Anda di halaman 1dari 25

Geofisika Well Logging

Batubara

Arsa Rafiq A

( 112130003 )

Edi Satriawan

( 112130049 )

Pengertian Batubara

Batubara adalah bahan bakar fosil. Batubara dapat


terbakar, terbentuk dari endapan, batuan organik
yang terutama terdiri dari karbon, hidrogen dan
oksigen. Batubara terbentuk dari tumbuhan yang
telah terkonsolidasi antara strata batuan lainnya
dan diubah oleh kombinasi pengaruh tekanan dan
panas selama jutaan tahun sehingga membentuk
lapisan batubara.

Apa Goefisika Well Logging?

Well logging secara bebas dan sederhana berarti suatu


pencatatan perekaman penggambaran sifat, karakter,
ciri, data, keterangan, urutan bawah permukaan secara
bersambung dan teratur selaras dengan majunya alat
yang dipakai. Sehingga diagram yang dihasilkan akan
merupakan gambaran hubungan antara kedalaman
dengan karakter/sifat yang ada pada formasi (Winda,
1996).

Jenis logging untuk batubara

Elektrik
SP (Spontaneous Potential)
Resistivity

Log Radioaktif
Density
Neutron
Gamma- Ray

Log Calliper

Log Resistivitas (Resistivity log)

Log Resistivitas (Resistivity Log) adalah log yang


digunakan untuk mengukur sifat batuan dan fluida pori
(minyak, gas, air) disepanjang lubang bor dengan
mengukur sifat tahanan kelistrikannya. Resistivitas
berbanding terbalik dengan konduktivitas.
Besaran pada log resistivitas batuan menggunakan satuan
Ohm. Jika batuan mengandung fluida seperti air formasi
yang sifatnya salin, maka kurva resistivitasnya akan
menunjukkan angka yang sangat rendah karena sifat air
yang salin cenderung bersifat konduktif (kebalikan dari
resistif). Dan pada batubara kurva resistivitas akan
menunjukkan angka yang sangat tinggi karena batubara
cenderung memiliki hambatan yang sangat tinggi.

Log Spontaneous Potensial (SP)

Log SP adalah suatu rekaman perbedaan potential listrik antara


elektroda di permukaan yang tetap dengan elektroda yang bergerak di
dalam lubang bor. Lubang sumur harus diisi dengan lumpur yang
bersifat konduktif. Log SP tidak dapat diukur pada sumur yang di bor
menggunakan oil base mud.

SP logging dimanfaatkan untuk (a) mendeteksi lapisan permeable; (b)


mengukur nilai Rw; (c) mengindikasi shale pada formasi; dan (d)
korelasi perlapisan. Pada SP log terbatas untuk beberapa mineral
tertentu, sehingga dapat membantu deteksi pengenalan mineral.
Sebagai contoh, yang digunakan pada batubara, pirit, riolit, dan
lempung. Dalam penggunaan untuk korelasi, lubang bor harus
berdekatan dan menggunakan fluida pemboran yang sama, serta
salinitas formasi yang konstan antar lubang bor.

Log Gamma ray

Penentuannya berdasarkan pada keterdapatan konsentrasi uranium. Sumber dari gamma


ray adalah potassium atau lebih khusus lagi berasosiasi dengan isotop K4O. Potasium
umumnya terdapat pada shale/clay sehingga pengukuran gamma ray biasanya digunakan
untuk mengevaluasi kandungan shale/clay (BPB manual, 1981).

Caranya gamma alami dipancarkan oleh sumber radioaktif, karena ada perbedaan
kandungan mineral lempung dari tiap batuan maka pancaran sinar balik yang terekam akan
berbeda, dari perbedaan ini akhirnya litologinya dapat ditentukan. Dalam penentuan
lapisan batuan pembawa batubara, garis shale adalah respon tetapan harga 100% pada log,
sehingga selalu dapat ditentukan. Pembacaan lebih kecil dari besaran garis shale berarti
bertambahnyakeberadaan batupasir, batugamping dan batubara, sedangkan pembacaan
diatas garis shale menunjukkan lapisan marin (marine bands) atau konsentrasi uranium (BPB
manual, 1981).

Nilai yang terbaca pada alat gamma ray log merupakan akumulasi
perekaman terhadap jumlah total radiasi yang dihasilkan semua unsur
radioaktif dalam batuan. Meskipun bacaan adalah hasil akumulasi, setiap
material radioaktif memiliki intensitas energi yang berbeda beda dan ini
dapat diselidiki dengan gamma ray spectroscopy. Unsur unsur yang
biasanya terukur adalah Uranium, Thorium, Pottasium, dan Radium.

