Anda di halaman 1dari 20

ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN.

K (16 BULAN)
DENGAN KEKURANGAN VOLUME CAIRAN
PADA DIARE DI RUANG ANGGREK
RSUD NGANJUK

OLEH
RITA AMALIA ANGGRAINI
13100077

STUDI KASUS
STIKES SATRIA BHAKTI
NGANJUK

LATAR BELAKANG
Saat ini salah satu kejadian yang masih menjadi penyebab
utama kematian pada bayi dan anak-anak adalah diare, yaitu
defekasi encer lebih dari tiga kali sehari (Sodikin, 2012). Apabila
pada diare pengeluaran melebihi pemasukan maka akan terjadi
kekurangan volume cairan. Sehingga masalah keperawatan yang
muncul pada pasien dengan diare yaitu kekurangan volume
cairan tubuh, perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh,
hipertermi, kerusakan integritas kulit, cemas (ansietas) (Sodikin,
2011).
Berdasarkan data dari WHO pada tahun 2009, 1,5 juta anak
meninggal karena diare. Di RSI, terdapat 71.889 kasus (Depkes
RI, 2010). Pada tahun 2010 prevelensi diare mencapai 1.310
(Dinkes jatim, 2010). Dan di RSUD Nganjuk terdapat 448 kasus
diare pada anak (RM RSUD Nganjuk, 2015).

Penyakit diare disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya faktor


infeksi, malabsorbsi, makanan, dan psikologis. Proses ini diawali
dengan masuknya mikroorganisme ke dalam mukosa epitel lalu
berkembang biak di usus dan menempel pada mukosa usus serta
melepaskan enterotoksin yang dapat menstimulasi cairan keluar
dari sel mukosa. Infeksi ini menyebabkan penurunan kapasitas
absorbsi cairan. Interaksi antara absorbsi dan epitel usus,
menstimulasi enzim adenilsiklase dan mengubah cylic AMP yang
menyebabkan peningkatan sekresi air dan elektrolit sehingga akan
menyebabkan dehidrasi. Jika tidak segera diatasi maka akan terjadi
asidosis metabolik, gangguan sirkulasi darah, dan pasien akan
jatuh pada rejatan syok hipovolemik.
Penatalaksanaan papa pasien diare yaitu yang pertama masalah
dehidrasi dengan rehidrasi, larutan oralit bisa digunakan sebagai
terapi rumatan, selanjutnya refeeding juga penting. Untuk terapi
farmakologi meliputi terpi suplemen zink, probiotik dan antibiotik.

A. Pengkajian
1. Identitas anak
Nama : An. K
Tanggal lahir : 20 Maret 2015
Usia : 16 bulan
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Kedungombo, Tj.Anom
Tanggal MRS: 02 Agustus 2016
Tanggal pengkajian : 03 Agustus 2016
Diagnosa medis : Diare

2. Riwayat penyakit sekarang


a. Keluhan utama
Ibu pasien mengatakan anaknya diare 6x sehari.
b. Riwayat penyakit sekarang
Ibu pasien mengatakan pada tanggal 31 Juli 2016 awalnya anaknya pilek dan
batuk, pada tanggal 01 Agustus 2016 pasien muntah setiap kali makan, dan masih pilek
lalu ibu pasien membawa pasien ke dokter terdekat. Keluhan muntah pada esok harinya
tanggal 02 Agustus 2016 sudah berkurang tetapi anaknya diare dan masih muntah 3x,
masih pilek lalu ibu pasien dan keluarga akhirnya membawa pasien ke RSUD Nganjuk
pada jam 09.00 WIB dengan keluhan diare 5x dengan konsistensi feses cair, sedikit
ampas, tidak ada lendir dan tidak ada darah dalam feses serta warnanya kekuningan.
Selain itu muntah 3x, pilek. Keadaan pasien pada saat di IGD yaitu rewel, akral hangat,
dan mendapatkan terapi RL 100cc/2 jam dan selanjutnya RL 900cc/24 jam, injeksi
cefotaxime 150 mg, injeksi ranitidin ampul, injeksi ondansentron ampul, lacto B 1
x sac, syr. Zink 3 x 1 cth. Pukul 11.30 WIB pasien dipindahkan di ruang Anggrek.
Saat pengkajian didapatkan data umum ibu pasien mengatakan anaknya BAB 6x sehari,
keadaan lemas, kesadaran composmentis, GCS 456, nadi : 120x/menit, suhu : 37,2 oC,
RR : 32x/menit, mukosa mulut kering, mata cekung, wajah tampak pucat, turgor kulit
kembali dalam waktu >1 detik, urine output 300cc/24jam mendapatkan terapi infus RL
900cc/24 jam, Injeksi cefotaxime 3 x 350 mg (IV).Injeksi ranitidin 3 x ml (IV), Pulv.
Lacto B 1 x sac, Syrup zink 3 x 1 cth.

