Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN KASUS

RHINOSINUSITIS MAKSILARIS
BILATERAL
CELINA MANNA
11.2014.235

IDENTITAS PASIEN

Nama
: Tn. AS
Jenis Kelamin: Laki-laki
Umur
: 19 tahun
Agama
: Islam
Pekerjaan : Karyawan Swasta
Pendidikan : SMA

Anamnesis
Keluhan utama : Hidung tersumbat
Keluhan tambahan : Hidung terasa
bau, sesak napas saat udara dingin,
pilek, sakit kepala.

Riwayat Penyakit Sekarang


Hidung tersumbat sejak sepuluh hari
yang lalu pada kedua lubang hidung.
hilang timbul, terutama saat bangun
pagi dan berada pada suhu yang
dingin.
Sulit bernapas dengan
lega.
Hidung sebelah kanan terasa bau
dan saat bangun pagi mulutnya
juga berbau.
Adanya sakit kepala dan terasa
kemeng di daerah pipi yang
menjalar ke mata
Pilek dan terdapat ingus di
kedua rongga hidung, ingus
agak kental, berwarna
kuning

Riwayat Penyakit Sekarang


Sudah lama sering batuk pilek berulang biasanya satu
bulan sekali dan jarang diobati

Sering terpapar debu atau polusi udara karena saat mengendarai


motor os tidak menggunakan masker dan sering terkena AC saat di
tempat kerja

Sudah beobat ke PPK 1 dan di berikan terapi cetirizine,


dan rhinos selama 5 hari tetapi keluhan belum
berkurang

Riwayat Penyakit Dahulu


Rhinitis alergi (+)

Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum : Tampak sakit ringan


Kesadaran : Compos Mentis
Tensi : 110/70 mmHg
Pernafasan: 19x/ menit
Suhu : 36 0C
Nadi : 84x/menit
Berat Badan : 66 kg
Tinggi Badan : 170 cm

Telinga

Hidung dan Sinus Paranasal

Tenggorokan

Leher dan maksilofasial


Leher
Kelenjar limfe submandibula : tidak ada
pembesaran
Kelenjar limfe servikal: tidak ada pembesaran
Maksillo Fasial
Deformitas
Tidak ditemukan deformitas os maxilla, os
mandibula, dan os zygomaticum

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan X-foto SPN tanggal
07/09/2016
Kesan : Sinusitis maksilaris bilateral
terutama sinisstra, hipertrofi konka
nasi inferior bilateral, septum deviasi
dextra.

Diagnosis banding

Rhinosinusitis maxilaris bilateral


Sinusitis etmoidalis
Sinusitis frontalis
Rhinitis vasomotor

Diagnosis Kerja
Rhinosinusitis Maksilaris Bilateral
Penatalaksanaan
Pencucian hidung dengan menggunakan Nacl 0,9%
Antibiotik : Ciprofloxacin 2 x 500 mg selama 10 hari
Mukolitik: Ambroxol 3 x 30mg
Decongestan : Pseudoefedrin 3 x 60mg
Semprot hidung dengan menggunakan steroid topical
( avamys 1 dd spray II )
Edukasi
Hindari kontak dengan alergen (debu dan kelembapan).
Makan teratur dan bergizi agar daya tahan tubuh baik.
Menggunakan masker saaat mengendarai motor.
Minum obat teratur.

Prognosis
Quo ad vitam
: Dubia ad bonam
Quo ad functionam : Dubia ad
bonam

Rhinosinusitis
Rinosinusitis kronis adalah inflamasi mukosa
hidung dan sinus paranasal yang dapat
ditegakkan berdasarkan riwayat gejala yang
sesuai dengan 2 kriteria mayor atau 1
kriteria mayor ditambah 2 kriteria minor.
Gejala Mayor: nyeri sinus, hidung buntu,
ingus purulen, post nasal drip, gangguan
penghidu, Sedangkan Gejala Minor: nyeri
kepala, nyeri geraham, nyeri telinga, batuk,
demam, halitosis.

Anatomi sinus paranasal

Suatu unit fungsional yang terdiri dari ostium sinus maksilaris, sel
ethmoid anterior dan ostiumnya, ethmoid infundibulum, hiatus
semilunaris dan meatus media

Fisiologi sinus paranasal


Sebagai pengatur kondisi udara (air
coditioning)
Sebagai penahan suhu (thermal
insulators)
Membantu keseimbangan kepala
Membantu resonansi suara
Sebagai peredam perubahan tekanan
udara
Membantu produksi mucus

Drainase sinus
Sinus sphenoid resesus sphenoethmoidalis
Sinus frontal hiatus semilunaris meatus media
Sinus ethmoid anterior hiatus semilunaris meatus
media
Sinus ethmoid posterior meatus superior
Sinus maksilaris hiatus semilunaris meatus media

Anatomi hidung

Fisiologi Hidung
Fungsi respirasi untuk mengatur kondisi udara (air
conditioning)
penyaring udara, penyeimbang dalam pertukaran
tekanan dan mekanisme imunologik lokal
fungsi penghidu, karena terdapanya mukosa
olfaktorius (penciuman) dan reservoir udara untuk
menampung stimulus penghidu ;
fungsi fonetik yang berguna untuk resonansi suara,
membantu proses berbicara dan mencegah hantaran
suara sendiri melalui konduksi tulang
fungsi statistik dan mekanik untuk meringankan beban
kepala, proteksi terhadap trauma dan pelindung panas
refleks nasal.

Patofisiologi rhinosinusitis

Faktor predisposisi
Septum deviasi
Udema/hipertrofi konka
Rinitis alergi/rinitis vasomotor
Barotrauma
Korpus alienum.

Etiologi
Rinosinusitis dapat disebabkan oleh Alergi
(musiman, perenial atau karena pekerjaan tertentu)
Infeksi seperti beberapa bakteri patogen yang
sering ditemukan pada kasus kronis adalah
Stafilokokus 28%, Pseudomonas aerugenosa 17%
dan S. aureus 30%.
Rinosinusitis juga dapat disebabkan oleh kelainan
(Struktur anatomi, seperti variasi KOM, deviasi
septum, hipertrofi konka) atau Penyebab lain
(idiopatik, faktor hidung, hormonal, obat-obatan,
zat iritan, jamur, emosi, atrofi).

Gejala klinis

Nyeri
Sakit kepala
Nyeri pada
penekanan
Gangguan
penghindu
Sekret nasal
Hidung berbau

Pemeriksaan Penunjang
Foto rontgen sinus paranasal
CT-Scan (Computer Tomography)
sinus paranasal

Penatalaksanaan
Pilihan antibiotika harus mencakup -laktamase
seperti pada terapi sinusitis akut lini ke II, yaitu
amoksisillin klavulanat atau ampisillin sulbaktam,
sefalosporin generasi kedua, makrolid,
klindamisin
Jika ada perbaikan antibiotik diteruskan
mencukupi 10 14 atau lebih jika diperlukan. Jika
tidak ada perbaikan dapat dipilih antibiotika
alternatif seperti siprofloksasin, golongan kuinolon
atau yang sesuai dengan kultur. Jika diduga ada
bakteri anaerob, dapat diberi metronidazol.

Dekongestan
Antihistamin
Kortikosteroid topikal + cuci hidung
Terapi pembedahan

Komplikasi

Osteomielitis dan abses subperiostal


Kelainan Orbita
Kelainan Intrakranial
Kelainan Paru.

Terimakasih