Anda di halaman 1dari 21

Koordinasi dan

kesimbangan

Amri Hasan F
Program Studi Pendidikan Dokter
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Cerebellum

Fungsi Cerebellum
Koordinasi
Untuk membentuk suatu gerakan yang bertujuan
secara fungsional, maka beberapa otot atau
beberapa persendian harus terorganisasi dengan
baik
Keseimbangan dan orientasi ruangan
Lintasan serabut afferent ke serebelum berasal
dari informasi propioseptik dan sensorik dari
semua bagian tubuh. Selain itu serabut afferent
serebelum juga berasal dari semua daerah
motorik korteks serebri melalui nuclei Pons.
Fungsi penghambat

Karakteristik Lesi Cerebellum


Inkoordinasi aktifitas otot
Tidak terdapat kelemahan
Defisit neurologis ipsilateral dengan
letak lesi (pada lesi unilateral)

Koordinasi
Rapidly Alternating Movement Evaluation

Bila ada kerusakan dari serebelum maka kemampuan


untuk mengetahui posisi dari bagian tubuh yang
bergerak tidak ada, akibatnya gerakannya tidak
teratur.
Gangguan : Disdiadokhokinesis

Koordinasi

Point to Point Movement Evaluation

Mintalah pasien melakukan dengan mata terbuka dan


kemudian dengan mata terpejam
Penyimpangan terjadi apabila pasien tidak
mempunyai kemampuan menyentuh hidung, gerakan
tidak terkordinasi, tampak kaku, lambat dan tidak
teratur
Gangguan : Dysmetria

Koordinasi

Heel to shin coordination test


Manuver ini memerlukan koordinasi, propioreseptif,
dan kekuatan motorik yang sinkron. Apabila sistem
motorik dan sensorik intak, maka kemungkinan besar
terjadi lesi cerebellar ipsilateral pada sisi yang
mengalami gangguan.

Koordinasi

Gait

1. Mintalah pasien berjalan tanpa alas kaki mengelilingi ruang


periksa.
2. Mintalah pasien berjalan dengan mata terbuka dan kemudian
dengan
mata
tertutup.
3. Amatilah rangkaian gaya berjalan dan gerakan dari lengan,
adanya kaki terseret, berjalan dengan ibu jari kaki, telapak kaki
terangkat
dengan
lemah.
keterlambatan/ kelainan pertumbuhan tungkai, terjadinya gaya
berjalan yang limbung/tidak seimbang.

Koordinasi

Gait
4. Normal tumit yang pertama menyentuh lantai, kemudian
seluruh bagian kaki
5. Tumit kedua menekan dan melayang dari lantai
6. Berat badan berpindah dari tumit pertama ke pusat kaki
7. Ayunan tungkai meningkatkan kecepatan saat berat badan
pindah dari kaki kedua
8. Kaki kedua mengangkat dan melangkah mendahului kaki
pertama yang masih menahan berat badan dan mengayun
9. Kaki kedua menurun kecepatannya dalam mempersiapkan
sentuhan tumit selanjutnya
10. Tidak normal bila panggul dan lutut terangkat terlalu tinggi
untuk menaikan kaki dan plantar fleksi dari tanah (Steppage)
11. Gerakan seperti kejang dan tidak terarah (Distonik)
12. Tungkai jauh terpisah dengan berat badan berpindah dari sisi
satu kelainnya seperti gerak bebek (Distropik).

Keseimbangan

Roomberg Test
1. Pemeriksa berdiri dalam jarak
dekat untuk menjaga bila pasien
jatuh.
2. Mintalah pasien berdiri dengan
kaki berhimpitan dan kedua lengan
di
sisi
tubuh
3. Kedua mata pasien terbuka dan
kemudian
mintalah
matanya
dipejamkan.
4. Normal adanya gerakan tubuh
dengan
sedikit
bergoyang
5. Bila pasien jatuh ke belakang

Keseimbangan

Fungsi penghambat (Damping)

Rebound Phenomenon

Suruh pasien menarik lengannya. Pemeriksa


menahannya.
Tiba-tiba
kita
lepaskan.
Perhatikan apakah lengan pasien segera
berhenti. Pada gangguan serebellar dapat
terjadi gerakan lewat (rebound) sampai

Pemeriksaan Fungsi
Autonom

Serabut Efferen Simpatis

Thermoregulator Sweat Test


Pasien ditaburi bubuk kanji berjodium atau
Quinizarin laludimasukkan dalam ruangan
khusus (lemari) dengan suhu 44-50C selama
30 menit, diharapkan dalam ruangan ini, suhu
tubuh akan naik 37,5C. Perubahan warna
kanji berjodium menjadi biru atau quinizarin
menjadi coklat sampai violet dapat terjadi bila
ada ekskresi keringat.
Hiperhidrosis Anhidrosis
Quantitative Sudomotor Axon Reflex Test

Serabut Efferen Simpatis

Tes berhitung
Dilakukan dengan tes pengurangan angka 7,
umpamanya
100-7,93-7,
86-7,
dan
seterusnya.Tes berhitung akan menimbulkan
kenaikan tekanan darah dan denyut jantung.
Tes ini cepatmengalami adaptasi.
Pupil
Pemberian tetes norepinefrin (1/1000) atau
kokain 4% akan terlihat dilatasi pupil.

Serabut Efferen Parasimpatis

Baroreflex test
Mengukur denyut jantung segera terhadap
berbagai perubahan tekanan darah, misalnya
kepala dinaikkan dari posisi berbaring datar.
Pemeriksaan fungsi ini lebih teliti dilakukan
dengan tindakan valsava.
Injeksi Cardiotonik Agent
Injeksi Atropin atau neostigmin Injeksi atropin
sebanyak 1,8 mg secara intravenan dengan
kecepatan
0,6
mg
per
menit
akan
menyebabkan terjadinya takikardi, dengan
pertambahan denyut jantung 20x/menit atau
lebih. Sebaliknya injeksi neostigmin akan

Terima Kasih