c. Riwayat penyakit dahulu


Ibu pasien mengatakan sebelumnya pasien belum pernah di rawat
di rumah sakit.
d. Riwayat penyakit keluarga
Ibu pasien mengatakan bahwa di dalam keluarganya tidak ada yang
sakit seperti pasien yaitu diare, penyakit degenerative (Hipertensi,
Diabetes Melitus) atau penyakit menular lainnya.
e. Riwayat imunisasi
ibu pasien mengatakan anaknya sudah mendapat imunisasi lengkap.
f. Riwayat tumbuh kembang
Pertumbuhan fisik
Berat badan sehat : 9,5 kg berat badan sakit : 9 kg
Berat badan normal : 10,8 kg
Panjang badan : 84 cm
Lingkar kepala : 49cm
Lingkar dada : 47 cm

Perkembangan
a. Motorik kasar : Pasien bisa berjalan dengan baik.
b. Motorik halus : Pasien bisa mengambil barang yang
ditunjukkan.
c. Bahasa : Pasien bisa mengoceh meskipun kadang kurang
jelas
katakatanya. Pasien bisa memanggil mama dan papanya.
d. Adaptasi sosial : Pasien bisa menggunakan sendok.
Tahap perkembangan
a. Psikososial
Otonomi versus rasa malu dibuktikan dengan pada saat pasien diberi
mainan oleh perawat atau petugas kesehatan lain, pasien meminta
tolong ibunya untuk mengambilkan.
b. Psikoseksual
Fase anal dibuktikan dengan ketika anak setelah buang air besar anak
terlihat tenang.
c. Kognitif
Tahap sensori motorik dibuktikan pasien memasukkan apapun ke
dalam mulutnya termasuk makanan.

3.Pola aktivitas sehari hari


Pola istirahat dan tidur
saat MRS : Ibu pasien mengatakan selama di rumah sakit
dalam sehari pasien tidak pasti tidurnya,
pasien rewel dan sering terbangun.
Pola aktivitas
saat MRS : Ibu pasien mengatakan selama di rumah sakit
pasien hanya terbaring dan duduk di tempat
tidur, kadang digendong
Pola nutrisi
Saat MRS : ibu pasien mengatakan nafsu makan anaknya
menurun, minum 500cc.
Pola kebersihan diri
Saat MRS : ibu pasien mengatakan selama di RS pasien
hanya diseka 2x sehari menggunakan air hangat.
Pola eliminasi
Saat MRS : ibu pasien mengatakan selama di RS pasien BAB 6x
sehari dan BAK 2-3x sehari.

4. Pemeriksaan fisik
KU : lemah (gelisah, cengeng, dan ngantuk)
Kesadaran :composmentis GCS 456
TTV : S: 37,2 oC, N : 120 x/menit,RR : 32x/menit
pemeriksaan kepala dan leher
kepala
Inspeksi
: warna rambut hitam pendek, lurus dan penyebarannya
merata, ubun-ubun menutup, wajah tampak pucat.
palpasi : tidak ada nyeri tekan dan tidak ada pembengkakan.
mata
Inspeksi
: gerakan mata normal, mata kanan dan kiri simetris,
penyebaran alis merata, sklera berwarna putih tidak ikterus,
konjungtiva anemis, mata cekung, pupil isokor.
telinga
Inspeksi : telinga kanan dan kiri bentuknya simetris, tidak ada luka
pada telinga kanan dan kiri, tidak ada serumen pada telinga
kanan dan kiri.
Palpasi : tidak ada nyeri tekan pada tragus.

