Anda di halaman 1dari 52

Sejarah pemikiran ekonomi

Islam
Heri Sudarsono
herisudarsono.multiply.com
Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam
(P3EI) FE UII

Rasulullah SAW (571-632 M)


Rasulullah saw tidak mendapatkan gaji/upah

sedikitpun dari negara, kecuali hadiah kecil


yang umumnya berupa bahan makanan.
Salah satu pemimpin kaum (Hazrat Anat)
menawarkan miliknya kepada Rasulullah saw
yang kemudian diberikan kepada Ummul
Yaman, seorang ibu pengasuh
Pada masa Rasululah saw tidak ada tentara
formal. Semua muslim yang mampu boleh
menjadi tentara. Mereka tidak mendapatkan
gaji tetap, tetapi mereka diperbolehkan
mendapatkan bagian dari rampasan perang.

Sampai tahun ke-4 hijrah, pendapatan dan

sumber daya negara masih sangat kecil.


Kekayaan pertama datang dari Banu Nadir,
suatu suku yang tinggal di pinggiran Madinah
Pendapatan utama bagi negara di masa
Rasulullah saw adalah zakat dan ushr.
Keduanya berbeda dengan pajak dan tidak
diperlakukan seperti pajak. Zakat dan ushr
merupakan kewajiban agama dan termasuk
salah satu pilar Islam.

Zakat dikenakan pada beberapa


hal berikut:
1) Benda logam yang terbuat dari emas seperti
2)
3)
4)
5)
6)
7)

koin, perkakas, ornamen atau dalam bentuk


lainnya
Benda logam yang terbuat dari perak,
seperti koin, perkakas, ornamen atau dalam
bentuk lainnya
Binatang ternak unta, sapi, domba, kambing
Berbagai jenis barang dagangan termasuk
budak dan hewan
Hasil pertanian termasuk buah-buahan
Luqta, harta benda yang ditinggalkan musuh
Barang temuan.

Sumber Pendapatan
Sekunder
1) Uang tebusan untuk para tawanan perang, hanya

dalam kasus perang Badar pada perang lain tidak


disebutkan jumlah uang tebusan tawanan perang.
2) Pinjaman-pinjaman setelah menaklukan kota
Mekah untuk pembayaran uang pembebasan
kaum muslimin dari Judhayma atau sebelum
pertempuran Hawazin 30.000 dirham (20.000
dirham menurut Bukhari) dari Abdullah bin Rabia
dan meminjam beberapa pakaian dan hewanhewan tunggangan dari Sufyan bin Umaiyah.
3) Khumus atas rikaz harta karun temuan pada
periode sebelum Islam
4) Amwal fadhla, berasal dari harta benda kaum
muslimin yang meninggal tanpa ahli waris atau
berasal dari barang-barang seorang muslim yang
meninggalkan negerinya

5) Wakaf, harta benda yang diindikasikan

kepada umat Islam yang disebabkan Allah


dan pendapatannya akan didepositokan di
Baitul Mal
6) Nawaib, pajak yang jumlahnya cukup besar
yang dibebankan pada kaum muslimin yang
kaya dalam rangka menutupi pengeluaran
negara selama masa darurat dan ini pernah
terjadi pada masa perang Tabuk
7) Zakat Fitrah, zakat yang ditarik di masa bulan
Romadhon dan dibagi sebelum sholat id.
8) Bentuk lain shadaqah seperti kurban dan
kaffarat. Kaffarat adalah denda atas
kesalahan yang dilakukan seorang muslim
pada acara keagamaan, seperti berburu
pada musim haji.

Pencatatan tidak ada karena;


1. Jumlah orang Islam yang bisa membaca

2.
3.
4.
5.

sedikit dan jumlah orang yang dapat


menulis, apalagi yang mengenal aritmatika
sederhana.
Sebagian besar bukti pembayaran dibuat
dalam bentuk yang sederhana baik yang
didistribusikan maupun yang diterima
Sebagian besar dari zakat hanya
didistribusikan secara lokal
Bukti-bukti penerimaan dari berbagai daerah
yang berbeda tidak umum digunakan
Pada kebanyakan kasus, ghanimah
digunakan dan distribusikan setelah terjadi
peperangan tertentu

Sumber pendapatan pada


pemerintahan Rasulullah SAW
Dari kaum Muslim
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Dari kaum
nonmuslim

Zakat
1. Jizyah
Ushr (5-10%)
2. Kharaj
Ushr (2, 5 %)
3. Ushr (5%)
Zakat fitrah
Wakaf
Amwal Fadila
Nawaib
Shadaqah yang
lain
9. Khumus

Umum
1.
2.
3.
4.

