Anda di halaman 1dari 63

KELOMPOK 1 BD

Ramaza Rizka
1113102000076
Berliana Novianita
1113102000050
A. Hasyim Abbas
1113102000010
Anggi Indah H
1113102000041
Nurillah Dwi Novarienti
1113102000058

Assesment
Ramaza Rizka 1113102000076

Assesment

Subjektif
Identitas pasien
- Nama : Ny. Xy
- Umur : 29 tahun
- Jenis kelamin : Perempuan
Keluhan : Batuk berdahak lebih dari 3 bulan disertai
darah. Dalam seminggu terakhir demam dan
berkeringat dingin terutama malam hari, malaise,
dada terasa nyeri saat batuk. Berat badan pasien
menurun
Riwayat penyakit : MERS dengan diagnosis hepatitis B
Riwayat penggunaan obat : Morfin suntik
Diagnosa terakhir : bronkitis kronik dengan terapi
antibiotik

Data Objektif
Hasil pemeriksaan fisik : kesadaran compose mentis,
pemeriksaan GCS E4M6V5, tekanan darah 100/60 mmHg, nadi
T : 39,6c,
rr 25x/menit.
Hasil110x/menit,
pemeriksaan
laboraturium
:
Pemeriksaan
laboraturium
Imunokromatografi
elisa 1
elisa 2
Cd4
Hb
Leukosit
Trombosit
GCS
SGOT
SGPT
BUN
Creatinin serum
BTA

Hasil lab

Nilai normal

Interpretasi

Positive HIV

+
+
250 sel/mm
9,5 gr/dl
350.000
550. 000

800-1050 sel/mm
12-16 gr/dl
3000-10.000/mm
170.000-380.000/
mm
<140
5-35 /L
5-35 /L
5-25 g/dl
0,6-1,3 mg/dl
-

Positive HIV
Positive HIV
Positive HIV
Indikasi Anemia
Indikasi infeksi
Trombositosis

75 mg/dl
55 g/dl
75 g/dl
35 g/dl
1,97 mgdl
+

Normal
Hepatitis B
Hepatitis B
Disfungnsi ginjal
Disfungsi ginjal
TBC

Fototoraks Nodular segmen apikal dan posterior lobus atas alveoli, dan
segmen superior lobus bawah, bayangan bercak milier dan avusi

Epidemiologi

HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan retrovirus bersifat limfotropik khas


yang menginfeksi sel-sel dari sistem kekebalan tubuh, menghancurkan atau merusak sel
darah putih spesifik yang disebut limfosit T-helper atau limfosit pembawa faktor T4
(CD4).
Virus ini diklasifikasikan dalam famili Retroviridae, subfamili Lentiviridae, genus
Lentivirus.
Genom RNA lentivirus lebih kompleks daripada genom RNA Retrovirus yang
bertransformasi. Virus mengandung tiga gen yang dibutuhkan untuk replikasi retrovirus
gag, pol, dan env (Brooks, 2004.)
Perjalanan infeksi HIV di dalam tubuh manusia diawali dari interaksi gp120 pada
selubung HIV berikatan dengan reseptor spesifik CD4 yang terdapat pada permukaan
membran sel target (kebanyakan limfosit T-CD4+).

Hubungan Seksual

Gejala

Identifikasi
permasalahan medis
pasien
Adanya infeksi HIV yang
dibuktikan dengan tes
ELISA 1 dan ELISA 2
positif, tes ini
menunjukkan pasien
mengalami infeksi HIV dan
telah memasuki AIDS
infeksi oportunistik (IO)
yaitu
Hepatitis
B dan
TBC
BTA positif,
dimana
tes
ini
hanya berlaku untuk TB
paru
pasien juga mengalami
penurunan fungsi ginjal
ditandai dengan nilai BUN
dan Creatinin yang
meningkat.

Stadium klinis
WHO
membedakan
empat
stadium
klinis
untuk
membantu
memperkirakan
tingkat
defisiensi
imunologik
pasien
HIV.

STADIUM I
Tidak ada gejala, atau hanya
Limfadenopati generalisata
persisten, yang biasanya
ditemukan pembesaran
kelenjar getah bening multipel
berukuran kecil tanpa rasa
nyeri.

STADIUM III
Kehilangan BB > 10% tanpa
diketahui penyebabnya
Diare kronis > 1 bulan tanpa
diketahui penyebabnya
Demam berkepanjangan > 1 bulan
Kandidiasis mulut persisten, Oral
hairy leukoplakia, Tuberkulosis
paru

STADIUM II
Sakit ringan, dengan aktivitas fisik
masih normal.
Kehilangan BB < 10%
Gambaran mukokutaneus minor
Herpes zoster, Papular pruritic
eruption (PPE), Seborrhoeic
dermatitis
Fungal nail infection

STADIUM IV
Sindroma wasting HIV
PCP, Penumonia bakterial berulang
Toksoplasmosis otak
Kandidiasis esofagus, trakea,
bronkus, atau paru, Karsinoma
serviks invasif
Nefropati atau kardiomiopati yang
berhubungan dengan HIV.

