Anda di halaman 1dari 10

Journal Reading

Besifloxacin Ophthalmic Suspension 0.6%


in the Treatment of Bacterial Keratitis:
A Retrospective Safety Surveillance Study

Harmas Novryan Fareza


201610401011069
SMF Ilmu Kesehatan Mata
RS Bhayangkara kediri
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah malang

Pendahuluan
Keratitis bakteri adalah kondisi
mata
yang
mengakibatkan
jaringan
parut
pada
mata,
kekeruhan
pada
kornea,
dan
hilangnya ketajaman visual pada
mata.
Keratitis
juga
mengakibatkan
perforasi
pada
kornea

Namun karena kerusakan epitel


kornea dapat menyebabkan invasi
mikroba, kerusakan stroma pada
kornea.

Cont.
Keratitis adalah termasuk
kasus
kegawatan
medis
yang
harus
ditangani
dengan
agresif
untuk
membatasi
keruskan
berikutnya
dan
dapat
berakibat
kehilangan
penglihatan pada pasien.

Cont
Faktor
predisposisi
terjadinya
keratitis adalah trauma okuli,
penyakit kronis pada permukaan
mata, operasi mata sebelumnya,
cacat mata lainnya, penggunaan
kontak lensa, Diabetes Mellitus atau
karena pengobatan imunosupresif.
Penggunaan kontak lensa adalah
faktor
predisposisi
terbesar
terjadinya keratitis di negara maju,
prevalensinya sebesar 33%-50%.

Cont
Organisme gram positif paling sering ditemukan
penyebab keratitis, dilaporkan sekitar 65-90% dari
kasus keratitis. Temuaan mikroba paling sering
adalah Staphylococcusepidermis , Staphylococcus
aureus , Streptococcus pneumoniae
, dan
Streptococcus veridans. Sedangkan Pseudomonas
auruginosa adalah bakteri gram negatif yang sering
menyababkan keratitis.

Cont
Terapi keratitis bakteri secara tradisional menggunakan
antibiotik dosis tinggi dan dikombinasikan dengan
antibiotik topikal yang lebih baik untuk mengatasi infeksi
Fluoroquinolone generasi keempat adalah antibiotik
spektrum luas untuk keratitis bakteria. Terapi baru
menggunakan fluoroquinolone generasi keempat untuk
mengatasi infiltrat dan defek kecil pada kornea (< 2mm).

Besifloxacin termasuk fluoroquinolon generasi keempat


yang sangat menguntungkan. Antibiotik ini dengan
spektrum luas dapat membuhuh bakteri gram (+)
maupun gram (-) dan juga golongan bakteri
Stphylococus aureus yang telah mengalami multidrug
resistent
Target dan mekanime kerja obat ini adalah melibatkan
DNA Gyrase dan topoisomerase IV. Penelitian dari
bexifloxacin opthtalmic suspension 0,6% untuk
pengobatan konjuntivitis bakteria. Bexifloxacin opthtalmic
suspension 0,6% untuk pengobatan keratitis bakteri
termasuk bakteri P.Aeuriginosa.

Metode
Penelitian retrospektif ini dilakukan di 10 pusat klinis di
Amerika Serikat. Populasi penelitian 142 pasien yang
diterapi menggunakan basifloxacin suspensi tetes mata
0,6% untuk penderita keratitis untuk satu atau dua mata.
85 pasien dirawat di pusat kesehatan dengan moksifloxacin
larutan tetes mata 0,5% untuk keratitis bakteri juga
disarankan. Analisa ini dirancang untuk mengukur jenis dan
tingkat efek samping yang dilaporkan selama pengobatan
keratitis bakteri dengan basifloxacin mata suspensi 0,6%.
Hasil
pengobatan
lain
yang
menarik
termasuk
pengembangan jaringan parut kornea dan neovaskularisasi
kornea, tingkat sensitivitas terhadap bakteri, berkurangnya
ketajaman visual dan durasi nyeri sebelum dan setelah
pengobatan.

Hasil
Ada satu melaporkan efek samping ringan
pada
pasien
yang
menggunakan
basifloxacin suspensi tetes mata 0,6%.
Perbedaan frekuensi efek samping antara
kelompok tidak signifikan (P>0,999) hasil
pengobatan sama untuk kedua kelompok

Kesimpulan
Data-data retrospektif menunjukkan bahwa besifloxacin
suspensi tetes mata 0,6% dapat ditoleransi ketika
dimasukkan dalam pengobatan keratitis bakteri, tidak
ada efek samping serius yang dilaporkan. Sebuah uji
klinis prospektif diperlukan untuk lebih mengisolasi
kontribusi besifloxacin untuk hasil terapi dan untuk
mengkonfirmasi ini pengamatan