Anda di halaman 1dari 16

BAHASA INDONESIA

BAB V: BAHASA YANG LUGAS


DALAM KARANGAN ILMIAH

Oleh:
Chriseva D. F. Voerman
15061104122
C1 Akuntansi
UNSRAT

A . PEMAKAIAN EJAAN YANG


a. Penyukuan
CERMAT
1) Penyukuan kata
a)
b)
2)Penyukuan
Penyukuankata
berimbuhan:
yang
kata mengandung
yang
Imbuhan , termasuk
dua
mengandung
konsonan atau
dua
awalan yang
lebih:
konsonan
Penyukuan
atau
mengalami perubahan yang
lebih:benar
Penyukuan
untuk
bentuk dan partikel
kata
yangtabrak
benaradalah
untuk
yang biasanya ditulis
tab-rak.
kata tabrak
serangkai dengan kata
adalah tab-rak
dasarnya, dalam
penyukuan kata
dipisahkan sebagai
b.
Penulisan
satu
kesatuan.
Huruf
1)Nama
Namabangsa,
bangsa,
a)
sukudan
dan bahasa:
bahasa:
suku
bangsaIndonesia
Indonesia
3) Judul:
c)
bangsa
bukanBangsa
Bangsa
Petualangan
bukan
Indonesia
Sinbad dan
Indonesia
Aladdin dengan
b) Nama tahun,
2)
menarik.
menarik.
bulan, dan hari:
tahun Hijriah
bukan Tahun
Hijriah

3)Penyukuan
Penyukuan
kata
c)
kata
yangterdiri
terdiri
dari
yang
dari
unsurunsur
gabungan.
unsur-unsur
gabungan.

4) Daftar isi: BAB I


d)
PEMILIHAN KATA
A. Pengertian Pilihan
Kata atau Diksi
B. Strategi
Pemilihan Kata
1. Penyusunan
matriks kata
2. Uji konteks

c. Penulisan
Kata

1)
1)Kata
Kataturunan:
turunan:
menggarisbawahi
menggarisbawahi
bukan
bukan
menggaris
menggaris
bawahi.
bawahi.

d.
Angka

1)
1) Tingkat:
Tingkat:
Abad
Abad XX
XX
bukan
bukan Abad
Abad
ke-XX.
ke-XX.

2) 2)
Proklitik
Proklitik
kuku
dan
dan
kau:
kau:
Janganlah
Janganlah
kaubiarkan
kaubiarkan
aku
aku
tersiksa
tersiksa
dalam
dalam
penyesalan
penyesalan
yang
yang
panjang.
panjang.

2) Jumlah:
Barang-barang
yang Anda beli
dapat dibayar
tiga kali.

f. Penulisan Unsur
Serapan
Contoh:
-Kata asing: system
-Penyerapan yang salah: sistim
-Penyerapan yang benar:
sistem

e.
Penyingkatan

Singkatan nama,
contoh:
- H.M. Fajar H.
Ismaya
- Suman Hs.
Singkatan yang
terdiri dari dua
huruf, contoh: a.
n. bukan a/n.
a/n.

3) Kata depan ke
dan di: di+jual :
dijual.

Singkatan gelar,
jabatan dll,
contoh:
In Anggraeni
Sudbyo, M.Si.
Singkatan
lambang kimia,
satuan ukuran dll,
contoh: TNT
bukan TNT.
trinitrotoluen

B. PEMAKAIAN TANDA BACA


1. Tanda Titik (.)
Tanda titik dipakai
pada
akhir kalimat yang
bukan
pertanyaan atau
seruan.
4. Tanda Titik Dua (:)
Tanda titik dua dapat
dipakai pada akhir
suatu pernyataan
lengkap diikuti
perincian.

7. Tanda Elipsis
()
Dipakai dalam
kalimat yang
terputus-putus.

2. Tanda Koma (,)


Tanda koma dipakai
di antara unsur-unsur
dalam suatu
perincian atau
pembilangan.
5. Tanda Hubung (-)
Tanda hubung
menyambung sukusuku kata dasar yang
terpisah oleh
pergantian baris.