Hidung
Inspeksi : lubang hidung kanan dan kiri simetris, ada sekret, tidak ada epitaksis dan tidak ada
pernapasan cuping hidung.
Palpasi : tidak ada benjolan dan nyeri tekan pada hidung.
Mulut
Inspeksi : mulut bersih, ada bau mulut, bentuk bibir normal, dan mukosa mulut kering
(berdasarkan score maurice king), tidak ada stomatitis.
Leher
Inspeksi : tidak ada pembesaran vena jugularis, tidak ada pembengkakan pada leher.
Palpasi : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
Paru-paru
inspeksi : RR : 32x/menit, irama teratur, tidak terdapat penggunaan otot bantu pernapasan.
Palpasi : pergerakan dada simetris..
Perkusi: sonor
Auskultasi: tidak ada suara nafas tambahan.
Abdomen
Inspeksi : umbilikus tertutup.
Palpasi : turgor kulit berkurang kembali dalam waktu >1 detik.
Perkusi: hipertimpani
Auskultasi: bising usus 20x/menit.

Pemeriksaan genetelia
Jenis kelamin perempuan, pada labia mayor dan minor
tampak bersih.
Pemeriksaan ekstermitas
Ekstermitas atas : pergerakan tangan kanan dan kiri
bebas dan normal pada tangan kiri terpasang infus.
Ekstermitas bawah : pergerakan kaki kanan dan kiri
bebas dan normal, tidak ada edema, akral hangat.
Pemeriksaan integumen
Kulit bersih, kulit sawo matang dan akral hangat,
turgor kulit kembali dalam waktu 1 detik.
Pemeriksaan anus
Kulit sekitar anus lembab, tidak ada tanda kemerahan

No.

Data Penunjang

Masalah

Etiologi

1.

DS : Ibu pasien mengatakan anaknya


diare 6x sehari.
DO :
Keadaan umum gelisah, cengeng, dan
mengantuk.
Kesadaran composmentis.
TTV :
S: 37,2 oC
N: 120x/menit
RR : 32x/menit
Mata cekung
Mukosa mulut kering
Turgor kulit kembali dalam waktu >1
detik.
Wajah tampak pucat.
BB sehat : 9,5 kg
BB saat sakit : 9 kg

Kekurangan volume
cairan

Faktor penyebab
(infeksi, makanan,
malabsorbsi,
psikologis).

Diare

Frekuensi BAB
meningkat

Peningkatan
kehilangan cairan
Kekurangn volume
cairan.

B.Diagnosa keperawatan
Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan
berlebih dari traktus gastrointestinal ke dalam feses dan emesis.
C. Intervensi Kepearawatan
1. berikan larutan rehidrasi oral (larutan oralit)
2. monitor status hidrasi
3. monitor tanda-tanda vital
4. monitor input dan output
5. monitor berat badan anak setiap hari
6. berikan HE kepada orang tua tentang kebersihan peroarangan
pada anak, pemberian oralit, dan diet rendah serat pada anak
diare.
7. kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian diet rendah serat
8. Kolaborasi dengan tim medis lain dalam pemberian terapi
cairan melalui intravena dan pemberian terapi suplemen zink,
probiotik, dan antibiotik

D. Pelaksanaan
E. Evaluasi
tgl 05 Agustus 2016
S : ibu pasien mengatakan anaknya BAB 2x sehari.
O:
Keadaan umum normal
Kesadaran composmentis
TTV :
S : 36,5 oC
N : 110x/menit
RR : 30x/menit
Mata cekung
Kekenyalan kulit kembali dalam waktu kurang dari 1 detik
Mukosa mulut masih kering
Input dan output
Input = 1372cc/24 jam
Output = 1407 cc/24 jam
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi 2,3,4,7

