Anda di halaman 1dari 9

GLOBAL CIVIL SOCIETY dan

GERAKAN SOSIAL
TRANSNASIONAL

Nadia Chairunnisa Rachma


Rahmi Utami Zamri
Alby Ibrahim Setiawan

PERTANYAAN

Bagaimana globalisasi memberi pengaruh


bagi perubahan karakter civil society dan
gerakan sosial kontemporer?
Bagaimana hubungan civil society dan negara
dalam era globalisasi?
Apa saja gerakan-gerakan sosial yang telah
tercipta dalam era globalisasi?

Seiring
dengan
makin
intensifnya
fenomena
globalisasi sejak akhir perang dingin, pada tahun
1990an, agen-agen baru bermunculan dengan
berbagai macam bentuk gerakan sebagai respon
terhadap globalisasi.
Salah satu yang banyak diperbincangkan adalah
masyarakat sipil global (Global civil Society).
Menurut Locke masyarakat sipil sebagai sebuah
kontrak
sosial
adalah
masyarakat
yang
diorganisasikan oleh hukum yang berlandaskan
persamaan diatas hukum dimana setiap individu
terikat dalam sebuah hukum.

Masyarakat sipil global hadir sebagai sebuah kekuatan ketiga


di dunia diantara domain negara dan pasar.
Masyarakat sipil global terbagi menjadi tiga bentuk
konseptual:
1. Masyarakat sipil global muncul dalam bentuk gerakan social
yang focus dalam berbagai macam isu-isu baru seperti
lingkungan, hak asasi manusia dll.
2. Masyarakat sipil global juga muncul berdasarkan konsepsi
barat,
dengan
agenda
mereformasi
pasar
dan
memperkenalkan demokratis parlementer. Agen utamanya
bukan lagi gerakan social, melainkan NGO.
3. Masyarakat sipil juga muncul dalam versi post-modern
dalam terminology sosiologi.

Dalam era globalisasi kontemporer, masyarakat


sipil global terklasifikasi dalam dua macam ide
dan gerakan, yaitu Mereka yang pro terhadap
globalisasi dan mereka yang kontra terhadap
globalisasi.
Mereka yang pro terhadap globalisasi adalah
kelompok
masyarakat
yang
mendukung
globalisasi
beserta
variannya
seperti
demokrasi dan perdagangan bebas
Mereka yang kontra terhadap globalisasi
adalah kelompok masyarakat yang menolak
globalisasi dan implikasi seperti, kemiskinan,

Civil society dan negara adalah dua entitas yang terpisah, keduanya
sebenarnya saling melengkapi satu. sama lain. Sementara negara
menyediakan pemerintahan yang akuntabel yang dihasilkan oleh
pemilu, civil society menikmati hak-hak sipil dan politik dan otonomi
organisasi. Kondisi demikian akan memungkinkan civil society untuk
menghubungkan tuntutan dan concern yang beragam dari warga
masyarakat ke lembaga-Iembaga negara, dan karena itu pula civil
society akan turut melahirkan good governance. Namun, perlu pula
dicatat, bahwa dalam kondisi sebaliknya, jika civil society lemah,
terfragmentasi, terbelakang, hidup di tengah-tengah krisis ekonomi,
korupsi, sistem hukum yang bobrok, dan penuh konflik, maka civil
society tidak akan mampu mendorong demokratisasi dan juga
konsolidasi demokrasi

Salah satu gerakan sosial yang tercipta dalam era


globalisasi ialah NGO (non-government organisation)
atau di Indonesia lebih dikenal dengan istilah
ORNOP/LSM.

Dengan terus bertambahnya jumlah NGO ditingkat


global melahirkan wacana tentang peran penting NGO
sebagai agen sosial dalam upaya pembangunan
ekonomi dan sosial, pengikisan kemiskinan proses
demokratisasi, pengembangan tata pemerintahan yang
demokratis dan penguatan masyarakat sipil.
Edwards dan Hulme, mengatakan bahwa ledakan NGO
di tahun-tahun belakangan ini bukan suatu hal yang
kebetulan belaka; juga bukan semata-mata respon
terhadap insiatif lokal dan kegiatan sukarela. Ledakan
ini pada, dasarnya adalah proses yang muncul akibat
dari semakin besarnya bantuan resmi asing untuk NGO.

NGO merupakan actor yang menaungi beberapa tujuan seperti


keuntungan pribadi dan tujuan masyarakat. Sebagai actor pribadi
NGO tidak mengendalikan kekuatan public. Oleh karena itu, mereka
tidak mengatur dalam pemilu, tidak menggunakan kekuatannya
seperti teroris dsb. Dalam kontrasnya ke institusi, LSM tidak
mengejar keuntungan pribadi dari pemilik saham atau pemilik.
Malah, mereka mengartikulasi dan mengklaim secara jelas untuk
melayani, tujuan public yang berdasarkan persamaan manusia dan
kebutuhanya.
LSM tidaklah bekerja sendiri melainkan membutuhkan sebuah rekan
kerja (partner). Markas besar, dana, kepemimpinan, dan dasar social
umumnya terletak di Negara pengembang, demokrasi kapitalis,
ketika aktivitas mereka di desain untuk mempengaruhi populasi di
Negara ketiga dan bekas dunia komunis. Partner dalam LSM
tradisional mencakup pemerintahan, grup social, dan organisasi PBB.

Ketika jaringan LSM tumbuh dan terus berlanjut,

agen social siap untuk menangani masalah atau


krisis berikutnya. Hal ini juga menjadi bagian dari
struktur
dan material
social
dari
system
internasional, regional atau global.
LSM internasional dapat mengubah pemerintah.
Dia juga dapat melembagakan perang regional,
dan mengikis kapasitas pemerintah untuk menjaga
keutuhan Negara.
Teori system ketiga telah membentuk pandangan
yang dominan pada saat ini mengenai LSM. Teori
sistem ketiga ini memunculkan fenomena baru
yaitu post-modernisme