Anda di halaman 1dari 24

REFERAT

Kolesteatoma pada
Telinga Tengah
Celina Manna
11.2014.235
FK UKRIDA

Kolesteatoma pertama kali dijelaskan pada tahun 1829


oleh Cruveilhier, tetapi dinamakan pertama kali oleh
Muller pada tahun 1858.
Menurut Helmi Mayer kolesteatoma adalah suatu kista
epitelial yang dilapisi oleh stratified squamosa epithelium
yang berisi deskuamasi epitel (keratin) yang terperangkap
dalam rongga timpanomastoid, tetapi dapat juga
terperangkap pada bagian manapun dari tulang temporal
yang berpneumatisasi.

Pendahuluan

Telinga tengah adalah suatu ruang antara membran


timpani dengan badan kapsul dari labirin pada daerah
petrosa dari tulang temporal yang mengandung rantai
tulang pendengaran.
Telinga tengah berbentuk kubus, terdiri dari membran
timpani, kavum timpani, tuba eustachius, dan prosesus
mastoid

Anatomi telinga tengah

Pada telinga tengah dijumpai resesus membran timpani anterior yang disebut juga rongga Prussak.
Rongga ini dibatasi di sebelah lateral oleh pars flaksida, di sebelah superior oleh skutum dan
ligamentum maleus lateralis, di sebelah inferior oleh prosesus brevis maleus, dan di sebelah medial
oleh leher maleus.
Kolesteatoma primer biasanya dimulai di daerah ini.

Tuba eustachius : suatu saluran yang menghubungkan


nasofaring dengan telinga tengah, yang bertanggung
jawab terhadap proses pneumatisasi pada telinga tengah
dan mastoid serta mempertahankan tekanan yang normal
antara telinga tengah dan atmosfir.
Kestabilannya oleh karena adanya konstraksi muskulus
tensor veli palatini dan muskulus levator veli palatini
pada saat mengunyah dan menguap.

Tuba eustachius

Tonjolan di bagian bawah tulang temporal yang dibentuk


oleh prosesus zigomatikus di bagian anterior dan
lateralnya serta pars petrosa tulang temporal di bagian
ujung dan posteriornya

Prosesus mastoid

Ossicula
auditoria
Maleus,
Inkus,
Stapes

Ossicula auditoria

Rangkaian
tulang yang
teratur
melintang di
dalam cavitas
timpani

Migrasi epitel membran


timpani melalui kantong
yang mengalami retraksi
ini sehingga terjadi
akumulasi keratin.

Pars plasida di atas


colum maleus
membentuk kantong
retraksi

Tuba
eustachius
yang tidak
berfungsi
dengan baik

Kantong tersebut
menjadi kolesteatoma.

Etiologi kolesteatoma

Udara pada telinga


tengah diserap oleh
tubuh dan menyebabkan
di telinga tengah
sebagian terjadi hampa
udara.

17,43% penderita otitis media kronis dari 7.210 orang


yang berobat ke klinik THT di India sejak Juli 2003
hingga Desember 2005. Pada 187 penderita dijumpai
kolesteatoma, dimana 62 diantaranya mengalami
komplikasi
Penelitian restrospektif selama sepuluh tahun di
Departemen THT-KL Universitas Ain Shams Kairo
menemukan 28,24% kasus kolesteatoma dari 3.364
penderita OMSK

Epidemiologi

Patofisiologi dan Klasifikasi

Teori
Migrasi

Anulus timpanikus
mengatur proliferasi & migrasi kulit liang telinga selama di
janin. Hilangnya jaringan ikat anulus timpani
lapisan ektodermal bermigrasi ke
telinga tengah Kolesteatom

Kolesteatoma berkembang dari inokulasi telinga tengah dengan sel-sel epidermal


Teori
yang ada di cairan amnion, yang memasuki anterosuperior mesotimpanum melalui
Kontaminasi
tuba eustachius.
Cairan Amnion

Teori Inklusi

Teori
Pembentukan
Epidermoid

Kondisi inflamasi berulang


resiko perlekatan dan pelepasan membran timpani dari tulang
pendengaran
pelepasan membran timpani sel-sel dari membran timpani terkerangkap di kavum
timpani Kolestearoma

Penebalan lapisan ektodermal epitel berkembang di dekat ganglion genikulatum, ke arah medial dari
leher maleus. Massa epitel ini segera mengalami involusi untuk menjadi lapisan telinga tengah yang
matur. Jika gagal mengalami involusi, bentuk ini menjadi sumber dari kolesteatoma kongenital.

Kolesteatoma Kongenital

Kolesteatoma kongenital terbentuk sebagai akibat dari epitel skuamosa


terperangkap di dalam tulang temporal selama embriogenesis,
ditemukan pada telinga dengan membran tympani utuh tanpa ada tandatanda infeksi.

Lokasi kolesteatoma biasanya di mesotimpanum anterior, daerah


petrosus mastoid atau di cerebellopontin angle.

Kolesteatoma kongenital paling sering diidentifikasi pada anak usia dini


(6 bulan 5 tahun).

Kolesteatom dapat menghalangi tuba estachius dan menyebabkan


adanya cairan telinga tengah kronis dan gangguan pendengaran
konduktif. Kolesteatom juga dapat meluas ke posterior hingga meliputi
tulang-tulang pendengaran dan, dengan mekanisme menyebabkan tuli
konduktif.

