Anda di halaman 1dari 16

PP

(Pelayanan Pasien)

Pasien yang termasuk berisiko tinggi


di RSIA Kumala Siwi
1. Pasien dalam keadaan darurat
Suatu kejadian mendadak tidak terduga serta tidak
diharapkan,
tetapi memerlukan penanganan secara
cepat, tepat dan terarah
misal :pasien dalam keadaan darurat obstetric dan
ginekologi. Terdapat tanda-tanda pre eklamsi
( hipertensi,
sakit kepala yang hebat, penglihatan
kabur)
Pasien ditangani di ruang label MERAH (gawat darurat)

2. menggunakan layanan resusitasi (Bantuan


Hidup Dasar)
Tujuan dari tindakan resusitasi adalah mengembalikan fungsi
jantung dan paru agar kembali seperti semula.
Semua pasien yang mengalami kegawatan berupa henti jantung
dan henti nafas apapun penyebabnya boleh dilakukan oleh
semua petugas di RS yang telah mendapatkan pelatihan Bantuan
Hidup Dasar (BHD) sedangkan Bantuan hidup lanjutan hanya
boleh dilakukan oleh perawat dan dokter.

3. Pasien dengan pemberian darah dan prodak darah


Transfusi darah merupakan tindakan pengobatan pada
pasien (anak,dewasa dan bayi) yang diberikan atas
indikasi. Kesesuaian golongan darah antara resipien dan
donor merupakan salah satu hal yang mutlak.
Meskipun telah dilakukan berbagai upaya untuk
memperlancar tindakan transfusi, namun efek samping,
reaksi transfusi atau infeksi akibat transfusi tetap
mungkin terjadi.

4. Pasien yang menderita penyakit menular dan


penurunan kekebalan tubuh,
Misalnya
Tn. Ms sering batuk yang disertai adanya dahak yang
berwarna kekuningan dan kadang disertai darah
Diagnosa : TB paru

5. Pasien yang menggunakan alat pengekang (restraint)


Restraint adalah suatu metode atau cara yang disengaja terhadap
gerakan/perilaku seseorang.
Dalam hal ini, perilaku yang dimaksudkan adalah tindakan yang
direncanakan, bukan suatu tindakan yang tidak disadari/tidak
disengaja/sebagai suatu refleks.
Adapun indikasi pasien yang membutuhkan tindakan restraint, yaitu :
Pasien menunjukkan perilaku yang berisiko membahayakan dirinya
sendiri dan atau orang lain.
Tahanan pemerintah (yang legal/sah secara hukum) yang dirawat di
rumah sakit.
Pasien yang membutuhkan tata laksana emergensi (segera) yang
berhubungan dengan kelangsungan hidup pasien.

Prosedur yang harus diobservasi sebelum dan setelah aplikasi


restraint :
1)Inspeksi tempat tidur, tempat duduk, restraint, dan peralatan
lainnya yang akan digunakan selama proses restraint mengenai
keamanan penggunaannya
2)Jelaskan kepada pasien mengenai alasan penggunaan restraint
3)Semua obyek/benda yang berpotensi membahayakan (seperti
sepatu, perhiasan, selendang, ikat pinggang, tali sepatu, korek api)
harus disingkirkan sebelum restraint diaplikasikan
4)Setelah aplikasi restraint, pasien diobservasi oleh staf
5)Kebutuhan pasien, seperti makan, minum, mandi, dan
penggunaan toilet akan tetap dipenuhi
6)Secara berkala, perawat akan menilai tanda vital pasien, posisi
tubuh pasien, keamanan restraint, dan kenyamanan pasien
7)Dokter harus diberitahu jika terdapat perubahan signifikan
mengenai perilaku pasien

6. Pelayanan pasien dengan risiko kekerasan


Perlindungan Pasien Terhadap Kekerasan Fisik adalah suatu upaya rumah sakit
untuk melindungi
pasien dari kekerasan fisik oleh pengunjung, pasien lain atau staf
rumah sakit.
Cara melindungi pasien & keluarganya dari kekerasan fisik terutama pada pasien yang
tidak mampu melindungi dirinya seperti bayi, anak anak, manula, perempuan, pasien
jiwa, pasien koma, penyandang cacat dan lain sebagainya.
Pengawasan terhadap lokasi pelayanan yang terpencil dan terisolasi, seperti pada:
Irna Bersalin
Irna perawatan
Poliklinik

