Anda di halaman 1dari 46

HIPERTENSI

Kelompok 8
AGEL SAGREATRA
FESTIRES KURNIA HAREFA
HANIFA FEBRIYANI
NETTA ARIYANI
SERLEY WULANDARI
WAHYU HIDAYAT

I.Definisi
Hipertensi
adalah
meningkatnya
tekanan darah sistolik lebih besar dari
140 mmHg dan atau diastolik lebih
besar dari 90 mmHg pada dua kali
pengukuran dengan selang waktu 5
menit dalam keadaan cukup istirahat
(tenang).

Menurut JNC 7 & 8

II. Klasifikasi Hipertensi berdasarkan


penyebab
Hipertensi Primer (Esensial/idiopatik)
Penyebabnya tidak diketahui (biasanya
genetik,
lingkungan,
sistem
renin
angiotensin, sistem saraf otonom, dan
faktor-faktor yang meningkatkan risiko
Hipertensi Sekunder
Penyebab
spesifik
diketahui
(biasa
disebabkan oleh penyakit aterosklerosis,
ginjal, endokrin, kelainan neurologi, dan
obat-obatan

Target tekanan darah


Target TD (JNC 7)
< 140/90 mmHg
pasien penyakit ginjal
kronik dan diabetes
adalah 130/80
mmHg.

Target tekanan darah


Target TD (AHA)
American Heart Association
140/90 mmHg,
Pasien penyakit ginjal kronik,
penyakit arteri kronik 130/80
mmHg
Pasien gagal jantung 120/80
mmHg

Target tekanan darah


Target TD (NKF)
National Kidney Foundation
(NKF) 130/80 mmHg untuk
pasien dengan penyakit
ginjal kronik dan diabetes,
< 125/75 mmHg untuk
pasien dengan > 1 g
proteinuria

DIURETIK

Bumetamid
Furosemid
Hidroklorotiazid
Spironolakton
Triamteren

PENYEKAT B

Atenolol
Labetalol
Metoprolol
Nadolol
Propanolol
Timolol

INHIBITOR ACE

Benazepril
Kaptopril
Enalapril
Fosinopril
Lisinopril
Moeksipril
Quinapril
Ramipril

ANTAGONIS
ANGIOTENSIN II

Losartan

OBAT
ANTIHIPERTENSI

PENYEKAT KANAL
KALSIUM

OBAT
ANTIHIPERTENSI

PENYEKAT

LAIN-LAIN

Amlodipin
Diltiazem
Felodipin
Isradipin
Nikardipin
Nifedipin
Nisoldipin
Verapamil

Doksazosin
Prozosin
Terazosin

Klonidin
Diazoksid
Hidralazin
a-Metildopa
Minoksidil
Natrium Nitropusid

IV. Algoritma Pengobatan Hipertensi berdasarkan JNC 7

IV. Algoritma Pengobatan Hipertensi berdasarkan JNC 7

INHIBITOR
ANHIDRASE
KARBONAT

Asetazolamid

LOOP DIURETIK

Bumetanid
Asam Etakrinat
Furosemid
Torsemid

DIURETIK TIAZID

Klorotiazid
Klortalidon
Hidroklorotiazid
Indapamid
Metolazon

OBAT DIURETIK

DIURETIK HEMAT
KALIUM

Amilorid
Spironolakton
Triamteren

DIURETIK
OSMOTIK

Manitol
Urea

1
3

2
5

1. Tubulus Kontortus Proksimal Inhibitor Anhidrase Karbonat

4. Tubulus Kontortus Distal


Diuretik Tiazid

2. Ansa Henle Desenden

5. Duktus Renalis Rekti Diuretik


Hemat Kalium

3. Ansa Henle Asenden Loop


Diuretik

Furosemid
Tinjauan Kimia.
Nama kimia : Asam 4-kloro-N-furfuril-5sulfamoilantranilat.

Penggunaan Klinis.
Gagal Jantung.
Furosemid merupakan obat standar untuk gagal
jantung yang disertai edema dan tanda-tanda
bendungan sirkulasi seperti peninggian tekanan
vena juguler, edema paru, edema tungkai dan
asites.
Edema Refrakter.
Untuk mengatasi edema refrakter, diuretik kuat
biasanya diberikan bersama diuretik lain,
misalnya tiazid atau diuretik hemat K+.

Efek Farmakologis dan Mekanisme Kerja.


Diuretik kuat terutama bekerja dengan cara
menghambat reabsorpsi elektrolit Na+/K+/Cl- di
ansa henle asendens pada permukaan sel epitel
bagian luminal (yang menghadap ke lumen
tubuli).
Pada pemberian secara IV obat ini cenderung
meningkatkan aliran darah ginjal tanpa disertai
peningkatan filtrasi glomerulus.
Perubahan
hemodinamik
ginjal
ini
mengakibatkan menurunnya reabsorpsi cairan dan
elektrolit di tubuli proksimal serta meningkatnya
efek awal diuretik.