Teori Invaginasi
Invaginasi membran timpani dari atik atau pars tensa regio posterosuperior
membentuk retraction pocket. Kemudian pada tempat ini terbentuk matriks dari
kolesteatoma berupa sel-sel epitel yang tertumpuk pada tempat tersebut.

Teori hiperplasia sel basal


Pada teori ini sel-sel basal pada lapisan germinal pada kulit berproliferasi akibat
dari infeksi sehingga membentuk epitel skuamosa berkeratinisasi

Teori otitis media


Pada anak dengan retraksi di regio atik, tuba eustachius lebih sering
berkonstriksi daripada dilatasi ketika menelan. Tekanan negatif di kavum
timpani yang disebabkan oleh disfungsi tuba eustachius dapat menyebabkan
retraksi dari pars flaksida dan menyebabkan penumpukan debris deskuamasi

Primary acquired cholesteatoma

Teori implantasi
Implantasi iatrogenik dari kulit ke telinga tengah atau membran timpani akibat operasi, benda
asing atau trauma ledakan.

Teori metaplasia
Infeksi kronis ataupun jaringan inflamasi diketahui dapat mengalami perubahan
metaplasia. Perubahan dari epitel kolumnar menjadi keratinized stratified
squamous epithelium akibat dari otitis media yang kronis atau rekuren.
Teori Invasi Epitel
Teori ini menyatakan invasi epitel skuamosa dari liang telinga dan permukaan
luar dari membran timpani ke telinga tengah melalui perforasi marginal atau
perforasi atik.

Secondary acquired cholesteatoma

Berdasarkan histologi, kombinasi dari material keratin dan


stratified squamous epithelium merupakan diagnosis patologik
untuk kolesteatoma.
Adanya epitel skuamosa di telinga tengah adalah abnormal.
Pada keadaan normal telinga tengah dilapisi oleh epitel kolumnar
bersilia di bagian anterior dan inferior kavum timpani serta epitel
kuboidal di bagian tengah dari kavum timpani dan di atik.
Tidak seperti yang terdapat pada epidermis kulit, epitel skuamosa
ini tidak mempunyai struktur adneksa. Hal ini mungkin karena
letaknya berbatasan dengan jaringan granulasi atau fibrosa yang
mengalami inflamasi, dan juga reaksi giant cell pada material
keratin

Histologi

Otorrhea tanpa rasa nyeri, yang terus-menerus atau sering


berulang.
Kolesteatoma tidak memiliki suplai darah (vaskularisasi),
maka antibiotik sistemik tidak dapat sampai ke pusat infeksi
pada kolesteatoma.
Gangguan pendengaran dan tinitus
Pusing
Sekret purulen
Pada kolesteatoma congenital terdapat masa di belakang
membran timpani

Gejala Klinis

CT scan merupakan modalitas pencitraan pilihan karena


CT scan dapat mendeteksi cacat tulang yang halus
sekalipun.
Kultur sekret purulen
Pemeriksaan audiometri = Tuli konduktif/tuli campr

Pemeriksaan Penunjang

Pembersihan liang telinga dapat menggunakan larutan


antiseptik seperti Asam Asetat 1-2%, hidrogen peroksisa 3%,
povidon-iodine 5%, atau larutan garam fisiologis.
Antibiotik (Kotrimokasazol, Siprofloksasin atau ampisilinsulbaktam dapat dipakai apabila curiga Pseudomonas sebagai
kuman penyebab.
Kuman anaerob, dapat dipakai metronidazol, klindamisin, atau
kloramfenikol.
Bila sukar mentukan kuman penyebab, dapat dipakai campuran
trimetoprim-sulfametoksazol atau amoksisillin-klavulanat.
Antibitotik topikal yang aman dipakai adalah golongan
quinolon

Penatalaksanaan

Mastoidektomi radikal klasik adalah tindakan membuang


seluruh sel-sel mastoid di rongga mastoid, meruntuhkan
seluruh dinding kanalis akustikus eksternus posterior,
pembersihan total sel-sel mastoid yang memiliki drainase
ke kavum timpani. Inkus dan malleus dibuang, hanya stapes
yang dipertahankan
Timpanoplasti merupakan modifikasi dari mastoidektomi
radikal, bedanya adalah mukosa kavum timpani dan sisa
tulang-tulang pendengaran dipertahankan setelah proses
patologis dibersihkan. Tuba eustachius tetap dipertahankan
dan dibersihkan agar terbuka. Kemudian kavitas operasi
ditutup dengan fasia m.temporalis baik berupa free fascia
graft maupun berupa jabir fasia m.temporalis, dilakukan
juga rekonstruksi tulang-tulang pendengaran.

Pembedahan Mastoidektomi dan timpanoplasti

Pasca operasi (Komplikasi segera dan komplikasi lambat)


Komplikasi segera :
Parese nervus fasialis
Kerusakan korda timpani
Tuli saraf
Gangguan keseimbangan, trauma labirin
Infeksi pasca-operasi
Komplikasi Lambat
Kolesteatoma rekuren
Reperforasi
Stenosis liangg telinga luar
Displasi atau lepasnya prostesis tulang pendengaran yang dipasang.

Komplikasi

Terima kasih