PEMBAHASAN
A. PENGKAJIAN
Pada pengkajian riwayat penyakit sekarang secara teori pada pasien diare dapat
ditemukan suhu badan meningkat (Nursalam, 2013). Sedangkan pada kasus
nyata, pasien tidak mengalami peningkatan suhu tubuh. Karena pada pasien ini
mengalami dehidrasi sedang dan asupan oral pasien masih bagus yaitu pasien
masih mau minum ASI dan air putih sehingga tubuh masih mampu melakukan
kompensasi agar tidak kehilangan cairan dalam jumlah banyak. Peningkatan
suhu tubuh ini terjadi akibat dari dehidrasi atau karena kekurangan volume
cairan dalam jumlah banyak. Dibuktikan dengan hasil pemeriksaan S : 37,2 oC.
Pada pengkajian pemeriksaan fisik secara teori pada pasien diare dapat
ditemukan anus dan daerah sekitarnya timbul lecet (Nursalam, 2013). Iritasi
pada daerah anus dan sekitarnya dapat terjadi akibat seringnya defekasi dan
sifatnya makin lama makin asam (Nursalam, 2013). Sedangkan pada kasus
nyata, pasien tidak mengalami iritasi atupun lecet pada daerah anus dan
sekitarnya. Hal ini tidak terjadi karena ibu pasien membersihkan anus dan
sekitarnya setelah pasien BAB dengan benar dan selain itu pasien dalam sehari
diare sebanyak 6x. Sehingga resiko untuk terjadinya iritasi daerah anus dan
sekitarnya kecil. Iritasi pada daerah anus dan sekitarnya dapat terjadi akibat
seringnya defekasi dan sifatnya makin lama makin asam (Nursalam, 2013).

Pada pemeriksaaan penunjang kasus diare secara teori dilakukan pemeriksaan


elektrolit dan pemeriksaan tinja. Pemeriksaan elektrolit digunakan untuk menilai
adanya penurunan kadar natrium, kalium, dan klorida (Hidayat, 2006). Sedangkan
pemeriksaan tinja digunakan untuk mencari penyebab infeksi maupun infestasi
parasit dan jamur dan adanya sindrom malabsorbsi terhadap laktosa, lemak, dan
lainlain (Suharyono, 2008). Namun, pada kenyataannya pasien An.K tidak
dilakukan pemeriksaaan elektrolit dan pemeriksaan tinja. Bisa saja pemeiksaan
elektrolit pada pasien An.K tidak dilakukan karena pada kasus yang ada di lapangan
pasien masih mengalami dehidrasi sedang. Sedangkan untuk pemeriksaan tinja
sebaiknya tetap dilakukan agar dapat mengetahui diagnosa pasti pada diare itu
sendiri, apakah diare ini disebabkan karena infeksi bakteri, parasit, dan jamur
ataupun malabsorbsi. Sehingga hasil dari pemeriksaan tersebut dapat menentukan
dalam pemberian terapi yang tepat.
B. Diagnosa Keperawatan
didapatkan diagnosa pada An. K (16 bulan) dengan Diare yaitu kekurangan volume
cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebih dari traktus gastrointestinal
ke dalam feses dan emesis.
Adapun diagnosa yang ada pada konsep asuhan keperawatan diare dan tidak
terdapat pada kasus nyata adalah :
1. hipertermi berhubungan dengan dehidrasi
2. kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi karena defekasi yang
sering dan feses yang cair