Ghanimah
Fay
Uang tebusan
Pijaman dari kaum
muslim atau
nonmuslim
5. Hadiah dari
pemimpin atau
pemerintah negara
lain

Pengeluaran di masa
Primer
Sekunder SAW
pemerintahan
Rasulullah

1. Biaya pertahanan, seperti; persenjataan, unta, kuda dan persediaan


2. Penyaluran zakat dan ushr
kepada yang berhak menerimanya menurut ketentuan al Quran
3. Pembayaran gaji untuk wali, qadi,
guru, imam, muadzin, dan pejabat
negara lainnya
4. Pembayaran upah para
sukarelawan
5. Pembayaran utang negara
6. Bantuan untuk musafir (dari
daerah Fadak)

1. Bantuan untuk orang yang belajar agama di Madinah


2. Hiburan untuk para delegasi ke-agamaan
3. Hiburan untuk para utusan suku dan negara serta biaya
perjalanan mereka. Pengeluaran untuk duta-duta negara
4. Hadiah untuk pemerintah negara lain
5. Pembayaran untuk pembebasan kaum muslimim yang
menjadi budak
6. Pembayaran denda atas mereka yang terbunuh secara
tidak sengaja oleh pasukan muslim
7. Pembayaran utang orang yang meninggal dalam keadaan
miskin
8. Pembayaran tunjangan untuk orang miskin
9. Tunjangan untuk sanak saudara Rasulullah saw
10. Pengeluaran rumah tangga Rasulullah saw (hanya
sejumlah kecil; 80 butir kurma dan 80 butir gandum untuk
setiap istrinya)
11. Persediaan darurat (sebagian dari pendapatan perang
Khaibar)

Abu Bakar Siddiq (537- 634 M)


Sejak menjadi khalifah, kebutuhan keluarga

Abu Bakar diurus oleh kekayaan dari Baitul


Mal ini. Menurut beberapa keterangan beliau
diperbolehkan mengambil dua setengah
atau dua tiga perempat dirham setiap hari
hanya dari Baitul Mal dengan beberapa
waktu. Ternyata tunjangan tersebut kurang
mencukupi sehingga ditetapkan 2.000 atau
2.500 dirham dan menurut keterangan lain
6.000 dirham per tahun

Abu Bakar sangat memperhatikan

keakuratan perhitungan zakat seperti yang


ia katakan pada Anas (seorang Amil) bahwa:
jika seorang yang harus membayar satu
unta beliau berumur setahun sedangkan dia
tidak memilikinya dan ia menawarkan untuk
menberikan seekor unta betina yang
berumur dua tahun. Hal tersebut dapat
diterima. Kolektor zakat akan
mengembalikan 20 dirham atau dua
kambing padanya (sebagai kelebihan
pembayarannya)

mengumpulkan zakat dari semua umat Islam

termasuk Badui yang kembali


memperlihatkan tanda-tanda
pembangkangan sepeninggal Rasulullah saw.
Menurut Imam Shuyuti, ketika berita wafatnya
Rasulullah saw tersebar ke seluruh penjuru
Madinah, banyak suku-suku Arab yang
meninggalkan Islam dan menolak membayar
zakat. Abu Bakar memerintahkan pasukannya
untuk menyerang suku-suku pembangkang
tersebut. Umar bin Khattab memintanya
untuk mencabut perintahnya itu,

Di daerah pedalaman terdapat pusat-pusat

perdagangan dan pekan-pekan yang sangat


membantu pelaksanaan kebijaksanaan
dagang. Di antaranya di Ubulla, Yaman,
Damaskus, Mekkah dan Bahrain.
Pekan dagang berkedudukan penting.
Beberapa pekan dagang yang menonjol
adalah pekan dagang Ukaz yang berada di
Hijaz yang berdekatan dengan Sukar dan
yang lainnya. Ukaz adalah sebuah Oasis di
antara Taif dan Nkhlah. Pekan dagang itu
berlangsung pada 1-20 Dulkaidah

Umar bin Khattab (584- 644 M)


Dalam bidang ekonomi Umar bin Khatab menyadari

pentingnya sektor pertanian untuk memajukan


ekonomi negerinya. Karena itu, ia mengambil langkahlangkah pengembangannya dan juga mengembalikan
kondisi orang-orang yang bekerja di bidang pertanian.
Dia menghadiahkan kepada orang-orang yang sejak
awal mengolahnyamungkin dalam kondisi yang
masih tandus. Namun siapa saja yang gagal
mengelolanya selama 3 tahun, maka ia akan
kehilangan hak kepemilikannya atas tanah tersebut.
Orang-orang yang mengungsi, pada waktu terjadinya
invasi dapat dipanggil kembali dan dinyatakan boleh
menempati kembali tanah mereka.

Pada masa Umar hukum perdagangan

mengalami penyempurnaan guna menciptakan


perekonomian secara sehat. Umar mengurangi
beban pajak terhadap beberapa barang, pajak
perdagangan nabati dan kurma Syria sebesar
50%.
Hal ini untuk memperlancar arus pemasukan
bahan makanan ke kota-kota. Pada saat yang
sama, juga dibangun pasar-pasar agar tercipta
suasana persaingan yang bebas. Membanting
harga dan menumpuk barang serta mengambil
keuntungan secara berlebihan dipantau.

Sebagaimana di masa Rasulullah saw, zakat

merupakan sumber pendapatan utama negara


Islam. Zakat dijadikan ukuran fiskal utama dalam
rangka memecahkan masalah ekonomi secara
umum.
Pengenaan zakat atas harta berarti menjamin
penanaman kembali dalam perdagangan dan
perniagaan yang tidak perlu dilakukan dalam pajak
pendapatan. Hal ini juga akan memberi
keseimbangan antara perdagangan dan
pengeluaran. Dengan demikian dapat dihindari
terjadinya suatu siklus perdagangan yang
membahayakan.