Efek Samping Obat :

Gangguan cairan dan elektrolit.


Ototoksisitas
Hipotensi.
Hiperurisemia
Hipovolemia akut
Hipokalemia

Interaksi.

NSAID, Lithium, antibiotik aminoglikosida, cephalosporin,


salisilat. Penggunaan obat-obat ini bersama furosemid dapat
meningkatkan potensi toksisitasnya.
ACE inhibitor : Menyebabkan hipotensi berat dan penurunan
fungsi ginjal.
Sukralfat : Dapat menurunkan efek natriuretik dan antihipertensi
dari furosemid. Jika tetap digunakan beri jarak 2 jam.
Fenitoin: Menyebabkan penurunan penyerapan furosemid di
usus, dan akibatnya menurunkan konsentrasi serum puncak
furosemid. Akibatnya efektifitas furosemid berkurang.
Indometasin : Dapat mengurangi efek natriuretik dan
antihipertensi dari furosemid.

Kontraindikasi.
Penderita yang diketahui memiliki riwayat alergi atau
hipersensitif terhadap furosemid.
Penderita yang sedang mengalami anuria atau tidak dapat
buang air kecil.
Penderita yang sedang hamil dan menyusui.
Penderita sirosis hati.
Penderita asam urat, ginjal, diabetes
Penderita berumur dibawah 4 tahun.

Hidroklorotiazid
Tinjauan Kimia.
Nama obat : Hidroklorotiazida (HCT)
Rumus kimia : C7H8CIN3O4S2
Rumus bangun : 6-kloro-3,4-dihidro2H-124benzotiadiazina-7sulfanemida
1,1-dioksida.

Penggunaan Klinis.
a. Hipertensi : Obat-obat ini efektif menurunkan
tekanan darah sistolik dan diastolik untuk jangka
waktu lama pada kebanyakan pasien dengan
hipertensi esensial ringan dan sedang
b. Gagal jantung kongestif : Dapat menjadi diuretik
pilihan utama dalam menurunkan volume cairan
ekstraselular pada gagal jantung ringan sampai
sedang.
c. Kerusakan ginjal : Pasien dengan sindrom nefrotik
yang disertai edema mula-mula diobati dengan loop
diuretik, hanya bila pengobatan ini gagal diberi
metazolan bersama dengan suatu loop diuretik

Penggunaan Klinis.
d. Hiperkalsiuria : Berguna dalam mengobati
hiperkalsiuria idiopatik karena menghambat
ekskresi Ca++.
e. Diabetes insipidus : Dapat menggantikan
hormon antidiuretik untuk mengobati
diabetes insipidus nefrogenik.

Efek Farmakologis dan Mekanisme Kerja.


a. Mekanisme Kerja : Derivat tiazid bekerja
terutama pada tubulus distal untuk menurunkan
reabsorbsi
Na+
dengan
menghambat
kontrasporter Na+/Cl- pada membran lumen
obat-obat ini memiliki sedikit efek pada tubulus
Proksimal.
Akibatnya,
Obat-obat
ini
meningkatkan konsentrasi Na+ dan Cl- pada
cairan tubulus.
b. Efek Farmakologis
. Meningkatkan ekskresi Na+ dan Clmenyebabkan ekskresi urin yang sangat
hiperosmolar.

Efek Farmakologis dan Mekanisme Kerja.


Kehilangan K+: meningkatnya Na+ dalam
filtrat yang mencapai tubulus distal, maka
juga lebih banyak K+ yang ditukar untuk
menggantikan Na+.
Menurunkan ekskresi kalsium dalam urin :
menurunkan kandungan Ca++ dalam urin
dengan meningkatkan reabsorpsi Ca++.
Menurunkan tahanan perifer vaskular :
penurunan awal tekanan darah terjadi
akibat penurunan volume darah dan karena
itu menurunkan curah jantung.

Efek Samping Obat :


1. Hipokalemia (efek samping yang sangat sering terjadi pada terapi
jangka panjang dengan diuretik, yaitu 25-40% kasus)
2. Hipomagnesemia, tetapi hiperkalsemia (penghambatan ekskresi
Ca2+ tubular)
3. Alkalosis metabolik, hipokloremis
4. Toleransi glukosa yang berkurang (bahaya manifestasi diabetes
melitus pada kondisi metabolik pradiabetes)
5. Gangguan metabolisme lemak, kenaikan kadar trigliserid serum
dan kadar kolesterol serum; kenaikan LDL, HDL tidak berubah atau
turun; setelah kurang lebih 6 minggu akan menjadi manifestasi
6. Hiperurisemia (mncetuskan serangan pirai pada pasien yang ada
disposisi) penyebabnya adalah penghambatan kompetitif sekresi
asam urat yang berlangsung melaui sistem transpor anion
ditubulus proksimal seperti juga eliminasi diuretik tiazid. Setelah
kurang lebih 7-10 hari kenaikan asam urat serum akan mencolok

