Anda di halaman 1dari 51

BAHAYA VULKANIK DAN

SEISMIK

Nourma linda 15/382331/GE/08101


Meydelin isani thoban 15/382325/GE/08095
Hanifah fitriasani 15/382316/GE/08086
Ghina Salsabila 15/382314/ge/08084
Prameswari 15/379397/GE/08027
Hesti 15/377518/GE/07959
Eka Damayanti 15/379390/GE/08020-

TOPIK PEMBAHASAN

Pengertian
Erupsi gunung api
Aliran piroklastik
Lahar
PGA
Liquefaction

PENGERTIAN

Vulkanik merupakan suatu aktivitas


magma yang berada pada perut bumi
yang mencapai permukaan bumi yang
dapat membentuk sebuah gunungapi.

Seismik (gempa), yaitu getaran permukaan bumi


sebagai akibat tenaga tektonik atau letusan
vulkanik. Gempa ada tiga yaitu gempa tektonik,
gempa vulkanik, dan gempa tanah runtuh
(Sogiana, 2016).

ERUPSI GUNUNGAPI

BAGAIMANA GUNUNGAPI
TERBENTUK?
Pergerakan antar lempeng ini menimbulkan empat busur gunungapi berbeda:
1. Pemekaran kerak benua, lempeng bergerak saling menjauh sehingga
memberikankesempatan magma bergerak ke permukaan, kemudian
membentuk busur gunungapi tengah samudera.
2. Tumbukan antar kerak, dimana kerak samudera menunjam di bawah
kerak benua. Akibatgesekan antar kerak tersebut terjadi peleburan batuan dan
lelehan batuan ini bergerak kepermukaan melalui rekahan kemudian
membentuk busur gunungapi di tepi benua.
3. Kerak benua menjauh satu sama lain secara horizontal, sehingga
menimbulkan rekahan atau patahan. Patahan atau rekahan tersebut menjadi
jalan ke permukaan lelehan batuanatau magma sehingga membentuk busur
gunungapi tengah benua atau banjir lavasepanjang rekahan.
4. Penipisan kerak samudera akibat pergerakan lempeng memberikan
kesempatan bagi magma menerobos ke dasar samudera, terobosan magma
ini merupakan banjir lava yang membentuk deretan gunungapi perisai.

TIPE/BENTUK GUNUNG API

a) Gunung Api Rekahan (Fissure Volcano)


Gunungapi tipe rekahan membentuk retakan panjang pada
permukaan bumi. Magma keluar melalui retakan tersebut. Retakan
ini menimbulkan lapisan basal yang tebal dan luas. Gunungapi tipe
rekahan terdapat di wilayah bagian barat-laut Amerika Serikat dan
India.
b) Gunung Api Perisai (Shield Volcano)
Gunungapi tipe perisai bukan terbentuk dari adanya letusan,
melainkan lebih karena
adanya aliran lava basal bersifat tipis dan
basah.
c) Gunung Api Kerucut (Strato)
Gunungapi strato berbentuk runcing dan banyak terdapat di
Kepulauan Indonesia. Bentuk gunungapi ini
terjadi akibat adanya tumpukan berlapis bahanbahan piroklastika
yang dikeluarkan ketika erupsi magma.

d) Gunung Api Kubah (Dome Volcano)


Gunungapi kubah berasal dari lava kental mengandung kadar asam
yang keluar ketika terjadinya letusan. Lava ini mengisi lubang kawah di
bagian puncak gunung. Contoh gunungapi kubah, yaitu di Sierra Nevada
dan Martinique
e) Gunung Api Kerucut Bara (Cinder Cone)
Gunungapi tipe ini terbentuk dari bara basal dan abu vulkanik
reruntuhan material piroklastika, atau
dari material yang dikeluarkan pada saat terjadi letusan eksplosif
gunungapi.
f) Gunung Api Maar
Gunungapi ini terbentuk dari adanya ledakan atau letusan yang bersifat
eksplosif dan biasanya cenderung terjadi sekali dengan kekuatan yang
cukup hebat
g) Gunung Api Campuran (Composite Volcano)
Gunungapi ini terbentuk dari kombinasi aliran lava dan material
piroklastika pada letusan eksplosif. Lapisan lava bercampur dengan
material piroklastika yang memadat dan terakumulasi menjadi lapisan
baru.
h) Gunung Api Kaldera
Kaldera merupakan suatu kawasan berbentuk bulat yang membentang
rendah di tanah. Kawasan ini terbentuk pada saat tanah amblas akibat
letusan eksplosif.