Umar mendirikan institusi administrasi yang

hampir tidak mungkin dilakukan pada abad


ketujuh sesudah Masehi. Pada tahun 16
Hijrah, Abu Hurairah, Amil Bahrain
mengunjungi Madinah dan membawa
500.000 dirham kharaj.
Itu adalah jumlah yang besar sehingga
khalifah mengadakan pertemuan dengan
majelis Syura untuk menanyai pendapat
mereka dan kemudian diputuskan bersama
bahwa jumlah tersebut tidak untuk
didistribusikan melainkan untuk disimpan
sebagai cadangan darurat membiayai
angkatan perang dan kebutuhan lain untuk
umat.

Tunjangan di masa
pemerintahan
Jumlah Pemberian
Jumlah yang ditetapkan untuk
diberikan
Umar
bin
Khatab
12.000 dirham
Bagi setiap istri Nabi
12.000 dirham
5. 000 dirham
4.000 dirham

Untuk Abbas, paman Rasulullah


SAW
Untuk kaum Muhajirin dan Anshar
yang telah mengikuti perang Badar

2.000 dirham

Bagi mereka yang Islamnya seperti


Keislaman penduduk Badar
Putra kaum Muhajirirn dan Anshar

800 dirham

Penduduk Mekah dan masyarakat

Keterangan

Hasan dan Husein dimasukkan


daftar sebagai kerabat Rasulullah
SAW
Utsman bin Zaid dimasukkan dalam
daftar mereka.
Umar mengatakan sendiri kepada
anaknnya, bahwa dia membedakan
Abu Salamah dan memberinya
3.000 dirham karena keutamaan
Ummu Salamah dalam Islam.
Umar membedakan Nadzar bin
Anas dan beliau memberinya 200
dirham.

Umar menerapkan beberapa


peraturan:
1. Wilayah Iraq yang ditaklukkan dengan

kekuatan menjadi milik muslim dan


kepemilikan ini tidak diganggu gugat,
sedangkan bagian yang berada di bawah
perjanjian damai tetap dimiliki oleh pemilik
sebelumnya dan kepemilikan tersebut adalah
dialihkan.
2. Kharaj dibebankan pada semua tanah yang
berada di bawah kategori pertama, meskipun
pemilik tersebut kemudian memeluk Islam
dengan demikian tanah seperti itu tidak
dapat dikonversikan menjadi tanah ushr
3. Bekas pemilik tanah diberi hak kepemilikan,
sepanjang mereka memberi kharaj dan jizyah

4.

5.

6.

7.

Sisa tanah yang tidak ditempati atau ditanami (tanah


mati) atau tanah yang diklaim kembali (seperti Basra) bila
ditanami oleh muslim diperlakukan sebagai tanah ushr
Di Sawad, kharaj dibebankan sebesar satu dirham dan
satu rafiz (satu ukuran lokal) gandum dan barley (jenis
gandum) dengan anggapan tanah tersebut dapat dilalui
air. Harga yang lebih tinggi dikenakan kepada ratbah
(rempah atau cengkeh) dan perkebunan.
Di Mesir, menurut sebuah perjanjian Amar, dibebankan
dua dinar, bahkan hingga tiga Irdabb gandum, dua qist
untuk setiap minyak, cuka dan madu dan rancangan ini
telah disetujui khalifah.
Perjanjian Damaskus (Syria) menetapkan pembayaran
tunai, pembagian tanah dengan muslim. Beban per
kepala sebesar satu dinar dan beban jarib (unit berat)
yang diproduksi per jarib (ukuran) tanah.

Pada enam tahun pertama kepemimpinannya,

Balkh, Kabul, Ghazni Kerman dan Sistan


ditaklukkan. Untuk menata pendapatan baru,
kebijakan Umar diikuti. Tidak lama Islam
mengakui empat kontrak dagang setelah
negara-negara tersebut ditaklukkan, kemudian
tindakan efektif diterapkan dalam rangka
pengembangan sumber daya alam. Aliran air
digali, jalan dibangun, pohon-pohon, buahUsman
bin
Affan
(557-656
M)
buahan ditanam dan keamanan perdagangan
diberikan dengan cara pembentukan organisasi
kepolisian tetap.

Dia juga mengurangi zakat dari pensiun. Tabri menyebutkan

ketika khalifah Usman menaikkan pensiun sebesar seratus


dirham. Tetapi tidak ada rinciannya. Dia menambahkan
santunan dengan pakaian. Selain itu ia memperkenalkan
kebiasaan membagikan makanan di masjid untuk orang-orang
menderita, pengembara dan orang miskin
Ibnu Khaldun mengisahkan tentang kekayaan beberapa sahabat Rasulullah saw di
masa pemerintahan Usman pada masa Usman. orang-orang di sekeliling
Muhammad mendapatkan fasilitas perumahan dan uang. Pada masa terbunuhnya
Usman, uang sejumlah 150.000 dinar dan 100.000 dirham berada di tangan
bendaharanya. Perumahan yang dia miliki di Hunayn dan Qadi Al-Qura serta
tempat-tempat lain bernilai 200.000 dinar. Dia juga mewariskan 1000 kuda dan
1000 wanita pelayan. Penghasilan Talhah dari Iraq mencapai angka 1000 dinar
sehari, dan pendapatannya dari wilayah ash-Shrah bahkan lebih banyak dari itu.
Kandang milik Abdurahman bin Auf berisi 1000 kuda. Dia juga memiliki 1000 unta
dan 10.000 biri-biri,. Nilai dari seperempat lahan yang dia wariskan mencapai
84.000 dinar. Zaid bin Tsabit yang dia wariskan emas dan perak yang telah
ditumbuk halus dengan beliung, dan bila ini ditambah dengan lahan dan
kekayaannya yang lain nilai bisa mencapai 100.000 dinar Az-Zubair memiliki
kediaman di Basra, Mesir, Al-Kuffah dan Alexandria, Talhah membangun
kediamannya di Al-Kufah dan tengah memperbaharui kediamannya yang di
Madinah. Bahan-bahan yang digunakan antara lain gip, bata, dan kayu jati. Saad
bin Abi Waqqas juga membangun kediamannya di Madinah dengan dilapisi gip
pada sisi luar dan sisi dalam tembok rumahnya. Yala bin Munyah mewariskan
50.000 dinar beserta hartanya yang lain yang keseluruhannya bernilai 300.000
dirham

