Anda di halaman 1dari 37

PENULISAN IMBUHAN

Awalan
(prefiks)

Sisipan (infiks)

JENIS
IMBUH
AN
Imbuhan
Gabung
(konfiks)

Awalan (prefiks), yaitu morfem terikat yang


dibubuhkan di awal kata baik kata itu berupa
kata dasar maupun sudah merupakan kata
jadian. Awalan itu antara lain: me-N, ber-, terke-, se-, di-, pe-N, dan per-.
Contoh prefiks dalam bahasa Indonesia:
berlari:ber-adalah prefiks yang memiliki arti melakukan
seekor:se-adalah prefiks yang memiliki arti satu
mahakuasa:maha-adalah prefiks serapan yang memiliki
arti paling

Sisipan (infiks), yaitu bentuk morfem terikat


yang dibubuhkan atau lebih tepat disisipkan di
tengah kata dasar. Ada 3 jenis sisipan yaitu er-el-, -em-.
Contoh infiks dalam bahasa Indonesia:
Prefiks diBerfungsi membentuk kata kerja, dan
menyatakan makna pasif.
Contoh:diambil,diketik,ditulis,dijemput

Imbuhan gabung (konfiks), yaitu bentuk


Morfem terikat yang dibubuhkan secara
gabungan antara awalan, sisipan dan akhiran.
Misalnya: memperkan, memper-i, me-i, me
kan, di-i, di-kan, ke-an, keter-an, dan lain-lain.
Contoh konfiks dalam bahasa Indonesia:
Makna imbuhan gabung (konfiks) me-kan
Melakukan: melemparkan
Menjadikan/menyebabkan: menjatuhkan
Melakukan tindakan untuk orang lain: mengambilkan

GABUNGAN KATA
1. Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk ditulis terpisah.
Contoh: tanda tangan; terima kasih; rumah sakit; tanggung jawab; kambing
hitam; dll.
Perhatikan kalau gabungan kata itu mendapatkan imbuhan!
Apabila gabungan kata itu mendapatkan awalan atau akhiran saja, awalan
atau akhiran itu harus dirangkai dengan kata yang dekat dengannya. kata
lainnyatetap ditulis terpisah dan tidak diberi tanda hubung.
Contoh: berterima kasih; bertanda tangan; tanda tangani; dll.
Apabila gabungan kata itu mendapatkan awalan dan akhiran,penulisan
gabungan kata harus serangkai dan tidak diberi tanda hubung.
Contoh: menandatangai; pertanggungjawaban; mengkambinghitamkan; dll.

2. Gabungan kata yang sudah dianggap satu


kata.
Dalam bahasa Indonesia ada gabungan kata yang
sudah dianggap padu benar. Arti gabungan kata itu
tidak dapat dikembalikan kepada arti kata-kata itu.
Contoh: bumiputra; belasungkawa; sukarela;
darmabakti; halalbihalal; kepada; segitiga; padahal;
kasatmata; matahari; daripada; barangkali;
beasiswa; saputangan; dll
Katadaripada, misalnya, artinya tidak dapat
dikembalikan kepada katadaridanpada. Itu
sebabnya, gabungan kata yang sudah dianggap
satu kata harus ditulis serangkai.

3. Gabungan kata yang salah satu unsurnya tidak


dapat berdiri sendiri sebagai satu kata yang
mengandung arti penuh, unsur itu hanya muncul
dalam kombinasinya.
Contoh: tunanetra; tunawisma; narasumber; dwiwarna;
perilaku; pascasarjana; subseksi; dll.
Katatunaberartitidak punya, tetapi jika ada yang
bertanya, Kamu punya uang? kita tidak akan
menjawabnya dengan tuna. Begitu juga dengan
katadwi, yang berartidua, kita tidak akan berkata,
saya punya dwi adik laki-laki. Karena itulah
gabungan kata ini harus ditulis dirangkai.