Metode ini sangat membantu dalam logging. Kelebihan metode ini yaitu
(a) tidak membutuhkan fluida pemboran; (b) tidak sensitif terhadap
perubahan diameter lubang; dan (c) dapat menyelidiki lapisan dibalik
casing. Hal ini sangat membantu dalam penyelidikan lapisan batubara di
bawah permukaan. Gamma ray logging juga dapat mendeteksi keberadaan
parting pada lapisan batubara yang rata rata sangat tipis.

Log Caliper

Caliper log adalah alat untuk mengukur diameter dan bentuk suatu
lubang bor. Alat ini memiliki 2, 4 atau lebih lengan yang dapat
membuka di dalam lubang bor. Pergerakan lengan lengan ini pada
lubang akan diubah menjadi signal elektrik oleh potentiometer. Dalam
sebuah lubang bor, diameter bersifat heterogen dari atas hingga dasar
karena adanya efek tekanan dari lapisan batuan yang berbeda beda
akibat gaya tektonik.

Secara umum, caliper logging dapat digunakan untuk kebutuhan


sebagai berikut : (a) membantu interpretasi litologi bawah
permukaan; (b) indikator zona permeabilitas dan porositas akibat
adanya mudcake; (c) menghitung tebal mudcake; (d) menghitung
volume lubang bor; (e) menghitung kebutuhan semen untuk casing; (f)
indikasi kualitas lubang bor; dan (g) membantu menentukan formasi
terkonsolidasi dan kedalaman pemasangan casing, dan lain
sebagainya.

Hasil Loging dengan Caliper

Parameter logging Batubara (menurut Broome 1975)

1. Log Caliper
Untuk penentuan diameter lubang bor.

2. Log Gamma Ray


Pada batubara, mempunyai radioaktifitas sangat rendah.

3. Log Density
Densitas batubara rendah yaitu antara (1,2- 1,8) g/cm3

4. Log Resistivity
Batubara mempunyai resistivitas tinggi

Tujuan Well Logging

keberadaaan lapisan / reservoir

lokasi (kedalaman) Lapisan / reservoir

ketebalan lapisan / reservoir

litologi lapisan/reservoir

sifat-sifat fisik lapisan / reservoir (porositas, homogenitas, dll)

distribusi lateral dan vertikal dari reservoir

jenis fluida yang ada di dalam reservoir

saturasi fluida dan sifat-sifat fisisnya (salinitas, suhu, tekanan, dll).

Studi Kasus PENYELIDIKAN GEOFISIKA BATUBARA DENGAN


METODA WELL LOGGING DI DAERAH MUSI BANYUASIN , MUARA
ENIM PROVINSI SUMATERA SELATAN ( LEMBAR PETA 0913-52 dan
0913-61)

Batubara merupakan bahan galian strategis yang menjadi salah satu


sumberdaya energi nasional bernilai ekonomis penting. Informasi
mengenai sumberdaya serta besar cadangannya menjadi tujuan yang
mendasar dalam merencanakan kebijaksanaan dibidang energi nasional.

Penyelidikan ini dimaksudkan untuk mengetahui kedalaman, ketebalan,


batas atas dan bawah lapisan batubara dan penampang litologi dalam
penampang lubang bor. Tujuannya adalah untuk melengkapi informasi
geologi di bawah permukaan dalam rangka inventarisasi yang berguna
untuk pengembangan potensi batubara di Indonesia.

Penyelidikan geofisika menggunakan metoda lubang bor ( well logging ) yang


terdiri dari Logging sinar gamma (gamma-Ray), Resistivity self Potensial dan
Caliper. Peralatan yang digunakan adalah OYO 3030 Mark-2 buatan Jepang
lengkap dengan probe untuk mengukur Gamma-ray, Resistivity, Self Potensial
dan Caliper.

Tabel 1. Pengukuran well logging di daerah Nibung dan


Lubuk Napal.

Tabel 2. Hasil pengukuran logging di daerah Nibung dan


Lubuk Napal

Interpretasi
1. Hasil pengukuran sinar gamma.

