Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN KASUS

OPTALMOPLEGIA
Harmas Novryan Fareza
201610401011069
SMF ILMU KESEHATAN MATA
RUMAH SAKIT BHAYANGKARA
KEDIRI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
MALANG

Identitas Pasien
Nama
: Ny. U
Usia
: 73 th (08-09-1943)
Jenis kelamin
: Perempuan
Suku
: Jawa
Agama
: Islam
Alamat
: Dsn Bulusan Ds. Bulu Kec.
Kediri
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan
: Tanggal Periksa : 13 September 2016

Semen Kab.

Anamnesa
Keluhan Utama : Mata Kabur
Riwayat penyakit sekarang : Mata kabur dikeluhkan sejak 1
minggu lalu, kabur dirasakan sepanjang hari pagi siang dan malam,
mata kabur semakin lama semakin memberat, belum pernah
mendapatkan terapi obat oral maupun tetes mata
Keluhan lain: kelopak mata kiri menutup bersamaan dengan mata
kabur 1 minggu lalu, pusing, pandangan dobel +
Riwayat penyakit dahulu : Pasien pernah MRS 2 minggu lalu
karena hipertensi (180/100 mmHg) , DM (-)
Riwayat alergi : (-)
Riwayat penyakit keluarga : DM (-), Hipertensi (-)

PEMERIKSAAN FISIK

Status Generalis
Kesadaran : Compos mentis
Status gizi : Baik
BB : 50 Kg
TB : 150 cm
Vital Sign
TD : 180 / 100 mmHg
Nadi : 88 kali / menit
RR : 20 kali / menit
Suhu : 36,0

Status lokalis mata

Diagnosis
OD katarak
OS Oftalmoplegia et causa Tolosa Hunt
Syndrome

Diagnosis banding
Trauma
Lesi vaskuler seperti aneurisma arteri cavernosus atau
trombosis atau fistula carotis cavernosa
Tumor, seperti pituitary adenoma, meningioma, giant
cell tumor, metastase
Infeksi ( sinusitis, herpes zoster, tuberkulosis, jamur)
Giant cell arteritis

Terapi
Vitrolenta 4 dd gtt 2
Lyteers
Tobroson 4 dd gtt 2 (Tobramycin 3 mg,
Dexamethasone 1 mg)

Prognosis
Pada 40% pasien, sindrom TolosaHunt dapat kambuh kembali dalam
beberapa bulan atau beberapa tahun
kemudian. Pada beberapa pasien
mungkin terdapat kerusakan pada 1
sisi nervus cranialis yang terkena.
Mungkin juga terdapat komplikasi
terhadap pemberian kortikosteroid.
(Alzubi, 2016)

Diskusi
Tolosa Hunt Syndrome biasanya adalah kelumpuhan salah
satu sisi bagian mata, tanpa predileksi untuk kanan atau
kiri kedua sinus kavernosus. 4,1-5 % dari tolosa hunt
syndrome adalah kelumpuhan bilateral.Pasien biasanya
mengeluhkan nyeri sebelah sisi bagian kepala, nyeri
berlangsung kurang lebih 8 minggu jika tidak diobati.
Kelumpuhan saraf motorik dan rasa nyeri dapat
berlangsung 2 minggu dan untuk reaksi pupil dapat
normal. (Alzubi, 2016) Kelumpuhan nervus kranialis N. III
85% kasus, N.VI 70%, Cabang dari N. optalmikus (N.V)
30% dan N. IV 29%. (Tesstolre, 2000). Tolosa Hunt
Syndrome memiliki klinis yaitu optalmoplegia dan
membaik dengan pengobatan kortikosteroid. (Patel, 2015)

Cont..
Penyebab dari tolosa hunt syndrome dikarenakan
oleh infeksi, inflamasi, mukokel sinus kavernosus,
kelainan sistemik, tumor, diabetes melitus.
Gejala klinis dari tolasa hunt syndrome antara
lain nyeri periorbital berulang, Sakit kepala disisi
periorbital, pandangan dobel (diplopia), sedikit
eksoftalmus, ptosis atau kelumpuhan dari N. III,
IV, VI nervus kranialis, dan VI V2 cabang saraf
trigeminal. (Patel, 2015)

Penegakkan diagnosis tolosa hunt syndrome


adalah
dengan
anamnesis,
pemeriksaan
penunjang. Kriteria diagnosis dari tolosa hunt
syndrom adalah Nyeri mata unilateral satu atau
lebih episode dalam 1 bulan jika tidak diterapi,
kelumpuhan satu atau lebih saraf kranialis N III,
IV, IV atau adanya granulomatosa pada
gambaran MRI atau biopsi, kelumpuhan yang
bertepatan dengan timbulnya rasa sakit atau
yang mengikutinya dalam 2 minggu, Kelumpuhan
dan nyeri teratasi dengan kortikosteroid dalam 72
jam. (Lance, 2004)

Pemeriksaan
penunjang
meliputi
pemeriksaan
laboratorium :
Darah lengkap
Kimia darah : tes fungsi hepar (LFT) dan tes fungsi
ginjal, glukosa darah, elektrolit
CRP (C Reactive Protein)
Antinuclear Antibody (ANA), anti ds DNA antibodi
HbA1C
Angiotensin converting enzyme (ACE) level
Antinuclear cytoplasmic antibody
(Alzubi, 2016)

Cairan cerebrospinal
Jumlah sel
Leukosit
Glukosa
Protein
Kultur untuk bakteri, virus, jamur
Serologi
(Alzubi, 2016)

Radiologi
CT Scan
MRI (Magnetic Resonance Imaging)
MRI digunakan setiap 1 2 bulan sekali untuk
mengawasi adanya perubahan setelah terapi,
terutama kearah yang lebih baik agar dosis terapi
dapat dikurangi hingga akhirnya sembuh.
MRI lebih akurat untuk sindrom tolosa-hunt
dibandingkan pemeriksaan dengan CT Scan.
MRI dengan kontras merupakan pilihan yang baik
(Alzubi, 2016)

Cont
Sindrom Tolosa-Hunt bukan termasuk penyakit yang
fatal, dan dapat di terapi dengan kortikosteroid
oral, yaitu prednison. Obat ini merupakan obat
pilihan sejak tahun 1960 dan mempunyai respon
yang cepat dalam mengurangi rasa nyeri pada
pasien dengan sindrom Tolosa-Hunt ini, yaitu dalam
waktu 24 72 jam. Dosis yang digunakan biasanya
dosis tinggi, 80 mg 100 mg per hari selama 3 hari.
Jika nyeri sudah mulai berkurang, turunkan hingga
60 mg / hari, lalu 40 mg, 20 mg hingga 10 mg
setiap 2 minggu (tappering off). (Alzubi, 2016)

Daftar Pustaka
1. Alzubi AA (2016) Tolosa Hunt Syndrome: Increased
Severity on Second Attack. J Gen Pract 4: 226. doi:
10.4172/2329-9126.1000226
2. Lance JW, Olesen J (2004) The International
Classification
of
Headache
Disorders
ICHD-II.
Cephalalgia, 24: 131
3. Patel S, Sankhe P, Dave D, Patil S, Pendse M (2015)
Tolosa Hunt syndrome: a rare syndrome. Int J Res Med
Sci 3: 3914-3926
4. Tessitore E, Tessitore A (2000) Tolosa-Hunt syndrome
preceded by facial palsy. Headache 40: 393-396.