Drug Related Problem


&
Kerasionalan Obat
Berliana Novianita 1113102000050

Drug Related Problem


Riwayat pengobatan :
Diagnosa bronkitis kronis pasien
diobati dengan terapi antibiotik.
Hasil uji lab :
Pasien positif terjangkit HIV
Pasien positif hepatitis B
Pasien positif TBC

Kategori DRPs

Masalah Primer

Efek samping
Pasien mengalami efek samping

Muncul efek samping (Allergic)


Muncul efek samping (Non-allergic)
Muncul efek toksik

Masalah pemilihan obat


Pasien mendapatkan pengobatan yang
tidak sesuai dengan penyakitnya
dan/atau kondisinya (bahkan tidak
mendapatkan obat yang diperlukan)

Pilihan obat tidak sesuai (bukan yang paling diperlukan)


Bentuk sediaan tidak sesuai (bukan yang paling diperlukan)
Duplikasi terapi atau zat aktif yang tidak perlu
Pilihan terapi yang kontraindikasi (ibu hamil, menyusui, lansia,
dsb)
Pemberian obat yang tidak sesuai dengan indikasi
Tidak diberikannya obat yang dibutuhkan sesuai indikasi pasien

Masalah dosis
Pasien mendapatkan jumlah obat kurang
atau lebih dari yang dibutuhkan

Dosis obat terlalu kecil atau frekuensi pemberian kurang


Dosis obat terlalu besar atau frekuensi pemberian berlebihan
Durasi terapi terlalu singkat
Durasi terapi terlalu panjang

Masalah penggunaan (administrasi) obat


Pasien menggunakan obat dengan cara
yang salah atau obat tidak
teradministrasi

Obat tidak diadministrasikan seluruhnya

Interaksi obat
Adanya manisfestasi atau potensi
interaksi obat-obat atau obat-makanan

Potensi interaksi obat

Masalah lainnya

Pasien tidak puas dengan pilihan terapi meskipun sudah


mengikuti petunjuk terapi

Obat diadministrasikan dengan cara yang tidak benar

Interaksi obat termanifestasi

Kurangnya pengetahuan pasien terhadap kesehatan atau


penyakitnya.
Keluhan pasien terhadap penyakit yang kurang jelas
Kegagalan
terapi (alasan
tidak diketahui)
2003,2004,2005,2006. PCNE Classification for DRPs.
Pharmaceutical
Care Network
Europe Foundation. Revised

Drug Related Problem


1. Pemberian obat yang tidak sesuai
indikasi
Pasien diberikan antibiotik untuk terapi
bronkitis, padahal hasil uji lab membuktikan
bahwa pasien positif TB. Maka, antibiotik untuk
indikasi bronkitis kronis perlu dihentikan dan
diberikan antibiotik untuk TB.

2. Tidak diberikan obat yang


dibutuhkan pasien sesuai indikasi
Pasien positif AIDS dan hepatitis B, namun
tidak mendapatkan terapi. Maka, perlu
pemberian terapi tambahan untuk AIDS dan

PENATALAKSANAAN
A. Hasyim Abbas 1113102000010

Penatalaksanaan di negara
berkembang
Pengobatan suportif :
Sebagian besar pasien malnutrisi : perlu
dukungan nutrisi
Multivitamin : B-complex, C, E, selenium
Fawzi et al. N Engl J Med 2004 ;351(1): 23-32

Pengobatan simptomatik
Dukungan psikososial : depresi, ansietas
Pengobatan Infeksi Oportunistik ( IO )
Pencegahan IO : kotrimoksasol
Pengobatan antiretroviral ( ARV )

Diagnosis & Penatalaksanaan


infeksi Oportunistik
Infeksi oportunistik ( IO ) tersering di Indonesia :
Infeksi saluran napas :
Tuberkulosis paru & ekstraparu t.u. limfadenitis TB
Pneumosistis pneumonia ( PCP )
Pneumonia bakteri berat

Infeksi mulut & saluran cerna :


Kandidiasis mulut ( tersering ) & esofagus
Diare kronis : TB-intestinal, berbagai parasit

Susunan saraf pusat ( neuro-AIDS )


Toksoplasma ensefalitis
Kriptokokkus meningitis

Mata : sitomegalovirus retinitis

Algoritme diagnosis & penatalaksanaan infeksi


saluran napas / TB pada pasien HIV sakit berat

Algoritme diagnosis & penatalaksanaan infeksi


saluran napas pada pasien HIV positif rawat
jalan
DANGER SIGNS
Respiratory
Rate>30/minute
T>39 Celsius
Pulse>120/min
Unable to walk
unaided

