Anda di halaman 1dari 21

INTERAKSI DISTRIBUSI OBAT

KELOMPOK 2C :
INDAH KESUMAWATI
KIKI RISKI SYOFIA ANANDA AMER
NOVA TANTRI SILALAHI
YULISMA SUDARSI

Interaksi Obat adalah :


Peristiwa di mana aksi suatu obat
diubah atau dipengaruhi oleh obat lain
yang diberikan bersamaan.
Secara ringkas interaksi obat
mengakibatkan:
- Berkurang atau hilangnya khasiat
terapi.
- Meningkatnya aktivitas obat, dan dapat
terjadi
reaksi toksik obat

Interaksi obat paling tidak


melibatkan 2 jenis obat,
diantaranya :

Obat obyek, yakni obat


yang aksinya atau
efeknya dipengaruhi atau
diubah oleh obat lain

Obat presipitan yakni


obat yang
mempengaruhi atau
mengubah aksi atau atau
efek obat lain

Obat
obyek

Antikoagulansia:
warfarin
Antikonvulsansia
Anti-aritmia
Glikosida Jantung
Antihipertensi, dll

Obat-obat di mana
perubahan sedikit saja
terhadap dosis (kadar obat)
sudah akan menyebabkan
perubahan besar pada efek
klinik yang timbul.
Obat-obat dengan rasio
toksis terapik yang rendah
(low toxic therapeutic ratio),
artinya antara dosis toksik
dan dosis terapetik tersebut
perbandinganya (atau
perbedaanya) tidak besar.

Obat presipitan
Obat-obat dengan ikatan protein yang kuat, oleh
karena dengan demikian akan menggusur ikatanikatan yang protein obat lain yang lebih lemah.
Obat-obat yang masuk di sini misalnya aspirin,
fenilbutazon, sulfa dan lain lain.
Obat-obat dengan kemampuan menghambat
(inhibitor) atau merangsang (inducer) enzimenzim yang memetabolisir obat dalam hati.
Obat-obat yang punya sifat sebagai perangsang
enzim (enzyme inducer) misalnya rifampisin,
karbamasepin, fenitoin, fenobarbital. Sedangkan
obat-obat yang dapat menghambat
metabolisme (enzyme inhibator) termasuk
kloramfenikol, fenilbutason, alopurinol, simetidin
dan lain-lain

Obat presipitan
Obat-obat yang dapat mempengaruhi /merubah
fungsi ginjal sehingga eliminasi obat-obat lain
dapat dimodifikasi. Misalnya probenesid, obatobat golongan diuretika dan lain-lain.

Mekanisme Interaksi Obat


secara farmakologi
Interaksi farmakodinamik adalah interaksi antar
obat (yang diberikan berasamaan) yang bekerja
pada reseptor yang sama sehingga menimbulkan
efek sinergis atau antagonis.
Interaksi farmakokinetik adalah interaksi antar 2 atau
lebih obat yang diberikan bersamaan dan saling
mempengaruhi dalam proses ADME (absorpsi, distribusi,
metabolisme, dan eliminasi) sehingga dapat
meningkatkan atau menurunkan salah satu kadar obat
dalam darah.

Terikat
Jaringan
Reservior

Terikat
Reseptor

Bebas

Bebas

SISTEM SIRKULASI
OBAT BEBAS
Absorpsi

OBAT TERIKAT

METABOLIT

Hati
Metabolis
me
Sekresi
biller

Ginjal

Ekskresi

Interaksi farmakokinetik Distribusi Obat

Interaksi Protein
Binding
1. Albumin
mengikat obat-obat asam dan obat-obat netral
(misalnya steroid) serta bilirubin dan asam-asam
lemak.

2. Protein plasma lain


-glikoprotein (1-acid glycoprotein): mengikat
obat-obat basa.
CBG (Corticosteroid-binding globulin): khusus
mengikat kortikosteroid.
SSBG (sex steroid-binding globulin) : khusus
mengikat hormon kelamin.

FAKTOR-FAKTOR YG MEMPENGARUHI IKATAN OBAT


PROTEIN :
1. Obat
Sifat fisiko kimia obat
Konsentrasi total obat dalam tubuh
2. Protein plasma
Jumlah protein plasma yg tersedia untuk ikatan obat protein
3. Afinitas antara obat dan protein
4. Interaksi obat
Kompetisi obat dg zat lain pd tempat ikatan protein
5. Kondisi patofisiologik dari penderita
6. Vaskularisasi dan kecepatan aliran darah di jaringan dapat
bervariasi dari < 2 mL sampai > 500 mL darah /100g
jaringan/menit
7. Sifat kimiawi jaringan, misalnya deposit lemak lebih menyukai
mengikat obat-obat lipofilik
8. Keberadaan protein penolak di dalam jaringan, misalnya PgP.


Interaksi obat yang melibatkan proses distribusi
akan bermakna klinik jika:

1
Obat
indeks
memiliki
ikatan protein sebesar >
85%, volume distribusi
(Vd) obat < 0,15 I/kg dan
memiliki batas keamanan
sempit.

2
Obat presipitan berikatan
dengan albumin pada
tempat ikatan (finding
site) yang sama dengan
obat
indeks,
serta
kadarnya cukup tinggi
untuk menempati dan
menjenuhkan binding-site
nya

Ada
beberapa
keadaan
klinis yang
penting

1. Dapat terjadi toksisitas apabila kadar obat


bebas meningkat sebelum steady state yang
baru tercapai.
2. Apabila merubah dosis untuk memenuhi target
kadar plasma total, harus diingat bahwa kadar
terapetik target akan dipengaruhi oleh obat
yang menggeser.
3. Bila obat kedua yang menggeser, menurunkan
eliminasi obat pertama, maka kadar obat bebas
meningkat bukan hanya akut tetapi juga kronis
pada steady state yang baru, dapat
menyebabkan toksisitas berat.