Interaksi.
Dapat meningkatkan toksisitas glikosida
digitalis, efek hambatan neuromuskuler
dari pelemas otot, efek antihipertensi.
Peningkatan resiko hipotensi postural
dengan alkohol, barbiturate, opioid, efek
menekan
K
ditingkatkan
oleh
kostikosteroid, ACTH dan karbenoksolon.

Kontraindikasi.
Gangguan fungsi ginjal yang berat (anuria)
Gangguan fungsi hati yang berat (prakoma
dan koma hepatikum)
Peningkatan bahaya hipokalemia
Hipersensitivitas
(alergi)
terhadap
Sulfonamid dan antidiabetik oral tipe
Sulfonilurea: bahaya alergi silang

Spironolakton
Tinjauan Kimia.
Nama Obat
: Spironolakton
Rumus Kimia
: C24H32O4S
Rumus Bangun : (7alfa,17alfa)-7(Acetylthio)-17-Hydory-3-oxo-pregn4-ene-21-cqrboxylic acid y-lactone

Penggunaan Klinis.
a. Diuretik : Meskipun memiliki efektivitas rendah
dalam memobilisasi Na+, namun obat-obat ini
dapat menyebabkan retensi K+, diberikan bersama
tiazid atau loop diuretik untuk mencegah
ekskresi K+ yang terjadi dengan obat-obat ini.
b. Hiperaldosteronisme sekunder : satu-satunya
diuretik hemat kalium yang digunakan tunggal
secara rutin untuk menimbulkan efek negatif
bersih keseimbangan garam. Obat ini efektif
dalam
keadaan
klinik
yang
disertai
hiperaldosterone sekunder.

Efek Farmakologis dan Mekanisme Kerja.


a. Mekanisme
Kerja
:
Spironolakton
berkompetisi dengan aldosteron pada reseptor
di tubulus
ginjal distal, meningkatkan
natrium klorida dan ekskresi air selama
konversi ion kalium dan hidrogen, juga dapat
memblok efek aldosteron pada otot polos
arteriolar.
b. Efek Farmakologis
. Pada kebanyakan keadaan edema, kadar
aldosteron darah tinggi, yang merupakan
cara mempertahankan Na+

Efek Farmakologis dan Mekanisme Kerja.


Pada pasien dengan aldosteron yang
beredar meningkat, menyebabkan retensi
K+ dan ekskresi Na+.
Bila tidak ada kadar aldosteron yang
bermakna beredar, seperti pada penyakit
addison ( insufiensi adrenal primer),tidak
terjadi efek diuretik pada obat ini.

Efek Samping Obat :


Secara kimia mirip steroid kelamin,
aktivitas hormonal minimal
Dapat menyebabkan ginekomastia pada
laki-laki
Menstruasi tidak terutur pada perempuan
Tidak dianjurkan digunakan dalam dosis
tinggi dalam jangka waktu lama.
Pada dosis rendah
menyebabkan hiperkalemia, mual, letargi
dan kebingungan mental dapat terjadi.

Interaksi.
Penggunaan bersamaan spironolakton
dengan diuretik hemat kalium lainnya,
suplemen kalium, antagonis reseptor
angiotensin, kotrimoksazol (dosis besar)
dan inhibitor ACE dapat meningkatkan
risiko hiperkalemia, terutama pada pasien
gangguan ginjal.

Kontraindikasi.
Insufisiensi ginjal akut, kerusakan
ginjal, anuria (tidak dibentuknya kemih
oleh ginjal),
hiperkalemia
(kadar
Kalium dalam darah di atas normal).

Penyekat -bloker

-bloker Selektif
Asebutolol
metoprolol
Atenolol
bisoprolol

-bloker Non Selektif


Propanolol
Timolol
Nadolol
Pindolol
Oksprenolol
alprenolol

Penyekat -bloker
-bloker Selektif : artinya relatif hanya mengikat 1
-bloker Nonselektif : relatif tidak selektif artinya
mengikat 1 dan 2

Norepinefrin

Reseptor 1 Takikardi
Peningkatan Penguraian
Lemak
Peningkatan Kontraksi
Jantung
Reseptor 2
Vasodilatasi
Bronkodilatasi
Peningkatan pelepasan glukago
Relaksasi uterus

Propanolol
Tinjauan Kimia.
Nama Obat
: Propanolol
: C16H21NO2.HCl
Rumus Kimia
Rumus Bangun : ( + ) -1Isopropylamino-3-(1OH
naphthyloxy)propan-2-ol
OCH2CHCH2NHCH2(CH2)2
hydrochloride.

