasuk reseptor
kimiawi, reseptor mekanik, dan nociceptor. Berdasarkan studi,
tampaknya kasus dispepsia ini mempunyai hipersensitivitas
viseral terhadap distensi balon di gaster atau duodenum.
Bagaimana mekanismenya, masih belum dipahami. Penelitian
dengan menggunakan balon intragastrik mendapatkan hasil
pada 50% populasi dengan dispepsia fungsional sudah timbul
rasa nyeri atau tidak nyaman di perut pada inflasi balon dengan
volume yang lebih rendah dibandingkan volume yang
menimbulkan rasa nyeri pada populasi kontrol.

Penunjang Diagnostik
Pada dasarnya langkah pemeriksaan penunjang diagnostik
adalah untuk mengeksklusi gangguan organik atau
biokimiawi.
pemeriksaan laboratorium (gula darah, fungsi tiroid, fungsi
pankreas, dsb)
radiologi (barium meal, USG)
endoskopi.

Untuk
dasar
dapat
dinilai

menilai patofisiologinya, dalam rangka mencari


terapi yang lebih kausatif, berbagai pemeriksaan
dilakukan, walaupun aplikasi klinisnya tidak jarang
masih kontroversial. Misalnya:

pemeriksaan pH-metri untuk menilai adanya gangguan fase III


migrating motor complex
Elektrogastrografi
skintigrafi atau penggunaan pellet radioopak untuk mengukur
waktu pengosongan lambung, helicobacter pylori, dsb.

HASIL ENDOSKOPI
NORMAL

Algoritme penatalaksanaan dispepsia pada masyarakat umum

Algoritme penatalaksanaan
dispepsia
pada pusat rujukan

TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai