Anda di halaman 1dari 41

REFERAT

IMUNISASI
ANNISA RATNANINGTYAS

Imunisasi
Immune = kebal/resisten
Suatu cara meningkatkan
kekebalan seseorang secara
aktif terhadap suatu antigen,
sehingga bila kelak ia terpajan
pada antigen yang serupa
tidak terjadi penyakit.

Imunisasi
Menurut IDAI
Pasif: pemindahan atau transfer
antibody secara pasif, berlangsung
lebih singkat karena kekebalan ini
diberikan langsung oleh ibu, misal
lewat janin atau kekebalan melalui
pemberian suntikan immunoglobulin.
Aktif (vaksinasi): memberikan vaksin
(antigen) yang dapat merangsang
antibody di dalam tubuh

Vaksinasi
Bahan yang dipakai untuk merangsang
pembentukan antigen yang berasal dari
mikroorganisme atau patogen yang
dimasukkan ke dalam tubuh melalui
suntikan
Memberikan efek infeksi ringan yang
tidak berbahaya dan tubuh akan
mempersiapkan antigen sehingga kelak
apabila terpajan dengan penyakit
sesungguhnya tidak akan menimbulkan
sakit

Tujuan Imunisasi
Membentuk kekebalan untuk
mencegah penyakit, baik pada diri
sendiri maupun orang lain,
sehingga angka kejadian penyakit
menular di beberapa daerah
dapat menurun atau bahkan
menghilang

Jenis Respon Imun


Respon imun non spesifik;
komponen normal tubuh, telah
ada dan siap berfungsi sejak lahir.
Respon imun spesifik;
kemampuan untuk mengenal
benda asing bagi dirinya dan bila
terpajan ulang akan dikenal lebih
cepat, kemudian dihancurkan.

Keberhasilan Imunisasi
Status imun penjamu
Faktor genetik penjamu
Kualitas dan kuantitas vaksin
Cara pemberian vaksin
Dosis vaksin
Frekuensi pemberian
Jenis vaksin

Jenis Vaksin
Vaksin hidup attenuated yang
tersedia (Vaksin hidup dibuat dari
virus atau bakteri liar (wild) penyebab
penyakit yang dilemahkan (attinuated)
di laboratorium, biasanya dengan cara
pembiakan berulang-ulang):
Virus hidup: campak, gondongan
(parotitis), rubella, polio, rotavirus,
demam kuning (yellow fever).
Bakteri: BCG dan demam tifoid oral

Vaksin inactivated
Dihasilkan dengan cara membiakkan
bakteri atau virus dalam media
pembiakan (persemaian), kemudian
dibuat tidak aktif dengan penambahan
bahan kimia (biasanya formalin)
Vaksin inactivated tidak hidup dan tidak
dapat tumbuh, maka seluruh dosis
antigen dimasukkan dalam suntikan.
Vaksin inactivated selalu memerlukan
dosis ganda.

Vaksin Inactivated yang tersedia saat


ini berasal dari:
Seluruh sel virus yang inactivated;
influenza, polio, rabies, hepatitis A.
Seluruh bakteri yang inactivated; pertusis,
tifoid, kolera, lepra.
Vaksin fraksional yang masuk sub-unit;
hepatitis B, influenza, pertusis a-seluler,
tifoid Vi, lyme disease.
Toksoid; difteria, tetanus, botulinum.
Polisakarida murni; pneumokokus,
meningokokus, dan haemophilus influenzae
tipe b.

Cara Pemberian
BCG; intrakutan didaerah kanan atas
(insertion musculus deltoideus) dengan
dosis 0,05 ml
DPT; intramuscular sebanyak 0,5 ml
Polio; 2 tetes kedalam mulut
Campak; subcutan di lengan kiri atas
sebanyak 0,5 ml
Hepatitis B; intramuscular pada
anterolateral paha sebanyak 0,5 ml

Jarum suntik harus disuntikan dengan sudut 45 0-600


ke dalam otot vastus lateralis atau otot deltoid.
Suntikan otot vastus lateralis, jarum diarahkan ke
arah lutut
Suntikan pada deltoid jarum diarahkan ke pundak.
Sudut 900 kerusakan saraf dan pembuluh vaskular

CARA PENYUNTIKAN VAKSIN


Subkutan
Perhatian
Penyuntikan subkutan diperuntukan imunisasi MMR, varisella, meningitis
Perhatikan rekomendasi untuk umur anak
Umur
Tempat
Bayi (lahir s/d12 Paha
bulan)
anterolater
al
1-3 tahun

Anak > 3 tahun

Paha
anterolater
al/
Lateral
lengan
atas
Lateral
lengan
atas

Ukuran jarum
Jarum
5/83/4
Spuit no 2325
Jarum
5/83/4
Spuit no 2325

Insersi jarum
Arah jarum 45o
Terhadap kulit

Jarum
5/83/4
Spuit no 2325

Aspirasi
spuit
sebelum
disuntikan
Untuk suntikan
multipel

Cubit
tebal
untuk suntikan
subkutan

CARA PENYUNTIKAN VAKSIN


Intramuskular
Perhatian:
Diperuntukan Imunisasi DPT, DT,TT, Hib, Hepatitis A & B, Influenza.
Perhatikan rekomendasi untuk umur anak

Umur
Tempat
Bayi (lahir s/d Otot vastus
12 bulan
lateralis pada
paha daerah
anterolateral
1-3 tahun
Otot vastus
lateralis pada
paha daerah
anterolateral
sampai masa
otot deltoid
cukup besar
(pada umumnya
umur 3 tahun
Anak > 3
Otot deltoid, di
tahun
bawah akromion

Ukuran jarum
Jarum 7/8-1
Spuit n0 22-25

Insersi jarum
1. Pakai jarum yang
cukup panjang untuk
mencapai otot

Jarum 5/8-1
(5/8 untuk
suntikan di
deltoid umur 1215 bulan
Spuit no 22-25

2. Suntik dengan arah


jarum 80-90o. lakukan
dengan cepat
1. Tekan kulit sekitar
tepat suntikan
dengan ibu jari dan
telunjuk saat jarum
ditusukan

Jarum 1-1
Spuit no 22-25

1. Aspirasi spuit sblm


vaksin disuntikan,
2. Untuk suntikan
multipel diberikan

Kontraindikasi pemberian imunisasi


Pernah mengalami kejadian ikutan pasca
imunisasi yang berat (memerlukan pengobatan
khusus atau perlu perawatan di RS).
Alergi terhadap bahan yang juga terdapat di
dalam vaksin (neomisin).
Pengobatan Steroid jangka panjang, radioterapi,
atau kemoterapi.
Tinggal serumah dengan orang lain yang
imunitasnya menurun (leukimia, kanker,
HIV/AIDS).
Pada bulan lalu mendapat imunisasi yang berisi
vaksin virus hidup (vaksin campak, poliomielitis,
rubela).
Pada 3 bulan yang lalu mendapat imunoglobulin

KIPI (Kejadian Ikutan Pasca


Imunisasi)
Kejadian medik yang berhubungan
dengan imunisasi, baik oleh karena
efek vaksin maupun efek samping,
toksisitas, reaksi sensitivitas, efek
farmakologis, kesalahan program,
reaksi suntikan, atau penyebab lain
yang tidak dapat ditentukan.
Dikategorikan sebagai:
Kesalahan program
Reaksi suntikan
Reaksi vaksin

Vaksin yang dianjurkan IDAI 2010


-

Vaksinasi yang dianjurkan Pemerintah 2010


- MMR (campak, gondong,
Tuberculosis
Hepatitis B
rubella)
DPT (Difteri, tetanus, - Haemophilus influenza tipe B
- Demam tifoid
pertusis)
- Varisela
Poliomielitis
- Hepatitis A
Campak
- Influenza
- Pneumokokus
- Rotavirus
- Yellow fever
- Japannesse encephalitis
- Meningokokus

Vaksin BCG
Definisi
Vaksin TB tidak
mencegah infeksi TB,
tetapi mencegah infeksi
TB berat (meningitis TB
dan TB milier).
Waktu 6-12 minggu untuk
menghasilkan efek
(perlindungan)
kekebalannya.
Diberikan pada anak < 2
bulan, anak usia 1-15 th
yg belum divaksin
< 1 th 0,05 ml dan anak
0,10 ml, intrakutan di
daerah insersio m. deltoid

Reaksi

Papul merah yang


kecil timbul dalam
waktu 1 3 minggu
yang akan semakin
lunak, hancur, dan
menimbulkan parut,
sembuh dalam 3
bulan

Vaksin Hepatitis B
Vaksinasi wajib bagi bayi dan anak karena pola
penularannya bersifat vertikal.
Nama Produse
Cara
Dagang
n
Pemberi
an
Engerix
GSK
IM
B
Euvax
Sanofi
IM
pasteur
HB VAX
MSD
IM
II
Hepava Kalbuitec
IM
x Gene
h
Hepatiti
Bio
IM
sB
Farma

Dosis

Anak
Dewasa
Anak
Dewasa
Anak
Dewasa
Anak
Dewasa
Anak

10
20
10
20
10
20
10
20
10
20

mcg
mcg
mcg
mcg
mcg
mcg
mcg
mcg
mcg
mcg

Interval
Pemberi
an
Bulan ke0,1,6
Bulan ke0,1,6
Bulan ke0,1,6
Bulan ke0,1,6
Bulan ke0,1,6

Pemberian
Diberikan 3 kali
pemberian, disuntikan
secara dalam (sampai
ke otot).
Jadwal 0, 1, 6 bulan
(kontak pertama, 1
bulan, dan 6 bulan
kemudian).
Bayi baru lahir
diberikan dengan
jadwal berikut :
Dosis pertama: < 12
jam

Reaksi
Ringan dan bersifat
sementara
Demam ringan
untuk 1-2 hari

Vaksin Difteri
Definisi

Reaksi

Diberikan bersamaan
dengan imunisasi
tetanus dan pertusis,
dalam bentuk vaksin
DPT.
Usia > 6 minggu - 7 th
vaksin DPT (DtaP atau
DTwP)
Usia 7-18 th vaksin
difteri dalam bentuk
vaksin Td (Tetanus dan
Difteri) atau vaksin Tdap
(tetanustoxoid, reduced
diphteria toxoid, dan

Demam ringan dan


reaksi lokal berupa
kemerahan, bengkak,
dan nyeri pada lokasi
suntikan.
Demam yang timbul
dapat akibatkan kejang
demam (+ 0,06%).
Tidak boleh diberikan
pada anak dengan
riwayat alergi dan
kejang pada pemberian
vaksin yang pertama.

Vaksin Polio
Pemberian

Reaksi

OPV (oral polio


vaccine) 2 tetes
melalui mulut,
diberikan pada bayi
baru lahir dilanjutkan
dengan imunisasi
dasar pada usia 2, 4,
dan 6 bulan.
IPV (inactivated polio
vaccine) suntikan
dosis 0,5 ml dengan
suntikan subkutan
dalam 3 kali di
lengan dengan jarak

Pusing, diare ringan,


dan nyeri otot.
Tidak dianjurkan
diberikan ketika
seseorang sedang
demam, muntah,
diare, sedang dalam
pengobatan
radioterapi atau obat
penurun daya tahan
tubuh, kanker,
penderita HIV, dan
alergi pada vaksin
polio.

Vaksin Campak
Jenis Vaksin Campak

Reaksi

Diberikan dalam bentuk


kombinasi dengan
gondongan dan
campak jerman (vaksin
MMR).
Virus campak hidup dan
dilemahkan (tipe
Edmonston-B)
Vaksin dari virus
campak yang dimatikan
(virus campak yang ada
dalam larutan formalin
yang dicampur dengan
garam aluminium).

Demam > 39,50C pada


5%-15% kasus, pada
hari ke 5-6 sesudah
imunisasi dan selama 2
hari
Kejang demam
Ruam timbul pada hari
ke 7-10 sesudah
imunisasi dan selama
2-4 hari
Berat: menyerang
sistem saraf pada hari
ke-30 sesudah
imunisasi.

Vaksin MMR
Definisi
Imunisasi kombinasi
untuk mencegah
penyakit campak,
gondongan, dan
rubella. Vaksin
kering, mengandung
virus hidup. Dosis
tunggal 0,5 ml
diberikan secara
intramuskular atau
subkutan dalam.
Usia 12-15 bln jika
tidak dapat imunisasi
campak

Reaksi
Reaksi sistemik,
seperti malaise,
demam, atau ruam
yang sering terjadi 1
minggu setelah
imunisasi dan
berlangsung selama
2-3 hari.