Lahan luas yang dimiliki keluarga kerajaan

Persia diambil alih oleh Umar tetapi dia


menyimpannya sebagai lahan negara yang
tidak dibagi-bagi. Sementara itu Usman
menbaginya kepada individu-individu untuk
reklamasi dan untuk kontribusi sebagian yang
diprosesnya kepada Baitul Maal. Dilaporkan
bahwa lahan ini pada masa Umar menghasilkan
sembilan juta dirham tetapi pada masa Usman
penerimaan meningkat menjadi lima puluh
juta. Pada periode selanjutnya dia juga
mengizinkan menukar lahan tersebut dengan
lahan yang ada di Hijaz dan Yaman, sementara
kebijakan Umar tidak demikian.

Dalam pemerintahan Usman komposisi kelas sosial di

dalam masyarakat berubah demikian cepat sehingga


semakin sulit menengahi berbagai kepentingan yang
ada. Wajar kalau semasa pemerintahan Usman banyak
sekali konflik yang muncul di permukaan. Bukan tugas
yang mudah untuk mengawasi orang Badui yang pada
dasarnya mencintai kebebasan pribadi dan tidak
mengenal otoritas pemerintah yang dominan. Tidak
mudah pula mengakomodasi orang kota yang cepat
kaya karena adanya peluang-peluang baru yang
terbuka menyusul ditaklukannya propinsi-propinsi baru.
Di saat itu muncul empat kelompok masyarakat; (1) suku Quraysh Mekah,
(2) kaum Anshar, (3) suku Arab pengembara, dan; (4) penduduk negaranegara yang ditaklukkan. Semua kelompok ini bersaing satu dengan yang
lain untuk memperoleh kekuasaan dan kontrol yang lebih besar atas
kekayaan materi.

Ali bin Abi Thalib (600-661M)


Ali terkenal sangat sederhana, ia secara sukarela menarik

dirinya dari daftar penerima dana bantuan Baitul Mal,


bahkan menurut yang lainnya dia memberikan 5.000
dirham setiap tahunnya. Ali sangat ketat dalam
menjalankan keuangan negara. Suatu hari saudaranya
Aqil datang kepadanya meminta bantuan uang, tetapi Ali
menolak karena hal itu sama dengan mencuri uang milik
masyarakat.
Masalah apakah Ali membebankan khums atas ikan atau
hasil hutan (ajmat) 4.000 dirham. Baladhuri menulis
kepada mereka sebuah pernyataan yang ditulis di atas
sehelai perkamen. Hutan-hutan ini terhampar di daerah
istana raja Namruz di Babilonia. Di hutan ini terdapat
ngarai yang dalam yang menurut beberapa orang, tanah
untuk batu-batu istana dan menurut yang lainnya itu
adalah tanah longsor.

Pada saat pemerintahan di pegang khalifat Umar, Ali

tidak hadir pada pertemuan Majelis Syuro di Djabiya


(masuk wilayah Madinah) yang diadakan oleh Umar,
tetapi ia menyepakati peraturan-peraturan yang sangat
berkaitan dengan daerah taklukan. Pertemuan itu juga
menyepakati untuk tidak mendistribusikan seluruh
pendapatan Baitul Mal, tetapi menyimpan sebagai
bagian cadangan. Semua kesepakatan itu berlawanan
dengan pendapat Ali. Oleh karena itu ketika menjabat
sebagai khalifah dia mendistribusikan seluruh
pendapatan provinsi yang ada di Baitul Mal Madinah,
Busra, dan Kufah. Ali ingin mendistribusikan sawad,
namun dia harus menahan diri karena takut akan terjadi
perselisihan. Nahju Balagha lebih jauh menambahkan:
Prinsip utama dari pemerataan distribusi uang rakyat
diperkenankan. Sistem distribusi setiap pekan sekali
untuk pertama kalinya diadopsi. Hari Kamis adalah hari
pendistribusian atau hari pembayaran. Pada hari itu
semua perhitungan diselesaikan dan pada hari Sabtu
dimulai perhitungan baru.

Dalam suratnya yang ditujukan kepada Malik

Ashter bin Harith menunjukkan Ali memiliki


konsep yang jelas tentang pemerintahan,
administrasi umum dan masalah-masalah yang
berkaitan dengannya. Surat ini mendeskripsikan
tugas dan kewajiban dan tanggung jawab
penguasa, menyusun prioritas dalam melakukan
dispensasi terhadap keadilan, kontrol atas
pejabat tinggi dan staf; menjelaskan kebaikan
dan kekurangan jaksa, hakim dan abdi hukum,
menguraikan pendapatan pegawai administrasi
dan pengadaan bendahara.