PENULISAN KATA DEPAN

Kata depan penanda tempat keberadaan dan waktu, yaitu: di,


pada, dalam, dan antara
Contoh: Adikku bersekolah di SDN 4 Pulau Panggung.
Kata depan penanda arah atau tempat asal, yaitu: dari
Contoh: Siswa baru itu pindahan dari Jakarta.
Kata depan penanda arah atau tempat tujuan, yaitu: ke,
kepada, akan, dan terhadap
Contoh: Surat ini ditunjukan kepada bapak kepala sekolah SMAN 3 Budi
Mulia
Kata depan penanda pelaku, yaitu: oleh
Contoh: Pekerjaan itu diselesaikan oleh dirinya sendiri
Kata depan penanda alat atau cara yaitu: dengan, dan berkat
Contoh: Ayah memotong rumput dengan menggunakan pisau rumput.

Kata depan penanda perbandingan, yaitu:


daripada
Contoh: Rumahku lebih kecil daripada rumah pejabat
itu.
Kata depan menunjukan suatu hal atau
permasalahan, yaitu: tentang dan mengenai
Contoh: Ani bertanya mengenai sikapku padanya
beberapa hari yang lalu.
Kata depan penanda hubungan akibat, yaitu:
hingga dan sampai
Contoh: Sinta menangis sampai air matanya
mengering.
Kata depan penanda hubungan tujuan, yaitu:
untuk, buat, guna, dan bagi.
Contoh: Belajarlah yang giat guna masa depan yang
cemerlang.

PENULISAN PARTIKEL

Terdapat lima partikel dalam bahasa Indonesia, yaitu lah, kah,


tah,
per, dan pun.

Partikellah,kah, dantahditulis serangkai dengan kata


yang mendahuluinya.
Contoh: Apakahkucing ini milik Anda?; Tengoklah ke kiri
dan ke kanan jika hendak menyeberang jalan!
Partikelperyang berartitiap-tiap, demi, dan
mulaiditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului
dan mengikutinya. Namun, partikelperpadabilangan
pecahanditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
Contoh: Harga kain itu adalah sepuluh ribu
rupiahpermeter; duapertiga.
Partikelpunyangsudah dianggap padu benarditulis
serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Sedangkan
partikelpunyang ditulissetelah kata benda, kata sifat, kata
kerja, dan kata bilangan, dituliskan terpisah.
Contoh: walaupun; meskipun; biarpun; adapun;
bagaimanapun; kendatipun; maupun;
sekalipun;sungguhpun;

PENULISAN KATA ULANG


Pengulangan Kata Dasar
Contoh: anak-anak, sekolah-sekolah
Pengulangan Kata Berimbuhan
Contoh: bersahut-sahutan
Pengulangan Gabungan Kata
Contoh: meja-tulis, buku-gambar
Pengulangan Kata yang Berubah Bunyi
Contoh: sayur-mayur, lauk-pauk

SINGKATAN
CONTOH:
DR.

DOKTOR,

DR.

DOKTER

CONTOH:
DPR

D E W A N P E R W A K I L A N R A K YAT

CONTOH:
DLL. DANLAIN-LAIN
D S B . D A N S E B A G A I N YA

AKRONIM
Contoh :
ABRI

Angkatan Bersenjata Republik Indonesia

LAN

Lembaga Adminnistrasi Negara

Contoh :
pemilu

pemilihan umum

rapim

rapat pimpinan

catatan :
jika dianggap perlu membentuk akronim, hendaknya
diperhatikan syarat-syarat :
Jumlah suku kata akronim jangan melebihi jumlah suku
kata yang lazim pada kata indonesia
Akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian
kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola
kata indonesia yang lazim.

ANGKA LAMBANG BILANGAN


contoh :
17 Agustus 1945
50 dolar Amerika
Contoh :
Jalan Tanah Abang 1 No. 15
Hotel Indonesia, Kamar 169
Contoh :
Bab X, Pasal 5, halaman 252
Surat Yasin: 9

Bilangan utuh
Contoh : dua belas
Bilangan pecahan

12

contoh : setengah
1/2
Penulisan lambang bilangan tingkat dapat
dilakukan dengan cara berikut
contoh : Paku Buwono X
Penulisan lambang bilangan yang mendapat
akhiran -an mengikuti cara yang berikut :
contoh : tahun 50-an atau lima puluhan
Lambang bilangan yang dapat dinyatakan
dengan satu atau dua kata ditulis dengan
huruf.
Contoh : Saya pergi ke Borobudur sudah tiga
kali.