Campak
Edmonston

Galur virus
yang
dilemahkan
Gondongan
Jerryl lyn

Schwarz

Urabe AM-9

Rubella
Wistar
RA
27/3
Wistar
RA
27/3

Vaksin Hib
Vaksin yang tidak aktif, dibuat dari kapsul
Haemophilus influenza Tipe B (Polyribosribitol
phospat (PRP)).
2 jenis vaksin Hib di Indonesia:
PRP-T: usia 2, 4 dan 6 bulan
PRP-OMP: usia 2 dan 4 bulan
Intramuskular sebanyak 0,5 ml di daerah paha
atas.
Kekebalan tubuh akan mulai terbentuk setelah
pemberian suntikan yang pertama dengan
vaksin jenis PRP-OMP dan setelah 2 kali
suntikan dengan vaksin jenis PRP-T.
5%-30% anak memperoleh vaksinasi bisa
mengalami demam, bengkak kemerahan, dan

Vaksin Pneumokokus
2 macam vaksin:
PPV23
PCV7

Intramuskular atau subkutan di daerah


deltoid atau paha tengah lateral
sebanyak 0,5 ml.
Sejak usia 2 bln dengan interval 2
bulan sebanyak 3 kali.
Ulangan dilakukan pada anak yang
memiliki risiko tinggi tertular
pneumokokus pada usia 12-18 bulan.

30-50% mengalami eritema atau nyeri pada


tempat suntikan, biasanya berlangsung
kurang dari 48 jam. Reaksi lain berupa
demam, gelisah, pusing, nafsu makan
menurun, mialgia (pada anak <1%).
Kontraindikasi absolut: bila timbul anafilaksis
setelah pemberian vaksin.
Kontraindikasi relatif:
Usia kurang dari 2 tahun, karena respon terhadap
vaksin masih kurang baik
Dalam pengobatan imunosupresif atau radiasi
kelenjar limfe.

Vaksin Influenza
Mengandung virus yang tidak aktif
(inactivated influenza virus).
2 macam vaksin, yaitu whole virus dan
split-virus vaccine.
Dosis umur < 3 tahun adalah 0,25 ml
dan dosis umur > 3 tahun adalah 0,5
ml disuntikan di otot paha. Bila anak
berusia > 9 tahun, vaksin cukup
diberikan satu dosis dan diulang setiap
tahun.
Bengkak, nyeri, kemerahan pada

Vaksin Tiphoid
Vaksin oral: berasal dari kuman
Salmonella typhi yang dilemahkan,
disimpan dalam suhu 2-8oC dan dikemas
dalam bentuk kapsul, diberikan saat anak
berusia 6 th atau lebih sebanyak 4 kapsul
dengan jarak setiap 1 hari (hari 1-3-5-7),
dapat diulang tiap 5 tahun.
Respon imun akan terbentuk 10-14 hari
setelah dosis terakhir.
Muntah, diare, demam, dan sakit kepala

Vaksin parenteral: berasal dari


polisakarida Vi dari kapsul salmonella
typhi, yang dimatikan, disimpan dalam
suhu 2-8oC dan tidak boleh dibekukan.
Diberikan pada anak berusia 2 tahun atau
lebih. Satu dosis dapat diberikan setiap 23 tahun, secara intramuskular atau
subkutan di deltoid atau paha atas.
Respon imunitas akan terbentuk dalam 15
hari-3 minggu setelah imunisasi.
Demam, pusing, sakit kepala, nyeri sendi,
nyeri otot tempat suntikan.

Vaksin Hepatitis A
Berisi virus Hepatitis A yang
dilemahkan dan tersedia dalam 2
kemasan dosis, untuk anak-anak 2-18
tahun dan dewasa usia > 18 tahun.
Diberikan sebanyak 2 kali, suntikan
kedua diberikan 6-12 bulan dari
suntikan pertama, dan selanjutnya
tidak diperlukan pengulangan.
Efek samping; 10 %-15% nyeri dan
bengkak di tempat injeksi.