Kurang lebih alokasi pengeluaran masih tetap

sama sebagaimana halnya pada masa


kepemimpinan Umar. Pengeluaran untuk
angkatan laut yang ditambah jumlahnya pada
masa kepemimpinan Usman hampir
dihilangkan seluruhnya, karena daerah
sepanjang garis pantai seperti Syria, Palestina
dan Mesir berada di bawah kekuasan
Muawiyah. Tetapi dengan adanya penjaga
malam dan patroli yang diciptakan oleh
Umar, Ali tetap menyediakan polisi reguler
yang terorganisir yang disebut Shurta, dan
pemimpinnya diberi gelar Sahibush Shurta

Ekonomi Pasca
Khulafaurashidin

Di masa dinasti Ummayah (611-750 M), khalifah Umar

bin Abdul Aziz (60-101 H/608-720 M) memberlakukan


peraturan yang mengatakan bahwa lahan pertanian
adalah hak milik negara secara simbolis. Dalam hal ini
lahan pertanian dipandang sebagai milik seluruh umat
Islam yang diwakili oleh khalifah.
Pemilik tanah pertanian yang sebenarnya dipandang
sebagai pemakai hak guna atau penyewa. Ketika
dinasti Abbasiyyah (700-850 M) memerintah, sistem
tersebut mengalami perubahan. Lahan pertanian pada
masa ini berubah menjadi milik negara, bukan milik
umat Islam lagi. Negara pun menjadi berhak
sepenuhnya atas tanah.

Pajak terhadap lahan pertanian dibayar dalam bentuk uang,

sementara pajak terhadap barang-barang dibayar dalam


bentuk barang yang dihasilkan tersebut (in-natura), seperti
yang berlaku di Byzantium. Penarikan pajak ini dilakukan
oleh para pegawai negeri yang bertugas menangani bidang
ini. Besar kecilnya pajak ditentukan berdasarkan keadaan,
kesuburan dan luas bumi.
Sejak masa Dinasti Abbasiyah diperbolehkan cara yang
mempermudah dan memperlancar penarikan pajak, yakni
pajak ini dibayar oleh seseorang penjamin atau pembayar
panjar. Waktu itu sistem ini disebut dengan sistem dhaman
atau qibalat. Sebelum Islam, pajak model ini juga
diberlakukan orang-orang Byzantium terhadap pemeluk
agama lain. Hal ini serupa juga dilakukan orang-orang Persia
terhadap pemeluk agama Yahudi dan Kristen.

Jizyah hanya dikenakan terhadap kaum pria yang telah

dewasa dari kalangan para pemeluk agama non Islam.


Sementara kaum wanita, anak-anak, orang yang telah
lanjut usia, budak, dan tokoh agama tidak dikenakan pajak
ini. Lagi pula, jizyah ini bisa diubah sesuai dengan keadaan
orang yang dikenai pajak ini, misalnya; para pemeluk
agama non Islam yang kemudian memeluk Islam dengan
secara langsung dibebaskan dari pajak tersebut.
Semakin banyak para pemeluk agama bukan Islam yang
kemudian memeluk Islam, menjadikan jizyah tidak lagi
dipandang sebagai sumber pendapatan. Kemudian pajak
ini lebih dikenal istilah al-jawali. Istilah ini berasal dari
jaliyah yang artinya generasi. Hal ini menunjukkan bahwa
waktu itu para pembayar jizyah tinggal sedikit jumlahnya.

Pengaitan antara pendapatan dan pengeluaran dalam

bentuk neraca waktu itu merupakan hal yang biasa


dilakukan oleh kaum muslimin. Neraca ini diperhitungkan
setiap tahun berdasarkan tahun masehi, karena kharaj
(sumber pemasukan terbesar waktu itu) dipungut
berdasarkan tahun masehi.
Sejak abad kedua hijrah muncul suatu diwan yang mirip
dengan jasa akuntansi dewasa ini. Karyawan diwan ini
bertugas meneliti pendapatan, mengatur pengeluaran, dan
mengkaitkan antara pendapatan dan pengeluaran pada
masa dinasti Abbasiyah diwan tersebut disebut diwan azziman. Sementara pada masa dinasti Fathimiyah di Mesir
disebut diwan at-tahqiq

Sejarah Bani Umayyah, Abbasiyyah dan lainnya sampai

pada masa permulaan dinasti Usmani telah memberikan


bukti yang jelas dalam pembangunan skim-sim irigasi
berskala besar dan pemeliharaannya di sepanjang
sungai-sungai Tigris, Efrat, Khabur, Orante (as-Asi) dan
Barada. Saluran-saluran air bawah tanah yang
sepanjang (qanat), kadang-kadang menembus gunung,
menyalurkan air dari sumber-sumber pegunungan yang
jauh melewati plateau atau padang pasir. Menurut AlMaqrizi (w. 845/1442), sejumlah 120.000 pekerja di
pekerjakan setiap hari di lembah sungai Nil untuk
memelihara bendungan dan jembatan-jembatan