Pengobatan
antiretroviral (ARV )
ARV
penularan

replikasi virus

imunitas seluler

risiko infeksi oportunistik

mortalitas

hidup lebih lama

morbiditas

kualitas hidup membaik

Memulai ARV
Paling penting : Pasien harus sudah siap ; hambatan
terhadap kepatuhan berobat seumur hidup harus sudah
dapat diatasi
Sebelum mulai ARV perlu dilakukan :
Konseling tentang ARV dan kepatuhan berobat
Menilai ada tidaknya hambatan terhadap kepatuhan
Risiko toksisitas jangka pendek dan panjang
Penilaian awal laboratorium :
CD4 dan viral load ( bila memungkinkan )
Darah lengkap, profil lipid, gula darah, fungsihepar/ginjal

INDIKASI MULAI ARV

Indikasi mulai ARV


Pada CD4 : 350 500 sel/ml, dapat
dipertimbangkan pemberian ARV bila :

Penurunan CD4 > 100 / tahun


CD4 < 17 %
Viral load > 100.000 kopi/ml
Keinginan pasien dengan adherance kuat
Ibu hamil

DHHS 2008 : Aidsinfo.nih.gov

Indikasi mulai ARV

Pedoman Terapi ARV


Tidak menggunakan obat tunggal atau 2 obat
Selalu menggunakan minimal kombinasi 3 ARV disebut:
HAART (Highly Active Anti Retroviral Therapy)
Kombinasi ARV lini pertama pasien nave ( belum pernah pakai ARV
sebelumnya) yang dianjurkan:
2 NRTI + 1 NNRTI
Di Indonesia :
-lini pertama: AZT(zidovudin) + 3TC(lamivudin) + EFV(efavirenz) atau NVP
-alternatif: d4T(stavudin) + 3TC + EFV atau NVP
AZT atau d4T + 3TC + 1 PI (LPV/r)
Terapi seumur hidup, mutlak perlu kepatuhan ok risiko cepat terjadi
resistensi bila sering lupa minum obat

Masalah pengobatan ARV &


profilaksis
1.ResistensiARV
Penyebab utama:
kepatuhan/ adherence
rendah

Faktor risiko:
Usia muda,
Narkoba aktif
Masalah psikososial-finansial
terutama depresi
Kurang motivasi & dukungan,
Kurang pengawasan dari
petugas medis/ lay support

Efek samping obat


sering : anemia + leukopenia
akibat AZT :
ruam kulit ringan berat
karena NVP , ABC
hepatotoksik : sering NVP,
bila koinfeksi HBV / HCV
bersama dengan anti-TB
bersama obat antijamur
Ggn. saluran cerna : rifampisin,
AZT
neuropati : d4T, ddI

Hambatan pengobatan ARV di


negara berkembang
Kekurangan tenaga medis &
infrastruktur medis
Keterbatasan fasilitas monitoring
efektifitas terapi
Biaya pengobatan menentukan
pilihan regimen
Ko-infeksi TB-HIV

Pilihan Terapi untuk Pasien


NRTI

Source :
DiPiro. 2009. Pharmacotherapy Handbook. NewYork : McGraw Hills Companies

Pilihan Terapi untuk Pasien


NNRTI

Source :
DiPiro. 2009. Pharmacotherapy Handbook. NewYork : McGraw Hills Companies

Pengobatan HIV/AIDS pilihan dan


komplikasi hepatitis
Recommended Therapy HIV and HBV infection
1) Kombinasi TDF (Tenofovir disoproxil fumarate) kombinasi dengan FTC (Emtricitabine) atau
3TC (lamivudin)
2) Kombinasi TAF (Tenofovir alafenamide)/FTC
Keputusan untuk menggunakan TAF atau TDF terapi harus memperhatikan risiko
nefrotoksisitas dan kecepatan resorpsi tulang. Pada beberapa studi HBV/HIV-coinfected
patients, TDF-based ART regimen kombinasi dengan FTC mampu mengendalikan atau
mencapai penekanan HBVdengan meningkatkan eGFR.
Baru-baru ini, TAF/FTC-containing regimens terbukti tidak direkomendasikan untuk terapi
HIV dengan Creatinine clearance (CrCl) <30 ml/min (disfungsi ginjal). (aidsinfo.nih.gov)

Pada lini pertama disarankan terapi dengan 2 NRTI dan 1 NNRTI :


Kombinasi TAF dan FTC
EFV (efavirenz)
Source :
Guidelines for the Use of Antiretroviral Agents in HIV-1-Infected Adults and Adolescents. 2016.

Pengobatan HIV/AIDS pilihan dan


komplikasi hepatitis
Sediaan Tablet kombinasi TDF-FTC-EFV tersedia namun tidak direkomendasikan untuk
digunakan pada pasien dengan CrCl <50 mL / menit. Sebaliknya menggunakan obat individu
dari kombinasi dosis tetap dan menyesuaikan TDF dan FTC dosis sesuai dengan tingkat CrCl.
Diketahui kreatinin serum pasien 1,97 mg/dL, itu berarti Klirens Kreatinin sekitar 30 x 49
mL/min.
Maka regimen yang disarankan :
Emtricitabine (FTC) 200 mg per 48 jam
TDF 300 mg per 48 jam
Efavirenz (EFV) 600 mg per 24 jam sebelum tidur

Tersedia dalam 1 tablet

Source :
Guidelines for the Use of Antiretroviral Agents in HIV-1-Infected Adults and Adolescents. 2016.

Pilihan Terapi untuk Pasien


TB Medication

Source :
DiPiro. 2009. Pharmacotherapy Handbook. NewYork : McGraw Hills Companies

Pilihan Terapi untuk Pasien


TB Medication

Source :
DiPiro. 2009. Pharmacotherapy Handbook. NewYork : McGraw Hills Companies

Pengobatan TB pilihan
Isoniazid (300mg daily) preventive therapy (IPT) mencegah TB aktif pada
ODHA.
Pyridoxine (50 mg daily) direkomendasikan untuk semua ODHA dengan
terapi INH. Semua terapi pasien dengan IPT disarankan menambahkan
concomitant pyridoxine untuk mencegah peningkatan toksisitas INH
(hepatotoksis yang memicu hepatitis. (WHO, 2011).
Isoniazid secara kompetitif dengan pyridoxine mengganggu
metabolismenya dengan menghambat pembentukkannya menjadi bentuk
aktif, yang akhirnya menyebabkan neuropati perifer (WHO, 1991)
Source :
18th Expert Committee on the Selection and Use of Essential Medicines (21 to 25 March 2011)
NEW FORMULATION Section 6 Anti-infective medicines (Adults) 6.2.2: Other antibacterials. WHO.
WHO Model Prescribing Information: Drugs Used in Mycobacterial Diseases 1991.

Regimen Pengobatan
Pengobatan HIV dan HBV
1 tab Truvada (Emtricitabine (FTC) 200 mg, TDF 300 mg) per 48 jam
Efavirenz (EFV) 600 mg per 24 jam sebelum tidur
Pengobatan TB
Awal :
Kombinasi rifampicin + pirazinamid + etambutol + INH selama 8
minggu pertama, disertai suplemen piridoksin.
Lanjutan :
1 Tab kombinasi INH/vit.B6 (Isoniazid 300mg, Pyridoxine 50 mg) per 24
jam selama 18 minggu berikutnya.

ASUHAN KEFARMASIAN
DAN KIE
NURILLAH DWI
NOVARIENTI
1113102000058

Pemberian Komunikasi, Informasi, dan


Edukasi
Tujuan KIE:
Memberikan penjelasan tentang
terapi pengobatan HIV, TB dan
Hepatitis B kepada pasien dengan
cara
berkomunikasi
langsung
kepada pasien
Melaksanakan
pendidikan
dan
memberikan informasi yang tepat
dan benar tentang penyakit HIV,
TB dan hepatitis B kepada pasien
agar dapat mengembangkan sikap
dan perilaku positif .
Mengembangkan
jiwa
dan
semangat
pasien
agar
tidak
merasa
terdiskriminasi
dari

Konseling Obat
Konseling pra ART diberikan sebelum pasien memulai
terapi dengan materi sebagai berikut :
Apa manfaat dan kegunaan dari obat Antiretroviral.
Bagaimana cara menggunakan obat yang benar.
Kapan waktu minum obat yang benar.
Apa saja kemungkinan efek samping yang timbul.
Bagaimana mengenali dan mengatasi efek samping yang
timbul.
Apa cara yang harus ditempuh jika terjadi efek samping.
Apakah ada obat-obatan lain yang diminum oleh pasien
baik yang diresepkan oleh dokter maupun yang dipakai
sendiri, untuk menghindari interaksi obat
Bagaimana cara pasien mendapatkan obat kembali jika
sudah habis.
Dibuat evaluasi terhadap hasil kegiatan konseling obat
untuk meningkatkan keberhasilan terapi.

Manfaat Konseling :
Sebagai akses ke medikasi, kepatuhan, dan selalu
tersedianya
obat,
merupakan
faktor
yang
menentukan efektivitas suatu pengobatan. Kepatuhan
yang buruk membuat dampak ganda dalam arti
mengeluarkan banyak dana dan memperburuk
kualitas hidup pasien. Bagi pasien, ketidakpatuhan
berobat mengakibatkan kegagalan antiretroviral
melawan virus, sehingga virus resisten dan terjadi
kegagalan imunologis dan keadaan klinis memburuk.