Interaksi melalui
pelepasan ikatan protein
Senyawa yang mengusir

Senyawa yang diusir

Kerja

Fenilbutazon

Fenprokoumon

Pendarahan

Tolbutamid

Hipoglikemia

Bilirubin

Kamikterus pada bayi baru

Klofibrat
Fenilbutazon
Salisilat
Oksifenbutazon

Salisilat
Sulfonamida
Fenilbutazon,
oksifenbutazon, salisilat,
valproat

lahir
Fenitoin

Toksisitas fenitoin

contoh obat yang mengalami interaksi farmakokinetik pada


proses distribusi

1
Warfarin
dengan
Fenibutazon,
oksifenbutaz
on, salisilat,
klofibrat,
fenitoin,
sulfinfirazon,
asam
mefenamat
dan
kloralhidrat

Obat-obat ini terikat kuat pada protein


plasma, tetapi interaksi yang terjadi adalah
fenibutazon, oksifenbutazon, salisilat, klofibrat,
fenitoin, sulfinfirazon dan asam mefenamat
yang memiliki kekuatan berikatan dengan
protein yang lebih kuat sehingga menggeser
ikatan warfarin dengan protein. Sebagai akibat
dari interaksi tersebut efek dan toksisitas
warfarin meningkat, dimana efek antikoagulan
yang pada akhirnya akan menimbulkan
perdarahan.
Sedangkan pada interaksi warfarin dengan
kloralhidrat,
metabolit
utama
dari
kloralhidrat adalah asam
trikloroasetat yang sangat kuat terikat pada
protein plasma. Kloralhidrat mendesak wafrarin
dari ikatan protein sehingga meningkatkan
respon antikoagulan.

Lanjutannn

2. Tolbutamid, klorpropamid(obatI ) dengan


fenilbutazon, oksifenbutazon, salisilat (obatII)
Terjadi penggeseran ikatan obat I dengan protein oleh obat
II, sehingga efek dari obat I meningkat dan menimbulkan
hipoglikemia.

3. Metotreksat dengan salisilat dan sulfonamide


Salisilat dan sulfonamide menggeser ikatan protein
metotreksat, sehingga meningkatkan efek metotreksat yang
bisa memberikan efek pansitopenia.

4. Fenitoin dengan fenilbutazon, oksifenilbutazon,


salisilat, valproat yang meningkatkan efek toksisitas
fenitoin.
5. Kinin dengan primetamin yang memberikan efek
sinkronisme dan depresi sumsum tulang.

6.Tetrasiklin dengan metotreksat


Lanjutannn

Metotreksat dapat digeser fiksasinya pada albumin plasma


oleh tetrasiklin, sehingga intensitsas efek sampinnya
meningkat.

7.Salisilat dan sulfonamida dengan bilirubin


Pengusiran bilirubuin dari ikatan albumin oleh salisilat dan
sulfonamide dapat kamicterus pada bayi yang baru lahir.
8.Sulfonamid dengan methotrexate, phenytoin,
sulfonylurea dan warfarin.
Antibiotik sulfonamide dapat menggeser methotrexate,
phenytoin, sulfonylurea, dan warfarin dari ikatannya
dengan albumin.

9.Quinidin, verapamil dan amiodarone dengan


digoksin
Quinidine dan beberapa obat antidysrhythmic lainnya
seperti verapamil dan amiodarone menggeser digoxin dari
tissue-binding site serta menurunkan ekskresi renal,
sehingga menyebabkan dysrhythmia berat karena
toksisitas digoxin.

Lanjutannn

10.Asam valproate dengan Fenitoin


Kedua obat tersebut merupakan obat yang terikat kuat
(mendekati 90%) pada tempat yang sama dari molekul
albumin plasma. Ketika diberikan secara bersamaan, ikatan
fenitoin terhadap protein plasma akan berkurang karena
terdesak oleh adanya valproat yang mempunyai afinitas
terhadap albumin lebih besar disbanding fenitoin. Karena
adanya knock off fenitoin dari ikatan proein plasma, maka
fraksi fenitoin bebas lebih besar.

Induksi atau Inhibisi Protein


Tranpor Obat

Protein transpor obat, seperti P-glikoprotein


aktif mentranpor obat keluar dari sel ketika obat
telah tersebar secara difusi pasif. Obat yang
bersifat sebagai inhibitor dari transporter ini
dapat meningkatkan penyerapan subtract obat
ke dalam sel otak sehingga terjadi peningkatan
efek SSP.

CONTOH obat-obat yang kompetisi untuk transporter


membrane disawar darah otak dan sawar darah
dengan cairan serebrospinal

1.
Loperamid
Kuinidin

dengan

Loperamid adalah subtrat dari


P-glikoprotein,
sedangkan
kuinidin adalah substrat dan
penghambat P-gp di sawar
darah otak, maka pemberian
loperamid bersama kuinidin
akan menyebabkan hambatan
P-gp sehingga loperamid dapat
menembus sawar darah otak
dan
menyebabkan
efek
samping sentral.

2. Ritonavir dengan
Ketokonazol

Ritonavir
dan
penghambat
protease HIV lainnya adalah
substrat dan penghambat P-gp,
sedangkan ketokonazol adalah
penghambat P-gp disawar darah
otak dan sawar darah dengan
cairan
serebrospinal,
maka
pemberian ritonavir bersama
ketokonazol
menyebabkan
hambatan P-gp sehingga ritonavir
dapat masuk kedalam otak dan
cairan serebrospinal.

Thank You

Anda mungkin juga menyukai