C. Perencanaan keperawatan
Pada perencanaan keperawatan yang akan dilakukan pada pasien, penulis mengacu
pada tinjauan pustaka. Pada konsep teori perencanaan keperawatan pasien diare
dengan masalah keperawatan kekurangan volume cairan adalah berikan larutan
rehidrasi oral (LRO) seperti larutan oralit, larutan gula garam, dan air tajin, monitor
status hidrasi, monitor vital sign, monitor input dan output, monitor input dan output,
monitor berat badan anak setiap hari, beri HE kepada orang tua tentang kebersihan
perorangan pada anak, hindari makanan seperti jus buah, dan bila anak diare di rumah
agar secepatnya diberi banyak minum dan lebih baik dengan oralit atau jika tidak ada
dapat dengan larutan gula garam, kolaborasi dengan tim ahli gizi dalam pemberian
diet rendah serat, kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi.
D. Pelaksanaan keperawatan
Pada tahap pelaksanaan keperawatan tanggal 0305 Agustus 2016 penulis tidak
mengalami masalah ketika melakukan implementasi kepada pasien. Dalam
pelaksanaan asuhan keperawatan pasien dan keluarga pasien bersikap kooperatif
dengan perawat. Sehingga dalam hal itu memudahkan perawat dalam melaksanakan
asuhan keperawatan pada pasien. Dalam implementasi keperawatan penulis sesuai
dengan perencanaan yang dibuat sebelumnya.
E. Evaluasi
evaluasi kasus pada hari ketiga masalah kekurangan volume cairan tubuh dianggap
teratasi sebagian. Hal ini dibuktikan dengan pengakuan verbal ibu pasien bahwa
anaknya diare 2x sehari dan pada pemeriksaan perawat dibuktikan mat normal,
mukosa bibir masih kering, kekenyalan kulit kembali kurang dari 1 detik, input
1372 cc/24 jam, output 1407 cc/24 jam.

PENUTUP
Kesimpulan
Setelah menguraikan dari kasus pasien diare di Ruang Anggrek RSUD
Nganjuk tanggal 0305 Agustus 2016, maka pada BAB ini dapat
ditarik kesimpulan dan saran sebagai berikut :
A. Pengkajian
An.K (16 bulan) mengalami diare sebanyak 6x dalam sehari dengan
keadaan umum lemas (cengeng, gelisah, dan mengantuk), kesadaran
composmentis dari hasil pemeriksaan fisik ditemukan adanya mukosa
mulut kering, kekenyalan kulit kembali dalam waktu >1 detik, mata
cekung, wajah tampak pucat, pada perkusi abdomen hipertimpani,
serta bising usus meningkat 20x/menit, BB sehat : 9,5 kg, BB sakit : 9
kg.
B. Diagnosa Keperawatan
Di dapatkan diagnosa pada An. K (16 bulan) pada kasus diare yaitu
kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan kehilangan
cairan yang berlebihan dari traktus gastrointestinal ke dalam feses dan
emesis.

C. Perencanaan Keperawatan
Adapun rencana tindakan keperawatan yang dilakukan pada An. K (16
Bulan) dengan dengan kekurangan volume cairan pada diare adalah
berikan larutan rehidrasi oral (LRO) seperti larutan oralit, larutan gula
garam, dan air tajin, monitor status hidrasi, monitor tanda-tanda vital,
monitor input dan output, monitor input dan output, monitor berat badan
anak setiap hari, beri HE kepada orang tua tentang kebersihan perorangan
pada anak, hindari makanan seperti jus buah, dan bila anak diare di rumah
agar secepatnya diberi banyak minum dan lebih baik dengan oralit atau
jika tidak ada dapat dengan larutan gula garam, kolaborasi dengan tim ahli
gizi dalam pemberian diet rendah serat, kolaborasi dengan tim medis dalam
pemberian terapi.
D. Pelaksanaan Keperawatan
Tindakan keperawatan dilaksanakan berdasarkan perencanaan selama 3 x
24 jam, sesuai dengan perencanaan. Semua tindakan telah diterapkan.
E. Evaluasi Keperawatan
Kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan kehilangan cairan
yang berlebihan dari traktus gastrointestinal ke dalam feses dan emesis.
Masalah keperawatan kekurangan volume caiaran dapat teratasi sebagian
dalam waktu 3 x 24 jam dari proses keperawatan yang dilakukan.

TERIMA KASIH
SEKIAN