Tahapan tahapan konseling untuk pasien yang baru


akan memulai minum antiretroviral adalah sebagai
berikut :
1) Dimulai dengan perkenalan
2) Menggali pengetahuan klien tentang HIV/AIDS
3) Memberikan penjelasan tentang obat
4) Verifikasi akhir
5) Memberikan kesempatan kepada pasien untuk
bertanya
6) Memberikan pengetahuan tentang makanan apa
saja yang sebaiknya dikonsumsi dan apa saja yang
harus dihindari.
7) Mengakhiri pembicaraan dengan memberikan obat
dan meminta pasien untuk menandatangani
lembar pemberian obat dan mengingatkan kapan
pasien harus kembali mengambil obat.

Memberikan Informasi Obat kepada pasien dilakukan


dengan :
a. Secara aktif : membuat leaflet, brosur, tulisan-tulisan di
media massa, memberikan penyuluhan seperti cara
penularan HIV, kepatuhan dll.
b. Secara langsung : dengan menjawab pertanyaan yang
diajukan baik secara lisan maupun secara tertulis.
c. Sasaran pemberian edukasi dapat langsung kepada
pasien, maupun kepada pengawas minum obat
misalnya : keluarga pasien, care giver, teman dekat, dll.
d. Dibuat semudah mungkin pasien dapat mengakses
informasi yang diperlukan :
.Pusat Informasi obat mudah dihubungi melalui
telepon
.Bahasa yang dipergunakan mudah dimengerti.
.Media informasi menarik untuk dibaca.

Mengedukasikan kepada pasien mengenai :


1) Obat yang benar : pasien mengambil medikasi yang cocok
untuk penyakitnya. Pasien harus paham nama obat, warna
dan bentuk, dosis, agar tidak terjadi kebingungan.
2) Cara yang benar : pasien harus mengetahui cara penggunaan
obat yang benar, apakah sebelum atau sesudah makan atau
harus dikunyah terlebih dahulu.
3) Jumlah yang benar : pasien harus mengetahui dosis obat
yang digunakan harus tepat, jangan lebih atau kurang dari
aturannya.
4) Waktu yang tepat : pasien harus minum obat pada jam yang
ditentukan misal setiap empat jam. Lebih baik jika dituliskan
waktu minum obat agar tidak membingungkan misal pukul
10.00, 12.00, 16.00, 20.00.

Pasien mungkin minum beberapa obat macam obat pada satu


waktu, beberapa obat mungkin untuk HIV, infeksi oportunistik,
menghilangkan nyeri atau simptom, atau lainnya yang terkait
HIV. Informasi tertulis tentang semua obat dan petunjuk
pemakaiannya akan sangat membantu klien.

1. Pentingnya adherence, motivasi agar


penderita patuh, efek samping, perilaku
hidup sehat dll
2. Peran dalam mendeteksi penderita TB
3. Peran dalam memantau adherence
penderita, adanya efek samping, adanya
interaksi dengan obat lain.
4. Peran secara keseluruhan, apoteker harus
berperan secara aktif
mencegah terjadinya resistensi, kekambuhan,
kematian

Asuhan Kefarmasian
N
o
1.

Golongan/Obat

Rifampicin
Agen
antituberkulosis

Dosis
(literatu
r)

Cara
dan
Lama
Pemberi
an

450
mg/day

Diberikan
secara
oral
maximum dengan
: 600
dosis 450
mg/day
mg 1 kali
sehari
Diminum
sebelum
tidur
Sumber :
drug
information
handbook,
th

Monitoring

Harga

Memantau efek
samping yang
mungkin terjadi :
Tidak ada nafsu
makan, mual,
sakit perut
Memantau fungsi
hati (AST, ALT,
bilirubin), CBC,
status mental,
kultur sputum;
dada x-ray 2-3
mth ke
pengobatan.
Kepatuhan
pasien

Rp.
85.341/
kemasa
n

Sumber
:
medicas
tore.co
m

N
o
2.

Golongan/Obat

INH (Isoniazid)
Agen
antituberkulosis

Dosis
(literatu
r)
300
mg/day

Sumber :
drug
information
handbook,
7th ed

Cara
dan
Lama
Pemberi
an

Monitoring

Diberikan Memantau efek


samping yang
secara
mungkin terjadi :
oral
reaksi psikotik,
dengan
dosis 300 neuritis optik,
mg 1 kali peningkatan
transient enzim
sehari
hati. ES yg fatal :
hepatitis
Memantau dasar
dan LFT periodik
(ALT dan AST),
kultur dahak
bulanan sampai
dilaporkan dan
tanda-tanda
prodromal
hepatitis.
Kepatuhan pasien

Harga

Rp.15.6
82/kem
asan

Sumber
medicas
tore:.co
m

N
o
3.