Jenis Vaksin

Usia

Dosis

Havrix (Glaxo
SmithKline)

2 - 18
th

720 ELISA
units

0,5

Dua dosis : 0
dan 6-12

> 18 th

ELISA units

Dua dosis : 0
dan 6-12

2 - 18
th

25 U

0,5

Dua dosis : 0
dan 6-18

> 18 th

50 U

Dua dosis : 0
dan 6-12

720 ELISA
units

Tiga dosis : 0,
1, dan 6

Vaqta (Merck)

Twinrix
> 17 th
(GlaxoSmithKli
ne)

Volum Jadwal (bulan


e (ml)
ke-)

Vaksin Varicella
Dianjurkan pada anak dengan usia > 1
tahun, cukup 1 dosis (IDAI) tapi hasil
penelitian tahun 2006 The Advisory
Commitee on Immunization Practices (ACIP)
dan America Academy of Pediatrics (AAP)
merekomendasikan 2 dosis untuk semua
anak.
Jarang terjadi, tetapi bila terjadi reaksi yang
muncul bersifat lokal (1%) yaitu bengkak
dan kemerahan pada tempat suntikan yang
terjadi beberapa jam sesudah suntikan.

Vaksin Rotavirus
2 macam vaksin:
Rotarix
Rotateg; vaksin prevalen karena
mengandung strain manusia-sapi
P(8)G1-G4.

Keduanya diberikan melalui mulut


(oral). Kedua vaksin tersebut terbukti
aman dari risiko gangguan usus.
Efektivitas vaksin berkurang bila
diberikan bersama vaksin polio oral.

Nama Vaksin

Rotavirus

Sasaran
imunisasi
Macam vaksin

Bayi sedini usia 4 minggu

Dosis

Rotarix, 3 dosis; Rotareg, 2 dosis

Jadwal
Pemberian

Rotarix : usia (4, 8) minggu; Rotateg : usia


(4,8,12) minggu

Cara Pemberian

Oral

Kontraindikasi

- Sebaiknya tidak diberikan bersamasama dengan vaksin polio oral


- Adanya infeksi bakteri patogen di
Usus
Diare, muntah, demam

KIPI

Rotarix, Rotateg

Vaksin Japanese
Diberikan secara serial dengan dosis 1
ml secara subkutan pada hari ke-0, hari
ke-7 dan hari ke-28.
Anak berumur 1-3 tahun, dosis yang
diberikan masing-masing 0,5 ml
dengan jadwal yang sama.
Bengkak di tempat penyuntikan,
demam, sakit kepala, menggigil, mual
dan muntah.

Vaksin Menigitis
Mencegah penyakit meningitis,
memiliki 4 subtipe dari bakteri
meningococcus, yaitu subtype A, C,
Y,dan W-135.
Reaksi berupa nyeri dan kemerahan
pada tempat suntikan, dapat terjadi
demam (5%). Reaksi alergi jarang
terjadi (kurang dari 0,1/100.000).

Daftar Pustaka
Suharjo, JB. Vaksinasi cara ampuh cegah penyakit infeksi. Kanisius :
2010
Sri, Rezeki S Hadinegoro. Prof. Dr. dr. SpA(K), dkk. Pedoman imunisasi
di Indonesia. Ikatan Dokter Indonesia. Edisi ke-2. Jakarta 2005
Ranuh IGN, Suyitno H, Hadinegoro SRS, Kartasasmita CB, penyunting.
Pedoman Imunisasi di Indonesia. Edisi ketiga. Jakarta: Satgas
Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2008.
Rahajoe NN, Basir D, Makmuri MS, Kartasasmita CB, penyunting.
Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak. Edisi kedua. Jakarta: UKK
Respiratologi PP IDAI; 2007.
Lawrence M Tierney Jr MD, Stephen J McPhee MD, Maxine A
Papadakis MD. Current Medical Diagnosis and Treatment 2002. Page
1313-1319.
Eric AF Simoes MD DCH and Jessie R Groothius MD. Immunization.
Page 235-258.
Jadwal Imunisasi Anak - Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia
(IDAI) 2008 [image on the Internet]. Jakarta: Ikatan Dokter Anak
Indonesia, 2008 Available from :
http://pediatricinfo.wordpress.com/2009/04/20/jadwal-imunisasi-2008idai/

Terima Kasih