Mata uang
Pada mulanya mata uang yang dipakai bukan berasal

dari kawasan dunia Islam, sebab ketika kaum


muslimin baru melebarkan sayapnya mereka belum
lagi mengenal industri mata uang. Karenanya, di
kawasan-kawasan baru yang mereka kuasai, yaitu
mata uang Byzantium, Persia dan Yaman kuno.
Ketika pulang dari Syam, mereka membawa dinar
emas Byzantium. Dari Iraq membawa dirham Persia.
Kadang-kadang membawa dirham Himyar dari Yaman.
Tidak aneh bila mata uang yang dipakai dunia Islam
salah satu bergambar pedang salib, sedangkan di sisi
yang satunya lagi bergambar rumah persembahan api

Mata uang yang bercorak benar-benar Islam

barulah dibuat pada masa khalifah Abdulah Malik


bin Marwan. Pembuatan mata uang masa itu
didasarkan pemikiran bahwa mata uang selain
memiliki nilai ekonomi juga sebagai pernyataan
kedaulatan dinasti Islam.
Di samping itu, mata uang juga berfungsi sebagai
sarana pengumuman keabsahan pemerintahan
pada waktu itu yang namanya terpateri pada
mata uang tersebut. Khalifah Abdulah Malik bin
Marwan pun memerintahkan Arabisasi mata uang
sebagian dari politik Arabisasi aparatur negara
masa pemerintahannya

Mata uang yang dibuat di dunia Islam waktu itu

disebut sikkah. Menurut Ibn Khaldun kosa kata


sikkah berasal dari cincin besi bahan mata
uang, yang dalam pembuatannya dipukul
dengan palu. Kosa kata sikkah selain dikenakan
terhadap mata uang juga dikenakan terhadap
gedung tempat pembuatan mata uang.
Karenanya gedung tersebut juga disebut dar
as-sikkah. Darul as-sikkah tersebar diberbagai
pelosok wilayah Islam pada waktu itu,
sehingga darul as-sikkah dikenal sampai di luar
kawasan Islam.

Di dunia Islam mengenal dua jenis mata uang

utama, yaitu mata uang dinar emas, diambil dari


kosa kata denarius, dan dirham perak yaitu berasal
dari kosa kata Yunani drachmos. Selain kedua jenis
tersebut, terdapat mata uang pecahan atau disebut
maksur seperti qitha dan mitqal.
Pada abad keempat hijrah dunia Islam mengalami
krisis mata uang emas dan perak, maka dibuatlah
dari tembaga atau campuran tembaga dengan
perak yang disebut fulus (diambil dari bahasa latin
follis), yaitu mata uang tembaga tipis. Mata uang
tersebut juga disebut al-qarathis karena mirip
dengan lembaran kertas.

Nilai mata uang ditetapkan oleh khalifah. Memang

penetapan itu sendiri tidak lepas dari pertimbangan nilai


riil di masyarakat dan naik turunnya nilai dari waktu ke
waktu. Perlu dikemukakan mata uang pada waktu itu
ditimbang, karena untuk mencegah penipuan, mereka
lebih suka menggunakan standar timbangan. Khusus
yang telah mereka miliki, yaitu; auqiyah, nasy, nuwah,
mitsqal, dirham, daniq, qirath dan habbah. Mitsqal
merupakan berat pokok yang sudah diketahui umum
yaitu setara dengan 22 qirath kurang satu habbah. Di
kalangan mereka berat 10 dirham sama dengan 7
mitsqal. Berat timbangan sebesar 4, 25 gram emas
sama dengan 1 dinar, yaitu sama dengan 1 mitsqal.

Standar Berat Syari


1 mitsqal (1 dinar)

Perhitungan
-

Berat Emas
(gram)
4,25

Keterangan
Standar berat dinar

1 daniq emas

1/8 x 4,25 gr emas

0,53125

1 mitsaqal = 8 daniq

1 qirath

1/20 x 4,25 gr emas

0,2125

1 mitsqal = 20 qirath

1 habbah syair

1/72 x 4,25 gr emas

0,059

1 mitsqal = 72 habbah syair

1 dirham

7/10 x 4,25 gr emas

2, 975

1 dirham = 7/10 mitsqal

10 dirham

10 x 2.975 gr perak

29,75

10 dirham = 7 mitsqal

1 nasy

20 x 2, 975 gr perak

59, 5

1 nasy = 20 dirham

1 nuwah gr perak

5 x 2.975 gr perak

14, 875

1 dirham = 8 daniq

1 daniq perak

1/6 x 2,975 gr perak

0,495

1 dirham = 6 daniq

1 auqiyah

40 x 2, 975 gr perak

119

1 auqiyah = 40 dirham

Pemikiran beberapa ekonom


muslim
Zayd bin Ali (699-738 M)
Cucu Imam Ali adalah salah satu ahli fiqh yang terkenal

di Madinah. Beberapa pandangan dan pengetahuannya


tentang isu-isu ekonomi dipaparkan oleh Abu Zahra.
Zayd bin Ali membolehkan penjualan suatu komoditi
secara kredit dengan harga yang lebih tinggi dari harga
tunai. Zayd tidak membolehkan harga yang
ditangguhkan pembayarannya lebih tinggi dari
pembayaran tunai, sebagaimana halnya penambahan
pembayaran dalam penundaan pengembalian pinjaman.
Setiap penambahan terhadap penundaan pembayaran
adalah riba.