Pengukuran Gamma-Ray dilakukan didalam pipa pemboran mengingat kondisi lubang bor runtuh pada
saat pipa pemboran diangkat. Hasil pengukuran gamma-ray memperlihatkan penyimpangan kurva sinar
gamma yang kontras untuk lapisan batubara di daerah penyelidikan. Nilai gamma-ray di daerah Nibung
berkisar antara 0-1.0 cps 10.0 cps, sedangkan di daerah Lubuk Napal adalah 1.0 cps sampai dengan
12.5 cps. Besarnya nilai gamma-ray ini tergantung pada kondisi lingkungan pengendapan batubara
tersebut pada saat sedimentasi . Ketebalan lapisan batubara yang terditeksi dari gamma-ray pada
daerah Nibung sekitar 0.5 - 16.0 m, sedangkan untuk daerah Lubuk Napal sekitar 1.0 - 11.50 m.
2. Hasil pengukuran tahanan jenis.
Pengukuran well logging dengan metoda tahanan jenis kadang-kadang tidak dapat dilakukan atau tidak
sampai dasar lubang , karena kondisi lubang bor runtuh pada saat pipa pemboran diangkat sehingga
lubang bor tersumbat. Nilai resistivity untuk lapisan batubara pada beberapa pengukuran untuk daerah
Nibung sekitar 15 - 35 ohm-m untuk elektroda short Normal ( jarak elektroda 25.0 cm ) dan 2.5 - 140
ohm-m untuk elektroda long normal ( jarak elektroda 100.0 cm ). Pada beberapa pengukuran resistivity
untuk daerah Lubuk Napal, nilai resistivity untuk lapisan batubara sekitar 8.0 - 30.0 ohm-m untuk
elektroda short normal ( jarak elektroda 25.0 cm ) dan 2.5 - 140m ohm-m untuk elektroda long normal
( jarak elektroda 100.0cm ).

3. Hasil pengukuran self potensial.


Seperti pengukuran resistivity, pengukuran self potensial yang dilakukan tidak
dapat sampai pada dasar ( bottom ) lubang bor karena kondisi lubang yang
runtuh. Hasil pengukuran self potensial tidak memberikan kontras yang jelas
untuk lapisan batubara pada pengukuran di daerah Nibung dan Lubuk Napal.
4. Hasil pengukuran Caliper
Pengukuran caliper dilakukan untuk mengetahui kondisi lubang bor setelah
pemboran selesai dikerjakan . Pada lapisan batuan yang keras diameter lubang
bor akan tetap sebesar diameter mata bor, sedangkan pada lapisan batuan yang
hancur ( fracture ) atau lembek akan terjadi pembesaran lubang bor. Pada
beberapa lubang bor dari hasil pengukuran caliper terlihat adanya pembesaran
lubang pada lapisan batubara, hal ini menunjukan bahwa lapisan batubara
tersebut bersifat fracture atau brittle . Beberapa bagian lapisan batubara
terlihat tidak mengalami pembesaran lubang dimana hal ini menunjukan bahwa
lapisan batubara tersebut bersifat keras atau hard.

KESIMPULAN
1.

Hasil pengukuran penampang lubang bor ( well logging ) dengan metoda Sinar gamma
(Gamma-Ray ) memperlihatkan kontras yang jelas untuk lapisan serta ketebalan
batubara di daerah Nibung dan Lubuk Napal. Nilai Gamma-Ray lapisan batubara di
daerah Nibung dan sekitarnya 1.0 10.0 cps dengan ketebalan lapisan antara 0.5 16.0
meter. Di daerah Lubuk Napal nilai gamma-Ray untuk lapisan batubara sekitar 1.0-12.5
cps dengan ketebalan lapisan antara 1.0 11.5 meter.

2.

Hasil pengukuran penampang lubang bor ( penampang letak litologi lubang bor,
terutama terjadi loss core pada lubang bor.

3. Pada beberapa lubang bor dari hasil pengukuran caliper terlihat adanya pembesaran
lubang pada lapisan batubara, hal ini menunjukan bahwa lapisan batubara tersebut bersifat
fracture atau brittle

Logging Sumur Terminal Bus Giwangan


13 November 2015

Vidio Geofisika well Logging

Sumber

Edie Kurnia Djuanaedi, dkk. 2001. Penyelidikan Geofisika Batubara Dengan


Metoda Well Logging Di Daerah Musi Banyuasin , Muara Enim Provinsi Sumatera
Selatan.

PT. Bukit Asam. 2000. Stratigrafi dan kolom litologi lapisan batubara di daerah
Banko PIT 1 Barat.

http://www.jendelaexplorasi.net (diakses pada tanggal 10/11/2015)