TIPE LETUSAN GUNUNG API

Tipe Letusan Plinian/Perret


1. tekanan gas sangat kuat
2. lavanya cair
3. melemparkan/membobol kepundan
4. membentuk kaldera
5. Letusan hingga ketinggian 80 km
Contoh letusan G. Krakatau (1883) dan G. St. Helens (1980)

Tipe Letusan Vulkanian


1.

mengeluarkan material padat seperti bom, abu, lapili, dan


material cair

2.

awan dan debu membentuk bunga kol

3.

tekanan gas gas sedang

4.

lavanya agak cair

CONTOH :
tipe vulkano kuat : G. Vesuvius dan G. Etna
tipe vulkano sedang : Gunung kelud dan G. Anak Bromo
tipe vulkano lemah : Gunung Bromo dan Gunung Raung

Tipe Letusan Hawaiian:


1.

lava yang keluar sangat cair dan tipis

2.

lava mengalir ke segala arah

3.

membentuk tipe gunung api perisai

4.

tekanan gas sangat ringan akan terlembar ke atas

Contoh : letusan G. Maona Loa, Maona Kea, dan Kilaeua di


Hawaii

Keterangan Letusan Tipe Merapi


1.

lava cair yang kental menyumbat mulut kawah

2.

tekanan gas agak rendah

3.

dapur magma relatif dangkal

4.

tekanan gas memecahkan sumbatan lava

5.

hasil pecahan tersebut menjadi ladu (gloedlwein)

6.

terjadi awan panas (gloedlwolk) atau wedhus gembel

contoh letusan G. Merapi (2010)

Tipe Letusan Pelean :


1.

kekentalan magma hampir sama dengan tipe merapi

2.

terdapat penyumbatan lava yang berbentuk jarum

3.

tekanan gas cukup besar

4.

letusan gas ke arah mendatar

contoh : letusan G. Pelee (Karibia) dan Lamington (Papua


New Guinea)

Letusan Tipe Strombolian:


1.

memuntahkan material bom, lapili, dan abu

2.

letusan terjadi pada interval waktu yang sama

3.

tekanan gas rendah

4.

magmanya sangat cair

contoh letusan G. Vesuvius Italia dan G. Raung

1. Gunung manualoa
2. Gunung merapi
3. Gunung st. hellens

4. Gunung bromo
5. Gunung Krakatau
6. Gunung Raung
7. Letusan Gunung Peele

BAHAYA GUNUNGAPI

1. Leleran lava
leleran lava merupakan cairan lava yang pekat dan panas
dapat merusaksegala infrastruktur yang dilaluinya.
Kecepatan aliran lava tergantung darikekentalan
magmanya, makin rendah kekentalannya, maka makin
jauhjangkauan alirannya. Suhu lava pada saat dierupsikan
berkisar antara 800o 1200o C. Pada umumnya di Indonesia,
leleran lava yang dierupsikangunungapi, komposisi
magmanya menengah sehingga pergerakannya
cukuplamban sehingga manusia dapat menghindarkan diri
dari terjangannya.