Abu Hanifa (699-767 M)


Abu Hanifa menyumbangkan beberapa konsep ekonomi, salah

satunya adalah salam, yaitu suatu bentuk transaksi dimana antara


pihak penjual dan pembeli sepakat bila barang yang dibeli dikirimkan
setelah dibayar secara tunai pada waktu kontrak disepakati. Abu
Hanifa mengkritisi prosedur kontrak tersebut yang cenderung
mengarah kepada perselisihan antara yang memesan barang dengan
cara membayar lebih dulu, dengan orang yang membelikan barang.
Beliau mencoba menghilangkan perselisihan ini dengan merinci lebih
jauh apa yang harus diketahui dan dinyatakan dengan jelas di dalam
kontrak, seperti jenis komoditi, kualitas, kuantitas, waktu dan tempat
pengiriman. Beliau memberikan persyaratan bahwa komoditi tersebut
harus tersedia di pasar selama waktu kontrak dan waktu pengiriman .

Perhatian Abu Hanifah sangat perhatian

pada orang-orang lemah. Abu Hanifah tidak


membebaskan perhiasan dari zakat dan
akan membebaskan kewajiban membayar
zakat bagi pemilik harta yang dililit utang.
Beliau tidak memperbolehkan pembagian
hasil panen (muzaraah) dari penggarap
kepada pemilik tanah dalam kasus tanah
yang tidak menghasilkan apapun. Hal ini
dilakukan untuk melindungi para
penggarap yang umumnya orang lemah.

Abu Yusuf (731-798 M)


Di antara kitab-kitab Abu Yusuf, kitab yang paling terkenal adalah kitab

Al-Kharaj. Kitab ini ditulis atas permintaan khalifah Harun ar-Rasyid untuk
pedoman dalam menghimpun pemasukan atau pendapatan negara dari
kharaj, ushr, zakat, dan jizyah. Kitab ini dapat digolongkan sebagai public
finance dalam pengertian ekonomi modern.Kharaj adalah pajak tanah
yang dikuasai oleh kaum muslim, baik karena peperangan maupun
karena pemiliknya mengadakan perjanjian damai dengan pasukan
muslim.
Mereka tetap menjadi pemilik sah dari tanah-tanahnya tetapi dengan
membayar pajak (kharaj) sejumlah tertentu kepada Baitul Mal. Sedangkan
usyur merupakan bentuk jama dari kata usyr artinya sepersepuluh atau
10 persen. Ia merujuk kepada kadar zakat pertanian dan bea cukai yang
dikenakan kepada pedagang muslim maupun non muslim yang melintasi
wilayah Daulah Islamiyan.

Kitab Al-Kharaj mencakup berbagai bidang

antara lain:
1. Tentang pemerintahan; seorang khalifah adalah wakil

Allah di bumi untuk melaksanakan perintah-Nya. Dalam


hubungan hak dan tanggung jawab pemerintah terhadap
rakyat. Abu Yusuf menyusun sebuah kaidah fiqih yang
sangat populer, yaitu Tasarruf al Imam ala Raiyyah
Manutun bi Al-Maslahah (setiap tindakan pemerintah
yang berkaitan dengan rakyat senantiasa terkait dengan
kemaslahatan mereka).
2. Tentang keuangan; uang negara bukan milik khalifah
tetapi amanat Allah dan rakyatnya yang harus dijaga
dengan penuh tanggung jawab.

3. Tentang pertanahan; tanah yang diperoleh dari

pemberian dapat ditarik kembali jika tidak


digarap selama 3 tahun dan diberikan kepada
yang lain.
4. Tentang perpajakan; pajak hanya ditetapkan
pada harta yang melebihi kebutuhan rakyat dan
ditetapkan berdasarkan kerelaan mereka.
5. Tentang peradilan; hukum tidak dibenarkan
berdasarkan hal yang syubhat. Kesalahan dalam
mengampuni lebih baik dari pada kesalahan
dalam menghukum. Jabatan tidak boleh menjadi
bahan pertimbangan dalam persoalan keadilan.

Al Ghazali (1058-1111 M)
Dapat saja petani hidup dimana alat-alat pertanian tidak tersedia,

sebaliknya pandai besi dan tukang kayu hidup dimana lahan pertanian
tidak ada. Namun secara alami, mereka akan saling memenuhi
kebutuhan masing-masing. Dapat pula terjadi tukang kayu
membutuhkan makan, tetapi petani tidak membutuhkan alat-alat
tersebut atau sebaliknya. Keadaan ini menimbulkan masalah. Oleh
karena itu, secara alami pula orang akan terdorong untuk menyediakan
tempat penyimpanan alat-alat di satu pihak dan tempat penyimpanan
hasil sesuai dengan kebutuhan masing-masing sehingga terbentuklah
pasar. Petani, tukang kayu dan pandai besi yang tidak dapat langsung
melakukan barter juga terdorong pergi ke pasar ini. Bila di pasar juga
tidak ditemukan orang yang melakukan barter, ia akan menjual pada
pedagang dengan harga yang relatif murah untuk kemudian disimpan
sebagai persediaan. Pedagang kemudian menjualnya dengan suatu
tingkat keuntungan. Hal ini berlaku untuk setiap jenis barang

Ibnu Taimiyah (1263-1328M)


Bahwa naik dan turunnya harga tidak selalu

disebabkan oleh tindakan tidak adil dari sebagian


orang yang terlibat transaksi. Bisa jadi
penyebabnya adalah penawaran yang menurun
akibat inefisiensi produksi, penurunan jumlah
impor barang-barang yang diminta atau juga
tekanan pasar. Karena itu, jika permintaan
terhadap barang meningkat sedangkan
penawaran menurun, harga tersebut akan naik.
Begitu pula sebaliknya. Kelangkaan dan
melimpahnya barang mungkin disebabkan oleh
tindakan yang adil atau mungkin juga karena
tindakan yang tidak adil.