Golongan/Obat

Pirazinamid
Agen
antituberkulosis

Dosis
(literatu
r)
40-55 kg:
1000 mg
56-75 kg:
1500 mg
76-90 kg:
2000 mg

Sumber :
drug
information
handbook,
7th ed

Cara
dan
Lama
Pemberi
an
Diberikan
secara
oral
dengan
dosis 500
mg 3 kali
sehari

Monitoring

Harga

Memantau efek
samping yang
mungkin terjadi :
Hiperurisemia,
menyebabkan gout
akut. ES fatal :
hepatotoksisitas
Tes fungsi hati
secara periodik,
serum asam urat,
kultur sputum, Xray dada 2 3
bulan selama
pengobatan dan
setelah
pengobatan
selesai
Kepatuhan pasien

Rp.24.2
00/kem
asan

Sumber
medicas
tore:.co
m

N
o
4.

Golongan/Obat

Ethambutol
Agen
antituberkulosis

Dosis
(literatu
r)
40-55 kg:
800 mg
56-75 kg:
1200 mg
76-90 kg:
1600 mg

Sumber :
drug
information
handbook,
7th ed

Cara
dan
Lama
Pemberi
an

Monitoring

Diberikan Memantau efek


samping yang
secara
mungkin terjadi :
oral
seperti gangguan
dengan
dosis 250 penglihatan
mg 3 kali Lakukan
pemeriksaan
sehari
ophthal penuh
sebelum memulai
pengobatan.
Memantau visual,
ginjal, hati dan
fungsi
hematopoietik
berkala.
Kepatuhan pasien

Harga

Rp.101.
575/ke
masan

Sumber
:
medicas
tore.co
m

N
o
5.

Golongan/Obat

EFV (Efavirenz)
Obat antiretroviral
yang termasuk
golongan
nonnucleoside
transcriptase
inhibitor
(NNRTI)

Dosis
(literatu
r)
600 mg
once
daily

Sumber :
drug
information
handbook,
7th ed

Cara
dan
Lama
Pemberi
an

Monitoring

Diberikan Memantau efek


samping yang
secara
mungkin terjadi :
oral
Ruam termasuk
dengan
dosis 600 sindrom Stevensmg 1 kali Johnson dan
eritema
sehari
multiforme; efek
pada
CNS : pusing,
waktu
sakit kepala
perut
Kepatuhan pasien
kosong.
Sebaikny
a
diminum
menjelan
g tidur

Harga

GRATIS

N
o
6.

Golongan/Obat

Truvada
(Tenofovir +
Emtricitabine)

Dosis
(literatu
r)
600 mg
once
daily
Emtricitabine
(FTC) 200 mg,
TDF 300 mg

Sumber :
drug
information
handbook,
7th ed

Cara
dan
Lama
Pemberi
an

Monitoring

Diberikan Memantau efek


samping yang
secara
mungkin terjadi :
oral
Lecet di bawah
dengan
kulit ruam
dosis 600 dengan lesi
mg 1 kali datar atau lesi
mengangkat
sehari
kecil pada kulit
Dapat
kemerahan
digunakan
dengan atau pada kulit
ruam kulit,
tanpa
gatal kulit,
makanan.
gatal-gatal
atau bilur
bintik-bintik
pada kulit
Anda
menyerupai
blister atau

Harga

Truvada
( $52.15

.)

INFORMASI OBAT
Anggi Indah H 1113102000041

INFORMASI OBAT
Pengobatan Infeksi Oportunistik TB
Obat

Indikasi

Mekanisme

Rifampicin

Agen anti TB

Rifampisin menekan inisiasi pembentukan rantai untuk sintesis RNA


pada bakteri rentan dengan mengikat subunit dari RNA polimerase
DNA-dependent, sehingga menghalangi RNA transkripsi.

INH

Agen anti TB

Isoniazid menghambat sintesis asam mycoloic pada bakteri rentan


yang mengakibatkan hilangnya asam-kubu dan gangguan dinding sel
bakteri. Pada tingkat terapi, itu adalah bacteriocidal terhadap tumbuh
aktif intraseluler dan ekstraseluler organisme Mycobacterium
tuberculosis.

Pirazinamid

Agen anti TB

Pirazinamid mungkin bakteriostatik atau bakterisida beraksi,


aktivitasnya tergantung pada konversi obat untuk pyrazinoic asam
(POA), yang menurunkan pH dari lingkungan yang diperlukan untuk
pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis. strain M. tuberculosis
menghasilkan pyrazinamidase, enzim yang deaminates pirazinamid
untuk POA, dan aktivitasnya secara in vitro dari strain tertentu
organisme sesuai dengan aktivitas pyrazinamidase nya.

Etambutol

Anti TB dan paru-paru

Etambutol tampaknya menghambat sintesis 1 atau lebih metabolit


bakteri rentan mengakibatkan gangguan metabolisme sel,
penangkapan perkalian, dan kematian sel. Hal ini aktif terhadap
bakteri yang rentan hanya ketika mereka sedang mengalami
pembelahan sel.