Lambang bilangan ditulis dengan angka jika dipakai


secara berurutan, seperti dalan perincian dan pemaparan
.
Contoh : Kendaraan pengangkutan umum terdiri atas 50
bus dan 100 helicak
Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan
huruf.
Contoh : Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu.
Angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar
dapat dieja
Contoh : Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman
250 juta rupiah.
Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf
sekaligus dalam teks, kecuali di dalam dokumen resmi
seperti akta dan kuitansi
Contoh : Kantor kami mempunyai dua puluh orang
pegawai.
Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf ,

PEMENGGALAN KATA
1. Contoh :
Ma-in, sa-at, bu-ah
2. Contoh :
Au-la bukan a-u-la, Sau-da-ra bukan sa-u-da-ra
3.Contoh :
ba-pak, ba-rang, su-lit, de-ngan, ke-nyang, mu-ta-khir
4.Contoh :
man-di, som-bong, swas-ta, cap-lok,
5. Contoh :
in-stru-men, ul-tra, in-fra,
6. Contoh :
makan-an, me-rasa-kan
7. Contoh :
Bio-grafi atau bi-o-gra-fi, foto-grafi atau fo-to-gra-fi

Keterangan :
Nama orang, badan hukum, dan nama diri yang lain
disesuaikan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan kecuali jika ada pertimbangan khusus.

PEMILIHAN KATA

KATA BAKU
Kata yang sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia dan
tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Penggunaan kata kata non baku dalam surat resmi
maupun tulisan formal tidak dibenarkan
Contoh kata baku non baku :
Sistem Sistim
Apotek Apotik
Analisis Analisa
Atlet Atlit
Dll

KATA YANG LAZIM


Merupakan kata yang bersifat umum dalam masyarakat.
Sehingga dalam penggunaanya, kata kata ini mudah
dimengerti
Contoh kata yang lazim non lazim :
Tekanan Pressure
Masukan Input
Dampak Impact
Dll

KATA YANG CERMAT


Pemilihan kata tentu harus hati - hati. Kata yang dipakai
harus tepat dengan sasaran dan tanpa merendahkan
pihak lain sehingga kata yang digunakan bersifat jelas
Contoh penggunaan kata yang cermat
Menggunakan kata yang sopan
Menggunakan kata yang tidak keluar dari topik
Dll

UNGKAPAN IDIOMATIK
Ungkapan idiomatik adalah konstruksi yang khas pada suatu
bahasa. Oleh karena itu, unsur unsur dalam konstruksi
tersebut tidak dapat ditambah maupun di kurangi
Contoh Pemakaian Ungkapan Idiomatik
Menteri dalam negeri bertemu Presiden SBY. (salah)
Menteri dalam negeri bertemu dengan Presiden SBY.
(benar)
Indonesia terdiri pulau pulau (salah)
Indonesia terdiri atas pulau pulau (benar)
Dll

UNGKAPAN PENGHUBUNG
a) Ungkapan Penghubung Intra Kalimat
Kata yang digunakan sebagai penghubung dalam 1 kalimat
contoh :
- ..dan.
- bahwa. Dll
b) Ungkapan Penghubung Antar Kalimat
Kata yang digunaka sebagai penghubung antar kalimat
contoh :
- Akan tetapi,.
- Oleh karena itu, dll

UNGKAPAN YANG
BERSINONIM
Ungkapan / kata yang memiliki makna yang sama.
Ungkapan ini tidak diperbolehkan digunakan sekaligus.
Apabila digunakan sekaligus tentu hal tersebut
menjadikan suatu kalimat menjadi tidak efektif karena
kalimat tersebut bertele tele
Contoh ungkapan yang bersinonim :
Agung Besar
Angkuh Sombong
Sejak Dari dll

