Anda di halaman 1dari 13

TOPIK KHUSUS GENDER

Pandangan Masyarakat Terhadap Pelaku LGBT


Nama kelompok
Syahrul Holis H (A1C013061)
Bagas Prastya Utama (A1C013067)
Sari Dwi Martiani (A1C014007)

LGBT
LGBTatauGLBTadalahakronimdari "lesbian,gay
,biseksual, dantransgender". Istilah ini digunakan
semenjak tahun 1990-an dan menggantikan frasa
"komunitas gay"[1]karena istilah ini lebih mewakili
kelompok-kelompok yang telah disebutkan.
Istilah LGBT sangat banyak digunakan untuk
penunjukkan diri. Istilah ini juga diterapkan oleh
mayoritas komunitas dan media yang berbasis
identitas seksualitas dan gender diAmerika Serikat
dan beberapanegara berbahasa Inggris lainnya.

LGBT
(Lesbian,
Gay,
Biseksual,
dan
Transgender) di Indonesia sesungguhnya
adalah sesuatu yang sudah ada sejak dahulu
kala,
namun
keberadaannya
sampai
sekarang masih dianggap tabu untuk
dibicarakan. Dalam menyikapi LGBT sendiri,
masyarakat Indonesia masih terbagi menjadi
tiga kubu. Ada yang menentang keras LGBT,
ada yang tidak peduli dengan LGBT, dan ada
yang mendukung LGBT.

Kelompok penentang

Mereka yang menentang keras LGBT mayoritas


berasaskan agamanya masing-masing. Mayoritas
penduduk Indonesia beragama Islam, dan banyak
muslim Indonesia yang akan mengeluarkan
kartu Nabi Luth dan Kaum Sodom ketika
disodorkan topik LGBT.
Mayoritas muslim melihat cerita kaum sodom ini
sebagai penjelasan akan kaum LGBT yang dibenci
oleh Nabi. Dari sini pula muncul pemikiran bahwa
tidak apa-apa membenci, mendiskriminasi dan
menghukum kaum LGBT, atas nama jihad.

Kelompok yang tidak


peduli
kubu masyarakat yang tidak peduli akan keberadaan
LGBT. Sikap mereka terhadap LGBT biasanya sepertiItu
urusan mereka, dosa mereka, kehidupan mereka.
Mereka mau seperti itu terserah mereka. Sudah, kita
tidak usah ikut-ikutan.
Tetapi yang membedakan kelompok ini adalah, mereka
juga tidak peduli atau menerima kenyataan bahwa
kelompok LGBT mendapat tindakan diskriminasi
ataupun mengahadapi kekerasan.
Dapat dibilang kelompok ini adalah kelompok yang
memilih untuk buta tentang isu LGBT, mereka
mengetahui keberadaan LGBT, tetapi mereka tidak mau
ikut campur tangan dalam bentuk apapun

Kelompok pendukung
Kelompok terakhir adalah yang mendukung
LGBT, biasanya mereka berasaskan HAM.
Mereka memperjuangkan hak-hak untuk para
Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender yang
sering mendapatkan perlakuan diskriminasi
dan kekerasan di lingkungan sekolah, kantor,
bahkan keluarga sendiri. Kelompok ini tidak
hanya terdiri dari mereka yang memang
termasuk LGBT, ada heteroseksual yang
mendukung LGBT, bahkan mereka yang
religius juga ada.

Faktor faktor penyebab


LGBT

1. faktor keluarga
Didikan yang diberikan oleh orang tua kepada
anaknya memiliki peranan yang penting bagi para
anak untuk lebih cenderung menjadi seorang
anggota LGBT daripada hidup normal layaknya
orang yang lainnya.
2. faktor lingkungan dan pergaulan
Lingkungan serta kebiasaan seseorang dalam
bergaul disinyalir telah menjadi faktor penyebab
yang paling dominan terhadap keputusan seseorang
untuk menjadi bagian dari komunitas LGBT.

3. faktor genetik
Dari beberapa hasil penelitian telah menunjukkan
bahwa salah satu faktor pendorong terjadinya
homoseksual, lesbian, atau perilaku seks yang
menyimpang lainnya bisa berasal dari dalam tubuh
si pelaku yang sifatnya bisa menurun dari anggota
keluarga terdahulu.
4. faktor akhlak dan moral
Faktor moral dan akhlak yang dimiliki seseorang
juga memiliki pengaruh yang besar terhadap
perilaku LGBT yang dianggap menyimpang.

5. faktor pendidikan dan pengetahuan agama

Faktor
internal
lainnya
yang
menjadi
penyebab
kemunculan
perilaku
seks
menyimpang
seperti
kemunculan LGBT adalah pengetahuan serta pemahaman
seseorang tentang agama yang masih sangat minim.
Agama atau keimanan merupakan benteng yang paling
efektif dalam mengendalikan hawa nafsu serta dapat
mendidik kita untuk bisa membedakan mana yang baik
dan mana yang tidak baik. Untuk itulah, sangat perlu
ditanamkan pengetahuan serta pemahaman agama
terhadap anak-anak sejak usia dini untuk membentuk
akal, akhlak, serta kepribadian mereka.

Ditengah pergolakan LGBT di seluruh dunia, baik


yang pro seperti di Barat dan yang kontra seperti
di Timur, Indonesia berada di daerah abu-abu
yang tidak mengatur peran LGBT di negara dalam
Pancasila maupun Undang-Undang.
Mau tidak mau, Indonesia harus mengikuti
pergerakan ini dan memutuskan akan berdiri di
wilayah yang mana. Karena saat ini ketika masih
tidak ada undang-undang yang mengatur ataupun
melindungi, kaum LGBT dan mayoritas agamis
masih harus hidup penuh pertentangan di
Indonesia.

Meskipun misalnya pemerintah Indonesia memutuskan untuk


melindungi kaum LGBT, legalisasi pernikahan sesama jenis di
Indonesia masih amat sangat jauh. Buku sekolah saja masih
mengkategorikan homoseksualitas sebagai penyimpangan
sosial (setara dengan narkoba, pelacuran, dan lain-lain), tidak
mungkin langsung terjadi perubahan budaya begitu saja.
Lain cerita jika pemerintah Indonesia memilih untuk
mengikuti jalur agamis dan mengilegalkan LGBT. Kaum LGBT
yang sudah terlanjur out dan sukses pasti akan pindah dari
Indonesia, bahkan pembicaraan pindah dari Indonesia sudah
sering dibicarakan di antara kalangan LGBT muda sekarang.
Yang akan sangat disayangkan adalah mereka-mereka yang
pindah adalah muda-mudi brilliant yang bisa memajukan
bangsa kita.

Kesimpulan

LGBT adalah akronim dari Lesbian, Gay, Biseksual, dan


Transgender. Saat ini komunitas LGBT sudah diakui secara formal
atau informal oleh banyak Negara. Sebagian besar gerakan
mereka mengatas namakan hak asasi manusia.

Dalam menyikapi LGBT sendiri, masyarakat Indonesia masih


terbagi menjadi tiga kubu. Ada yang menentang kesad LGBT, ada
yang tidak peduli dengan LGBT, da nada yang mendukung LGBT.

Ditengah pergilakan LGBT di seluruh dunia, baik yang pro seperti


di Barat dan yang kontra seperti Timur, Indonesia berada di
daerah abu abu yang tidak mengatur peran LGBT di negara
dalam Pancasila maupun Undang Undang

TERIMA KASIH