Penggunaan Klinis.
a. Hipertensi : menurunkan tekanan darah dengan
mnurunkan curah jantung.
b. Glaukoma : Efektif menurunkan tekana dalam bola mata
disebabkan berkurangnya sekresi cairan humor yang
diproduksi badan silaris.
c. Migren : efektif dalam mengurangi serangan berkala
migren
d. Hipertiroid : efektif menumpulkan pacu simpatetik yang
meluas pada penderita hipertiroid
e. Angina pektoris : menurunkan kebutuhan oksigen otot
jantung dan oleh sebab itu efektif meredam nyeri dada kiri
yang merupakan gejala umum angina.
f. Infark miokardial : Mampu melindungi miokard

Efek Farmakologis dan Mekanisme Kerja.


Prototipe antagonis adrenergik - dan
menyekat baik reseptor 1 maupun reseptor 2.
Sediaan lepas lambat yang saat ini
memungkinkan pemberian dosis sekali per hari
saja. Propanolol mengurangi curah jantung yang
mempunyai efek inotropik dan kronotropik
negatif. Obat ini bekerja langsung menekan
aktivitas sino-aurikular dan atrioventrikular.

Efek Samping Obat :


Jantung: bradikradi, gagal jantung kongestif,
penurunan sirkulasi perifer, hipotensi, sakit
dada,
kontraksi
miokardial,
raynauds
syndrom, menseterik trombosis, syncope.
SSP: depresi mental, amnesia, halusinasi,
dizziness,
insomia,
vertigo,
psikosis,
hypersomnolence dan fatique.
Dermatologi:
alopesia,
dermatitis,
hiperkeratosis, pruritis, urtikaria, sindrom
stevens-johnson , fuxil epiderma necrolysis.
Gastrointestinal: diare, muntah, mual,
konstipasi dan anoreksia.

Efek Samping Obat :


Genitourinaria:
Impoten,
proteinuria,
oligouria, interstitial nephritis, peyroies
disease.
Hematologi:
agraniulositosis
trombositopenia, trombositopenia purpura.
Neuromuskular: rasa lemah, carpal
tunnel syndrome, paresthesis, arthropathy.
Mata: Konjugasi hyperemis, penurunan
produki air mata,penurunan penglihatan.
Pernapasan:
mengik,
faringitis,
bronkospamus,
udem
pulmonary,
laryngospasmus.

Interaksi Obat
Reserpin menaikkan efek dari propranolol. Penggunaan
bersama propranolol dapat menaikkan efek alfa bloker
(prazosin,terazosin),stimulan alfa adrenergik (epinefrin,
penilefrin) dan efek vaksokontriksi dari alkaloid ergot.
Propranolol dapat menaikkan bioavalibilitas dari
serotonin agonis reseptor 5-HT1D, propranolol dapat
menurunkan metabolisme dari lidokain.
Beta bloker dapat menaikkan efek dari kontrasepsi oral,
flekainida, haloperidol (efek
hipotensi),simetidin,hidralazin, fenotiazin, hormon tiroid
(ketika pasien hipotiroid masuk dalam keadaan
euthyroid).
Beta bloker dapat menaikkan efek toksik dari flekainid,
haloperidol (efek hipotensi) hidralazin, fenotiazin,
asetaminofen, antikoagulan (warfarin) dan
benzodiazepin.

Kontraindikasi.
Hipersensitif terhadap propranolol, bloker
atau beberapa komponen lain dalam
sediaan, tidak boleh digunakan untuk gagal
jantung
kongestif,
syok
kardiogenik,
bradikardi,
udem
pulmoner,
penyakit
hiperaktif pernafasan (asma atau COPD),
raynauds disease, kehamilan (trimester 2
dan 3).

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Farmakologi dan Terapeutik. 2007. Farmakologi dan Terapi Edisi V.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 2406/Menkes/Per/XII/2011 Tentang Pedoman Umum
Penggunaan Antibiotik.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2015. Pusat Informasi
Obat Nasional., Jakarta: Badan POM RI.
Tjay, TH dan Rahardja, K. 2013. Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan
Efek-Efek Sampingya. Jakarta: PT Elex Media Komputindo Kelompok
Gramedia.
Mycek, Mary J,2001. Farmakologi ed 2.Alih bahasa Awar Agoes. Jakarta: Widya
Medika
Pratiwi, Sylvia T.2008. Mikrobiologi Farmasi. Jakarta: Erlangga
Jawetz, Ernest.2006. Mikrobiologi Kedokteran ed 20. Alih bahasa Edi Nugroho.
Jakarta: EGC

Terima
kasih