UNGKAPAN YANG MIRIP


Dalam Bahasa Indonesia terdapat ungkapan yang hampir
memiliki kesamaan dari segi makna maupun segi bentuk.
Contoh :
Tiap dengan Masing
Jam dengan Pukul
Kau dengan Dikau dll

Konsonan

Luluh : K T S P

PENGGUNAAN
BENTUK
KATA

Gugus konsonan
(kluster) tidak
luluh

Awalan meNmenjadi
mengeKata kerja intrantif
Berimbuhan meN-I
dan meN-kan

KONSONA
N

KTSP

+
meN/peN
CONTOH LULUH

SYARAT :
1. Diawali dengan huruf
K, T, S, atau P
2. Lebih dari satu suku
kata
3. Diawali dengan KV,
bukan
KK
(huruf
pertama
berupa
konsonan,
huruf
kedua berupa vokal)

No.

Kata
Dasar

+ meN

+ peN

1.

Kaca

Mengaca

2.

Sapu

Menyapu

Penyapu

3.

Tinggi

Meninggi

4.

Puji

Memuji

Pemuji

5.

Panah

Memanah

Pemanah

CONTOH TIDAK LULUH


No.

Kata Dasar

+ meN

1.

Punya

Mempunyai

2.

Kaji

Mengkaji

3.

Klarifikasi

Mengklarifikasi

MENSYARAT

Bila bertemu dengan kata dasar


yang terdiri dari 1 suku kata
No.

CONTO
H

Menge-

Kata Dasar

+ MeN- menjadi

1.

Pel

Mengepel

2.

Bor

Mengebor

3.

Cat

Mengecat

4.

Tik

Mengetik

5.

Lap

Mengelap

6.

Pak

Mengepak

1. TIDAK MEMERLUKAN OBYEK


2. TIDAK DAPAT DIUBAH DALAM
BENTUK PASIF

Ani melamun sepanjang malam.


S Kk. Intr K
Udin berteriak
S

Kk. Intr

Kata
Kerja
Intrantif

IMBUHAN
MeN-dan MeNkan
a. Ia menugaskan saya penyelesain masalah itu.

b. Ia menugasi saya penyelesaian masalah itu.


Bentuk pasif kalimat diatas adalah:

SEBAB

a. Saya ditugasi penyelesain masalah itu olehnya.


b. Penyelesaian masalah itu ditugaskan kepada saya
olehnya.

IMBUHAN
Pe(n)-dan -an

Contoh :
Semua pelanggan bapak saya layani dengan baik

Contoh kesalahan yang sering dijumpai adalah :


Semua langganan Bapak saya layani dengan baik.
(Bentuk yang benar adalah pelanggan,bukan
langganan)

MENGHINDARI BENTUK RANCU


Bentuk rancu,yaitu bentuk yang terjadi dari dua
kata masing masing berdiri sendiri
dicampuradukkan menjadi bentuk baru yang
tidak berpasangan.
Contoh

Bentuk asal

Bentuk baru

Mengesampingkan

mengenyampingkan

Diajarkan

dipelajarkan

Berulang-ulang

berulangkali

PENGHINDARAN 2 BENTUK KATA


YANG SEMAKNA DALAM SATU FRASE

Contoh

Bentuk Awal

Bentuk Seharusnya

Demi untuk

Demi atau Untuk

Mulai sejak

Mulai atau Sejak

lalu kemudian

lalu atau
kemudian

PENGHINDARAN BENTUK JAMAK YANG


DINYATAKAN DUA KALI

Para pemimpin-pemimpin akan hadir juga.

Seharusnya
1a. Para pemimpin akan hadir juga.
1b. Pemimpin pemimpin akan hadir juga.

PENGHINDARAN BENTUKAN KATA


BERIMBUHAN MEN-IR DAN MEN-IRKAN
Bentuk dasar yang dipilih untuk menjadi kata
kerja dengan menggunakan morfem /meN-/
atau /meN-kan sebaiknya bentuk dasar kata
bendanya
Contoh :
Proklamasi ( Kata Benda)
Memproklamasikan
Bukan Memproklamirkan

TERIMA KASIH