2. Aliran piroklastik (awan panas)


Aliran piroklastik dapat terjadi akibat runtuhan tiang asap
erupsi plinian,letusan langsung ke satu arah, guguran
kubah lava atau lidah lava dan aliran pada permukaan
tanah (surge).
Aliran piroklastik biasanya diakibat oleh beberapa faktor
seperti runtuhnya kubah lava dan letusan kolom sebuah
gunung api yang kemudian hasil hasil letusan yang naik ke
atas tersebut turun lagi ke bawah dan turun lagi melalui
lereng-lereng gunung api.
Kecepatan aliran piroklastik mencapai 150-250 km/jam
dengan jangkauan mencapai puluhan kilometer meskipun
bergerak di atas air/laut.
Aliran piroklastik yang terdiri dari bongkahan-bongkahan,
kerikil, kerakal, pasir dan di atasnya terdapat awan panas
(ash-cloud surge) yang terdiri dari debu dan gas. (Rusdy,
2014)

3. Lahar letusan
Lahar letusan terjadi pada gunungapi yang mempunyai
danau kawah. Apabila volume air alam kawah cukup besar
akan menjadi ancamanlangsung saat terjadi letusan dengan
menumpahkan lumpur panas.
4. Gas vulkanikberacun
Gas beracun umumnya muncul pada gunungapi aktif berupa
CO, CO2,HCN, H2S, SO2 dll, pada konsentrasi di atas
ambang batas dapat membunuh.

Seperti yang diketahui bahwa gunung api tidak hanya


terletak di darat, tetapi juga bawah laut. Keberadaan
masing-masing gunungapi tersebut memiliki tingkat bahaya
yang berbeda-beda. Selain bahaya yang ditimbulkan dari
materialnya, gunungapi juga dapat menimbulkan bahaya
lain berupa gempa, baik di permukaan atau bawah laut.
Untuk bawah laut sendiri, jika frekuensi gempa terlalu
besar, dalam beberapa kasus dapat menimbulkan tsunami.
(kalau semisal perlu buat pembuka)

LAHAR

Lahar merupakan material vulkanik yang keluar dari


gunung berapi yang terdiri dari campuran batu, pasir,
ataupun kerikil dengan disertai adanya aliran air yang
terjadi di lereng gunung. Lahar ini merupakan material
gunung berapi yang biasa ada ketika sebuah gunung berapi
sedang mengalami erupsi.
Lahar yang muncul akibat letusan gunungapi dapat berupa
lahar panas maupun dingin.

BANJIR LAHAR (LAHAR DINGIN)


Lahar yang keluar dari gunungapi yang terkontaminasi
dengan air hujan sehingga suhunya turun dan mendekati
suhu sekitar dan menuruni lereng gunung mengenai daerah
di bawahnya.
Ciri-ciri banjir lahar:
1.

Terjadi di daerah yang berada di lereng gunung berapi


yang masih aktif

2.

Terjadi setelah atau saat gunung berapi yang masih aktif


mengalami erupsi

3.

Terjadi karena adanya hujan yang deras atau hujan yang


lebat

4.

Membawa berbagai material yang terdiri dari lumpur,


batu, ataupun kerikil

5.

Air yang menerjang lahan mempunyai warna yang keruh

DAMPAK BANJIR LAHAR:


Terjadinya kerusakan fasilitas maupun sarana dan prasaran
umum
Terjadinya kerusakan bangunan dan aset pribadi
Mengganggu jaringan listrik
Mengganggu lalu lintas
Menyebabkan lingkungan kotor
Menyebarkan bibit penyakit

Sedangkan untuk lahar panas, kasusnya sama dengan lahar


dingin hanya saja suhunya lebih tinggi dari lahan dingin.