Pasien Tahap Terminal adalah pasien


dengan kondisi terminal yang makin lama
makin memburuk

Prosedur penguji MBO (Mati Batang Otak)


Memastikan hilangnya refleks batang otak dan henti
nafas yang menetap
Bila tes hilangnya refleks batang otak dinyatakan
positif, tes diulang lagi 25 menit kemudian
Bila tes tetap positif, maka pasien dinyatakan mati
walaupun jantung masih berdenyut, dan ventilator
harus segera dihentikan.
Pasien dinyatakan mati ketika batang otak dinyatakan
mati dan bukan sewaktu mayat dilepas dari ventilator
atau jantung berhenti berdenyut.

Code blue adalah kode international yang berarti


adanya kegawatan yang mengancam nyawa
karena kondisi yang menyebabkan orang dalam
waktu tidak singkat terjadi kegagalan oksigenasi
sel, sehingga dalam waktu kurang 10 menit tidak
tertolong akan menyebabkan kerusakan sel yang
permanent, terutama otak dan jantung.
Sedangkan Code Blue adalah tugas tenaga
kesehatan (penolong kegawatan di Rumah Sakit).

Kapan memanggil Code Blue


Bila pasien tidak berespon
Tidak ada nafas/ nafas agonal
Tidak ada pulsasi (nadi dan jantung)

Waktu memanggil team code blue


Bila petugas kesehatan menemukan pasien dengan
cardiopulmonary arrest harus inisiasi Code Blue.
Penolong pertama yang menemukan pasien menunggu pasien
sambil meminta bantuan dan secepatnya kembali ke pasien, diluar
kondisi dimana harus melakukan CPR/Cardiopulmonary
resusitatation mulai menit pertama sambil melihat kondisi pasien
(tersedak, tanda keracunan, overdosis,respiratory arrest, trauma dll)
Penolong pertama yang menemukan pasien meneruskan Resusitasi
Jantung Paru sampai bantuan datang/tim code blue.
Bagi pasien Rawat Inap, apabila terjadi kegawatan perawat akan
melakukan panggilan kepada Tim code blue dengan menggunakan
bel pemanggil yang tersedia

Daftar Kelompok Pasien berisiko adalah sebagai berikut:


Pasien dengan cacat fisik dan mental
Pasien usia lanjut > 65 tahun
Pasien bayi dan anak-anak
Pasien korban kekerasan
Pasien sakit terminal
Pasien dengan penyakit menular
Pasien nyeri hebat
Perempuan bersalin
Pasien mendapat kemoterapi atau radiologi
Pasien dengan imun terganggu
Pasien dealisa dan pasien koma

PENGKAJIAN PASIEN TAHAP TERMINAL

STANDAR
PROSEDUR OPERASIONAL

No. Dokumen

No. Revisi

PER/SPO
Tanggal terbit

00

Halaman

Ditetapkan oleh,
Direktur RSIA KUMALA SIWI

dr.ARIEF YUSTIAWAN

Pengertian

Langkah langkah dalam perawatan kepada pasien sebelum meninggal oleh petugas kesehatan
dilakukan dengan cara member pelayanan khusus.

Tujuan

Sebagai acuan bagi perawat yang memiliki peran memenuhi kebutuhan biologis,
sosiologis,
psikologis,
dan
spiritual,
memperhatikan
moral,
etika,
serta
menumbuhkan sikap empati kepada pasien dan keluarga.

Kebijakan

Surat Keputusan Direktur No:.../SK/RSIA //2016 Tentang Pemberlakuan Kebijakan Assesmen Pasien Rumah
Sakit Ibu dan Anak Kumala Siwi.

Prosedur

1. Rumah sakit menghormati hak pasien dalam menghadapi kematian


dengan tenang
2. Melakukan assessment pada pasien tahap terminal sesuai dengan
diagnose dan penjelasan dokter DPJP kepada keluarga sesuai dengan
kondisi pasien
3. Mengikut sertakan keluarga dalam dukungan mental spiritual
4. Mendampingi keluarga dan meminta persetujuan / penolakan tindakan
dan terapi medis apabila diperlukan, setelah menerima penjelasan
dokter

Unit Terkait

UGD, Rawat Inap.