Obat

Efek samping

Dosis

KI

Rifampicin

Hepatotoksisitas, hipotensi, takikardia sinus, aritmia


ventrikel, kejang dan henti jantung, trombositopenia
dan purpura.

Fase intensif selama 2bulan


450mg 1x1 sehari
Fase lanjutan selama 4bulan:
450mg 1x1 sehari Tiga kali
seminggu
Harus digunakan pada waktu perut
kosong 1 jam sebelum atau 2 jam
setelah makan.

Hipersensitivitas
terhadap rifampisin
atau rifamycins
lainnya. Pasien
dengan ikterus.
penggunaan
bersamaan dengan
saquinavir / terapi
ritonavir.

INH

Mulut kering, konstipasi, pellagra, purpura,


hiperglikemia, sindrom seperti lupus, vertigo,
hyperreflexia, retensi urin, ginekomastia.
Berpotensi Fatal: Hepatitis.

Fase intensif selama 2bulan


300mg 1x1 sehari
Fase lanjutan selama 4bulan:
300mg 2x1 sehari Tiga kali
seminggu
Harus digunakan pada waktu perut
kosong 1 jam sebelum atau 2 jam
setelah makan.

Hipersensitivitas.
Pasien dengan
penyakit hati akut
atau riwayat cedera
hati isoniazid
terkait.

Pirazinamid

Hiperurisemia, menyebabkan gout akut; anoreksia,


mual, muntah, kejengkelan ulkus peptikum,
arthralgia, malaise, demam, anemia sideroblastik,
trombositopenia, disuria. Jarang, photosensitivity,
pellagra, ruam.
Berpotensi Fatal:Hepatotoksisitas.

Fase intensif selama 2bulan


500mg 3x1 sehari
Digunakan
bersaman
dengan
makanan

Hipersensitivitas.
Hiperurisemia dan /
atau gout arthritis,
porfiria akut. Parah
kerusakan hati.

Etambutol

Kebingungan, disorientasi, halusinasi, sakit kepala,


pusing, malaise, sakit kuning atau disfungsi hati
sementara, neuropati perifer, trombositopenia,
infiltrat paru, eosinofilia dan gangguan GI (mis
mual, muntah, anoreksia, nyeri perut).

Fase intensif selama 2bulan


250mg 3x1 sehari
Harus diambil dengan makanan.

Hipersensitivitas.
Pasien dengan
dikenal optik
neuritis dan visi
miskin.

INFORMASI OBAT
Pengobatan ko-infeksi HBV/TB
*Pengobatan ARV diberikan 2minggu setelah pengobatan TB
Obat

Indikasi

Mekanisme

Efavirenz
(EFV)

Inveksi HIV

Efavirenz, non-nucleoside reverse transcriptase


inhibitor dengan aktivitas terhadap HIV, blok
kegiatan polimerase RNA-dependent dan DNAdependent termasuk replikasi HIV.

Tenofovir +
Emtricitabi
ne

HIV-1 infeksi.

Tenofovir, prodrug diester dari tenofovir, cepat


dikonversi ke tenofovir, sebuah asiklik nukleosida
fosfonat (nukleotida) analog dari adenosine 5'monofosfat sementara emtricitabine adalah analog
nukleosida sintetis cytidine. Kedua emtricitabine
dan tenofovir menghambat HIV-1 reverse
transcriptase, sehingga rantai DNA terminasi.

Obat

Efek samping

Dosis

KI

Efavirenz
(EFV)

Mual, kurang sering, muntah,


diare, hepatitis, depresi,
kecemasan, psikosis, amnesia
dan ataksia, pingsan, vertigo,
sakit perut, gagal hati,
pankreatitis, kejang,
ginekomastia, pruritus,
penglihatan kabur.

600mg
1x1 sehari sesudah/sebelum makan
Harus digunakan pada waktu perut
kosong. Sebaiknya digunakan pada
waktu tidur.

Gangguan hati berat;


hipersensitivitas; laktasi.

Tenofovir +
Emtricitabine

Lipodistrofi, lipase tinggi,


amilase, creatine kinase atau
transaminase tingkat,
hiperbilirubinemia, insomnia,
mimpi abnormal. Neutropenia,
anemia, Immune Reaktivasi
Syndrome. gangguan ginjal,
gagal ginjal akut, sindrom
Fanconi. Berpotensi Fatal:
asidosis laktat dan hepatomegali
berat dengan steatosis.

Infeksi HIV-1 Dewasa: 18 tahun:


Sebagai tablet yang mengandung 200 mg
emtricitabine dan 300 mg tenofovir: 1
tablet sekali sehari.
Dapat digunakan dengan atau tanpa
makanan.

Laktasi. Tidak digunakan untuk


pengobatan virus hepatitis B
kronis (HBV).

Truvada

Asidosis laktat.

Jika Anda memiliki hepatitis B


Anda mungkin mengalami gejala
hati setelah Anda berhenti minum
obat ini, bahkan bulan setelah
berhenti.

