Anda di halaman 1dari 39

Department of Pharmacology

ANESTESI LOKAL
Dr. M. Yulis Hamidy,
M.Kes., M.Pd.Ked

Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

PENDAHULUAN
Obat yang menghambat hantaran saraf
bila dikenakan secara lokal pada
jaringan saraf dengan kadar cukup
Bekerja pada tiap bagian susunan saraf
Paralisis saraf bersifat reversibel

Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

SIFAT
Tidak mengiritasi
Bersifat reversibel
Margin of safety lebar
OOA cepat
DOA lama
Larut dalam air
Stabil dalam larutan
Steril
Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

MEKANISME KERJA
Mencegah pembentukan dan konduksi
impuls saraf melalui penurunan
permiabilitas membran terhadap ion Na
Meningkatkan tegangan permukaan
membran
Site of action di membran sel

Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

SENSITIVITAS SERAT SARAF


Serabut halus lebih peka tetapi lebih lambat
pulih dibandingkan dengan serabut besar
Efek pada saraf sensorik secara berurutan
adalah hilangnya modalitas nyeri, dingin,
panas, rabaan dan tekanan dalam
Efek anestesi ditandai dengan hilangnya rasa
raba, sedangkan rasa nyeri hilang paling akhir

Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

PENGARUH pH
Anestesi lokal merupakan basa lemah
Dalam bentuk basa hanya sedikit larut
dan tidak stabil dalam bentuk larutan
Dalam bentuk garam mudah larut
dalam air tapi bersifat agak asam

Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

PENGARUH VASOKONSTRIKTOR
Masa kerja anestesi lokal berbanding lurus
dengan waktu kontak aktif dengan saraf
Vasokonstriktor mengurangi kecepatan
absorpsi anestesi lokal sehingga akan
memperpanjang efek sekaligus mengurangi
toksisitas sistemik
Namun vasokonstriktor itu sendiri juga dapat
mengakibatkan efek samping sistemik seperti
gelisah, takikardi, palpitasi dan nyeri dada
Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

FARMAKODINAMIK
Susunan saraf tepi
Menghambat hantaran saraf

Susunan saraf pusat:


Merangsang SSP (gelisah, tremor, kejang)
Diikuti dengan depresi SSP (kelumpuhan nafas)

Sambungan saraf otot dan ganglion


Berkurangnya respon otot atas rangsangan saraf

Sistem kardiovaskuler
Penurunan eksitabilitas, kecepatan konduksi dan kekuatan
kontraksi
Vasodilatasi arteriol

Otot polos
Spasmolitik

Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

KOKAIN (BENZOILMETILEKGONIN)
Anestesi lokal pertama
Sumber dari tumbuhan Erithroxylon
coca yang tumbuh di Pegunungan
Andes (Peru)
Menyebabkan adiksi

Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology
KOKAIN (BENZOILMETILEKGONIN)
FARMAKODINAMIK

SSP
: gelisah, euforia
Sistem kardiovaskuler
Pada dosis kecil dapat memperlambat denyut jantung
Pada dosis sedang dapat menurunkan tekanan darah
Pada dosis besar dapat menyebabkan payah jantung

Otot skelet
Suhu tubuh
Saraf simpatis

: menghilangkan kelelahan
: hiperpireksia

Vasokonstriksi
Midriasis

Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology
KOKAIN (BENZOILMETILEKGONIN)
FARMAKOKINETIK

Kecepatan absorpsi melebihi kecepatan


detoksikasi dan ekskresi sehingga
bersifat sangat toksik
Absorpsi di semua tempat termasuk
selaput lendir

Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology
KOKAIN (BENZOILMETILEKGONIN)
INTOKSIKASI

Sering menyebabkan keracunan akut


Dosis fatal 1,2 g
T/ diazepam atau barbiturat kerja
singkat IV

Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

PROKAIN
Disintesis tahun 1905 dengan nama
dagang novokain
Awalnya merupakan DOC untuk
anestesi lokal suntikan

Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

PROKAIN
FARMAKODINAMIK
Analgesik umum ringan yang
berbanding lurus dengan dosis
Efek maksimal dalam 10-20 menit
DOA 60 menit

Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

PROKAIN

FARMAKOKINETIK

Absorpsi cepat dari tempat suntikan


(diperlambat dengan menambahkan
vasokonstriktor)
Dihidrolisis menjadi PABA dan
dietilaminoetanol
Ekskresi melalui urin

Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

PROKAIN
INDIKASI

Blokade saraf
Anestesi infiltrasi
Anestesi epidural
Anestesi spinal
Anestesi kaudal

Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

LIDOKAIN
DOC untuk anestesi permukaan,
infiltrasi dan juga dapat digunakan
untuk anestesi umum
Lebih poten daripada prokain

Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

LIDOKAIN
FARMAKOKINETIK
Mudah diserap dari tempat suntikan
Dapat melewati sawar darah otak
Metabolisme di hati melalui proses
dealkilasi
Ekskresi melalui urin

Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

LIDOKAIN
EFEK SAMPING
Efek terhadap SSP seperti mengantuk,
pusing, parestesia, gangguan mental,
koma
ES lain seperti fibrilasi ventrikel, henti
jantung

Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

LIDOKAIN
INDIKASI
Blokade saraf
Anestesi infiltrasi
Anestesi epidural
Anestesi spinal
Anestesi kaudal
Anestesi selaput lendir
Mencegah aritmia pada infark miokard
Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

ANESTESI LOKAL YANG DIBERIKAN


SECARA INJEKSI

Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

DIBUKAIN
Paling kuat dan paling toksik
DOA panjang
Indikasi:
Anestesi suntikan
Anestesi topikal telingan dan kulit
Anestesi spinal

Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

MEPIVAKAIN HCl
Mirip lidokain
Indikasi:
Anestesi infiltrasi
Anestesi spinal
Blok saraf regional

Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

PIPEROKAIN HCl
Potensi sama dengan prokain
Indikasi:
Anestesi topikal untuk kornea, mata,
hidung, tenggorok, dan saluran kemih
Blokade saraf
Anestesi kaudal

Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

TETRAKAIN
Lebih aktif dan lebih toksik daripada
prokain
Indikasi:
Anestesi topikal untuk mata, hidung dan
tenggorokan
Anestesi spinal

Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

PRILOKAIN HCl
Mirip lidokain
OOA dan DOA lebih lama daripada
lidokain
ES: methemoglobinemia
Indikasi: anestesi suntikan

Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

ANESTESI LOKAL YANG DIBERIKAN


SECARA TOPIKAL

Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

BENZOKAIN
Absorpsi lambat karena sukar larut
dalam air
Dapat digunakan langsung pada luka
dengan ulserasi
Sediaan berupa salep, supositoria,
bedak

Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

JENIS LAIN
Lidokain
Lidokain HCl
Dibukain
Tetrakain
Benoksinat
Kokain
Pramoksin
Diklonin
Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

TEKNIK ANESTESI LOKAL

Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

ANESTESI PERMUKAAN
Untuk menghilangkan nyeri di selaput
lendir mulut, faring dan esofagus
Untuk menghilangkan nyeri pada luka,
ulkus dan luka bakar
Tidak mengganggu proses
penyembuhan luka
Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

ANESTESI INFILTRASI
Untuk menimbulkan anestesi ujung
saraf
Diberikan secara intradermal atau SK

Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

ANESTESI BLOK
Digunakan untuk tindakan
pembedahan seperti sirkumsisi,
pencabutan kuku
Digunakan untuk tujuan diagnostik dan
terapi

Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

ANESTESI SPINAL
Sama dengan anestesi blok tetapi lebih luas
(blokade subarakhnoid atau intratekal)
Obat disuntikkan ke dalam ruang
subarakhnoid antara L2 dan L5
Luas blokade anestesi tergantung pada BJ
obat dan posisi pasien
Digunakan pada operasi perut bagian bawah,
perineum dan tungkai bawah
Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

ANESTESI SPINAL
Dosis tergantung pada:
Volume ruang subarakhnoid (tergantung pada
tinggi badan)
Tinggi rendahnya segmen daerah anestesi yang
diinginkan
Lamanya anestesi yang diperlukan

Lamanya anestesi spinal tergantung pada:


Kecepatan absorpsi obat dari ruang subarakhnoid
Sifat lipofilisitas obat
Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

PENGARUH ANESTESI SPINAL


Pernafasan
Penurunan kapasitas vital dan kapasitas nafas maksimum
Henti nafas akibat paralisis otot pernafasan

SKV
Vasodilatasi arteriol di daerah yang mengalami blokade,
diikuti dengan vasokonstriksi di daerah yang tidak
mengalami blokade sebagai kompensasi
Hipotensi akibat penurunan alir balik vena

Komplikasi neurologis hampir tidak pernah terjadi,


kalau ada berupa sakit kepala akibat iritasi saraf pada
saat penyuntikan
Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

ANESTESI EPIDURAL
Menyuntikkan zat anestesi ke ruang
epidural
Efek anestesi dapat mencapai setinggi
dagu
Pemberian dapat tunggal atau kontinu
Suntikan dilakukan di bawah L2
Tidak menyebabkan sakit kepala
Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

ANESTESI KAUDAL
Zat anestesi disuntikkan ke dalam
kanalis sakralis melalui hiatus sakralis
Risiko:
Jarum masuk ke pleksus vena
Jarum menembus duramater

Faculty of Medicine University of Riau

Department of Pharmacology

Faculty of Medicine University of Riau