Berbagai bahaya yang dapat ditimbulkan oleh komponen yang berasal dari gunungapi:
1. Aliran lava panas Aliran lava gunung berapi memiliki suhu 7000 sampai 1200 oC.
Dengan panas yang teramat tinggi, aliran lava tersebut dapat merusak dan membakar
apapun yang dilaluinya. Akan tetapi warga dan penduduk di sekitar gunung masih
dapat menyelamatkan diri dari aliran lava ini karena alirannya sangat lambat yaitu
sekitar 5-300 meter/hari.
2. Lahar Ada beberapa jenis lahar, antara lain lahar hujan yang biasa juga
dinamakan lahar sekunder dan lahar letusan yang dikenal juga dengan lahar primer.
Berat jenis aliran lahar tersebut besar yaitu antara 2-2,5. Dapat merusak apapun.
Terlebih jika daerahnya landai/ miring. Bangunan dan gedung di sekitar dapat hancur
dalam sekejap. Pengertian dari lahar letusan dan lahar hujan adalah sebagai berikut.
3. Lahar letusan merupakan lahar yang terjadi karena letusan eksplosif gunung
berapi yang punya danau kawah. Jauh tidaknya persebaran lahar letusan dipengaruhi
oleh beberapa faktor yaitu banyak sedikitnya air dalam kawah, dataran sekitar gunung
yang luas, serta keadaan morfolog sekeliling kawah tersebut.
4. Lahar hujan merupakan terbentuknya lahar yang disebabkan olehproses
terjadinya hujan. Lahar hujan dapat terbentuk lama setelah gunung berapinya meletus
atau langsung setelah terjadinya letusan gunung api. Besar atau kecilnya lahar hujan
dipengaruhi oleh intensitas curah hujan, banyak sedikitnya endapan gunung berapi
yang memiliki kandungan abu (abu adalah material yang dapat membentuk lahar).
Lahar hujan di Indonesia yang sudah sangat populer adalah lahar hujan gunung
Galunggung, Merapi, Semeru, Agung.

5. Awan panas Awan panas dengan suhu sekitar 2000-800 oC dapat menyerang
wilayah sekitar gunung berapi hingga radius 10 km bahkan lebih jauh.
Kecepatan awan panas kurang lebih 60 sampai 145 km/jam. Awan panas ini
selain dapat merusak bangunan dan pemukiman warga, juga dapat membuat
pepohonan tumbang dan akar pohon tercabut dari tanah. Duajenis jenis awan
panas yaitu awan panas surge dapat menyerang dengan radius yang lebih jauh,
sehingga menjangkau daerah lebih luas. Selanjutnya awan panas block and ash
flow yang arahnya akan ikut dengan lembah gunung.
6. Hujan abu Hujan abu akibat erupis gunung berapi biasanya berisi debu,
pasir, butiran lempung dan dapat berdampak pada tingginya keasaman air,
rusaknya pepohonan dan berbagai jenis tanaman termasuk lahan pertanian,
menyebabkan penyakit mata dan infeksi saluran napas. Apabila terjadi hujan
abu dihimbau untuk menggunakan masker dan kacamata serat jangan lupa
untuk membersihkan sisa hujan abu yang mengendap di atap rumah.
7. Batuan pijar Lontaraan batu pijar dapat terjadi tatkala gunung berapi
meletus dan mengarah ke mana saja. Dapat membakar dan merusak bangunan,
hutan, kematian manusia dan hewan. Untuk menghindar dari lontaran batu pijar,
sebaiknya mengungsi jauh-jauh ke wilayah yang aman (jauh dari gunung).
8. Guguran lava pijar Guguran lava ini berasal dari aliran lava atau kubah
lava. Longsornya bisa sampai berjuta meter kubik sehingga sangat berbahaya
bagi lingkungan sekitarnya.

G. Merapi

G. Kelud

G. Krakatau

PENGAMATAN GUNUNG API

A. Pengamatan
Seismisitas
pemasangan seismometer di
sekitar gunung api yang
akan diamati. Aktifitas
seismisitas ini meningkat
karena peningkatan aktifitas
dan tekanan di dapur
magma. Peningkatan ini
menyebabkan terjadinya
rekahan-rekahan yang
menjadi sumber gempa
vulkanik.

B. Pengamatan Gas dan Thermal


Beberapa gas keluar ketika gunung api mau dan sedang
erupsi antara lain; Karbonmonoksida (CO), Karbondioksida
(CO2), Hidrogen Sulfide (H2S), Sulfurdioksida (S02), dan
Nitrogen (NO2). Peningkatan suhu juga bisa teramati dari
mulai mengeringnya sungai dan danau serta perpohonan
yang mulai mati di sekitar gunung api.
Memasang alat pengukuran gas dan thermal di lapangan
fumarole. Untuk saat ini pengukuran kandungan gas juga
sudah bisa dilakukan melalui pesawat terbang