Interaksi Obat

INH >< Rifampisin

INTERAKSI OBAT
Efek

Managemen

Level signifikan

Hepatotoksik

Hubungi dokter Anda


segera jika Anda
mengalami hal tersebut.

Mayor

fungsi hati dan kadar


obat di dalam darah
dapat dimonitor dengan
tes darah selama
perawatan.

Mayor

Penyesuaian dosis atau


pemantauan lebih sering
oleh dokter

Moderate

Demam, menggigil, nyeri sendi atau


bengkak, kelelahan berlebihan atau
kelemahan, perdarahan yang tidak
biasa atau memar, ruam kulit atau
gatal-gatal, kehilangan nafsu makan,
mual, muntah, atau menguningnya
kulit atau bagian putih Anda mata
Pyrazinamid ><
Rifampisin

Hepatotoksik
demam, ruam, kehilangan nafsu
makan, mual, muntah, kelelahan,
nyeri perut kanan atas, urin gelap,
dan penyakit kuning

Efthambutol ><
Isoniazid

Kerusakan syaraf
mati rasa, nyeri, terbakar, atau
kesemutan di tangan dan kaki.

INTERAKSI OBAT
Interaksi Obat

Efek

Managemen

Level signifikan

efavirenz ><
tenofovir

Kerusakan Hati

Konsultasikan dengan
dokter maslah penggunaan
bersama karena akan
meningkatkan resiko

Moderate

Efaviren ><
emtricitabine

Demam, menggigil, nyeri sendi atau bengkak,


perdarahan yang tidak biasa atau memar,
ruam kulit, gatal-gatal, kehilangan nafsu
makan, kelelahan, mual, muntah, sakit perut,
berwarna gelap urin, berwarna terang bangku,
dan / atau menguning kulit atau mata, karena
ini mungkin tanda-tanda dan gejala kerusakan
hati.
Kerusakan Hati
demam, menggigil, nyeri sendi atau bengkak,
perdarahan yang tidak biasa atau memar,
ruam kulit, gatal-gatal, kehilangan nafsu
makan, kelelahan, mual, muntah, sakit perut,
berwarna gelap urin, berwarna terang bangku,
dan / atau menguning kulit atau mata, karena
ini mungkin tanda-tanda dan gejala kerusakan
hati..

Hindari atau membatasi


penggunaan alkohol saat
dirawat dengan obat-obat
ini

Konsultasikan dengan
dokter maslah penggunaan
bersama karena akan
meningkatkan resiko
Hindari atau membatasi
penggunaan alkohol saat
dirawat dengan obat-obat
ini

Moderate

ATURAN PAKAI
Pagi
N

Nama

Obat

Siang

SBL

SSD

SBLM

Sore

SS
DH

SBLM

Malam
SS

SBL

SS

DH

DH

Referen
si &
Harga
Tab

Saat perut

Rifampici
n

kosong
(1jam

sebelum
atau 2 jam
sesudah
makan)

450mg
(Rp10.5
00/
strip)
Tab
600mg
(Rp.12.5
00/

ATURAN PAKAI
Pagi
N

Nama

Obat

Emtricitabin
e (FTC) +
Tenovovir
disoproksil
fumarate
(TDF)

Siang

Sore

Malam

SBL

SSD

SB

SSD

SB

SSD

SB

LM

LM

LM

SSDH

Referen
si &
Harga

Deng
an
atau
-

tanpa
maka
nan

Truvada
( $52.15

.)

DAFTAR PUSTAKA

Drugs.com
Drugs Information Handbook
Drugs Interaction Fact
Medscape

MIMS.com dan MIMS 2013/2014


Stockleys drug Interaction 2009
Anonim. 2011. Tata Laksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi Antiretroviral pada Orang Dewasa.
Jakarta: Kemenkes RI Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.
Anonim. 2011. ManageMent of hepatitis B and hiV coinfection Slinical Protocol for thr WHO
European
Region (2011 Revision). Europe: WHO.
Anonym. 2005. Pharmaceutical Care Untuk Tuberkulosis. Jakarta: Direktorat Bina Farmasi
Komunitas
dan Klinik Dirjen Bina Kefarmasian dan Alkes Depkes RI
Pozniak, at. 2011. British HIV Association guidelines for the treatment of TB/HIV coinfection
2011.
London: British HIV Association.
Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik. Pharmaceutical Care untuk Penyakit Tuberculosis.
Departemen Kesehatan RI 2005.
Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik. Pedoman Pelayanan Kefarmasian untuk Orang
Dengan HIV/AIDS (ODHA). Departemen Kesehatan RI 2006.
Dipiro, T, Joseph, et al., 2009, Pharmacoterapy Handbook, 7th Edition, The McGraw-Hill
Companies
McEvoy, K.G. (2010). AHFS Drug Information. Bethesda: American Society of Health System.