8. Tanda Tanya
(?)
Dipakai dalam
kalimat tanya.

3. Tanda Titik Koma


(;)
Tanda titik koma
dipakai untuk
memisahkan bagianbagian kalimat yang
sejenis dan selera.
6. Tanda Pisah (-)*)
Tanda pisah
membatasi
penyisipan kata atau
kalimat yang
memberi penjelasan
di luar bangun
kalimat.
9. Tanda Seru
(!)
Dipakai
sesudah
ungkapan atau
pernyataan
yang berupa

10. Tanda Kurung


{()}
Dipakai untuk
mengapit tambahan
keterangan atau
penjelasan
12. Tanda Petik
()
Dipakai untuk
mengapit petikan
langsung yang
berasal dari
pembicaraan dan
naskah atau bahan
tertulis lain.
14. Tanda Garis Miring
(/)
Dipakai dalam nomor
surat, nomor pada
alamat dan penandaan
masa satu tahun yang
terbagi dalam dua
tahun takwim.

11. Tanda Kurung Siku ([])


Dipakai untuk mengapit huruf, kata,
atau kelompok kata sebagai koreksi
atau tambahan pada kalimat.

13. Tanda Petik Tunggal ()


Dipakai untuk mengapit
petikan yang tersusun di
dalam petikan lain.

15. Tanda Penyingkat atau


Apostrof ()
Tanda penyingkat
menunjukkan penghilang
bagian kata.

C. BENTUK DAN MAKNA


1. Fonem dan
Morfem
a. Fonem
Fonem adalah bunyi terkecil yang dapat membedakan arti,
sedangkan
huruf adalah lambang bunyi atau lambang fonem.
b. Morfem
Morfem adalah satuan bentuk terkecil yang dapat
membedakan makna dan atau mempunyai makna

2. Kata
Kata adalah satuan bentuk terkecil (dari kalimat) yang dapat berdiri
sendiri terbentuk dari gabungan huruf atau dan mempunyai makna
Kata Kerja (Verba)
Kata yang
menyatakan
perbuatan atau
tindakan, proses,
dan keadaan yang
bukan merupakan
sifat.

Kata Sifat
(Adjektifa)
Kata yang
menerangkan
sifat, keadaan.
Watak, tabiat
orang/binatang/su
atu benda.

Kata Keterangan
(Adverbia)
Kata yang
memberi
keterangan
pada adjektiva,
nomina
predikatif, atau
kalimat.

Rumpun Kata
Benda (Nomina)
Kata yang
mengacu pada
sesuatu benda
(konkret maupun
abstrak).
Kata Seru (Interjeksi)
Kata tugas yang
dipakai untuk
mengungkapkan
seman hati seperti
rasa kagum, sedih,
heran, dan jijik

Rumpun Kata
Tugas (Partikel)
Kata tugas
bukanlah nama
satu jenis kata,
melainkan
kumpulan kata
dan partikel.
Kata Sandang
(Artikel)
Kata tugas yang
membatasi
makna jumlah
orang atau benda.

Kata Sambung
(Konjungsi)
Kata tugas yang
berfungsi
menghubungkan
dua kata atau dua
kalimat.
Partikel
Sebenarnya partikel
bermakna unsur-unsur
kecil dari suatu benda.
Analog dengan makna
tersebut, unsur kecil
dalam bahasa, kecuali
yang jelas satuan
bentuknya, disebut
partikel.

3. Frase
Frase adalah kelompok kata yang tidak mengandung predikat dan
belum membentuk klausa atau kalimat. Ciri-ciri frase ada tiga, yaitu:
a. Konstruksinya tidak mempunyai predikat (nonpredikatif)
b. Proses pemaknaannya berbeda dengan idiom
c. Susunannya berpola tetap.

