Anda di halaman 1dari 20

SKLERITIS

SAUSAN RASMIYYAH - 1102011255


DR. SUMARINI MARKUM, SP.M

DEFINISI
Gangguan
granulomatosa kronik
Destruksi kolagen,
sebukan sel dan
kelainan vaskular
Vaskulitis

EPIDEMIOLOGI
Amerika Serikat : 6 kasus per 10.000 populasi
Skleritis anterior 94% & Skleritis posterior 6%
Dapat terjadi unilateral/bilateral
Onset perlahan atau mendadak
Berlangsung sekali/rekuren
Wanita : Pria = 1,6 : 1
Usia antara 11-87 tahun, dengan usia rata-rata 50
tahun

ETIOLOGI
Proses Imunologi
Reaksi tipe IV (hipersensitifitas tipe
lambat)
Reaksi tipe III (kompleks imun)
Penyakit sistemik
Invasi mikroba langsung

Penyakit Autoimun

Spondilitis Ankilosis,
Artritis Rheumatoid,
Poliartritis Nodusa,
Polikondritis berulang,
Granulomatosis Wegener,
Lupus Sistemik,
Pioderma Gangrenosum,
Kolitis Ulserativa,
Nefropati IgA, Artritis
Psoriatik

Penyakit Granulomatosa

Tuberkulosis,
Sifilis,
Sarkoidosis,
Lepra,
Sindrom Vogt-KoyanagiHarada (jarang)

Gangguan Metabolik

Gout arthritis,
Tirotoksikosis, Penyakit
Jantung Rematik (aktif)

Infeksi

Onkoserkiasis,
Toksoplasmosis, Herpes
Zoster, Herpes Simpleks,
Infeksi
oleh
Pseudomonas
Aspergillus,
Streptococcus,
Staphylococcus

Lain-lain

Fisik (radiasi, luka bakar


termal),
Kimia
(luka
bakar asam atau basa),
Mekanis
(cedera
tembus),
Limfoma,
Rosasea, Pasca ekstraksi
katarak

Idiopatik

Serat kolagen tipe 1


(pembentuk sklera)

Degradasi enzim & invasi selsel radang (sel T & makrofag)

Penipisan sklera & perforasi


sklera

Inflamasi sklera

Iskemia & nekrosis

Penyakit Autoimun

Kompleks Imun

Sistem Imun Aktif

Kerusakan vaskular (Reaksi


HPS tipe 3 & tipe IV)

Deposisi kompleks imun


pada pembuluh episklera &
sklera

Kerusakan sklera

Perforasi kapiler, venula post kapiler, respon


imun sel perantara

KLASIFIKASI
SKLERITIS ANTERIOR
95% dari seluruh kasus skleritis
45% skleritis
(DANGEROUS)

anterior

aadlah

skleritis

nodular,

dan

14%

a. Difus : e.c artritis rematoid, herpes zoster oftalmikus dan gout


b. Nodular : e.c herpes zoster oftalmikus (lebih nyeri)
c. Necrotizing :

komplikasi sistemik/ okular


40% menunjukkan penurunan visus
29% meninggal dalam 5 tahun
berbahaya dan sulit diobati
Bentuk skleritis nekrotik terbagi 2 yaitu:
i. Dengan inflamasi
ii. Tanpa inflamasi (scleromalacia perforans)

skleritis

nodular

SKLERITIS POSTERIOR

43% kasus skleritis posterior disertai skleritis anterior


Skleritis posterior ditandai :
nyeri
penurunan kemampuan melihat
PF : perubahan fundus, perlengketan eksudat di
sebagian retina, perlengketan cincin koroid, massa
di retina, udem nervus optikus dan udem makular

Inflamasi skleritis posterior lanjut : COA anterior


dangkal, proptosis, pergerakan ekstra ocular yang
terbatas, retraksi kelopak mata bawah

ANAMNESIS
Keluhan utama pasien
Perjalanan penyakit
Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat infeksi, Trauma, Riwayat pembedaha
Gejala-gejala :
rasa nyeri (inflamasi menyebabkan peregangan ujung saraf)
terasa berat
tajam menyebar ke dahi-alis-rahang-sinus
pasien terbangun sepanjang malam
nyeri kambuh akibat sentuhan
nyeri dapat hilang sementara dengan penggunaan obat analgetik
Mata berair (tanpa disertai sekret mukopurulen)
Penurunan ketajaman penglihatan (perluasan skleritis ke struktur yang berdekatan :
keratitis, uveitis, glaucoma, katarak dan fundus yang abnormal

PEMERIKSAAN FISIK
1. Daylight
Sklera terlihat merah-kebiruan atau keunguan difus
Uvea yang gelap
Area sklera bisa menjadi avaskular : sekuester putih di tengah yang dikelilingi lingkaran
coklat kehitaman

2. Slit Lamp
Bendungan yang masif di jaringan sklera
Pada tepi anterior dan posterior cahaya slit lamp bergeser ke depan karena episklera dan
sklera edema. Fenilefrin : jaringan superfisial episklera yang pucat tanpa efek yang signifikan

3. Red-free Light
Area yang mempunyai kongesti vaskular yang maksimum
Area dengan tampilan vaskular yang baru
Area yang avaskular total

PEMERIKSAAN
PENUNJANG

Pemeriksaan Laboratorium & Radiologi


digunakan untuk mencari etiologi terjadinya Skleritis

DIAGNOSA BANDING

Konjunctivitis alergika
Episkleritis
Herpes zoster
Rosasea okular
Karsinoma sel skuamosa pada konjunctiva
Karsinoma sel skuamosa pada palpebra
Uveitis anterior nongranulomatosa

TATALAKSANA
1.NSAID
Indometasin 100 mg perhari atau Ibuprofen 300 mg
perhari.
2.Steroid sistemik dosis tinggi
Prednison PO 80 mg/hari tappering off cepat dalam 2
minggu dosis pemeliharaan : 10 mg/hari
3.Gejala yang berat : IV drip Metilprednisolon 1gr/minggu.
4.Imunosupresif : Siklofosfamid

KOMPLIKASI

Keratitis (pembentukan alur perifer, vaskularisasi perifer)


Uveitis (akibat tidak respon terhadap terapi)
Glaukoma (akibat steroid)
Granuloma subretina
Ablasio retina eksudatif
Proptosis
Katarak
Hipermetropia.
Penurunan penglihatan (akibat edema makula)
Dapat terjadi galukoma sudut terbuka dan tertutup. Juga dapat terjadi glaukom akibat
steroid.

Keratitis sklerotikan (kekeruhan kornea akibat peradangan sklera terdekat)


Gangguan susunan serat kolagen stroma segitiga yang terletak dekat skleritis yang sedang
meradang proses penyembuhan : menjadi jernihnya kornea dimulai dari bagian sentral

PROGNOSIS
Spondiloartropati/ SLE : relatif jinak & sembuh sendiri (tipe skleritis difus/
skleritis nodular, tanpa komplikasi)

Penyakit Wagener : buta permanen (tipe skleritis nekrotik + komplikasi mata)


Rheumatoid artritis/ polikondritis : tanpa komplikasi mata (tipe skleritis difus,
nodular/ nekrotik)

Penyakit sistemik >> Penyakit Infeksi atau Autoimun


Idiopatik : ringan, durasi yang pendek, lebih respon terhadap tetes mata
steroid

Skleritis tipe nekrotik : tipe paling destruktif


Skleritis dengan penipisan sklera yang luas atau yang telah mengalami
perforasi, dan mempunyai prognosis yang buruk