C. Pengamatan Deformasi
Deformasi (Naik Dan Turun) Permukaan gunung api karena
peningkatan tekanan di dalam dapur magma
Pengamatan dapat dilakukan dengan menggunakan tiltmeter/GPS
D. Pengamatan Graviti dan Geomagnet
Pengamatan berat jenis atau graffiti menggunakan metode geofisika.
Ketika gunung api mau meletus maka akan terjadi perubahan
densitas (berat jenis) di bawah permukaan karena adanya magma
yang menuju ke permukaan tanah. Untuk mengetahui perubahan
magma bawah permukaan ini perlu dilakukan pengukuran metode
graviti secara berkala pada sebuah gunung api.
Pengamatan geomagnet dilakukan untuk mengamati nilai intensitas
magnet di atas gunung api, apabila magma mulai naik ke atas
permukaan maka nilai intensitas magnet di atas gunung api akan
rendah karena pengaruh panas magma. Magma yang naik ke atas
permukaan akan memiliki nilai susceptibilitas yang rendah
dibandingkan dengan batuan vulkanik pembentuk gunung api.

E. Pengamatan Remote Sensing


Terkait dengan sensor yang merekam semua pantulan
radiasi yang dipancarkan oleh obyek di permukaan bumi
Jika kamera atau sensor ini terletak di pesawat udara, maka
hasilnya adalah foto udara; jika terletak di satelit atau
pesawat luar angkasa, maka hasilnya adalah citra satelit.

AMPLIFIKASI

Amplifikasi (.n) pembesaran, perluasan, atau


pengembangan (tentang jumlah, kepentingan, dan
sebagainya
Amplifikasi kegunungapian berarti perluasan /
pembesaran potensi bahaya yang berkaitan
dengan bentanglahan vulkanis

Keterangan gambar:
Besaran amplifikasi dapat diestimasi dari
kontras impedansi antara bedrock dan sedimen
permukaan (Gosar, 2007). Dengan kata lain,
kontras parameter perambatan gelombang
(densitas dan kecepatan) padabedrockdan
sedimen permukaan. Semakin besar perbedaan
parameter tersebut, semakin besar pula nilai
amplifikasi perambatan gelombangnya..

FAKTOR

Ngadmanto (2013) berpendapat bahwa nilai


amplifikasi dipengaruhi oleh
1. variasi formasi geologi
2. Ketebalan
3. sifat-sifat fisika lapisan tanah dan batuan
4. kedalamanbedrock
5. permukaan air bawah tanah dan permukaan
struktur bawah permukaan

CONTOH HASIL GEMPA SEISMIC


AKIBAT AMPLIFIKASI

1. Gempa Loma Prieta pada Oktober 1989


Lempung yang tepal di bawah area sekitar garis
keliling Teluk San Francisco merupakan media yang
bertindak sebagai amplifikator getaran tanah pada
daerah San Francisco dan Oakland, sehingga
getaran gempa merusak bangunan kota tersebut.

2. Gempa Meksiko pada 19 September 1985


kota Meksiko bertumpu pada tanah lunak
menghasilkan amplifikasi getaran besar pada batuan
sedimen yang mengakibatkan kerusakan parah
(Seedet al, 1988).

Gempa Loma Prieta

Gempa Meksiko 1985

LIQUEFACTION

Proses dimana suatu sedimen mengalami jenuh air yang


secara sementara kehilangan kekuatan dari sedimen
tersebut sehingga bertindak sebagai suatu cairan.
Keadaan tersebut digambarkan pada jari-jari kaki dalam
pasir basah dekat dengan air di pantai. Efek tersebut
dapat disebabkan oleh guncangan gempa.
Fenomena ini terjadi karena kekuatan dan kekakuan
tanah berkurang oleh getaran gempa bumi atau
guncangan lainnya.

LIQUEFACTION

LIQUEFACTION

Kapan dan dimana terjadinya pergerakan tanah ini


bergantung pada derajat kejenuhan, distribusi ukuran
butir, konsistensi, kekuatan durasi dan frekuensi
guncangan atau getaran, dan kedalaman tanah
zone tanah terliquefaksi terletak pada butiran pasir
halus. Sedangkan pada butiran kasar (gravels) dan
butiran halus (clay), sulit untuk terjadi liquefaction.