D. PILIHAN KATA (DIKSI)


Pilihan kata atau diksi pada dasarnya adalah hasil dari upaya
memilih kata tertentu untuk dipakai dalam suatu tuturan bahasa.
Pemilihan kata dilakukan apabila tersedia sejumlah kata yang
artinya hampir sma atau bermiripan.
Pemilihan kata bukanlah sekedar memilih kata mana yang
tepat, melainkan juga kata mana yang cocok. Cocok dalam hal
ini berarti sesuai dengan konteks di mana kita itu berada dan
maknannya tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang diakui
oleh masyarakat pemakainya.
Kemahiran memilih kata hanya dimungkinkan bila seseorang:
(1) Menguasai
kosa kata yang
cukup luas.

(2) Dapat
membedakan
secara tepat katakata yang memiliki
nuansa makna
serumpun

(3) Mampu
memilih katakata yang tepat
dan cocok untuk
situasi tertentu

Contoh:
(1) Mari kita tanyakan langsung dengan dokter
ahlinya.
Mari kita tanyakan langsung kepada dokter ahlinya.
(tepat)
(2) Marilah kita perhatikan kebersihan daripada
lingkungan kita.
Marilah kita perhatikan kebersihan lingkungan kita.
(tepat)
(3) Antara hak dengan kewajiban dosen haruslah
berimbang.
Antara hak dan kewajiban dosen haruslah
berimbang. (tepat)
(4) Bukan aku yang tidak mau, tetapi dia yang tidak
suka.
Bukan aku yang tidak mau, melainkan dia yang tidak

E. KALIMAT EFEKTIF
1. Kesatuan
Terdapatnya satu ide pokok dalam sebuah kalimat.
Contoh: Berdasarkan agenda sekretaris manajer personalia akan
memberi pengarahan kepada pegawai baru. (tidak jelas siapa
yang memberi pengarahan)
Menjadi: Berdasarkan agenda, manajer personalia akan memberi
pengarahan kepada pegawai baru.
2. Kepaduan (Koherensi)
Terjadinya hubungan yang padu antara unsur-unsur pembentuk
kalimat.
(1)Ia terbaring di ranjang sebuah rumah sakit di Manado.
(2)Pesepak bola itu menderita empat belas gigitan anjing.
Kata-kata yang digaris bawah pada kalimat di atas berfungsi
sebagai subjek.
(3)Anak-anak yang lebih besar membantu teman-temannya.
(4)Anak gajah di Kebun Binatang Ragunan kulitnya mengkilap.
Kata-kata yang dicetak miring disebut juga sebagai keterangan
subjek karena memberi penjelasan mengenai subjek.

3. Keparalelan
Terdapatnya unsur-unsur yang sama derajatnya, sama pola atau
susunan kata dan frasa yang dipakau di dalam kalimat.
Contoh kalimat yang tidak paralel: Penyakit alzheimer alias
pikun adalah satu segi usia tua yang paling mengerikan dan
berbahaya, sebab pencegahan dan cara mengobatnya tak ada
yang
tahu!
Contoh
kalimat yang paralel: Penyakit alzheimer alias pikun
adalah satu segi usia tua yang paling mengerikan dan
membahayakan, sebab pencegahan dan cara pengobatannya
tak ada yang tahu!
4. Ketepatan
Kesesuaian atau kecocokan pemakaian unsur yang membangun
suatu kalimat sehingga terbentuk pengertian yang bulat dan pasti.
Contoh:
(1)Kepada para pasien, mendaftarkan diri sebelum diperiksa.
(2)Pada pameran itu mengetengahkan karya pelukis-pelukis
terkenal.
Kalimat di atas akan menjadi tepat apabila kata kepada dan pada
dihilangkan sehingga menjadi
(3)Para Pasien mendaftarkan diri sebelum diperiksa.
(4)Pameran itu mengetengahkan karya pelukis-pelukis terkenal.