Penawaran bisa datang dari produksi

domestik dan impor. Perubahan dalam


penawaran digambarkan sebagai peningkatan
atau penurunan dalam jumlah barang yang
ditawarkan, sedangkan permintaan sangat
ditentukan oleh selera dan pendapatan. Besar
kecilnya kenaikan harga bergantung pada
besarnya perubahan penawaran dan atau
permintaan. Bila seluruh transaksi sudah
sesuai aturan, kenaikan harga yang terjadi
merupakan kehendak Allah

Ibnu Khaldun (1332-1383 M)


Bahwa uang tidak perlu mengandung emas

dan perak, tetapi emas dan perak menjadi


standar nilai uang. Uang tidak mengandung
emas dan perak merupakan jaminan
pemerintah menetapkan nilainya. Karena
itu pemerintah tidak boleh mengubahnya.
Pemerintah wajib menjaga nilai uang yang
dicetak karena masyarakat menerimanya
tidak lagi berdasarkan berapa kandungan
emas perak di dalamnya

Oleh karena itu Ibnu Khaldun selain

menyarankan digunakannya uang standar


emas/perak, beliau juga menyarankan
konstannya harga emas dan perak. Hargaharga lain boleh berfluktuasi tetapi tidak untuk
harga emas dan perak. Dalam keadaan nilai
uang yang tidak berubah, kenaikan harga atau
penurunan harga semata-mata ditentukan oleh
kekuatan penawaran dan permintaan. Setiap
barang akan mempunyai harga
keseimbangannya. Bila lebih banyak makanan
dari yang diperlukan di satu kota, harga
makanan menjadi murah, demikian sebaliknya.

Continue...

632 - 656 M
656 - 661 M

738 1037 M

1058-1448 M

1446-1931 M

1931- Skr

Tokoh Ekonom Muslim

Rasulullah SAW

Pemikiran Ekonomi Islam di masa Khulafaurashydin


Abu Bakar Siddiq (632-634) Umar Bin Khatab (634-644), Usman bin Affan, (644- 656) Ali bin Abi Thalib
(656-661)
Pemikir Ekonomi Islam Periode Awal
Zayd bin Ali (738 M), Abu Hanifa (767 M), Awzai (774 M), Malik (798 M), Abu Yusuf (798 M), Muhammad
bin Hasan Al-Shaybani (804 M), Yahya bin Dam (818 M), Shafii (820 M), Abu Ubayd (838 M), Ahmad bin
Hambal (855 M), Yahya Bin Hambal (855 M), Yahya bin Umar (902 M), Qudama bin Jafar (948 M), Abu
Jafar al Dawudi (1012 M) Mawardi (1058 M) Hasan Al-Bashri (728 M), Ibrahim bin Dam (874 M), Fudayl bin
Ayad (802 M) Maruf Karkhi (815 M), Dzul Nun Al Misri (859 M), Ibn Maskawih(1030 M), al Kindi (1873 M),
Farabi (950 M), Ibnu Sina (1037 M)
Pemikir Ekonomi Islam periode Kedua
Al-Ghazali (1111), Ibnu Taimiyah (1328), Ibnu Khaldum (1040), Syamsuddin Al- Sarakhsi (1090), Nizamul
Mulk Tusi (1093), Ibnu Masud Al-Kasani (1182), Al-Shaizari (1193) Fakhrudiin Al-Razi (1210), Najnudin AlRazi (1256) Ibnul Ukhuwa (1329), Ibnul Qoyyim (1350), Muhhamad bin Abdulrahman Al-Habashi (1300)
Abu Ishaq Al-Shatibi (1388), Al-Maqrizi (1441), Al-Qushayri (857) Al-Hujwary(1096), Abdul Qadir Jailani
(1169) Al-Attar (1252), Ibnul Arabi (1240) Jalaludin Rumi (1274) Ibnu Baja (1138) Ibnulk Tufayl (1185), Ibnu
Rusyd (1198)
Pemikir Ekonomi Islam Periode Ketiga
Shah Walilullah Al-Delhi (1762), Muhammad bin Abdul Wahab (1787), Jamaluddin Al Afghani (1897), Mufti
Muhammad Abduh (1905), Muhammad Iqbal (1938), Ibnu Nujaym (1562), Ibnu Abidin (1836), Syeh Ahmad
Sirhindi (1524)
Pemikir Ekonomi Islam Periode Lanjut
Muhammad Abdul Mannan (b.1938), Muhammad Najatullah Siddiqi (b. 1931), Syed Nawad Haider Naqvi
(b.1935), Monzer Kahf, Sayyid Mahmud Taleghani. Muhammad Baqir as Sadr, Umer Chapra

Terima kasih atas


perhatiannya