LIQUEFACTION

Soil liquefaction juga mempunyai faktor-faktor yang mempengaruhi


terjadinya fenomena tersebut (Chassagneux et al., 1998), antara lain:
a.Faktor Permanen
Karakteristik serta parameter-parameter tanah itu sendiri. Seperti pada
Tanah pulvurent/quicksand rentan mengalami fluidizationapabila tanah
tersebut terkena tekanan. Dimana tekanan ini disebabkan oleh
peningkatan tekanan pori tanah akibat bertambah atau berkurangnya
kandungan air yang dimiliki oleh tanah tersebut.
b.Faktor Pemicu
Terjadinya gempa bumi dan beban siklis yang disebabkan oleh gelombang
laut pada suatu daerah tertentu. Dimana energy yang ditimbulkan tersebut
dapat menyebabkan tanah kehilangan kohesivitas dan akan membuat tanah
mengalami fenomena soil liquefaction

Map Of Expected Levels Of


Shaking From Future Earthquakes
Based On Anticipated Earthquakes
And General Geology. Bands Of
Highest Expected Shaking
Generally Follow The Active Faults;
Shaking Levels Are Also Influenced
By The Type Of Materials
Underlying An Area - Soft
Sediment, Like That Around The
Bay Margin, Tends To Amplify And
Prolong Shaking. Note That Much
Of The Bay Region Has The
Potential To Be Shaken Very
Strongly During Future
Earthquakes.

DAMPAK

Tanah kehilangan kekuatan untuk mempertahankan


struktur

Lateral spreading
Fire and lateral spread
caused by the 1994
Northridge earthquake. The
ground in the lateral spread
slid to the right, riding on
liquefied sediment, and
opened the fissure.
Extension across the fissure
stretched and broke the
natural gas pipeline,
causing the fire

Sand Boils - Sand-laden Water


Can Be Ejected From A
Buried Liquefied Layer And
Erupt At The Surface To Form
Sand Volcanoes; The
Surrounding Ground Often
Fractures And Settles.

The Marina District Of San


Francisco Suffered From
Relatively Intense Shaking
And Liquefaction In The
1989 Loma Prieta
Earthquake.

DAFTAR PUSTAKA

https://skepticalinquirer.wordpress.com/2015/01/25/tipe-tipe-letusan-gunung-api/
Rusydy, Ibnu; 2014; Mengenali aliran piroklastik dan Awan Panas ;
http://www.ibnurusydy.com/mengenal-aliran-piroklastik-dan-awan-panas/ (diakses pada
tanggal 19 September pukul 21.44)
Sari, Maya. 2016. Banjir Lahar : Pengertian, Ciri-ciri, Penyebab dan Dampaknya
http://ilmugeografi.com/bencana-alam/banjir-lahar
Sari, Maya. 2015. Dampak Letusan Gunung Berapi terhadap Lingkungan
http://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/gunung/dampak-letusan-gunung-berapi
http://geomaps.wr.usgs.gov/sfgeo/liquefaction/image_pages/shaking_fig14.html
http://ecan.govt.nz/advice/emergencies-and-hazard/earthquakes/PublishingImages/liquefact
ion-process-1-c.jpg
http://www.earthscope.org/images/remote/http_californiawatch.org/files/Seismic-Day3-liqu
efaction_0.png
http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-15370-Paper-pdf.pdf
http://kbbi.web.id/amplifikasi
Seed, H. B. and Schnabel, P. B., 1972. Soil and Geological Effects on Site Response During
Earthquakes.Proc. of First International Conf. on Microzonation for Safer Construction
Research and Application, vol. I, pp 61-74
Ngadmanto, Drajat., dkk. 2013. Efek Tapak Lokal Pada Daerah Kerusakan Akibat
Gempabumi Bogor 9 September 2012. Jurnal Meteorologi Dan Geofisika Vol. 14 No. 3
Tahun 2013 : 109-116.