5. Kehematan
Adanya upaya menghindari pemakaian kata yang tidak perlu.
Contoh kalimat tidak hemat kata:
- Saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri mahasiswa itu
belajar seharian dari pagi sampai petang.
Contoh kalimat efektif:
- Saya melihat sendiri, mahasiswa itu belajar sendirian.
6. Kelogisan
Terdapatnya arti kalimat yang logis/masuk akal. Contoh kalimat:
(1)Dengan mengucapkan syukur kepada Tuhan, selesailah
makalah ini tepat pada waktunya. (berarti modal untuk
menyelesaikan makalah cukuplah ucapan syukur kepada
Tuhan).
(2)Kepada Bapak/Ibu (Dekan), waktu dan tempat kami persilakan.
(waktu dan tempat tidak perlu dipersilakan)

F. PARAGRAF/ALINEA
Paragraf atau alinea adalah satuan bentuk bahasa yang biasanya
merupakan hasil penggabungan beberapa kalimat.
1. Syarat-syarat Pembentukan
Paragraf
a) Kesatuan Paragraf
Sebuah paragraf dikatakan mempunyai kesatuan jika seluruh
kalimat dalam
paragraf hanya membicarakan satu ide poko, satu topik/masalah.
Perhatikan paragraf di bawah ini.
Sindrom metabolik dikenal pertama sebagai sindrom X, pada
tahun 1988, menurut Prof.Dr.dr. Sidartawan Soegondo, SpPdKEMD FACE, guru besar FKUI. Penyakit ini timbul ketika terjadi
gangguan pada kerja hormon insulin, atau dikenal dengan
resistensi insulin. Resistensi insulin sendiri merupakan kondisi
di mana hormon insulin tidak dapat bekerja dengan baik.
(Dikutip dari majalah Dokter Kita, 2006)

b) Kepaduan Paragraf
Sepertinya halnya persyaratan kalimat efektif, dalam paragraf juga
dikenal istilah kepaduan atau koherensi. Kepaduan dapat dibangun
dengan memperhatikan:
(1) Unsur kebahasaan yang digambarkan dengan:
- repitisi atau pengulangan kata kunci
- kata ganti
- kata transisi (kata atau frase penghubung)
- paralelisme
(2) Rincian dan urutan isi paragraf.

2. Letak Kalimat Topik


Sebuah paragraf dibangun oleh beberapa kalimat yang saling
menunjang dan hanya mengandung satu gagasan pokok dan
dijelaskan oleh beberapa gagasan penunjang. Gagasan pokok
dituang ke dalam kalimat topik (kalimat topik) dan gagasan
penunjang ke dalam kalimat-kalimat penunjang. Jadi, setiap
paragraf terdiri dari dua bagian, yaitu kalimat topik dan kalimat
penunjang.

3. Jenis Paragraf Berdasarkan Fungsinya dalam Karangan


Berdasarkan fungsinya dalam karangan, paragraf dapat dibedakan
atas tiga macam, yaitu:
1.
Paragraf
Pembuka

2. Paragraf
Pengemban
g
3.
Paragraf
Penutup

Isi paragraf pembuka bertujuan mengutarakan pokok pembicaraan


dalam karangan. Sebagai bagian yang mengawali sebuah karangan,
paragraf pembuka harus dapat difungsikan untuk:
1. Mengantar
pokok
pembicaraan

2. Menarik
minat dan
perhatian
pembaca

3. Menyiapkan atau
menata pikiran pembaca
untuk mengetahui isi
seluruh karangan

Paragraf pengembang bertujuan mengembangkan pokok


pembicaraan suatu karangan yang sebelumnya telah
dirumuskan di dalam alinea pembuka. Paragraf
pengembang di dalam karangan dapat difungsikan
untuk:
1. Mengemukakan inti persoalan.
2. Memberi ilustrasi atau contoh.
3. Menjelaskan hal yang akan diuraikan pada paragraf
berikutnya.
4. Meringkas paragraf sebelumnya.
Paragraf
penutup berisi
bagianbagi
karangan
5. Mempersiapkan
dasarsimpulan
atau landasan
simpulan.
atau simpulan seluruh karangan. Mengingat paragraf
penutup dimaksudkan untuk mengakhiri karangan,
penyajiannya harus memperhatikan hal berikut:
1. Sebagai bagian penutup, paragraf ini tidak boleh
terlalu panjang.
2. Isi alinea harus berisi simpulan sementara atau
simpulan akhir sebagai cerminan inti seluruh
uraian.
3. Sebagai bagian yang paling akhir dibaca,
henaknya paragraf ini dapat menimbulkan kesan